
" BASTIAN!" jeritku melihat dia tersungkur ke lantai. Ketika aku hendak membantu dia, ada seseorang yang menarik tanganku
" Tidak usah membantunya!" perintahnya. Aku menengok ke arah orang tersebut. Orang itu adalah Bagas.
" Bagas?" ujarku. Aku tidak kaget dia hadir di pesta pernikahan Dina, tetapi yang aku kagetkan adalah dia memukul Bastian. Bagas menarik aku pergi. Semua mata memandang kami.
" Lepasin, Bagas!" perintahku, tetapi tidak dipedulikan oleh Bagas. Dia tetap menarik tanganku agar aku mengikui dirinya. Lalu dari arah belakang, ada yang menarik tanganku satunya.
" Evo tidak boleh pergi dari sini!" Bastian mencegah kepergianku. Tatapan ganas dari Bagas, tidak membuat Bastian gentar.
" Jangan ikut campur, ini bukan urusanmu," ucap Bagas dingin, tidak ingin dibantah. Tarik menarik diantara mereka pun terjadi. Aku yang sebagai yang direbut merasa kesakitan.
" Sakit!" aku menjerit. Kedua lelaki itu masih mempertahankan kekuatan mereka. Bagas dengan sekuat tenaga, menarik tanganku hingga membuat Bastian terjatuh untuk kedua kali.
" Dia tunanganku, jangan pernah ikut campur urusan kami!" ucap Bagas dingin. Kesal dengan Bagas, Bastian pun memukul Bagas. Pertengkaran pun terjadi. Aksi pukul memukul diantara lelaki itu tidak terelakkan. Para tamu teriak. Rafael sang pengantin lelaki mencoba melerai aksi mereka.
" Bagas, hentikan! Jangan rusak pesta pernikahanku!" Rafael memegang Bagas. Aku memegang Bastian. Bagas mencoba menarik nafas. Dia menahan emosinya. Benar kata Rafael, kami bisa menghancurkan pesta indahnya.
" Ya, akan aku hancurkan kalau Evo tidak ikut denganku," ancam Bagas. Aku mengenal karakter Bagas dengan baik. Kalau dia sudah mengancam seperti ini, pasti akan benar dia lakukan. Aku memandang Bastian.
" Jangan pergi," pinta Bastian padaku. Bastian memegang tanganku erat. Dia tidak mau aku pergi, tapi aku tidak ingin Bagas melakukan ancamannya.
" Hitungan kesepuluh, Vo. Kalau kamu tidak datang ke aku, pesta Dina pasti akan menjadi kenangan terburuk dalam sejarah. Satu," Bagas mulai menghitung.
" Bas, aku harus pergi."
" Tidak, aku tidak mau," Bastian tetap dalam pendiriannya.
" Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, Vo," ucap lelaki itu masih memegang tanganku.
" Dua."
" Tapi, aku tidak ingin pernikahan Dina menjadi pernikahan yang tidak baik, Bas."
" Tiga, empat, lima," Bagas masih tetap menghitung. Semua tegang, menunggu keputusan dariku. Dina yang ada di atas pelaminan pucat dan ketakutan. Rafael juga bingung harus bagaimana menghadapi Bagas yang tempramental.
" Enam, tujuh, delapan."
Aku pun melangkah ke arah Bagas. Dia tahu kelemahanku. Dia tahu kalau sahabat lebih penting untukku. Sebenarnya aku merindukan Bagas, tetapi bukan ini cara yang baik
" Keputusan yang baik, Evo sayang," Bagas tampak puas dengan keputusanku. Aku dan Bagas pergi meninggalkan gedung pernikahan. Sepasang mata memandang kami berdua. Mata kesedihan, mata yang kehilangan, dan terluka. Mata Bastian menyaksikan wanita yang dicintainya pergi.
❣❣❣
Bagas membawa aku ke apartemennya. Kami langsung menuju ke kamar Bagas. Lalu dia melempar tubuhku di ranjangnya.
" Ternyata selama ini kamu pergi untuk mencari lelaki lain?" Bagas menuduhku. Tatapan mata Bagas seperti dulu, saat kami pertama berjumpa. Bagas sangat marah. Lalu dia mendekatkan mukanya padaku.
" JAWAB EVO!" bentaknya padaku.
" Tidak, bukan itu. Pada hari itu, aku di jual oleh mamamu. Lalu lelaki yang dipukul olehmu yang menyelamatkanku," aku menjelaskan.
" BOHONG! KAMU PASTI BOHONG!" bentak Bagas lagi. Dia mengambil gelas yang ada di pinggir meja, lalu melemparnya. Apa yang ada didekatnya dia hancurkan. Hingga tanpa Bagas sadari tangannya terluka.
" Bagaimana caranya agar kamu percaya padaku, Gas?" ucapku panik mencoba menenangkannya. Aku mencoba memeluk dia. Bagas melepaskan pelukanku dengan mendorongku hingga aku terjatuh.
" Apa salahku padamu, Vo? Kenapa kamu harus berbohong? Mama dan Papa setuju dengan pertunangan kita. Jangan mengarang cerita seperti itu!" ucap Bagas marah.
" Aku tidak berdusta, Gas."
" Jujurlah padaku, Vo. Apa dihatimu memang tak ada cinta untukku?"
" Aku juga cinta padamu, Gas tapi...."
" Apa yang meragukanmu lagi, Vo?"
" Aku bukan wanita yang tepat untukmu," mendengar perkataanku, Bagas marah. Dia menarikku dengan kasar untuk membuatku berdiri. Aura Bagas penuh dengan emosi. Dia memojokkanku ke dinding. Memegang leherku hingga nafasku sesak.
" Mengapa kamu berkata seperti itu? Jangan selalu mencari alasan. Suka maupun tidak suka kamu adalah milikku. Kita saling mencintai, Vo, kecuali kalau kamu memang benar wanita murahan," maki Bagas marah sekali. Bagas kembali seperti dulu. Lelaki kasar, yang suka semaunya.
" Gas, aku tidak bisa bernafas. Tolong lepaskan," aku memohon padanya. Bagas melepaskan aku. Aku terbatuk, dan terduduk lemas.
".Kalau aku tidak mendapatkanmu, berarti tidak juga dengan yang lain," Bagas frustasi.