
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Siang ini matahari malu untuk muncul ke bumi, sehingga cuaca menjadi mendung. Aku mencari tempat untuk melepas lelah setelah mencairkan uang dan mencari tempat tinggal yang tak kunjung dapat.
“Selamat siang, Mbak Evo. Tumben mampir ke kafe. Apa kabar?” tanya pelayan kafe menyambutku hangat. Aku tersenyum membalas keramahannya.
“Mau pesan apa?”
“Sama seperti biasa,” jawabku.
“Dengan senang hati.”
“Jadi berapa?” tanyaku.
“Bayar seperti biasa,” jawab pelayan itu sambil tersenyum. Aku memberikan uang kepadanya. “Terima kasih. Nanti pesanannya akan saya antar,” ujar dia lagi.
Aku membawa koperku lalu mencari tempat untuk duduk. Aku melepaskan tas ranselku. “Berat juga tas ini,” keluhku.
Aku mengeluarkan isi tas ranselku. Laptop membuat beban dalam tasku sangat berat. Aku membuka laptop tersebut.
“Sebaiknya aku mencari tempat kost di daring. Aku lelah mencari dari pagi tapi tidak ketemu juga.”
Aku menyalakan laptopku, kemudian mencari tempat kost yang cocok untuk aku tinggal. Banyak yang muncul tapi harganya sangat mahal.
“Silahkan, Mbak Evo,” ucap pelayan memberikan pesanannya padaku.
“Terima kasih,” kataku.
“Tumben bawa koper, Mbak. Mau ke mana? Apa mau liburan?” tanya pelayan itu.
“Hahaha, tidak. Aku mau pindah rumah. Apa kamu tahu tempat kontrakan yang murah meriah?” tanyaku balik.
“Coba aku ingat,” katanya sambil berpikir, “Mungkin Mbak bisa ke tempat ini.”
Pelayan itu memberikan sebuah alamat. Alamat tersebut lumayan jauh dari sini.
“Itu kontrakan punya Om saya. Seminggu yang lalu ada yang kosong. Semoga belum ada yang menempati,” katanya.
“Terima kasih infonya,” ucapku.
“Sama – sama, Mbak. Semoga hari kamu menyenangkan.”
Aku meletakkan alamat tersebut ke dalam tasku. Aku masih mencoba mencari tempat yang lebih dekat dari sini.
Drt…, Drt.
Bunyi dering dari telepon genggamku. Aku mengambil telepon genggamku yang ada di meja. Lalu melihat orang yang menelepon. Indra.
“Kenapa lelaki ini belum menyerah juga ya? Indra menyebalkan!” makiku. Aku menekan tanda merah untuk menolak panggilan teleponnya.
Aku kembali fokus dengan laptopku, lalu membuka email. Sudah lama sekali aku tidak membuka email para pembacaku.
Hai, Mbak! Cerita kamu luar biasa bagus. Aku suka sekali. Apa cerita ini kisah nyata?
Salam sayang penggemarmu, Dita.
Aku benar – benar terhanyut dengan ceritamu, Mbak. Aku merasa seperti dalam tokoh tersebut. Kamu luar biasa. Di tunggu cerita- cerita berikutnya ya, Mbak! Eva.
Bibirku mengukir senyuman. Aku sangat bahagia sekali membaca surat dari mereka. Melihat tulisan ini semangatku untuk hidup sedikit meningkat. Ternyata aku masih dicintai oleh seseorang. Tidak, malah bukan seorang lebih dari seorang.
Aku terus membaca pesan yang masuk, kemudian mataku terbelalak dengan satu pesan.
Hai, Evo. Apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku tidak pernah menghubungi kamu. Aku sangat sibuk dengan pekerjaan baruku. Aku harap kamu baik – baik saja dan bahagia dengan Bagas.
Dari sahabatmu, Bastian.
“Ya, Tuhan. Ini beneran Bastian? Bastian menghubungiku!” kataku tidak percaya. Aku melihat tanggal dia mengirimkan pesan. Pesan dikirim sudah lama. Sekitar 3 bulan yang lalu. Akupun membalas pesan dari Bastian.
Dear, Bastian.
Aku baik – baik saja. Aku bahagia dengan Bagas. Bagaimana keadaan kamu? Apakah kamu sudah punya kekasih? Maafkan aku yang baru balas pesanmu. Kenapa tidak menelepon saja? Apakah nomormu ganti?
Sahabatmu, Evolet.
Aku membaca ulang pesan yang akan aku kirim pada Bastian. Aku ragu untuk mengirimnya karena aku bohong padanya. Saat ini kondisiku tidak baik – baik saja.
