MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Rumah Kecil Penuh Kebahagian



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


 


*****


Malamnya di rumah kontrakan


Aku sudah menyiapkan makan untuk makan malam kami. Satu jam yang lalu Bagas meneleponku kalau dia baru mau pulang dari kantornya.


Ceklek, pintu rumah terbuka.


"Aku pulang!" ucap Bagas. Bagas masuk lalu membuka jas dan menaruh tasnya.


Aku menghampiri Bagas, lalu bertanya padanya, "Bagaimana harimu di kantor?"


"Lumayan melelahkan, banyak sekali perkerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Bagas.


"Sebaiknya kamu mandi terlebih dahulu baru kita makan. Aku sudah siapkan makanan untuk kita makan malam," kataku lagi. Bagas menuruti perintahku. Dia segera masuk kamar mandi untuk mandi.


Setengah jam kemudian, Bagas sudah selesai mandi. Bagas menghampiriku di meja makan kecil yang aku siapkan untuk kami berdua makan. Bagas duduk di kursi tersebut.


"Bagaimana harimu. Vo?" tanya Bagas ketika aku sudah selesai menghidangkan makanan untuk kami.


"Pagi tadi Indra datang ke rumah untuk menjemputmu kerja. Apa kamu lupa mengabarinya?" tanyaku.


"Aduh, aku lupa. Lalu apa katamu padanya?" ucap Bagas sambil menepuk dahinya. Bagas sangat lupa.


"Sudah aku duga. Aku bilang kalau kamu sudah dapat pekerjaan. Aku ceritakan kalau kamu dapat pekerjaan dari teman Pak Freddy," jelasku.


Bagas mengangguk mendengar cerita aku, kemudian aku dan Bagas fokus dengan makan malam kami. Walau makan malam kami sederhana, entah kenapa rasanya begitu bahagia.


"Kenapa lihat - lihat?" tanya Bagas mengerutkan dahinya.


"Apa aku tidak boleh lihat pacar aku sendiri?" sewotku, "Aku merasa kamu sedikit lebih tampan."


"Apa? Coba kamu katakan sekali lagi."


"Aku bilang kamu sedikit lebih tampan dari sebelumnya," ucapku sambil menekan setiap kata dalam pengucapannya.


"Jadi selama ini aku tidak tampan?" Bagas menatap tajam diriku.


 


"E-eh, maksudku bukan begitu," kataku terbata-bata.


 


Bagas bersiap berdiri, tapi aku mencegah,"No, Bagas! Tetap duduk di tempatmu!"


Bagas tidak menghiraukan ucapanku, dia menghampiriku tapi aku langsung lari dari hadapannya.


"Evolet Rebecca, kamu harus menarik ucapanmu barusan!" perintah Bagas sambil mengejarku.


Aku masih mecoba untuk lari dari kejaran Bagas,"Maafkan aku, Bagas. Maafkan, tapi itu kenyataannya."


Rumah kontrakan mereka tidak sebesar apartemen Bagas, akhirnya Bagas dapat menarik tanganku. Aku yang tidak dapat menahan keseimbangan tubuhku terjatuh.


"ADUH!" ringisku.


Bagas melindungi kepalaku dengan tangannya agar tidak terbentur ke lantai. Tubuhku di bawah tubuh Bagas. Kami saling tatap, kemudian Bagas mencium bibirku.


"Bagas! Kamu curang tiba - tiba menyerangku!"


Bagas tersenyum masih di atas tubuh diriku, "Siapa suruh kamu mengejekku? Ayo tarik ucapanmu."


"Aku tidak mau."


"Apa kamu yakin tidak mau?" tanya Bagas lagi dengan senyuman licik.


"Sangat yakin. Ucapanku itu dari dalam hati Bagas. Sudah sana, badan kamu berat nih!" pintaku.


Bagas menciumku lagi, lalu tangannya mulai bergerilya.


"Bagus! Jangan menyerang aku seperti ini," kataku.


"Katakan dulu, tuan muda Bagas yang tampan, ampuni saya." perintah Bagas.


