MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Siapa yang salah?



Hai, semuanya! Mohon bantuan untuk tekan jempolnya dan berikan vote ya. Terima kasih telah membaca dan menyayangi Evo.


*************


Tok, tok, tok.


Aku mengetuk pintu ruangan Maureen. "Silahkan masuk."


Aku membuka pintu. Maureen tersenyum melihatku, kemudian dia berkata padaku, "Evo! Kenapa kamu tidak bilang kalau ke sini?"


Aku menghampiri Maureen lalu memeluk wanita itu. Lalu kami duduk di sofa. Maureen memberikan secangkir teh manis yang dibuatnya. Aku meminum seteguk untuk melegakkan tenggorakanku.


"Hahaha, aku juga tidak menduga akan ke sini, Maureen. Tadi aku ke luar dari apartemen untuk mencari ide, tetapi aku malah semakin buntu sama ide tersebut," aku menceritakan.


"Dasar penulis novel. Sudah berapa buku yang kamu terbitkan?" tanya Maureen. Maureen mengenal aku dengan baik. Dia tahu kalau aku adalah orang pekerja keras. Menurutku,bekerja itu harus sepenuh hati. Begitu pula menulis sebuah buku. Aku tidak mau asal menulis karena tulisanku ini akan dibaca banyak orang. Aku mau mereka bahagia membaca cerita yang aku ciptakan ini.


"Novel pertamaku terbit di perusahaan Rafael. Apa kamu masih ingar?" aku bertanya. Maureen menggangguk, lalu dia menyimak cerita kembali.


"Lalu novel kedua aku terbit di Bandung, saat aku menghilang waktu itu. Bastian yang membantuku," aku bercerita. Bastian? Nama itu terucap lagi dimulutku. Pria itu banyak sekali membantuku. Dia yang menolongku saat di Malaysia. Dia juga yang memperkenalkan aku dengan temannya yang penerbit untuk menerbitkan novelku. Mengingat hal itu, aku jadi rindu padanya.


"Hai, Evo? Apa kamu masih di sini?" tanya Maureen sambil mengipas-kipas tangannya diwajahku. Aku terbangun dari lamunanku.


"Maaf, maaf. Sampai mana tadi aku cerita?" tanyaku sambil menggarut kepala karena salah tingkah.


"Novel keduamu. Lalu sekarang novel ketigamu sudah bagaimana?" tanya Maureen.


"Kemarin Rafael sudah menyetujui untuk diterbitkan. Aku lagi merapikan novel keempatku," ceritaku lagi.


Maureen menepuk punggungku dengan lembut. Kemudian dia tersenyum dan berkata, "Aku bangga punya sahabat sepertimu. Lebih bangga lagi kalau kamu mau kerja sama denganku di perusahaan Bagas."


Aku menggeleng kepala tanda aku tidak mau. Bekerja satu perusahaan dengan pasangan ternyata tidak menyenangkan. Apalagi pasangan kita adalah bosnya. "Aku tidak mau. Aku masih mau meneruskan novelku ini."


Maureen tertawa mendengar ucapanku. Sahabatku ini paham sekali bahwa aku tidak akan bergabung lagi dengan perusahaan ini.


Tiba-tiba aku teringat satu hal, tentang Indra. Aku ragu untuk bertanya, karena menurutku ini masalah pribadi mereka.


"Ren ...," panggilku.


Maureen mengetik sesuatu di telepon genggamnya. "Apa?"


"Kenapa kamu bisa putus dengan Indra?" tanyaku pada akhirnya.Maureen menghentikan kegiataanya. Dia kaget karena aku menanyakan hal ini padanya. Biasanya aku tidak pernah mau tahu urusan orang lain kecuali orang itu menceritakannya sendiri.


"Aku salah paham padanya. Maafkan aku Evo," ucap Maureen.


"Kenapa kamu malah minta maaf padaku?" tanyaku heran.


"Aku marah pada Indra karena aku menemukan fotomu di kamar Indra. Pertengkaran kami hebat saat itu, aku terpancing emosi dan akhirnya aku megucapkan kata putus," Maureen cerita. Air mata Maureen jatuh di pipi. Aku langsung memeluk Maureen.


"Kemarin aku bertemu dengannya dan meminta maaf atas kekhilafanku. Indra belum bisa memaafkan perbuatanku. Dia bilang padaku kalau kamu sampai tahu aku akan membuatmu kecewa tidak percaya padanya. Maka dari itu aku minta maaf padamu, Evo."


Aku menghapus air mata Maureen, setelah itu berkata padanya, "Aku tidak akan marah dengan hal seperti ini. Jadi jangan menangis ya?"


Jadi benar ya, Indra dan Maureen putus karena aku. Alasan Indra dan Maureen berbeda, tapi intinya memang penyebab ini semua adalah aku.


********


Apartemen Bagas.


Drrt ...., Drt....


Bunyi telepon masuk punya Bagas.


"Halo." Sapa Bagas.


"Mas, ini aku Charlotte. Mas Bagas pulang ya Papa pingsan," kata Charlotte memberikan kabar. Bagas langsung menutup teleponnya. Dia begitu panik.


"Ada apa, Gas?" tanyaku.


"Papa pingsan, Vo. Ayo kita segera ke sana," ajak Bagas. Kamipun segera berangkat ke rumah keluarga Pratama.


*********


Di rumah keluarga Pratama


"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Bagas. Kami baru tiba di rumah Bagas. Bagas sangat panik. Dia menempuh waktu 30 menit untuk sampai ke rumahnya. Biasanya perjalanan dari apartemen ke rumahnya menempuh satu jam.


