
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Kampus Charlotte
"Ada apa? Kenapa kamu bisa bertengkar dengan Siska? Kalau Bu Lina tahu kelakuan kamu tadi, pasti beliau akan marah," nasehat Pak Drily.
"Maaf, Pak. Saya mengaku salah. Tadi Siska mancing emosi saya untuk bertengkar. Dia mengejek keluarga saya, apalagi keluarga saya sedang mengalami badai masalah," cerita Charlotte.
Pak Dirly memegang tangan mahasiswanya itu, Charlotte membelalak matanya. Debar jantung Charlotte berdetak begitu cepat.
"Sabar ya, Charlotte. Bapak juga sudah mendengar kasus keluargamu. Bapak akan mendukung dan berdoa untuk keluargamu," Pak Dirly memberikan semangat pada Charlotte. Pak Dirly tersenyum dan menatap Charlotte penuh cinta.
Charlotte dengan sopan melepaskan tangan Pak Dirly, dosennya itu. Dia menundukkan kepalanya untuk tidak menatap mata Pak Dirly.
"Terima kasih, Pak. Saya senang Bapak begitu perhatian pada keluarga saya," ucap Charlotte sopan.
"Sama - sama. Saya perhatian sama kamu karena....," Pak Dirly menghentikan ucapnnya. Hampir saja Pak Dirly kelepasan bicara.
"Karena apa Pak?" tanya Charlotte penasaran.
"Ya, karena kamu mahasiswa saya. Apalagi saya adalah dosen pembimbing kamu. Saya tidak mau kalau kamu sampai tertunda skripsinya," Pak Dirly menjelaskan.
"Terima kasih, Pak," ucap Charlotte lagi.
"Ya, sudah. Hanya itu yang ingin saya bicarakan padamu. Saya harap kamu tetap semangat dalam mengerjakan skripsi agar segera wisuda," Pak Dirly memberikan nasehat.
"Ya, Pak. Saya pamit pulang," pamit Charlotte lalu beranjak ke luar ruangan Pak Dirly.
"Untung saja saja aku tidak kelepasan bicara," ucap Pak Dirly. Sejak bertemu pertama kali dengan Charlotte dia sudah jatuh cinta, tapi dia tidak ingin menghancurkan kariernya karena ini.
Di luar ruangan.
"Ya, Tuhan akhirnya kamu keluar juga dari ruangan Pak Dirly. Aku sudah menunggmu lama di sini," ucap Evan cemas.
Evan memeriksa seluruh tubuh Charlotte, kemudian berkata kepada pacarnya itu, "Apa kamu baik - baik saya? Aku tadi mendengar kamu di keroyok oleh Siska dan teman - temannya."
"Tidak, aku baik - baik saja," jelas Charlotte pada Evan," Terima kasih kamu sudah khawatir sama aku."
"Tentu saja aku khawatir, akukan pacar kamu!" marah Evan.Charlotte tersenyum pada Evan. Hatinya berbunga - bunga karena perhatian pacarnya itu.
"Lalu kenapa kamu dipanggil Pak Dirly?" tanya Evan lagi.
"Tadi dia hanya tanya kenapa aku bertengkar dengan Siska. Sudah ya, jangan membahas ini lagi. Aku sudah lapar. Aku mau makan," ucap Charlotte sambil mengandengnya makan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Evan. Mereka sambil berjalan menuju mobil Evan.
"Aku mau makan steak, terus mau nonton. Apa kamu mau menemaniku?" manja Charlotte.
"Tentu saja. Apapun aku berikan pada kamu agar kamu selalu bahagia," ujar Evan. Hati Charlotte semakin berbunga - bunga.
*****
Perusahaan Pratama.
Bagas sudah tiba di Perusahaan Pratama sebelum pukul sepuluh. Dia sekarang sudah berada di luar aula. Semua karyawan, pejabat, dan pemegang saham yang belum menjual sahamnya menghadari rapat ini. Bagas menarik napas panjang. Dia kumpulkan tenaganya untuk menghadapi ini semua. Setelah merasa siap Bagas mendorong pintu lalu masuk ke dalam ruangan itu.
"Silahkan duduk di sana, Pak," ucap karyawan ramah melihat Bagas datang. Pak Freddy dan Bu Lina melihat kehadiran Bagas di aula.