"Ti... tidak... Ba...gas...," Aku mulai terengah - engah dengan perlakuan Bagas. Bagas tersenyum melihat penderitaan yang dibuat olehnya.


"Katakan!"


"Tu ... an mu ... da Bagas yang tampan, am... puni.... saya...."


Setelah aku mengucapkan kata - kata seperti itu, Bagas berdiri. Lalu dia mengangkat tubuhku, "Jangan percaya dengan laki - laki yang sedang haus sayang,"


"Bagas kamu mesum!"


*****


Keesokan harinya di rumah keluarga Pratama.


"Sampai kapan kamu mendiamkan Mama?" tanya Bu Lina.


Charlotte yang mau pergi ke kampus, dihadang oleh Bu Lina, mamanya. Charlotte menatap tajam mamanya. Dia masih kesal dengan kedua orang tuanya yang mengusir Bagas dari apartemen. Padahal apartemen tersebut dibeli oleh Bagas sendiri.


"Sampai Mama kembalikan apartemen Mas Bagas!" pinta Charlotte. Setelah itu Charlotte pergi meninggalkan Bu Lina.


"Kamu akan berterima kasih pada Mama karena hal ini, Charlotte!" teriak Bu Lina.


Pak Freddy yang baru keluar dari kamar, lalu bertanya, "Kenapa kamu teriak pagi - pagi?"


"Charlotte masih mendiamkan aku sampai sekarang."


"Sabarlah. Dia akan mengerti suatu hari nanti. Ayo kita sarapan dulu," ajak Pak Freddy yang belum sarapan.


"Ini semua karena wanita busuk itu! Semua anakku melawan diriku! Aku pasti akan membalasnya! Pasti!" janji Bu Lina.


*****


"Gas, hari ini aku janji pergi bersama Maureen, Dina, dan Rafael. Apa kamu mau ikut dengan kami?" ajak aku. Tadi malam sebelum Bagas sampai ke rumah, Maureen menghubungi untuk mengajak aku dan Bagas menonton.


"Nanti aku kabari ya, Vo. Aku tidak bisa sebebas waktu punya perusahaan sendiri."


"Oke. Aku akan menunggu kabar darimu," ucapku.


"Aku berangkat ya, Vo!"


Ketika hendak Bagas keluar, Charlotte ada di depan rumahnya.


"Mas Bagas!" peluk Charlotte pada kakak laki - lakinya itu.


"Charlotte?" kaget Bagas.


"Charlotte! Bagaimana kamu tahu rumah ini?" tanya aku juga kaget melihat adik Bagas di sini.


Charlotte melepas pelukannya dari Bagas, "Kemarin malam aku minta sama Mas Bagas. Kebetulan aku bangun kepagian, jadi aku datang ke sini bersama Evan."


"Apa kabar, Mas Bagas dan Mbak Evo?" tanya Evan lalu menjabat tangan kami satu persatu.


"Baik, Evan. Ayo masuk ke rumah dulu," ajak Bagas.


"Loh, kamu bukannya mau berangkat ke kantor?" tanyaku.


"Aku akan menghubungi Om Hermawan untuk mengabari kalau aku terlambat datang ke kantor. Adik kesayanganku sudah datang berkunjung ke rumah kita," ujar Bagas.


Bagas, aku, Charlotte dan Evan masuk ke dalam rumah.


"Kenapa tidak datang nanti malam?" tanya Bagas.


"Aku takut kalian tidak ada di rumah," jawab Charlotte. Charlotte memandang rumah yang di tempati oleh kakak lelakinya itu. Dia sedih karena Bagas tidak pernah tinggal di rumah sekecil ini.


"Apa kalian sudah sarapan?" tanya aku pada Charlotte dan Evan.


"Aku belum, Mbak Evo. Apa ada makanan yang bisa aku dan Evan makan?" tanya Charlotte pada diriku.


"Tadi Evan juga belum makan, Mbak. Soalnya tuan putriku ini dari semalam sudah ribut ingin berkunjung ke tempat kalian. Katanya rindu pada Mas Bagas dan Mbak Evo," ledek Evan.


