MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Penjelasan Evo



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


****


Rumah keluarga Pratama.


 


 


“Bagaimana keadaan, Bagas?” tanya Bu Lina khawatir.


 


 


Setengah jam yang lalu Charlotte menghubungi Bu Lina. Dia memberi kabar bahwa Bagas pingsan di kamar. Bu Lina, Pak Freddy dan Dea sudah tiba di rumah.


 


 


“Mas Bagas sudah tidak apa – apa, Mam. Tadi aku sudah memberikan obat. Hanya saja Mas Bagas belum sadar,” jelas Charlotte.


 


 


“Benar – benar Evo telah menghancurkan anakku, Bagas! Dia tidak akan saya maafkan!” sumpah Bu Lina.


 


 


“Sabar, Tante. Ayo kita ke kamar Bagas untuk melihat kondisi Bagas,” ajak Dea.


 


 


“Benar kata Dea. Kita harus melihat anak kita,” ujar Pak Freddy kemudian pergi melangkah ke kamar Bagas. Bu Lina dan Dea mengikuti dari belakang.


 


 


Charlotte menarik tangan Dea. Lalu berkata, “Bisakah Kak Dea menceritakan apa yang terjadi pada Mas Bagas semalam?”


 


 


Dea berhenti melangkah. Dia menatap Charlotte. Calon adik iparku ini bisa menjadi senjataku juga untuk menyerang Evo.


 


 


“Tadi malam Evo dan Indra bercumbu di hotel. Kami semua memergoki dia di hotel tersebut. Bagas sangat terkejut melihat kejadian tersebut. Bagas dan Indra saling pukul tadi malam. Evo benar – benar keterlaluan. Dia sangat jahat. Bagas selalu membelanya, tapi malah dia berselingkuh. Ini namanya air susu dibalas dengan air tuba,” cerita Dea panjang lebar.


 


 


Charlotte melongo mendengar ucapan Dea. Entah kenapa Charlotte tidak percaya dengan apa yang dia dengar tentang Evo.


 


 


“Aku kasihan dengan Bagas. Kamu harus membantu Bagas untuk melupakan Evo. Wanita itu sangat tidak baik untuk Bagas.”


 


 


Charlotte masih diam. Dia tidak mampu berkata apa – apa. Hati kecilnya berkata, Evo bukan wanita seperti itu. Charlotte mengigit kukunya.


 


 


“Apa ada lagi yang kamu tanyakan?” tanya Dea.


 


 


“Tidak, Kak. Aku sudah mengerti sekarang.”


 


 


Dea pergi meninggalkan Charlotte menuju ke kamar Bagas.


 


 


“Ini semua salah, Evo. Seandainya dia tidak keras kepala dan mau mendengarkan untuk meninggalkan Bagas. Pasti semua ini tidak akan terjadi pada anak kita,” kesal Bu Lina melihat kondisi Bagas sekarang.


 


 


“Benar katamu, Mama. Sampai terjadi apa – apa pada Bagas, Evo harus membayar ini semua,” ancam Pak Freddy.


 


 


“Tapi aku senang Tante, Om. Rencana kita berhasil. Bagas sudah sangat membenci Evo. Aku yakin setelah Bagas sadar pasti dia tidak akan mau bertemu dengan Evo,” ucap Dea yang baru saja masuk ke kamar Bagas.


 


 


Bu Lina menarik napas panjang. Usaha mereka memang berhasil, tapi wanita itu sedih melihat kondisi Bagas yang seperti ini.


 


 


“Tenang saja, Tan. Bagas orang yang kuat, dia akan sadarkan diri. Sebelum Bagas sadar, kita harus membereskan Evo hingga tuntas.”


 


 


“Apa maksud kamu, Dea?” tanya Bu Lina.


 


 


“Indra dan Evo harus segera menikah. Ketika Bagas nanti bangun dia akan semakin putus asa dan tidak akan mengharapkan Evo lagi. Karena Evo telah menikah dengan Indra.”


 


 


“Bagaimana caranya kita memaksa Evo untuk menikah dengan Indra?” tanya Pak Freddy.


 


 


“Aku akan menyebarkan foto dan video tadi malam. Evo pasti akan menikah dengan Indra,” ide Dea.


 


 


“Kamu memang luar biasa. Calon menantu yang sangat luar biasa. Pada akhirnya Evo dan Bagas tidak bersatu. Kamu akan mendekati Bagas lagi dan kalian akan menjadi pasangan luar biasa,” puji Bu Lina.


 


 


“Kamu memang luar biasa, sayang,” puji Pak Freddy.


 


 


“Kapan foto itu akan tersebar?” tanya Bu Lina.


 


 


“Nanti malam, Tan. Kita lihat saja.”