"Saya mengumpulkan kalian untuk membicarakan penyelamatan Perusahaan Pratama. Apakah semua pemegang saham dan pejabar berwenang sudah hadir?" tanya Pak Freddy.
"Ada satu orang yang memegang saham hampir lima puluh persen belum hadir di sini, Pak." ucap seseorang.
"Tidak usah menunggu dia. Ini sudah lebih dari cukup," ucap Pak Freddy. Anak laki - lakinya harus diberi pelajaran secepatnya.
"Drama apa lagi ini, Din yang akan kita saksikan?" tanya Maureen tidak percaya.
Dina menggelengkan kepala, kemudian dia berkata, "Aku harap Bagas dapat kuat menghadapi.
"Kalian pasti sudah tahu bahwa Perusahaan Pratama di Malaysia, tambah lagi dengan kelakuan anak saya yang membuat semua orang marah dan menarik investasi dan kerja sama. Apakah ada pendapat untuk aksi penyelamatan ini?" lanjut Pak Freddy pada semuanya.
"Pecat Pak Bagas!" usul seseorang.
Aula ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian depan dan tengah dipakai oleh para pejabat dan pemegang saham. Mereka bisa bicara karena tersedia microphone di depan mereka. Orang yang barusan bicara merupakan salah satu pejabat atau pemegang saham Kami yang karyawan hanya dapat mendengar tanpa dapat mengemukakan pendapat. Sebenarnya Maureen salah satu bos di Perusahaan Pratama tapi dia tidak mau bergabung dengan meraka.
"Benar, Pak! Pecat dia. Dia yang membuat perusahaan merosot tajam," pinta yang lain.
Bagas yang mendengar itu menguatkan hatinya. Dia sudah tahu apa yang terjadi. Dia tahu kalau Pak Freddy dan Bu Lina akan menghancurkan kariernya.
"Tidak, saya tidak setuju. Banyak peningkatan yang diberikan oleh Pak Bagas pada perusahaan kita. Mengapa kita tidak memberikan kesempatan?" bela seseorang.
"Apa yang ditingkatkan oleh Pak Bagas? Apa? Dia hanya meningkatkan hasrat nafsunya saja!" marah seseorang.
"Benar, kalau begini terus Perusahaan Pratama akan hancur! Apakah kalian rela? Banyak karyawan yang bekerja diperusahaan ini! Saya setuju sekali kalau Pak Bagas segera dipecat!" ucap seseorang lagi.
"Setuju!" seru yang lain.
Perdebatan demi perdebatan di dengar oleh Bagas. Banyak yang mendukung Bagas untuk di pecat, tapi ada beberapa yang membela Bagas.
"Ren, aku tidak kuat melihat Bagas di adili seperti ini. Lebih baik aku keluar dari ruang rapat ini," pamit Dina.
"Jangan, Din. Kita harus menemani Bagas, walau kita jauh darinya, kita harus ada di sini," cegah Maureen.
*****
Di Mall.
"Aku tidak menyangka kalau Mas Bagas akan benar - benar menentang Papa dan Mama. Dia pergi meninggalkan rumah dan bersedia untuk mengundurkan diri dari jabatannya," cerita Charlotte.
Charlotte dan Evan sedang makan di sebuah restoran yang ada di Mal. Makanan yang dipesan oleh Charlotte adalah nasi goreng daging sapi dan Evan memesan nasi goreng kepiting.
Evan mengomeli pacarnya, "Kamu itu kalau makan jangan belepotan seperti itu. Itu dibersihkan dulu di mulut kamu."
"Di mana? Ini?" tunjuk Charlotte di bibir sebelah kanan, padahal kotoran yang dimaksud oleh Evan ada di bagian bibir sebelah kiri.
"Van," panggil Charlotte.
"Apa?"
"Kenapa kamu milih aku jadi pacar kamu? Maksud aku, kenapa kamu cinta sama aku?" tanya Charlotte.
Evan menggeleng kepala, "Aku tidak tahu. Aku tidak punya alasan mengapa aku mencintai kamu?"
"Kok begitu sih jawabannya?" sewot Charlotte.
"Aku pernah menulis sebuah puisi untuk kamu dulu, sepertinya puisi ini cocok menjawab pertanyaanmu padaku.
Seseorang yang mencintai kamu tidak bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu, tetapi dia hanya tahu dimata dia, kamulah satu-satunya.
