
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Jangan lupa ya berikan vote, koment dan likenya. Senang rasanya MOY sampai episode ini. Semua karena dukungan dari kalian. Semoga kalian bantu aku memberikan vote ya. Terima kasih
*****
Bu Lina cemas menunggu jawaban dari anaknya, Ibu dari Bagas itu tidak ingin rencana perjodohan ini gagal karena jawaban yang tidak tepat dari Bagas.
“Saya mencintai Dina sejak kuliah, Om,” dusta Bagas.
“Benarkah? Bukankah kamu mencintai wanita yang bernama Evo?” selidik Pak Hermawan.
“Kamu ini tidak tahu anak muda zaman sekarang, Her. Bagas itu tidak cinta dengan Evo. Hanya selingan saja untuk menutup luka dari Dea,” bela Pak Freddy. Dulu Pak Freddy tahu kalau Dea dan Bagas ada hubungan. Mereka menjalin hubungan tapi putus ditengah jalan.
Dea ingat sekali saat SMA dulu. Mereka merupakan salah satu pasangan yang diirikan oleh banyak orang. Bagas yang selalu setia dengan Dea, dan menemani Dea kemanapun Dea berada.
Masih teringat di benakknya, bahwa Bagas memberikan sebuah surat cinta untuk menembak Dea. Begitu romantis yang dilakukan Bagas padanya.
“Wah, wah! Ternyata begitu. Kenapa Dea tidak pernah cerita pada Papa?”
“Saat itu Dea yang salah, Pak. Dea yang minta putus dengan Bagas, tapi sekarang Dea yakin kalau kami berdua tidak akan dipisahkan. Yakan Bagas?”
Dea ingat sekali saat itu dirinya yang minta putus karena jenuh dengan Bagas. Bagas terlalu posesif dengan Dea. Kecemburuan Bagas membuat hidup Dea tidak tenang. Pada akhirnya Dea sengaja menerima cinta lelaki yang lain untuk membuat mereka putus.
Bagas menerima keputusan Dea, tapi sejak itu Bagas menjadi seorang playboy. Dia berburu setiap wanita dan memamerkannya pada Dea. Kadang Bagas meminta Dea berpura- pura menjadi kekasihnya untuk memutuskan pacarnya.
Bagas merespon dengan anggukan kepala. Dipikirannya sekarang hanya ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dikesampingkannya perasaan dia untuk kebahagian keluarga.
“Jadi kapan pesta pernikahan Bagas dan Dea akan dilaksanakan?” tanya Bu Heni yang menangkap signal baik dari suaminya.
“Lebih cepat lebih baik,” ucap Bu Lina dengan penuh semangat.
“Mama, bolehkah setelah aku wisuda acara pernikahan Mas Bagas dan Kak Dea berlangsung?” ide Charlotte mencoba mengulur waktu.
“Betul kata Charlotte. Setelah Charlotte wisuda, baru kita laksanakan pernikahan Dea dan Bagas,” usul Pak Freddy.
“Terima kasih, Pa,” ucap Charlotte. Rencana dia berhasil.
Pak Hermawan mengangguk setuju dengan keputusan Pak Freddy. Kedua keluarga tersebut tampak bahagia.
“Aku tidak menyangka kita menjadi besan, Hen,” ungkap Bu Lina senang.
“Aku senang menjadi besanmu, Lin,” ujar Bu Heni.
Charlotte mengamati wajah Bagas yang tampak sedih. Charlotte tahu kalau Bagas saat ini adalah korban dari keserakahan orang tua. Membantah membuatnya seperti anak durhaka.
Seusai makan malam, keluarga Pratama dan Hermawan menuju ke ruang tamu. Mereka masih membahas rencana pernikahan Bagas dan Dea. Gedung mana yang akan digunakan, designer mana yang akan dipakai untuk merancang baju mereka.
Perlahan Bagas menyingkir dari ruang tamu. Charlotte mengikuti langkah kakaknya itu dari belakang.
“Kenapa mengikutiku?” tanya Bagas yang menyadari adiknya mengikuti dari belakang.
“Aku ingin mencari udara segar. Mas Bagas kenapa keluar?” Charlotte balik bertanya.
“Mencari udara segar juga. Sumpek di sana,” jawab Bagas.
Charlotte memandang ke luar, malam ini hujan turun dengan derasnya. Sepertinya alam tahu isi hati Bagas sehingga ikut menumpahkan air jatuh ke bumi.
