MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Perkenalkan



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


 


 


 


 


“Saya ingin pacar saya menjadi pemimpin perusahaan Pratama,” pinta Bastian.


 


 


“Apa? Tidak! Mana mungkin itu!” tanya Pak Freddy tidak percaya.


 


 


“Terima kasih atas izinnya. Kebetulan pacar saya menunggu di depan. Saya akan menyuruh dia masuk.”


 


 


   Bastian melangkah keluar dari aula, lalu dia menuntun seorang wanita masuk.


  “Sepertinya akan menjadi seru,” ucap Mbak Meli seraya tersenyum. Bastian memang adik yang pintar untuk urusan menjatuhkan seseorang.


 


 


  Mata Pak Freddy dan Bu Lina terbelalak. Mereka tidak percaya degan apa yang dilihatnya. Wanita yang mereka lihat adalah sosok yang sangat dikenal kedua orang tersebut.


 


 


  Maureen yang duduk menjadi berdiri melihat sosok wanita yang dibawa oleh Bastian. Dia menggosok matanya secara perlahan, takut matanya sedang tidak awas.


 


 


  “Evo?” ucap Maureen, Pak Freddy, dan Bu Lina berbarengan.


 


 


“Perkenalkan pacar saya, Moy.” Bastian memperkenalkan diri pacarnya.


Apa? Pacar? Kenapa Bastian tidak memberitahuku sebelumnya? tanya aku dalam hati.


“Apa? Moy?” tanya Maureen tidak percaya. Bukankah dia Evo? Kenapa Evo berganti namanya menjadi Moy? Ada apa sebenarnya yang terjadi?


 


 


  Semua orang menatap ke arah Bastian dan wanita tersebut. Beberapa orang mengagumi kecantikan wanita yang bernama Moy itu. Moy menggunakan pakaian terusan berwarna merah, dengan sepatu hitam. Rambut panjang yang terurai panjang membuat kecantikan Moy sangat sempurna.


 


 


   “Apa – apaan ini? Sandiwara apa lagi yang mau kamu lakukan kepada kami Evolet?” Bu Lina terpancing emosinya. Dia tidak percaya bahwa yang di depan matanya bukan Evolet.


 


 


  “Bas, kamu lupa menyebutkan nama asli aku ke mereka,” kataku pada Bastian.


 


 


  Bastian menepuk jidatnya, kemudian dia berkata, “Ya, ampun sayang! Aku lupa kalau itu nama kesayangan aku ya ke kamu. Mari kita ulangi, perkenalkan pacar kesayangan saya pemilik saham terbesar perusahaan Pratama yaitu Evolet Rebecca.”


 


 


 


 


  Sontak perkataan Bastian membuat Pak Freddy, Bu Lina maupun Maureen tambah terkejut. Mereka bertiga tidak menyangka kalau sekarang Evolet pemilik perusahaan Pratama.


 


 


  “Halo Tante Lina dan Om Freddy. Apa kabar?” sapaku.


 


 


“Kau? Kau?” geram Bu Lina.


 


 


“Ya. Saya Evolet Rebecca. Pemilik saham terbesar di perusahaan Pratama,” kataku sambil tersenyum.


 


 


  Betapa senangnya diriku melihat muka Pak Freddy dan Bu Lina yang pucat karena tidak percaya. Aku tidak menyangka Bastian bisa membuat raut muka mereka berubah seperti ini. Aku yakin kalau harga diri mereka terkoyak mendengar pernyataan Bastian bahwa dia memberikan saham itu sepenuhnya untukku.


 


 


“Saya tidak setuju kalau wanita ****** ini menjadi pemimpin perusahaan ini!” kata Bu Lina tidak setuju.


 


 


  Hatiku goyah, tubuhku gemetar mendapatkan penghinaan di depan banyak orang. Bastian memegang tanganku dengan erat. Tangan Bastian memberikan aura positif agar aku mampu bertahan.


 


 


  “Jaga bicara anda, Nyonya Pratama! Dia pacar saya. Jangan sampai saya mengusir anda dari ruang rapat ini!” bela Bastian sambil memandang Bu Lina dengan tatapan tajam.


 


 


  “Benar kata adik saya, Bastian. Dia berhak mengusir anda saat ini,” bela Mbak Meli.


 


 


  “Saya tidak terima! Saya tidak setuju dengan usulan anda bahwa wanita ini menjadi pemimpin perusahaan Pratama! Dia pembunuh anak saya!” jerit Bu Lina di depan para anggota rapat.


 


 


  “Wah, benarkah seperti itu?” bisik seseorang.


 


 


   “Kacau sekali Pak Bastian mau pacaran dengan pembunuh,” bisik yang lain.


 


 


  “Tidak menyangka ya. Tunggu bukankah itu tunangan Pak Bagas?” ucap yang lainnya.


 


 


“Diam semua! Hai, Nyonya Pratama jangan menyebarkan fitnah apa pun! Saya bisa menjerat kamu ke penjara atas pencemaran nama baik terhadap Evo,” bela Mbak Meli.


 


 


 


 


  Ruang rapat menjadi hening mendengar bentakan Mbak Meli.Mereka tidak percaya bahwa Bastian membawa seorang wanita pembunuh di ruangan ini dan Mbak Meli membelanya.


 


 


“Benar ucapan istri saya. Beberapa hari yang lalu dia selingkuh dengan pria lain. Anak saya menjadi korbannya. Sadarlah Pak Bastian. Wanita ini tidak baik untukmu. Kami memiliki bukti.”


