MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Kenangan di SD Harapan Mulia



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


SD Harapan Mulia.


 


 


  Tibalah Bastian dan Evo di sekolahnya dulu, ya SD Harapan Mulia. Akhirnya setelah dua belas tahun berlalu mereka berdua kembali bersama – sama mengunjungi sekolah ini. Sekolah yang mempertemukan mereka berdua.


 


 


  Bastian menggandeng tangan Evo, dia mengajak Evo kembali mengingat kenangan yang mereka lalui dua belas tahun yang lalu. Bastian minta izin kepada satpam sekolah tersebut untuk masuk ke sekolah dengan alasan ingin mengingat almarhum Pak Petrus yang meninggalkan mereka.


 


 


  Sampailah mereka di lantai 4, Bastian dan Evo melihat pemandangan dari lantai atas. Dulu mereka sering melakukan hal ini saat istirahat.


 


 


  “Tidak terasa ya, Vo. Dua belas tahun kita tidak ke sini bersama. Banyak sekali perubahan yang terjadi di sini,” ucap Bastian mengenang.


 


 


  “Iya, Bas. Dulu pertama kali kita bertemu waktu di taman. Kamu sedang bermain bola, terus terjatuh. Aku yang melihatmu, membantu kamu ke ruang UKS.”


 


 


  “Oh, iya? Kenapa aku lupa itu ya?” tanya Bastian. Dia berusaha keras mengingat peristiwa itu, tapi malah membuatnya sakit kepala.


 


 


  “Sudah, jangan memaksa untuk diingat. Aku tidak mau melihat kamu sakit,” pinta Evo. Perempuan itu sempat melihat Bastian memegang kepalanya.


 


 


  “Karena kecelakan itu beberapa memori hilang begitu saja. Aku sedih tidak bisa mengingat kenangan indah bersamamu dulu,” jelas Bastian dengan perasaan sedih.


 


 


  Evo merangkul tangan Bastian, lalu berkata padanya,”Kita bisa membuat kenangan baru, Bas.”


 


 


  Bastian menatap Evo dengan penuh cinta. Ucpan wanita itu benar sekali, sekarang mereka bisa menciptakan banyak kenangan.


 


 


“Tapi, Bas, kalau kamu lupa dengan kenangan pertama kali kita bertemu, kenapa kamu ingat dengan kotak besi yang kita tanam itu?”


 


 


  Bastian menggelengkan kepala, dia tidak mengerti kenapa dia bisa mengingat kotak besi itu?


 


 


  “Mungkin takdir. Kalau saja aku tidak mengingat itu, mungkin kita tidak akan bisa bersatu seperti ini.”


 


 


  Evo mengangguk setuju. Ini sudah rencana dari Tuhan untuk mereka bertemu lagi. Evo mengajak Bastian ke kelas Evo.


 


 


  “Apa kamu ingat setiap hari kamu akan memanggilku dan mengajakku pergi saat istirahat? Sampai suatu hari kamu tidak datang mengunjungiku.”


 


 


Flash Back.


“Karel, Karel! Di mana kamu?” tanya Evo mencari sahabatnya itu. Tidak biasanya Karel susah dicari pada jam istirahat seperti ini.


 


 


“Permisi? Apakah ada Karel?”


 


 


  Evo yang biasanya tidak pernah ke kelas Karel, hari ini mengunjunginya. Biasanya mereka selalu bertemu di kantin. Dari awal istirahat sampai mau habis, Karel tak kunjung kelihatan.


 


 


  “Tadi Karel dimintai tolong oleh Pak Petrus untuk mengambil tumbuhan di pekarangan belakang, Vo,” jawab Mira, teman sekelas Karel. Mira adalah teman sekelas Evo dulu saat di kelas 4.


 


 


  “Terima kasih, Mira. Aku akan menyusul Karel ke sana.”


 


 


   Evo berlari menuju ke pekarangan belakang, pantas saja Karel tidak ditemukan ternyata dia di suruh oleh guru.


 


 


  “Karel,” panggil Evo ketika dia melihat Karel masih berada di pekarangan.


 


 


  “Evo?” Karel menghampiri Evo, “Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?”


 


 


  “Aku mencarimu ke kelas. Mira yang memberitahu kalau kamu ada di sini,”jelas Evo.


 


 


  Evo melihat gerak – gerik Karel. Sepertinya Karel sedang bingung saat ini. Dia mencari sesuatu tapi tidak dia temukan.


 


 


  “Apa yang kamu cari?” tanya Evo.


