MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Pekerjaan Baru Bagas 2



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Episode sebelumnya:


Siska menolong Charlotte dari Pak Dirly yang mengajak dia untuk makan pagi bersama.


Episode selanjutnya:


"Apa kita tidak bisa menjadi sahabat lagi?" tanyaku pada Siska.


" Maafkan keluargaku, Char. ini semua kesalahan mereka sehingga membuat aku membenci kamu maupun Evan. Aku tahu semuanya, tapi maafkan aku aku cuma aku belum mampu untuk menerima kalau kalian telah menjadi sepasang kekasih. Aku sangat mencintai Evan. Aku harap kamu mau menjaga Evan untukku, " pinta Siska.


Charlotte memandang mantan sahabatnya itu. Dia sangat sedih mendengar ucapan Siska. Dia berharap bahwa semua akan kembali seperti dulu lagi. Persahabatannya dengan Siska dulu membuat Charlotte sangat bahagia. Charlotte ingin Siska memaafkan dirinya dan berteman lagi.


"Aku akan menjaga Evan untukmu pasti," ucap Charlotte pada Siska. Siska pergi meninggalkan Charlotte.


*****


Kantor Pratama.


" Apa? Kamu serius apa yang kamu bicarakan padaku? Kemarin kamu minta untuk balikan lagi dengan Indra? " tanya Dina tidak percaya.


Dina dan Maureen sedang makan siang di kantin yang biasa mereka kunjungi. Maureen bercerita kepada Dina bahwa kemarin Mauresn mengajak Indra untuk balikan. Indra menolak untuk kembali lagi dengan Maureen. perempuan itu sangat sedih ketika permintaannya ditolak oleh Indra.


" Buat apa aku bohong padamu, Din? Indra benar-benar tidak mau kembali lagi denganku, " cerita Maureen.


" Bukan begitu maksudku, Ren. Aku tidak habis pikir kalau kamu benar-benar meminta Indra untuk balik. Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu bisa senekat itu meminta Indra untuk kembali? Seharusnya, Ren, Indra yang meminta kamu untuk kembali bukan kamu."


Mauren menghela napas panjang. Ya, dia pikir kemarin Indra sudah berbaik hati untuk mengantarkan dia pulang ke rumah dari rumah kontrakan Evo. Dia juga berpikir bahwa Indra mau untuk kembali padanya, karena kebaikan Indra kemarin. Maureen dengan penuh keberanian meminta Indra untuk kembali padanya. Maureen kira Indra akan menerima permintaan penawaran tersebut, tetapi ternyata Maureen ditolaknya untuk yang kedua kali. Kali ini penolakan Indra tidak membuat dia putus asa, dia tetap bersemangat untuk menjalani hidupnya.


"Apa yang dikatakan Indra padamu? Bagaimana dia menolak kamu? " tanya Dina lagi.


Dina penasaran dengan cara Indra menolak Maureen. Kenapa Indra harus menolak Maureen?


"Indra bilang padaku kalau dia tidak mencintaiku lagi. ada wanita yang dia cintai, " sedih Maureen.


"Wah, Aku tidak menyangka Indra bisa secepat itu melupakan kamu. Sudahlah Maureen lupakan Indra. kalau dia memang jodoh kamu, Indra pasti balik kepadamu," kata Dina menguatkan hati Maureen.


"Contohnya seperti aku dan Rafael. Dulu kamipun sama seperti kamu putus di tengah jalan karena aku salah paham padanya. Akhirnya Tuhan mempertemukan aku dengan Rafael lagi, hingga akhirnya aku dan Rafael menjadi sepasang suami-istri. Aku tidak menyangka bahwa Rafael benar - benar jodohku," lanjut Dina.


Maureen menangguk mengerti. Sekarang dia sudah mampu mengikhlaskan cintanya.


*****


Kantor Rafael.


"Terima kasih sudah datang untuk bantu promosi," ucap Rafael.


"Sama - sama. Aku juga berterima kasih padamu, karena telah membantuku menerbitkan novelku."


"Hahaha, itu bukan aku, tapi cerita kamu yang bagus. Tidak mungkin aku mengambil cerita yang tidak bagus untuk diterbitkan," jelas Rafael.


