
“Apa? Surat pengunduran diri?” tanya Bastian.
Bagas mengangguk perlahan.
“Kenapa kau mengundurkan diri? Bukankah perusahaan ini milikmu?” kata Bastian bingung. Evo yang sejak tadi mendengar, ikut bingung dan dia menanti jawaban dari mulut Bagas.
“Ada pertanyaan yang tidak bisa seseorang jawab, begitu juga pertanyaanmu. Aku harap kalian berdua bahagia. Tolong jaga Evo untukku.”
Ketika selesai mengucapkan itu. Bagas berbalik badan dan melangkah pergi.
“Bagas…”
Bagas menghentikan langkahnya, tapi dia tidak membalikkan badan, walau suara Evo memanggilnya.
“Aku harap kamu juga bahagia.”
Bagas pergi setelah selesai mendengar ucapan dari Evo. Rasa haru menyelimuti perasaan Evo. Dulu Bagas pernah menghiasi hari – harinya, sekarang bukan Bagas lagi tujuan hidupnya melainkan Bastian. Evo memegang tangan Bastian dengan erat.
“Apa aku boleh meminta kelanjutan tadi?” goda Bastian.
“Dasar laki – laki mesum,” maki Evo.
Bastian menarik kembali tangan Evo, tapi….
Drt, Drt.
Telepon genggam Evo berbunyi.
“Apa lagi ini?” gerutu Bastian membuat Evo terpingkal karenanya.”Tidak usah diangkat.”
Evo melirik nama yang tertera dari layar ponselnya. “Ini nomor Mamanya Dina.”
“Angkatlah. Aku rasa itu panggilan penting.”
Evo mengangguk, lalu dia menerima panggilan tersebut.
“Halo.”
“Evo, tolong Tante, Rafa… Rafael, dia berusaha bunuh diri!”
*****
Rumah Rafael.
“Syukurlah kalian sudah datang,” ucap Mama dari Dina.
“Ada apa, Tan? Kenapa Rafael bisa melakukan hal bodoh seperti itu?” tanya Maureen.
Sebelum Evo ke rumah Rafael, Evo mengajak Maureen ikut. Jadilah Evo, Bastian, dan Maureen yang datang ke rumah Rafael.
“Aku tidak mengerti jalan pikiran anak itu. Tiba – tiba kami melihat dia tergeletak di kamarnya,” cerita Ibu itu pada kami.
“Di mana Rafael sekarang?” tanya Evo.
“Di kamarnya. Bujuklah Rafael, Vo. Hanya kamu satu – satunya andalan Tante. Selamatkan Rafael untuk Mike dan Nay,” pinta Ibu itu dengan suara parau.
“Evo akan berusaha sebisa Evo, Tan. Evo dan Maureen akan coba berbicara dengan Rafael,” ucap Evo.
“Aku akan menunggumu di luar,” kata Bastian.
“Baik. Aku dan Maureen akan masuk ke dalam.”
Evo dan Maureen segera masuk ke dalam. Mereka berdua mengetuk terlebih dahulu kamar Rafael, tapi yang punya tidak membuka.
“Rafa! Ini kami, Evo dan Maureen!” ucap Evo.
Rafael tidak menyahut juga. Maureen yang kesal, membuka pintu tersebut. Ternyata pintu kamar Rafael tidak terkunci.
“Hai, Fa,” sapa Evo.
Rafael hanya melirik mereka berdua. Evo dan Maureen menghampiri Rafael. Pandangan mata Rafael kosong. Dia benar – benar sangat terpuruk saat ini.
“Apa yang kau lakukan tadi? Apa otakmu tidak waras?” kesal Maureen.
“Reen, jangan seperti itu!” pinta Evo.
Evo menyelidiki Rafael, melihat matanya. Tak terlihat dimatanya gairah untuk hidup. Evo sangat mengerti, karena dia pernah merasakan hal itu sebelumnya.
Evo memegang tangan Rafael, dia berusaha mengalirkan aura positifnya untuk Rafael.
“Hei, Fa. Bagaimana perasaanmu?” tanya Evo lembut.
Rafael menatap Evo dengan sedih, tetesan air mata membanjiri pipi Rafael. Tembok pertahanannya hancur untuk kesekian kalinya.
“Dina sudah pergi, Vo! Dia pergi! Dia pergi selamanya! Dia meninggalkan aku, Vo!” teriak Rafael.
Maureen yang menyaksikan Rafael seperti itu, tersayat hatinya. Dia menghampiri Rafael untuk mendekap Rafael dalam pelukannya. Evo yang menyaksikan itu mundur satu langkah. Dia tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Evo terharu melihat Maureen dan Rafael. Perlahan – lahan Evo keluar, karena Evo merasa Maureen bisa membangkitkan semangat untuk Rafael.
