MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Tidak Pantas



Ketika ku mengerti bahwa hatiku ini,telah menemukan lagi seorang yang sangat berarti.


Inikah, rasanya jatuh cinta.


"Bagas, STOP! Please, lepasin tanganmu. Ini sakit!" pintaku ketika kami masih di parkiran.


"Diam, atau aku akan berbuat nekat di sini," ujar Bagas marah. Dia marah besar. Entah apa yang merasuki dia. Bagas membuka pintu mobilnya, kemudian memasuki diriku dengan paksa. Aku mengelus tanganku. Sakit. Cengkraman tangannya begitu kuat. Bagas menginjak gas dengan kencang. Kami menuju ke apartemen kami. Tuhan redakan emosi Bagas.


Sesampainya di apartemen, Bagas menarik tanganku. Lalu dengan kasar dia menyuruhku turun, dan menuntunku ke kamarnya. Tiba di kamar, Bagas membanting pintu, lalu melemparkan ke sofa.


"SUDAH, CUKUP KESABARANKU, EVOLET! KENAPA KAU BERBOHONG LAGI PADAKU?" Bagas meluapkan emosinya. Matanya begitu berapi-api. Dadanya naik turun karena marah.


"Aku tidak berbohong. Aku benar pergi reunian. Di mana letak kebohonganku?" Aku mulai berani menjawab.


" BOHONG! HARI INI PASTI KAU BERSAMA DENGAN LELAKI ITU! LELAKI YANG DULU PERNAH PERGI BERSAMAMU WAKTU ITU! IYAKAN!!!" Bagas masih mengeluarkan suara kerasnya.


DHEG. Bagas menyadarinya. Dia masih ingat dengan Rafael. Apa yang harus aku katakan pada Bagas?


Bagas menghampiriku karena kesal tidak menjawab pertanyaannya. Dia menyudutkanku hingga ke tembok."JAWAB?!"


" Ya, aku pergi dengannya hari ini. Ya, aku berbohong padamu hari ini, tapi apakah kamu pernah bertanya padaku untuk apa aku berjumpa dengannya? Apakah kamu pernah berpikir mengapa Rafael selalu bersamaku? Pernah?"


Perkataanku seperti petir yang menyambar bagi Bagas. Dia semakin emosi, lalu melayangkan tinju ke padaku. BUK?!


" AAAAGH!" Teriakku. Ternyata Bagas meninju tembok yang tepat disebelahku. Tangan Bagas berdarah.


" Bagas...," Aku tidak percaya dengan kelakuan laki-laki ini. Aku menyentuh tangannya, tetapi dia menepis tanganku.


"Jangan sentuh, aku," Bagas masih marah. Dia membalikkan badannya. Aku memandang dia. Ada apa denganmu? Mengapa kamu begitu marah padaku? Aku hanya sebagai simpananmu untuk mengeluarkan hasratmu? Mengapa? Apa dia cemburu? Banyak pertanyaan dibenakku.


"Maafkan aku, Bagas. Maaf...," Aku memeluk Bagas dari belakang.


"Aku tidak mengira kau akan semarah ini. Hari ini aku bertemu dengan Rafael karena urusan pekerjaan. Tidak lebih dari itu," Aku menjelaskan.


Bagas terdiam. Dia tidak membalas ucapanku. "Dia yang membantuku untuk menerbitkan novel karanganku."


"Lalu untuk apa dia memegang tanganmu?"


"Apa kamu cemburu dengan Rafael?" tanyaku akhirnya.


Bagas membalikkan badan, lalu melepaskan pelukanku padanya. "Kamu hanya pelayanku di sini, jadi jangan berharap aku cemburu padamu. Buang jauh-jauh pikiran itu dari benakmu."


" Kenapa kau tidak melepaskanku?"


"Karena aku masi butuh tubuhmu," Mendengar ucapan Bagas, aku terduduk lemas. Sampai kapan aku terlepas dari dia. Dia lelaki kejam. Benar-benar kejam. Bagas pergi meninggalkanku. Dia membanting pintu. Dalam hati Bagas berkata, kapan kau akan mengerti, Vo? Kapan?


Aku menangis mendengar perkataannya. Bodohnya pikiranku, mengapa aku begitu polos? Mengapa aku begitu naif hingga merasa Bagas cemburu padaku.


Jam menunjukkan pukul 12 malam. Bagas belum pulang dari apartemen. Ceklek, terdengar pintu apartemen terbuka. Aku membuka kamarku. Bagas dengan seorang perempuan. Siapa perempuan itu?


"Sayang, itu siapa?" tanya perempuan itu. Pakaian wanita itu tidak sopan. Dia memakai baju ketat, dengan rok yang begitu mini.