Hari sudah menunjukkan pukul 2 siang. Perutku sudan meronta - ronta untuk diisi. Konsumsi dari pihak perusahaan Rafael sudah habis aku makan.


"Aku lapar, mau makan siang. Konsumsi yang kamu berikan tidak membuatku kenyang. Hahahaa," candaku pada Rafael.


"Baiklah, sebagai permintaan maafku. Aku akan mentrakirkan kamu makan," ujar Rafael.


"Dengan senang hati aku menerimanha," ucapku. Kami berduapun beranjak dari kantor Rafael menuju restoran terdekat.


Setibanya di restoran. Aku dan Rafael memesan makanan. Setelah selesai, Rafael mengeluarkan ponsel lalu menelepon seseorang.


"Iya, sayang. Aku lagi makan. Baru selesai acaranya. Aku lagi makan bareng Evo. Kamu juga jangan lupa makan ya!" Rafael mengingatkan istrinya. Setelah beberapa menit bicara, Rafael menutup teleponnya.


"Jadi sekarang harus terus laporan ya sama Dina. Suami yang baik," goda aku.


Rafael tersenyum mendengar godaan aku. kemudian dia berkata kepadaku, "Aku tidak mau Dina salah paham lagi denganku. Saat Dina tidak mau bertemu denganku, rasaya duniaku mau runtuh."


"Aku sangat paham dengan perasaanmu," kataku.


Pelayan datang membawakan pesanan makanan kami.


"Permisi, pesanannya sudah tiba," ucap pelayan tersebut kemudian menaruh makanan pesanan kami di meja.


"Terima kasih," ucapku.


" Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu, Vo?" tanya Rafael setelah makanan sudah tiba di meja makan mereka.


"Silakan, apa yang mau kamu tanyakan kepadaku? " kataku pada Rafael.


"Kemarin sewaktu kita membantu kamu pindah ke rumah kontrakanmu, aku melihat keberadaan Indra di rumah kontrakanmu. Bukankah kamu pernah cerita padaku bahwa Indra melakukan hal yang tidak baik kepadamu? " tanya Rafael bingung.


Aku menyendok sesuap nasi ke mulutku, setelah itu aku berkata kepada Rafael, " Ya, aku memang berkata seperti itu padamu. Indra sudah meminta maaf padaku beberapa hari yang lalu. Dia berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi padaku."


"Syukurlah kalau dia sudah minta maaf padamu. Aku harap kamu tetap berhati - hati padanya," nasehat Rafael.


"Aku rasa dia sudah berubah. hari ini Indra datang ke rumah membawakan sarapan untuk aku dan Bagas. Dia juga mau menjemput Bagas untuk kerja di kantornya, Tapi sayangnya Bagas sudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain."


"Di mana Nagas bekerja?" tanya Rafael.


" Bagas bekerja di kantor perusahaan Om Hermawan," jawab aku.


"Siapa itu Om Hermawan?" ujar Rafael bingung.


" Om Hermawan adalah tetangga Bagas dahulu. Tadinya beliau mau membantu Bagas untuk meminjamkan uang buat perusahaan Pratama, tetapi tidak jadi karena Bagas menolak untuk menyetujui persyaratan tersebut. Persyaratan menikahi anaknya yaitu Dea. Dea adalah teman kecil dari Bagas, " cerita aku pada Rafael.


Rafael mengangguk mengerti, kemudian dia berkata kepada aku, " Tapi kenapa kamu mengizinkan Bagas untuk menerima tawaran tersebut? Apa kamu tidak aneh dengan hal ini? "


Aku menghela nafas panjang mendengar ucapan Rafael. Perkataan Rafael zama persis dengan berkata Indra tadi pagi. Mengapa semua orang berkata seperti itu padaku? Apakah mereka tidak percaya dengan Bagas ttau aku saja yang terlalu polos dengan hal tersebut?


"Aku percaya dengan Bagas, Fael. Aku yakin dia tidak akan selingkuh," ucapku.


" Semoga apa yang kamu katakan itu benar, " ucap Rafael lagi.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