
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Mendengar ungkapan hati Mamanya, hati Bagas tergelitik. Ucapan Mama dan Papanya tepat. Siapa lagi yang menolong keluarganya selain dia? Tapi nama gadis itu masih tergores di relung jiwanya.
Charlotte melihat kakaknya dengan hati – hati. Dia tahu ini beban sangat berat yang harus dia tanggung karena dia adalah anak pertama di keluarga Pratama. Pasti hatinya sangat bingung karena harus memilih orang yang dia cintai atau keluarganya yang selama ini merawat dirinya.
“Papa, Mama, tolong jangan seperti ini. Mas Bagas baru sembuh dari sakitnya. Bisakah kita membicarakannya nanti setelah dia pulih?” pinta Charlotte.
“Charlotte benar, Mam. Sebaiknya biarkan Bagas pulih terlebih dahulu baru kita membicarakan cara untuk merebut kembali hak kita.”
“Kamu istirahat dulu ya. Maafkan Mama malah menambah beban kamu.”
Pergilah Bu Lina dan Pak Freddy dari kamar Bagas. Kesedihan yang dirasakan Bagas tidak diketahui kedua orang tua tersebut, hanya Charlotte yang peka dengan semua kejadian ini.
“Mas…,” panggil Charlotte. Wanita itu sedang berpikir, apa dia harus memberi tahu bahwa semalam Evo datang menemui dirinya? Bahkan karena Evolah maka Bagas bisa sadar.
“Maaf, Char. Aku lagi ingin sendiri.”
Charlotte lesu mendengar ucapan kakaknya. Patah semangatnya untuk memberitahu akan kebenaran tersebut.
“Aku paham.” Charlotte melangkahkan kakinya menuju pintu lalu keluar. Bagas butuh waktu untuk sendiri.
*****
Aku sedang menyeduhkan secangkir kopi untuk Bastian. Hari ini banyak sekali dokumen yang harus diperiksa olehnya. Aku belum berani untuk memeriksa dokumen tersebut karena masih harus banyak belajar.
“Selama Bagas pergi, keuangan di perusahaan ini sangat kacau,” keluh Bastian. Laki – laki itu melihat dokumen yang satu dengan yang lain.
Selesai menyeduh, aku memberikan kopi tersebut pada Bastian. Tubuhnya sangat tegang melihat dokumen yang ada di depannya itu.
“Terima kasih,” ucapnya.
“Sama- sama. Kenapa bisa kondisi keuangannya jelek?”
“Sepertinya ada karyawan yang bermain curang di perusahaan ini,” curiga Bastian. Aku yang masih tidak mengerti tentang bisnis, mengangguk saja. Aku kembali ke tempat duduk. Biasanya aku duduk di sofa ruangan tersebut.
Aku mengambil ponselku. Sejak semalam aku tidak membukanya. Ada dua pesan masuk. Satu dari Charlotte dan satu lagi dari Maureen. Belum banyak yang tahu nomor baruku ini. Aku membuka pesan dari Charlotte terlebih dahulu.
Charlotte : Terima kasih, Mbak, karena kamu Mas Bagas kembali sadar.
Aku melihat jam saat mengirimnya, ternyata tadi malam pesan tersebut dikirim oleh Charlotte. Sebenarnya aku sudah tahu, karena saat Charlotte memberitahu Evan, aku masih bersama dengan Evan.
Setelah selesai membaca pesan dari Charlotte, aku membuka pesan dari Maureen. Maureen juga mengirim pesan tersebut tadi malam.
Maureen : Kita satu perusahaan tapi tidak bisa bertemu. Kapan kita akan bertemu lagi? Sudah lama kita tidak berbincang.
Pesan Maureen benar juga, semenjak kejadian di hotel kami sudah jarang berkomunikasi. Karena selahpahaman itu kami sempat bertengkar, tapi untungnya semua sudah selesai.
“Bas,” panggilku.
Bastian menatapku, lalu menyahut,”Ya?”
“Aku mau bertemu dengan Maureen di bawah. Apa boleh aku meninggalkanmu?” tanyaku.
“Boleh. Sekalian saja kalian makan siang. Aku tidak bisa mengajak kamu makan siang nanti,” ucap Bastian mengizinkan.
“Kamu mau ke mana?”
“Bertemu teman lama,” ucap Bastian sambil fokus dengan pekerjaannya. Setelah mendapat izin aku pergi meninggalkan ruangannya.
Bastian mengeluarkan ponselnya, terbesit perasaan tidak enak dalam hatinya. “Ya, halo! Di mana kamu Mbak?”
