
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
“Lepas! Lepaskan saya!” kataku berusaha memberontak.
“Sudah diam saja. Kamu nikmati saja malam ini,” ucap lelaki itu.
Mereka berjumlah tiga orang. Lelaki pertama memegang kedua tanganku, lelaki kedua memegang kakiku. Lelaki selanjutnya mencoba melepaskan bajuku.
“Tidak! Tidak!” Aku meronta- ronta.
Dia mencium bibirku untuk menutup mulutku agar tidak berteriak. Aku menutup mataku, tidak sanggup bila mereka akan menyantap tubuhku. Ya, Tuhan, tolonglah aku!
BUK! BUK!
Seseorang meninju dari belakang tubuh lelaki yang menindih tubuhku, memegang kakiku dan tanganku.
“Berani menyentuh dia lebih dari itu, kamu akan saya bunuh,” ancam dia.
Aku membuka mataku, lalu melihat dengan pandangan mata terkejut, “Bas…, Bastian?”
“Ku …, kurang ajar!! Akan kubalas kau!” ucap lelaki itu kemudian membalas serangannya. Perkelahian yang dahsyat pun terjadi.
Bastian tidak henti – hentinya memberikan pukulan pada ketiga pria tersebut. Dia tidak memberikan ampun kepada ketiganya. Akhirmya mereka babak belur dan pergi kabur.
Bastian menghampiriku, dia membuka jaketnya lalu memberikannya pada, “Hai, Moy!”
Aku memeluk Bastian. Air mataku mengalir deras. Tidak menyangka bahwa akan bertemu dia lagi dengan kondisi seperti ini.
“Sudah jangan menangis. Ada aku di sini,” ucap Bastian kemudian menghapus air mataku. Bastian seperti malaikat penolong yang diturunkan Tuhan untukku.
“Terima kasih, Bastian,” ucapku.
“Teman baik akan selalu menolong temannya. Ayo kita pergi dari sini,” ajak Bastian.
Aku mencoba berdiri, tapi kakiku terasa sakit, “AGH!”
“Kenapa?” tanya Bastian yang membantu aku berdiri.
“Kakiku, Bas. Kakiku sangat sakit,” ujarku. Setelah berkata seperti itu, Bastian mengangkat tubuhku.
“Koper, dan tasku, Bas,” kataku.
“Nanti aku beli yang baru. Kamu harus segera dibawa ke rumah sakit sekarang,” ujar Bastian.
“Rumah sakit? Aku tidak mau ke rumah sakit. Nanti di urut saja pasti sembuh,” cegahku.
“Aku tidak minta pendapatmu,” kata Bastian lagi. Dia menaruhku masuk ke mobilnya. Supir sudah menunggu kami rupanya.
*****
Di rumah sakit.
“Bagaimana keadaan kaki teman saya, Dok?” tanya Bastian konsultasi dengan dokter.
“Keadaan kakinya baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucap dokter.
“Tapi teman kamu benar juga datang ke sini, kalau kamu tidak dibawa kita tidak tahu keadaan kamu yang sebenarnya,” bela dokter. Bastian hanya tersenyum menanggapinya.
“Ini saya berikan resep vitamin dan salep. Semoga lekas membaik,” ucap dokter lagi.
Bastian mengambil resep yang diberikan oleh dokter. Kemudian dia membantuku berdiri dan mengajakku pergi pulang ke rumahnya.
*****
Rumah Bastian.
“Evo!! Ya, ampun! Bagaimana keadaan kamu?” tanya Mbak meli.
Aku dan Bastian baru tiba di rumah pukul 1 malam. Mbak Meli yang melihat kami datang langsung menghampiri kami. Wajah Mbak Meli begitu panik karena Bastian memapahku jalan. Padahal aku sudah bilang pada Bastian bahwa kakiku dalam keadaan baik.
“Aku baik – baik saja, Mbak,” ucapku.
Mbak Meli memelukku erat. Aku merasakan kehangatan pelukan Mbak Meli. Dia seperti kakak perempuanku saja.
“Aku sangat mengkhawatirkan kamu, Evo. Sekarang kamu aman sama kami. Sebaiknya kamu tidur. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu,” ucap Mbak Meli.
“Terima kasih, Mbak Meli. Terima kasih, Bas. Kalau tidak ada kalian hari ini mungkin hidupku akan hancur,” kataku. Air mataku mengalir lagi.
“Jangan menangis lagi, Vo. Kami ada di sini untuk kamu. Kita adalah keluarga. Benarkan Bas?” kata Mbak Meli menenangkan diriku.
“Betul kata Mbak Meli. Sebaiknya kamu tidur, sudah larut malam. Besok kita cerita lagi.”
Aku mengangguk setuju. Mbak Meli mengantarkan ke kamar yang telah disediakan untukku.
“Kamu ganti pakaian dulu, lalu tidur ya.”
“Tapi, Mbak, barang – barangku ditinggal di tempat itu,” kataku.
Mbak Meli menghampiri lemari pakaian yang ada di kamar tersebut. Aku terkejut banyak sekali baju perempuan yang ada di sana.
Mbak Meli mengambil sepasang baju tidur untuk diriku, “Gantilah. Kemudian kamu langsung tidur. Besok kita harus banyak cerita tentang kamu.”
“Apa maksud Mbak Meli?”
Mbak Meli tersenyum kepadaku, lalu dia berkata, “Selamat malam, Evo. Mimpi yang indah.”
Setelah berkata seperti itu Mbak Meli pergi dari kamar. Perempuan itu menghampiri Bastian. Wajah Bastian tampak seram. Sungguh jarang terjadi Bastian bisa memiliki wajah seperti itu.
“Ada apa dengan kamu?” tanya Mbak Meli.
“Aku akan balas, Mbak!” geram Bastian.
“Apa maksud kamu?” Mbak Meli tidak mengerti.
“Aku akan balas semua perbuatan jahat yang mereka lakukan pada Evo. Orang yang berani melukai hati Evo, berarti dia menyakiti Bastian. Mereka harus hancur, Mbak!” sumpah Bastian.
Mendengar perkataan Bastian, Mbak Meli merinding. Tidak pernah dilihatnya Bastian begitu marah. Keluarga Bagas mengalami bahaya yang sangat besar.
*****
❤❤❤