
Pemutaran video saat prawedding mereka berdua dimulai. Para undangan begitu antusias dengan video tersebut. Tepuk tangan mewarnai gedung ketika video selesai ditayangkan.
"Bagus banget ya, Bagas," ujarku melihat video tersebut.
"Mereka memang luar biasa," puji Bagas.
Selanjutnya Bagas menghampiri MC. Dia meminta kepada para undangan izin untuk menyanyi.
"Lagu ini aku persembahkan untuk wanita pujaan hatiku yang selamanya akan bersama aku. Hingga mau memisahkan kita, Evolet Rebecca."
Janji Suci - Yovie dan Nuno
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur
'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur
'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur
'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Aku menangis terharu mendengar persembahan lagu dari Bagas. Lelaki yang selalu membuat aku bingung dengan sejuta pesonanya.
Aku berkata, "Terima kasih, Bagas. Kamu membuat aku menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini."
"Apapun untuk dirimu, Evolet Rebecca. Aku mencintaimu, Evo."
Acara selanjutnya pun di mulai. Acara pemberkatan nikah antara aku dan Bagas.
"Saudara Bagas Pratama, apakah kamu bersedia mendampingi Evolet Rebecca menjadi istrimu dalam suka maupun duka?"
"Saya...."
TEK! Tiba-tiba lampu gedung mati. Semua orang histeris, kebingungan. Apa yang terjadi?
Evo? Evo? Di mana Evo??" tanya Bagas yang bingung, karena
Beberapa detik kemudian lampu menyala.
"Evolet!" Bagas terkejut karena aku tidak bersama dia. Aku ditangkap oleh Lisa. Dia menodong kepalaku dengan pistol.
"Jangan macam-macam kamu, Lisa!" Bagas memperingatkan.
"Kalau kamu tidak menikahiku, orang lainpun tidak boleh menikahimu, Bagas!" jerit Lisa.
Suasana dalam ruangan begitu tegang. Lisa tidak segan-segan untuk menembakku kapan saja.
"Lima belas tahun aku menunggu menjadi pengantinmu. Setiap hari Papa dan Mama memberitahuku kalau akulah yang pantas untukmu. Aku belajar dengan keras untuk menjadi seorang Nyonya Pratama yang pantas untukmu. Tiap detik, tiap menit, tiap hari mereka selalu berkata, akulah yang pantas untukmu!" Lisa bercerita masih dengan menodong pistol padaku.
"Tapi apa? Kenapa perjuanganku tidak kamu anggap Bagas? Kenapa kamu malah memilih wanita ini? Wanita yang jelas-jelas kamu beli tubuhnya!" Lisa mengungkapkan semuanya. Dia sudah tidak peduli lagi kata orang.
Perkataan Lisa membuat para tamu terkejut. Mereka menerka bahwa aku bukanlah wanita baik-baik. Mereka mengira aku wanita penghibur.
"Lisa, jangan seperti ini. Aku mohon." ucapku.
Lisa memukul kepalaku, lalu dia berkata," Diam kamu wanita brengsek! Seandainya kamu tidak ada, aku yang akan nikah dengan Bagas, bukan kamu."
"Jangan pukul, Evo!" Bagas memerintah.
"Lisa, anakku tenang ya, Nak!" Bu Lina mencoba menenangkan Lisa.
"Kenapa tante tidak membantuku? Padahal aku berharap pada tante. Aku sangat mencintai Bagas, tan! Sangat."
"Kita bisa bicarakan ini semua, sayang," ucap Pak Freddy.
"Tapi ini sudah tidak bisa dibicarakan! Aku yang harusnya menikah dengan Bagas! Bukan dia!"
Bagas mendekati Lisa dengan hati-hati.
"Jangan mendekat, Bagas, atau peluru ini akan menembus tubuh Evo."
"Bagas, jangan!" Teriak Maureen.
"Rafael, aku takut," Dina menggenggam tangan Rafael dengan erat.
"Kamu diam di sini ya, aku harus bantu Bagas. Jangan ke mana-mana."
"Kamu hati-hati sayang," ucap Dina. Rafael mengangguk. Rafael diam-diam dari belakang mendekati Lisa.
"Lisa tenanglah. Kamu mau menikah denganku kan?" tanya Bagas.
"Iya, mau," ucap Lisa seperti anak kecil.
"Aku juga mau...."
"Benarkah?" tanya Lisa terlena dengan ucapan Bagas. Dari belakang Rafael mengambil paksa pistol dari tangan Lisa. Rafael mendorong Lisa hingga terjatuh. Aku yang hampir ikut terjatuh diselamatkan oleh Bagas.
"Kalian brengsek!" maki Lisa.
"Terima kasih Rafael. Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Bagas.
"Santai."
"Nggak. Aku ngga apa-apa." jawabku.
"Kalian pikir aku hanya membawa satu pistol?" Lisa mengeluarkan satu pistol lagi dari pahanya.
"Pengawal tangkap Lisa sekarang!" perintah Bagas. Sayangnya, Lisapun membawa pengawalnya. Mereka mempersenjatai diri mereka.
"Tragedi apa ini, Dina?" tanya Maureen ngeri.
"Mengerikan, Ren. Aku tidak sangka Bu Lisa sangat mencintai Bagas."
Situasi semakin mencengkam. Rafael tidak dapat membantu lagi karena sudah ditangkap oleh pengawal yang dibawa oleh Lisa.
Lisa berdiri, kemudian dia menodongkan pistol ke arah aku. Bagas langsung melindungiku.
"Minggir Bagas, wanita ini yang telah merebutmu dari tanganku."
"Sadar Lisa! Sadar! Kita tidak bisa bersama." jawab Bagas.
"Bisa. Kalau dia mati sekarang." Mata Lisa merah. Tangannya bergetar menahan marah. Lisa menggertakan giginya. Lisa sangat mencintai Bagas.
"Kalau terjadi sesuatu pada Evo, aku tidak akan memaafkanmu, Lisa," ancam Bagas semakin marah. Dia takut sesuatu akan terjadi pada Evo.
"Kalau begitu menikahlah denganku, Bagas. Aku janji, aku tidak akan menyakiti Evo."
"Maaf, Lisa. Aku tidak mencintaimu. Aku hanya mencintai Evo."
"Apakah itu pilihanmu, Bagas?" Lisa bertanya sekali lagi.
"Maafkan aku Lisa. Kamu wanita yang baik, pasti di luar sana akan ada pria baik-baik yang menunggumu. Sadarlah."
"Satu-satunya yang pantas buatku adalah Bagas Pratama," Lisa masih tetap dengan pendiriannya. Ya, selama lima belas tahun keluarganya selalu mencekoki dirinya bahwa dia adalah Nyonya pewaris tahta Pratama. Lisa yang selalu berlatih menjadi wanita yang terbaik. Belajar lebih banyak dari wanita lainnya agar pantas untuk Bagas. Cita-citanya cuma satu saat itu menjadi istri Pratama.
Bagas berjalan perlahan mendekati Lisa. Lisa mengeluarkan air mata. Dia tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Hatinya hancur. Benar-benar hancur.
"Lisa...."
"Jangan mendekati aku, atau peluru ini akan melayang!" ancam Lisa. Bagas tetap mendekati Lisa. Perempuan itu kemudian menendang Bagas hingga tersungkur jatuh.
"AKU BILANG JANGAN MENDEKATI AKU!"
"Mas Bagas!" jerit Charlote.
"BAGAS!" aku berteriak melihat Bagas jatuh.
"MATILAH KAMU, EVO!"
DOR!
Lisa menembakkan pelurunya.