“Ada apa? Kenapa kamu cepat keluar?” tanya Bastian yang kaget melihat Evo cepat keluar.
“Bagaimana, Nak Evo? Apa Rafael baik – baik saja?” tanya Mamanya Dina.
“Rafael akan semakin membaik, Tan. Aku percaya itu,” tegas Evo.
Dia menatap ke arah foto Dina, lalu tersenyum pada foto tersebut.
Hai, Dina, aku rasa yang pantas untuk menjadi ibu sambung untuk anak – anakmu adalah Maureen. Aku melihat ada cinta di mata Maureen untuk Rafael. Wasiatmu akan terkabul, dan aku akan bantu untuk mewujudkannya.
*****
Rumah Bastian.
Bastian menghela napasnya, hari ini begitu lelah baginya. Setelah selesai rapat yang memakan waktu cukup lama, dia harus mengantarkan Evo ke rumah Rafael.
Bastian duduk di sofa ruang tamunya. Dia merebahkan dirinya untuk mengurangi kelelahan. Evo duduk di sebelahnya.
“Maaf karena aku, kamu jadi tambah lelah,” kata Evo. Dia paham betul kegiatan Bastian hari ini. Tadi siang Bastian sempat mengeluh karena kelelahan.
Bastian yang sedang menggoyang – goyangkan kepala, sedikit berolahraga, menghentikannya. Dia menengok ke arah Evo, lalu menarik tubuh Evo agar dapat memeluknya.
“Ke ujung dunia pun, kamu memintaku untuk mengantarmu, aku pasti akan mengantarmu,” kata Bastian.
“Terima kasih, Sayang.”
Evo yang sudah tidak peduli dengan pelayan rumah, mengecup bibir Bastian. Bastian tersenyum karena untuk kedua kalinya Evo berinisiatif mencium dirinya. Bastiapun membalas ciuman tersebut.
“Dengar….”
“Apa?” lirih Evo.
“Aku sangat mencintaimu,” ucap Bastian di telinga Evo.
“Aku juga, Bas.”
Tiba – tiba Bastian teringat sesuatu. Bastian masih mendekap Evo dengan erat. Dia tidak ingin kemesraan yang mereka buat barusan, berhenti begitu saja.
“Boleh aku bertanya satu hal padamu?” tanya Bastian. Dia merasa kepo dengan satu hal.
“Katakanlah.”
“Mengapa kamu cepat sekali keluar dari kamar Rafael dan meminta pulang padaku? Padahal Maureen masih berada di dalam sana.”
Evo memperbaiki posisi duduknya, dia ingin melihat wajah Bastian. Dia mengelus wajah Bastian dengan lembut.
“Apa kamu ingat sebelum Dina meninggal, dia memintaku dan Dina untuk masuk ke ruangan ICU?” tanya Evo.
“Ya, aku ingat. Kenapa?” tanya Bastian balik.
“Sebelum meninggal, Dina memberikan wasiat kepada kami berdua. Maksudku, wasiat untuk aku dan Maureen.”
“Wasiat? Apa wasiatnya?” Bastian tampak penasaran.
“Ada dua wasiat yang diberikan Dina pada kami.”
“Oh ya? Apa saja? Aku penasaran,” ujar Bastian.
“Wasiat pertama, Dina meminta kami menjaga anaknya, Mike dan Nay,” kata Evo. Dia masih sibuk bermain – main di wajah Bastian.
“Aku setuju kalau kamu menjaga anak Dina dan Rafael. Aku yakin kedua anak tersebut tidak akan kurang kasih sayang.”
“Tepat sekali. Aku dan Maureen sepakat menganggap Mike dan Nay seperti anak kami sendiri,” tutur Evo.
“Lalu apa wasiat yang kedua?”
“Salah satu dari kami harus menikahi, Rafael, Bas!” ungkap Ebo.
“Apa? Tidak! Aku tidak setuju!” tegas Bastian.
Evo ketawa melihat Bastian menolak wasiat yang kedua dari Dina. Sebelumnya Evo sudah menduga hal itu, tapi dia harus memberitahu Bastian, karena sebentar lagi Bastian akan menjadi suaminya. Jadi tidak boleh ada apa pun yang disembunyikan kepada Bastian.
“Tenanglah, Sayang. Aku sudah bilang pada Maureen, aku tidak bisa menerima permintaan Dina, karena aku sudah punya kamu,” terang Evo.
Mendengar penjelasan Evo, hati Bastian berbunga – bunga, ternyata Evo memikirkan masa depan bersama dengan dirinya sebelum Bastian melamarnya kemarin.
Pelayan rumah datang ke ruang tamu membawakan teh beraroma. Evo mencium aroma tersebut, membuat Evo menjadi mual. Sangat mual. Evo berlari ke wastafel yang berada di dapur. Bastian mengikuti Evo dari belakang. Setelah sampai di wastafel, Evo muntah.