“Ada apa? Aku baru bangun. Menganggu saja kamu!” ketus Mbak Meli.
“Anak perawan bangun jam segini,” goda Bastian sambil melirik ke jam tangannya. Kala itu jam menunjukkan pukul 11 siang.
“Bicara, atau kututup teleponnya," ancam Mbak Meli.
“Baiklah. Maureen dan Evo akan pergi makan siang. Bisakah kamu ikut dengan mereka?” pinta Bastian.
“Hoaam.” Mbak Meli menguap, tidak menanggapi permintaan Bastian.
Melihat gelagat dari kakaknya, dia tahu pasti kalau Mbak Meli minta imbalan darinya. “Apa tiket liburan ke Paris cukup untuk membantu adik kamu ini?”
“Kamu memang adik yang bisa menyenangkan kakaknya. Semua akan beres sayangku,” ucap Mbak Meli.
“Tidak ada yang gratis di dunia ini sayang, jangan lupa janji kamu padaku.” ujar Mbak Meli lalu menutup teleponnya. Harusnya Bastian bisa ikut dengan Evo, tapi dia harus menyelesaikan satu hal yang berhubungan dengan masa lalunya.
*****
Tok, tok, tok.
Aku mengetuk pintu ruangan Maureen.
“Masuk,” ucap yang punya. Ketika melihat aku yang datang Maureen langsung berdiri dan memelukku.
“Hai, sayang,” sapa dia kemudian melepaskan pelukannya. Maureen menarik diriku, kemudian menyuruhku duduk di sofa ruangannya.
“Maaf ya, Vo,” pintanya, “harusnya aku percaya padamu, bukan malah percaya sama Indra. Sebenarnya aku sudah curiga lama kalau Indra menyukaimu karena aku pernah melihat banyak foto kamu di kamarnya.”
“Sudah jangan diingat lagi. Itu masa lalu.”
“Sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau kamu aku traktir makan siang?” usul Maureen. Aku mengangguk setuju. Lagi pula Bastian sudah memberikan izin padaku.
“Asyik. Terima kasih Evo, kamu telah memaafkan aku!”
“Kita adalah sahabat, wajar kalau ada salah paham dan saling memaafkan,” jelasku padanya.
Drt, Drt.
Telepon masuk dari ponselku. “Sebentar aku menerima telepon dulu.”
Aku menerima telepon tersebut, ternyata yang meneleponku adalah Mbak Meli.
“Sayang aku Evo! Di mana kamu sekarang?” tanya Mbak Meli dengan riang.
“Mbak Meli! Aku, aku lagi di kantor."
Mbak Meli mengerutkan dahinya. Dia berpikir keras, kenapa info dari Bastian salah ya? Bukankah Evo sedang di luar untuk makan siang?
“Aku baru saja bangun, dan sangat lapar. Maukah kamu menemani aku makan siang?” tanya Mbak Meli dengan suara lesu.
“Kebetulan sekali, Mbak. Aku dan Maureen akan makan siang di luar tetapi Bastian tidak ikut. Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami?” Aku menawarkan Mbak Meli.
“Wah, boleh juga! Aku ikut. Aku mandi dulu. Nanti kalian sebutkan saja lokasinya. Aku pasti akan menyusul kalian.”
“Apa? Aku tidak salah dengarkan? Kamu belum mandi Mbak?” tanya aku tidak percaya. Di ujung telepon Mbak Meli tertawa geli.
“Ya, maklum tidak ada yang bangunkan. Sudah ya, aku siap – siap terlebih dahulu. Sampai ketemu nanti,” ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon.
“Siapa?” tanya Maureen.
“Mantan bos kita dulu.”
“Mbak Meli?” kata Maureen lagi.
Aku mengangguk, kemudian menjelaskan pada Maureen,” Dia mau ikut kita makan siang. Bolehkan?”
“Tentu saja. Makin banyak orang makin seru.”
*****
Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Bastian tiba di sebuah sekolah. Mobilnya memasuki lapangan parkir. Supir memarkirkan mobil dengan baik. Setelah posisi mobil sudah tepat, supir mematikan mesinnya.
“Sudah sampai, Pak,” ujar supir tersebut membuyarkan lamunan Bastian.
Bastian membuka pintu mobilnya. Lalu keluar dari mobil. Dia pandangani setiap sudut sekolah. Menganalisi apa saja yang telah berubah di sekolah ini. Sudah 15 tahun dia tidak menginjakkan kakinya di sini.
“ Sekolah Dasar Harapan Mulia,” ucapnya.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