"Papa sedang diperiksa dokter pribadi kita," Charlote menjelaskan. Aku dan Bagas langsung masuk ke kamar Pak Freddy untuk mengecek keadaannya.


"Terima kasih, Dokter atas bantuannya," ucap Bu Lina. Dokter pergi meninggalkan kamar Pak Freddy.


"Ada apa dengan Papa? Mengapa Papa bisa seperti ini?" tanya Bagas. Dia duduk di samping Pak Freddy.


Bu Lina memandang sinis ke arahku. Kemudian dia cerita, "Papa kamu mendapat kabar bahwa calon istrimu ini telah menjual dirinya padamu. Dia bukan wanita baik - baik."


"Siapa yang bicara seperti itu pada Papa? Beraninya dia menyebarkan fitnah pada Evo," ucap Bagas marah. Dia menggertakkan giginya.


"Tidak penting siapa yang berkata seperti itu. Hal yang paling penting sekarang adalah jaga nama baik keluargamu, Bagas. Mama tidak setuju kamu dengan Evo! Kamu juga Evo harusnya kamu tahu diri, wanita seperti kamu tidak pantas untuk anak saya Bagas," ujar Bu Lina kesal. Suaranya sudah mulai meninggi.


"Cukup, Ma. Jangan berkata kasar pada Evo. Evo tidak salah."


"Terus Bagas kamu membela dia. Sampai terjadi hal buruk pada Papamu, saya tidak akan memaafkan Evo!" ancam Bu Lina.


"Maafkan aku, Tante."


Ceklek.


Pintu kamar Pak Freddy terbuka.


"Om, Om! Bagaimana keadaan, Om?" ucap Dea. Dia baru datang dengan napas terengah-engah. Dea sama paniknya dengan Bagas. Mungkin, Dea sudah mengganggap Pak Freddy ayahnya.


"Om Freddy tidak apa - apa sayang. Dokter bilang dia tidak boleh stress. Kamu jangan panik ya," Bu Lina menjelaskan.


Aku diam melihat semua drama yang ada di sini. Semenit yang lalu wanita tua itu begitu panik, tapi ketika kehadiran Dea, dia langsung berubah baik.


"Syukurlah, aku sedih sekali mendengar Om Freddy pingsan, apalagi Papa. Papa langsung menyuruhku kemari untuk melihat keadaan Om."


Bu Lina memeluk Dea. "Anak yang baik. Om kamu tidak apa- apa sayang."


Aku menggigit bibir bawahku, menahan tangis dan pusing. Perlakuan Bu Lina padaku dan Dea benar- benar berbeda. Bagai langit dan bumi.


"Kamu boleh keluar, Evo. Kamu yang menyebabkan suami saya seperti ini," usir Bu Lina.


"Ma, sudahlah. Evo tidak salah apa-apa!" bela Bagas.


"Tidak apa - apa, Bagas. Lebih baik aku keluar dari pada semua tambah kacau," kataku. Aku keluar dari kamar Pak Freddy. Charlotte diam - diam mengikuti aku yang keluar.


Ruang tamu.


"Kenapa kamu masih tetap memaksa menuruskan hubunganmu dengan Mas Bagas? Aku sudah memperingatimu, Vo."


"Aku mencintai Bagas, Char," jujurku.


"Tapi cinta kalian menyakiti banyak orang. Itu yang salah!" tegas Charlote."Tuhan pun tidak setuju dengan hubungan kalian. Pernikahanmu gagal, Papa sakit. Apa yang bisa menyadarkanmu biar kamu berpisah dengan Mas Bagas?'


Kata - kata Charlote membuatku terpukul. Apa benar cinta kami ini salah? Apa benar kamu ditakdirkan untuk tidak bersatu? Akan tetapi mengapa Tuhan mengizinkan kami bertemu? Mengapa?


***************


Malamnya di apartemen Bagas.


"Bagas, kita harus bicara," ucapku.


Bagas yang sudah mau tidur, membalikkan badannya ke arahku. Kemudian dia berkata padaku, "Apa?"


"Aku rasa sebaiknya kita berpisah," ucapku lirih.


Bagas bangun dari tidurnya. Dia memandang diriku dengan tatapan tajam,"Kenapa tiba - tiba kamu berkata seperti itu?"


"Sepertinya kita ditakdirkan untuk tidak bersama, aku tidak pantas untukmu, Gas."


Bagas menghela napas panjang, dia menatapku dengan lembut. Lalu dia berkata padaku,"Ini pasti karena Mama. Sudahlah jangan pikirkan perkataan Mama. Mama hanya sedang emosi. Setelah emosinya selesai, pasti dia akan setuju dengan hubungan kita."


"Tidak, Bagas, kamu tidak mengerti." kataku mulai terpancing emosi. Rasanya aku ingin menceritakan apa yang dikatakan Charlote adiknya itu.


Bagas merangkul tubuhku, kemudian katanya padaku,"Sudahlah, sudah malam. Besok kita bicarakan kalau suasana hatimu sudah tenang."


Bagas benar - benar tidak mengerti. Aku tidak tahan dengan ini semua. Perlakuan Bu Lina yang berbeda padaku dan Dea. Perkataan Charlote yang tepat tentang hubungan kami. Seandainya aku orang kaya, apakah Bu Lina akan menerimaku? Apakah perlakuannya padaku akan sama dengan dia memperlakukan Dea?


Tolonglah Tuhan agar aku mampu menjalani semua didalam hidupku. Aku tidak pernah bisa melupakan Bagas karena hanya dirinya yang paling aku cinta saat ini. Hanya dia yang aku punya saat ini. Berikan aku kekuatan untuk menjalani ini semua.


***********************