 


 


  “Bohong! Itu tidak benar!” kataku membela diri.


 


 


  Maureen melihat semua drama ini. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dilihatnya sekarang adalah Evo. Rasanya Maureen ingin menghampiri wanita yang berada di samping Bastian itu. Dia ingin meminta maaf, tapi ini bukan waktu yang tepat.


 


 


  “Dengan segala hormat Pak Freddy dan Bu Lina, jangan memfitnah calon istri saya ini. Kalau memang kalian tidak suka dengan Evo, silahkan anda berdua keluar dari aula ini,” perintah Bastian dengan santai.


 


 


  “Tidak bisa! Kamu tidak bisa menyuruh kami untuk keluar dari ruangan ini! Kami masih punya hak di sini! Ingat kami juga pemegang saham di sini.” Pak Freddy tidak terima di usir oleh Bastian.


 


 


 


 


  Bu Lina yang geram, kemudian menghampiri diriku. Amarah Bu Lina tidak terbendung lagi terhadap diriku. Bu Lina melayangkan tangannya untuk menampar diriku, tetapi ditangkis oleh Bastian.


 


 


  “Dulu anda bisa berbuat seperti ini pada Evo, tapi sekarang tangan kotor anda tidak bisa melakukan hal tersebut!” geram Bastian.


 


 


  “Brengsek! Kamu memang brengsek Evo! Kamu akan lihat pembalasan kami!” ucap Bu Lina sambil menunjuk – nunjuk diriku.


 


 


  “Kamu berani melawan Pratama! Lihat saja apa yang akan saya lakukan pada kalian!” sumpah Pak Freddy.


 


 


  Bastian tersenyum, dia tidak gentar dengan ancaman yang diberikan oleh Pak Freddy maupun Bu Lina.


 


 


  “Kamu akan menyesal karena membela wanita ini!” teriak Bu Lina masih meluapkan amarahnya.


 


 


  Bastian mencium tangan Evolet, dan memberikan senyuman di bibirnya. Bastian berkata pada kedua orang tua tesebut, “Seharusnya kalian yang menyesal karena telah berani menghina pacar saya.”


 


 


  “Bagas tidak pantas untuk wanita ****** seperti kamu, Evo!” ejek Bu Lina.


 


 


  “Salah. Saya merasa Bagas yang rugi telah meninggalkan Evo.”


 


 


  “Bas, cukup ya. Sudah jangan lagi, kita balik aja ya,” pintaku. Aku melihat Bu Lina dan Pak Freddy sangat kesal dibuat oleh Bastian.


 


 


“Karena pacar aku yang cantik ini minta pulang, berarti kami harus segera pulang. Ayo Mbak Meli kita balik. Rapat ini tidak bermutu sama sekali.”


 


 


  Mendengar omongan Bastian, Pak Freddy semakin naik pitam. Dia sangat membenci Bastian dan Evolet.


 


 


  “Oh, iya, sebelum aku lupa. Kalian semua yang ada di ruang rapat ini harus kuberitahu. Perusahan Pratama akan mengalami kebangkrutan, jadi sepertinya kalian pikirkan bantuan dana kalian itu. Jangan sampai kalian rugi dibuatnya,” ucap Bastian lagi.


 


 


  “Apa? Apa katamu?” bentak Pak Freddy.


 


 


  Bastian dan aku pergi dari ruang rapat tersebut meninggalkan Pak Freddy dan Bu Lina yang kesal. Bastian sangat puas dengan pembalasan pertama yang dia lakukan pada keluarga Pratama.


 


 


  Maureen yang menyaksikan itu semua tidak bisa berkata apa – apa lagi. Bastian telah memukul telak keluarga Pratama.


 


 


Setelah kepergian Bastian, Pak Freddy mengamuk dan mengusir semua orang yang ada di ruang rapat. Dia tidak menyangka bahwa dia akan kalah dengan seorang wanita seperti Evo.


 


 


  “Keluar! Keluar kalian semua dari sini!” perintah Pak Freddy.


 


 


Semua orang berhamburan keluar dari ruang rapat tersebut termasuk Maureen. Ketika sepi Pak Freddy menghancurkan apa yang bisa dia hancurkan di ruangan tersebut.


 


 


  “Ini tidak bisa dibiarkan Mama! Perusahaan kita bisa hancur kalau tidak ada bantuan dana sebesar 100 milyar!” ungkap Pak Freddy.


 


 


  “Mama ada jalan keluar, Pap. Kita harus segera menikahkan Bagas dengan Dea, kemudian kita hancurkan Evolet Rebecca, dan Bastian,” usul Bu Lina.


 


 


  “Doni!” panggil Pak Freddy.


 


 


“Ya, Pak!” sahutnya.


 


 


“Cari tahu tentang Bastian Karel, dan Meli. Aku pengen tahu bagaimana mereka punya saham sebesar itu!” petintah Pak Freddy.


 


 


  “Siap, Pak!” jawab Doni kemudian keluar dari ruangan.


 


 


“Seharusnya dari awal kita bunuh wanita tersebut! Bagas satu – satunya cara untuk menghancurkan Evolet.”


 


 


*****


 


 


 


 


 


 


 


 


*****


Tunggu kisahnya ya. Jangan lupa tekan like karena itu gratis.


 


 


NEWS!!


 


 


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


 


 


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


 


 


❤❤❤