 


 


 


 


“Mas Bagas, cepatlah bangun. Evo tidak bersalah, jangan sampai Mas Bagas menyesal karena kehilangan Evo,” gumam Charlotte.


*****


Rumah Sakit.


Aku berjalan menuju ke tempat informasi.


 


 


“Selamat sore, Mbak. Kamar ruangan Melati nomor 421 di mana ya?” tanya aku pada resepsionis.


 


 


“Mbak naik ke lantai 4 menggunakan lift. Kemudian keluar lift Mbak ke kanan, di sana aka nada tulisan ruangan Melati. Mbak cari saja no 421,” jelas perawat.


 


 


“Terima kasih, Mbak atas pemberitahuannya,” ucapku.


 


 


Setelah berkata seperti itu aku menuju ke lift, kemudian menekan nomor 4 untuk menuju lantai 4. Aku menunggu beberapa saat, pintu lift terbuka. Aku keluar lalu menuju ke kanan. Seperti ucapan resepsionis ada tulisan ruangan Melati. Aku membuka pintu ruangan tersebut dan mencari nomor 421.


 


 


“Ketemu juga. Nomor 421.” Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Maureen. Semoga Maureen mau mendengarkan cerita yang sebenarnya.


Ceklek.


“Permisi,” izin aku.


 


 


Mereka yang di dalam terkejut mendengar suaraku. Di ruang kamar Maureen ada Dina, dan Rafael. Dina dan Maureen nampak melihat aku dengan sinis.


 


 


“Hai, Vo. Masuklah,” ucap Rafael ramah. Mendengar panggilan Rafael, aku berjalan masuk dan menghampiri mereka. Muka Maureen berubah menjadi padam, ia kelihatan begitu marah. Begitu juga Dina.


 


 


“Apa kamu masih ada muka datang ke sini?” tanya Dina kesal.


 


 


“Jaga bicara kamu, Dina. Kamu jangan ikut campur dalam masalah Maureen dan Evo,” Rafael mengingatkan istrinya itu.


 


 


“Kenapa kamu selalu membela Evo? Apakah benar foto yang disebarkan dulu? Apa jangan – jangan kamu juga selingkuh dengan Evo?” tuduh Dina.


 


 


“Foto? Apa maksud kamu? Aku dan Evo selingkuh?” tanya Rafael tidak percaya dengan tuduhan Dina.


Dina mengeluarkan telepon genggamnya, lalu memberikan kepada Rafael. Dina berkata,“Ini buktinya!”


“Jadi karena ini kamu marah sama aku saat itu? Apa kamu percaya pada gambar ini dari pada aku?” tanya Rafael kesal.


 


 


“Bukan, bukan itu maksudku. Dia! Dia memang bukan wanita baik – baik! Dia mau merebut semua lelaki termasuk pacar dari sahabatnya. Dulu aku, sekarang Maureen. Kamu jahat, Vo! Jahat!” tuduh Dina.


 


 


“Dina memang benar. Aku tidak menyangka kamu begitu jahat pada kami, Vo,” bela Maureen.


 


 


“Kalian salah paham padaku. Aku dan Rafael tidak pernah berselingkuh. Rafael hanya aku anggap sebagai sahabat sama seperti kalian.”


 


 


“Omong kosong!” teriak Dina.


 


 


“Terserah kamu, Din. Aku tidak mau bertengkar denganmu. Aku datang ke sini hanya ingin menyelesaikan masalah dengan Maureen.”


 


 


“Kamu tidak usah bicara dengan Maureen. Kamu bukan sahabat yang baik buat kami. Lebih baik kamu keluar,” perintah Dina.


 


 


“Cukup, Dina! Kita keluar dari ruangan ini.” Rafael menarik tangan Dina untuk pergi dari ruang kamar Maureen.


 


 


“Tapi…, tunggu, perkataanku benarkan? Evo bukan wanita yang baik. Kenapa kamu selalu membela dia terus? Apa benar kamu masih sayang sama dia?” Dina menahan diri tidak mau pergi.


 


 


Rafael menarik napas panjang. Dia tidak mau bertengkar dengan istrinya. Kondisi kehamilan Dina pasti akan terganggu kalau emosi Dina terpancing lagi.


 


 


“Apa kamu lihat, Vo? Sampai sekarang Rafael terus membelamu. Kamu benar – benar wanita penggoda!” tuduh Dina lagi.


 


 


“Seandainya saja tadi malam kamu tidak kepergok oleh Bagas, pasti kamu masih selingkuh dengan Indra. Kamu jahat, Vo! Jahat!”


 


 


PAK!


Rafael menampar Dina. Laki – laki itu sudah tidak tahan dengan omongan Dina istrinya.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.


 


*****


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