“Mas Bagas yakin?” tanya Charlotte.
“Tentang apa?”
“Perjodohan ini. Aku yakin kamu tidak cinta lagi dengan Kak Dea. Kenapa kamu malah menerimanya?” ucap Charlotte sambil memandang tajam ke arah Bagas.
Bagas tersenyum, dia lupa kalau adik perempuannya itu bukanlah seorang anak kecil lagi. Charlotte sudah tumbuh dewasa. Adiknya itu tidak dapat dibodohi olehnya.
“Anak pintar,” kata Bagas.
“Jawab pertanyaaku, Mas!” desak Charlotte.
“Ada pertanyaan yang tidak ada jawabannya, contohnya adalah pertanyaanmu ini,” ucap Bagas.
*****
Kediaman Bastian.
Pukul 10 malam kami tiba di kediaman Bastian. Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi hujan. Suara petir menggelegar di luar sana, membuat perasaanku sedikit takut.
Tiba – tiba lampu rumah Bastian mati.
“Kya!” teriakku ketakutan lalu berlari ke arah Bastian. Aku memeluk dirinya. Aku sungguh takut dengan gelap.
“Tenanglah, tenang. Ada aku di sini,” ucap Bastian menenangkan hatiku. Dia mendekapku lebih erat.
“Mbak! Coba cek kenapa lampu bisa mati?” perintah Bastian.
“Baik, Tuan,” ucap pelayan tersebut.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang memberikan berita bahwa lampu mati karena ada aliran listrik terganggu. Dia membawakan lilin untuk kami.
“Jadi tidak bisa menyala?” tanya Bastian memastikan.
“Ya, Tuan sedang diperbaiki. Mohon menunggu,” ujar pelayan.
Aku melepaskan pelukanku ketika lilin diberikan oleh pelayan rumah Bastian. Rumah sebesar ini dan lampu padam, menambah ketakutanku.
“Sudah ada lilin. Baliklah ke kamar, sudah malam saatnya tidur. Selamat malam, Vo,” pamit Bastian.
Aku menarik tangan Bastian. Bastian menoleh ke arahku. “Ada apa?”
“Temani aku ya, aku takut,” pintaku pada Bastian.
Bastian melirikku, tubuhku gemetar karena takut. Akhirnya Bastian mengangguk setuju dengan permintaanku. Kami berdua menuju ke kamarku.
Bastian mengambil selimut dari tempat tidurku, kemudian dia meletakkannya di bawah tempat tidur.
“Untuk apa selimutnya kamu taruh di situ?” tanyaku.
“Kita bukan suami istri, Vo. Aku tidur di bawah kamu tidur di atas,” katanya.
Mendengar perkataan Bastian aku sangat takjub. Dia masih memegang prinsip norma yang sangat baik. Padahal dia anak orang kaya. Gadis manapun pasti mau tidur dengannya. Bastian adalah pria yang baik.
Aku membolak balik badan karena tidak bisa tidur. Cuaca di luar sana sangat ekstrim. Bunyi petir membuat tubuhku semakin gemetar.
“Kenapa?” tanya Bastian di bawah.
“Hah?”
“Kenapa tidak tidur?” Bastian bertanya lagi.
“Aku tidak bisa tidur, Bas,”kataku jujur. Perasaan takut ini membuatku menjadi tidak bisa tidur.
“Coba kamu berhitung. Siapa tahu kamu bisa tidur?” usul Bastian. Aku mengikuti usul Bastian. Sambil menatap ke atas, aku mulai berhitung. Hingga hitungan ke seratus, aku tidak bisa tidur.
Terdengar suara petir yang sangat keras. Aku menutup mulutku agar tidak teriak dan menganggu Bastian tidur.
Bastian bangun dari tidurnya, lalu berdiri.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku takut ditinggalkan olehnya. Bastian naik ke tempat tidur. Lalu memeluk diriku. Aku terkejut dengan perbuatannya itu.
“Sudah, tidurlah. Ada aku di sini. Jangan takut,” ucap Bastian, “jangan salah paham, aku janji tidak akan mengambil kesempatan malam ini.”
Pelukan Bastian sangat menenangkan hatiku. Dekapannya begitu hangat.
“Terima kasih, Bas,”kataku. Kemudian aku tidur dalam dekapannya.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya.
❤❤❤