Seseorang yang mencintai kamu sebenarnya selalu membuat kamu marah dan kesal, tetapi dia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang sudah ia lakukan,karena semua yang ia lakukan adalah untuk mencari perhatianmu.
Seseorang yang mencintaimu jarang untuk memujimu,tetapi di dalam hatinya kamu adalah yang terbaik.
Hanya itu yang ia tahu.
Seseorang yang mencintaimu mungkin tidak bisa mengingat kejadian atau kesempatan istimewa,tetapi ia tahu bahwa satu detik yang dia lalui dia selalu mencintaimu." ucap Evan membacakan puisi untuknya.
"Ya, ampun Evan. Aku senang mendengar puisi kamu tentang aku," kata Charlotte. Hati Charlotte berbunga - bunga. Kebahagian memancar dari wajah Charlotte. Charlotte tidak percaya kalau Evan bisa membuat puisi seromantis itu untuk dia.
"Aku mencintai kamu," ucap Evan. Charlotte merangkul Evan yang tepat duduk di sebelahnya.
"Aku lebih mencintai kamu, Evan," ujar Charlotte tidak mau kalah.
Terdengar suara lagu yang terpasang di restauran tersebut.
"Ku ingin kau tahu, ku ingin kau selalu.
Dekat denganmu setiap hariku.
Sudahkah kau yakin untuk mencintaiku?
Ku ingin hanya satu tuk selamanya.
Ku tak melihat dari sisi sempurnamu.
Tak peduli kelemahanmu, yang ada aku jatuh cinta karena hatimu
Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih, dari apa adanya dirimu selalu.
Cintaku terasa sempurna karena hatimu, selalu menerima kekuranganku.
Sungguh indah cintaku."
(Lagu Nicky TIrta yang berjudul Indah Cintaku)
Lagu yang di putar di restoran ini pas dengan keadaan cinta Charlotte dan Evan. Cinta mereka sedang berbunga - bunga dan penuh dengan kebahagian.
*****
Apartemen Bagas.
PRANG!
Aku tidak sengaja memecahkan gelas. Jantungku berdebar kencang, tanganku mulai dingin. Apa sedang terjadi sesuatu yang buruk pada Bagas?
Aku memungut pecahan kaca tersebut.
"AGH," teriakku kesakitan.
Pecahan kaca melukai tanganku. Hatiku semakin kacau. Pikiranku terarah pada Bagas. Bagaimana nasib Bagas di kantor? Kenapa aku begitu bodoh tidak ikut dengannya tadi.
"Tuhan, tolong jaga Bagas untukku. Aku mohon," pintaku pada Tuhan.
*****
Perusahaan Pratama.
"Baik, baik. Saya mengerti dengan keinginan kalian sekarang. Berarti kita melakukan pemilihan suara untuk dua pilihan opsi. Opsi pertama adalah Bagas tetap menjadi pemimpin, dan opsi kedua yaitu Bagas di pecat dari perusahaan." ucap Pak Freddy memberikan pendapat.
"Setuju!" ujar seseorang.
"Benar sekali!!" ucap yang lain.
"Pemilihan suara ini hanya berlaku buat pemimpin dan pemegang saham Perusahan Pratama," perintah Pak Bagas.
"IT tolong siapkan semuanya," perintah Pak Freddy.
"Aku harus turun ke bawah, Din. Aku harus bantu Bagas. Siapa tahu suaraku membantu dia menang," psmit Maureen.
"Semoga behasil, Sis!" doa Dina.
Acara pemilihan suara pun di mulai. Bagas tidak banyak komentar dengan semua kejadian ini. Bagas hanya berharap semua segera selesai. Dia sudah mulai muak dengan semua ini.
Anggota yang seharusnya hadir dalam rapat berjumlah 37 orang, tetapi ada satu yang tidak datang. Walau demikian acara ini tidak dapat berhenti karena sudah memenuhi kuota dalam aturan rapat.
Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai memilih. Hasil dari pemilihan suara sebentar lagi akan terpampang dalam layar.
Jantung Dina dan Maureen berdetak kencang. Mereka benar - benar berharap Bagas memenangkan pemilihan ini. Bagas merupakan pemimpin yang baik dan bagus. Bagas tidak dapat terganti oleh siapapun.
*****
BERSAMBUNG.
Apa yang terjadi dengan Bagas? Apakah Bagas akan menang dalam pemilihan tersebut?
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