"Evan, kamu jahat!" kesal Charlotte.


"Tentu saja ada makanan yang aku berikan!" ujar aku.


Aku dan Bagas tersenyum melihat tingkat mereka berdua. Aku menyediakan roti bakar sisa tadi kami makan. Mereka berdua begitu lahap makannya.


"Tadi aku dengar, Mas Bagas sudah bekerja lagi. Di mana Mas Bagas kerja?" tanya Charlotte.


"Om Hermawan menawari aku kerja, Char. Dia meminta bantuanku untuk mengganti sementara tugas seseorang yang baru dia pecat," jelas Bagas.


"Om Hermawan sangat baik padamu, tapi aku heran kenapa dia kemarin tidak membantumu meminjamkan uang?" tanya Charlotte mengerutkan dahi.


"Mas Bagas juga tidak tahu. Mungkin karena Mas Bagas menolak keinginan beliau untuk menikahi Dea," Bagas menjelaskan.


"Lalu apa yang Mbak Evo kerjakan waktu Mas Bagas berangkat ke kantor?" tanya Charlotte. Dia penasaraan apakah Evo membantu kakakknya dalam masalah keuangan?


"Untung kamu mengingatkan aku. Gas, kemarin Indra menawarkan aku kerja. Apakah aku boleh menerima pekerjaan tersebut?" tanyaku pada Bagas.


"Silahkan, kalau memang kamu sanggup mengerjakannya." Bagas mempersilahkan aku bekerja.


"Nah, aku setuju kalau Mbak Evo bekerja biar kalian segera pindah dari rumah ini. Rumah ini terlalu sempit untuk kalian."


"Tetapi rumah kecil ini rumah yang nyaman untuk aku dan Evo," ujar Bagas sambil memegang tanganku.


Beberapa saat kami hening. Kami tahu perasaan Charlotte saat ini. Aku rasa dia tidak bermaksud mengejek.


"Bagaimana dengan ujian skripsimu? Kapan akan sidang?" tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.


"Beberapa hari yang lalu aku sudah daftar ujian, Mas. Bulan depan aku akan sidang. Doakan aku lulus sidang ya, Mas," jelas Charlotte lagi.


"Ya, kami akan selalu doakan, Char! Kamu lakukan yang terbaik ya," kataku.


 


"Terima kasih, Mbak Evo!" ucap Charlotte.


Bagas melihat jam tangannya, "Sepertinya kita akhiri obrolan kita ini. Aku harus berangkat ke kantor. Bagaimana kalau kita janjian untuk bertemu?"


"Setuju dengan usulan Mas Bagas. Kita jangan membuat Mas Bagas terlambat lebih lama, sayang," Evan mengingatkan kekasihnya itu.


"Iya, Mas. Kami juga mau ke kampus. Mau mengurus berkas - berkas yang kurang kemarin," kata Charlotte. Charlotte, dan Evan bersiap - siap untuk pulang, begitu juga dengan Bagas.


"Mbak Evo, aku pulang ya," pamit Charlotte.


"Aku berangkat sayang," ujar Bagas.


"Gas, tunggu!" kataku menahan Bagas.


"Apa sayang? Tadikan udah aku cium kamu."


Charlotte dan Evan tersenyum mendengar ucapan Bagas.


"Bukan itu, Bagas!" marahku.


"Lalu apa?" tanya Bagas bingung.


"Apa kamu yakin aku boleh kerja di tempat Indra?" ucapku.


"Iya, sayang. Silahkan!" izin Bagas, "Apa hanya itu saja yang ingin kamu bicarakan?"


"Iya, hanya itu."


"Baiklah, aku sudah terlambat. Aku berangkat ya," pamit Bagas lagi. Setelah mereka berangkat, aku segera mengambil ponselku dan mengetik nama Indra lalu meneleponnya.


"Halo," sapa Indra.


"Indra, ini aku Evo. Aku mau bekerja di kantormu," kataku memberitahu.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