Aku menghela napas panjang. Sudah berkali – kali aku menghapus kemudian menulis ulang lagi pesan.
“Sebaiknya aku kirim saja. Lagi pula aku tidak akan bertemu dengan Bastian lagi,” kataku kemudian mengirimkan pesan tersebut.
Siang sudah berganti malam. Tidak terasa kalau di luar sana sudah gelap. Aku kelabakan karena lupa kalau aku tidak punya tempat untuk tidur.
Drt…, drt.
Ada telepon masuk ke telepon genggamku. Evan yang menghubungiku.
“Mbak? Ini Evan. Di mana kamu?” tanya Evan pacar Charlotte khawatir.
“Ada apa Evan?” tanyaku.
“Ada berita tentang kamu di televisi. Apa kamu sudah lihat? Kalau kamu ada di luar jangan kembali ke rumahmu. Para wartawan pasti sedang mencarimu,” kata Evan menjelaskan.
“Berita tentang apa?”
“Berita menyebutkan kalau kamu yang mencelakai anak pertama keluarga Pratama, Mas Bagas. Bu Lina telah melaporkan kamu ke polisi. Aku dan Charlotte sedang mencegahnya,” cerita Evan lagi.
“Apa? Kenapa jadi semakin rumit?” tanyaku.
“Jaga diri kamu ya, Mbak Evo.”
“Baik, Evan. Terima kasih informasinya. Maaf aku mau tanya satu hal padamu,” kataku, “Bagaimana keadaan Bagas? Apakah dia sudah sadar?”
“Mas Bagas belum sadar, Mbak. Kamu jangan khawatir tentang Mas Bagas, yang harusnya kamu khawatirkan adalah dirimu sendiri,” tegas Evan.
“Ya, Evan. Aku akan menjaga diriku. Terima kasih banyak,” ucapku kemudian menutup teleponnya.
Bu Lina sungguh ingin menghancurkan diriku. Segala cara dia lakukan untuk membuatku menderita. Bagaimana caranya aku menghadapi wanita tersebut?
Drt, Drt.
Telepon genggamku berbunyi lagi. Aku tidak mengenali nomor tersebut. “Nomor siapa ini?”
Aku menerima telepon tersebut,”Halo.”
“Apa benar ini dengan Mbak Evo?” tanya seorang lelaki.
“Iya, betul. Dengan siapa saya berbicara?” kataku bertanya.
“Berapa harga yang saya bayar untuk kamu melayani saya malam ini, Nona?” tanya dia lagi.
“Apa maksud kamu?” teriakku lalu mematikan telepon tersebut.
Drt, Drt.
Telepon genggamku berbunyi lagi. Aku tidak mengenali nomor tersebut. Kali ini aku tidak mau mengangkatnya. Aku mematikan telepon genggamku. Kemudian aku merapikan barang – barangku dan pergi mencari tempat untuk aku bermalam.
“Semoga datang kembali,” ucap pelayan tersebut.
Aku melangkah keluar, lalu berjalan menuju ke halte untuk mencari bus. Malam sudah sangat larut. Sepertinya bus sudah tidak beroperasi lagi. Aku mencari taksi, tapi tidak ada juga.
“Menyedihkan sekali aku ini,” keluhku.
Tiba – tiba datanglah beberapa lelaki.
“Wah, wah. Ada wanita cantik yang lagi sendirian,” ucap salah satu laki – laki tersebut.
“Mau apa kalian?” tanyaku galak.
“Dari pada sendirian di sini mending temenin kita aja yuk,” goda yang lain. Tanpa meminta izinku, mereka menarik diriku. Mereka membawaku ke tempat yang gelap.
“Lepas! Lepaskan saya!” kataku berusaha memberontak.
“Sudah diam saja. Kamu nikmati saja malam ini,” ucap lelaki itu.
Meereka berjumlah tiga orang. Lelaki pertama memegang kedua tanganku, lelaki kedua memegang kakiku. Lelaki selanjutnya mencoba melepaskan bajuku.
“Tidak! Tidak!” Aku meronta- ronta.
Dia mencium bibirku untuk menutup mulutku agar tidak berteriak. Ya, Tuhan, tolonglah aku!
*****
Hai semua! Terima kasih telah membaca cerita Evo. Tetap setia ya dengan MOY. Jangan lupa Senin, 20 April 2020 – 26 April 2020 akan diberikan hadiah 50 koin untuk 2 orang pemenang yang memberikan vote terbanyak diceritaku ini.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