" Pelayanku di sini sayang," ucap Bagas lalu mencium bibir wanita itu.


" Aduh, sayang jangan disini, kita pindah ke kamarmu saja. Aku ngga suka dilihat pembantumu," kata wanita itu lagi. Bagas mengangkat wanita itu kemudian menuju ke kamarnya.


"I love you, honey," ujar Bagas setelah itu menciumi wanita itu.


Air mataku mengalir dipipi. Bagas memperlakukanku dengan kejam. Bagas tidak pernah sama sekali mengungkapkan kata-kata cinta padaku, tetapi dengan wanita itu begitu mudah. Mengapa perasaan ini begitu sakit mendengarnya.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya.


Beberapa menit kemudian, sarapan sudah siap. Seperti perintahnya, aku masuk ke kamar. Kemudian aku keluar lagi. Aku melihat kejadian yang tak pantas aku lihat. Wanita itu keluar lalu menamparku, "Pembantu kurang ajar, masuk tanpa mengetuk pintu."


" Maafkan saya mbak, ini saya bawakan sarapannya."


Bagas yang melihat aku ditampar hanya diam saja. "Sudahlah sayang, kemari. Biarkan saja dia."


Aku menggigit bibir bawahku menahan tangis. Semoga aku kuat menghadapi hari ini.


.


.


.


.


.


Seninnya di kantor PT Pratama.


"Vo, dipanggil Pak Freddy di ruangannya."


Akhir-akhir ini Pak Freddy sering ke kantor membantu Bagas membuka cabang perusahaan.


"Oke," ucapku pada Mbak Meli. Hari ini aku mengantuk sekali. Dari kemarin tidak bisa tidur. Wanita yang dibawa Bagas masih disitu hingga minggu malam. Menyuruhku ini dan itu tanpa berhenti. Bagas mengantarkan dia tadi malam, tapi tidak pulang.


"Are you okay?" tanya Maureen.


" Mengantuk. Banyak kejadian diweekend ini," jawabku singkat.


" Aku siap mendengarkan kapanpun."


" Ya, setelah aku bertemu dengan pemilik perusahaan," kataku lalu aku pergi menuju ruangan Pak Freddy.


Tok, tok, tok.


Aku mengetuk ruangan Pak Freddy. Lalu yang didalam menyuruhku masuk. Aku pun masuk ke dalam. Di ruangan tersebut ada Pak Freddy, dan Bu Lina istri Pak Freddy.


"Pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


" Langsung saja ya mbak Evo. Apa hubunganmu dengan anak kami Bagas?"


" Maaf Pak, apa maksudnya?"


" Alah, wanita sepertimu pasti hanya mau uang Bagas sajakan? Sudah katakan mau berapa kamu agar anak kami lepas dari kamu?" cibir Bu Lina pedas.


"Kami tidak ada hubungan apa-apa Pak."


"Bohong kamu! Kamukan sengaja mendekati anak saya agar bisa membayar rumah sakit orang tuamu. Dasar perempuan murahan, beraninya menggoda anak saya."


Ya, Tuhan, mengapa orang-orang ini bisanya menyudutkan aku saja? Aku memang orang miskin, tapi aku tidak serendah apa yang mereka katakan.


" Mam, sudah, sabar. Saya harap kata-katamu benar. Tidak mungkin Bagas menyukai wanita sepertimu. Kamu bukan tipenya. Sebaiknya kamu segera pergi dari kehidupan Bagas, sebelum kamu dibuang seperti wanita-wanita sebelumnya." Pak Freddy menasehatiku. Perkataan beliau sungguh menyakitkan tapi ada benarnya. Aku hanya mainan Bagas. Aku hanya pelampiasan hasratnya, aku hanya menunggu dibuang olehnya.


" Kamu pikirkan kata-kata saya. Saya tunggu kabar kepergianmu secepatnya atau aku yang akan memberikan keputusan," ujar Pak Freddy. Mungkin maksud Pak Freddy, aku harus keluar dari kantor ini.


" Jangan berharap kamu jadi istri Bagas, karena Bagas sudah mendapatkan yang sederajat dan sepadan dengannya," Bu Lina menegaskan kembali. Kemudia aku keluar dari ruangan tersebut. Air mataku keluar lagi mendengar penghinaan ini. Aku berlari lalu menabrak seseorang.


"Evo!" suara Bagas.


" Ba, maksud saya Pak Bagas." aku cepat-cepat menghapus air mataku.


" Kenapa kamu menangis?" Tanya Bagas.


" Tidak, Pak cuma kelilipan tadi."


" Tapi...."


"Evoleeettt...," suara cempeng Dina memanggilku. Syukurlah, dia penyelamatku. Aku pergi meninggalkan Bagas tanpa penjelasan.