 


 


  “Pak Petrus menyuruhku mencari tanaman bunga sepatu. Katanya ditanam di sini. Hari ini bunga itu diperlukan beliau untuk belajar IPA.”


 


 


  “Oh, iya! Hari ini ada pelajaran IPA.”


 


 


  “Tolong bantu aku, Vo. Dari tadi aku cari tidak ketemu,” kata Karel tetap mencari.


 


 


  Evo membantu Karel mencari tanaman bunga sepatu. Pekarangan belakang banyak tumbuhan yang di tanam di sini. Ada pohon mangga, ada tanaman cabai, dan masih banyak lagi.


 


 


 


 


  Evo menghampiri Karel, tanpa dia sadari ada batang pohon yang patah. Batang itu hendak mengenai Evo. Karel yang melihat itu berlari menyelamatkan Evo dengan cara mendorong Evo, sehingga pohon tersebut menimpa Karel, tepatnya di leher Karel.


 


 


  “Karel!” teriak Evo melihat kondisi Karel terluka parah menolong dirinya, “Tolong!! Tolong! Bu Guru!! Pak Guru, tolong! Karel meninggal!!”


 


 


Kembali ke masa sekarang.


 


 


  “Ya, aku mengingatnya. Waktu itu kamu tidak berhenti menangis, sampai Papa dan Mamaku bingung untuk menghentikan tangismu,” kata Bastian.


 


 


  “Bagaimana aku bisa berhenti menangis? Kamu terluka parah saat itu karena menolongku. Aku takut kamu meninggal!” terang Evo.


 


 


  Bastian tersenyum, lalu mengelus rambut Evo. Dari dulu Bastian memang senang melindungi Evo, mungkin takdir Bastian untuk menjadi malaikat pelindung bagi Evo.


 


 


  Bastian menggengam tangan Evo kembali, kemudian mengajak Evo turun ke bawah. Mereka menuju ke taman tempat kesukaan mereka berdua.


 


 


  Evo duduk di bangku taman, dia menikmati teriknya matahari siang. Mereka sangat menyukai taman ini, banyak kenangan yang terjadi di sini. Bastian entah pergi ke mana.


 


 


  Beberapa saat kemudian, Bastian datang membawakan minuman dingin. Cowok itu memberikan minuman tersebut pada Evo.


 


 


  Evo membuka minuman tersebut, lalu meneguknya. Kerongkongannya yang tadinya kering menjadi lega karena minuman tersebut.


 


 


  “Terima kasih, Bas. Lega rasanya.”


 


 


  “Sama- sama,” balas Bastian.


 


 


  Mereka memandangi taman SD Harapan Mulia. Di sinilah mereka bertemu. Di sini juga Evo jatuh cinta pada Bastian. Teringat jelas di benak Evo bahwa mereka mengikrarkan janji mereka di sini. Janji itu sudah dipenuhi oleh Evo.


 


 


  “Tempat ini tidak banyak berubah ya, Vo. Masih sejuk, dan asri. Pihak sekolah memang bagus merawat taman ini.”


 


 


  “Iya, Bas. Aku setuju dengan kamu. Banyak tumbuhan yang di tanam di sini. Ada bunga mawar merah, bunga matahari, dan bunga anggrek,” ucap Evo sambil memandangi tanaman tersebut yang tepat di depan mereka.


 


 


  “Apa kamu mau aku petik bunga itu untukmu?” tanya Bastian.


 


 


  Lagi – lagi Evo mengingat kejadian ketika Bastian memberikan kepadanya bunga untuk digunakan di samping telinganya. Bastian bilang kalau bunga itu membuat Evo menjadi cantik.


 


 


  “Jangan. Tidak usah, biarkan mereka tumbuh bersama. Jangan pisahkan mereka,” tolak Evo.


 


 


  Bastian menuruti kemauan Evo. Dia mengurungkan niatnya untuk memetik bunga tersebut. Padahal bunga tersebut begitu indah karena sedang bermekaran.


 


 


Drt, Drt, Drt.


 


 


  Telepon genggam Evo berbunyi. Dia mengambil telepon tersebut dari tasnya. Dia membaca nama yang menelepon dirinya. Rafael.


 


 


  “Halo, Fa,” jawab Evo.


 


 


  “Vo, Dina, Vo!” ucap Rafael ketakutan.


 


 


  “Pelan – palan, Fa. Tenangkan dirimu,” kata Evo coba menenangkan Rafael.


 


 


  “Dina, Vo….”


 


 


  “Iya, Dina kenapa, Fa?” tanya Evo.


 


 


  “Dina koma….”


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