
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Sebelum Bagas melepaskan pelukan, pintu lift terbuka. Di sana ada Dea yang mau keluar dari lift. Barang Dea tertinggal di ruangan Bagas, makanya dia kembali. Melihat adegan pelukan di depan matanya, Dea terbakar api cemburu.
“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?” tanya Dea dengan nada tinggi.
Bagas segera melepaskan pelukannya. Evo menarik napas, masalah datang lagi.
Dea hendak memukul Evo, tapi Evo berhasil menghindar.
“Kenapa setiap orang kaya seperti kalian tidak memiliki sifat yang baik? Apa segala sesuatu harus dibicarakan dengan kekerasan?” sindir Evo.
“Untuk apa aku harus berbuat baik pada orang yang tidak baik sepertimu, murahan? Aku rasa orang tuamu tidak pernah mengajarimu bersikap baik kepada orang,” balas Dea kesal.
Evo menampar pipi Dea dengan keras. Tadinya Evo malas meladeni Dea, tapi karena Dea sudah menghina orangtuanya, dia tidak terima dengan itu semua.
“Jaga bicara kamu! Kamu boleh menghina aku sepuasmu, tapi jangan menghina orangtuaku!” Evo mulai marah.
“Kamu?? Berani sekali kamu berani menamparku!” jerit Dea.
“Lebih dari itu akan aku lakukan padamu kalau kamu mau,” ancam Evo. Dia sudah tidak peduli dengan omongan orang lain lagi, Dea sudah keterlaluan karena telah menghina kedua orang tuanya.
Dea hendak memukul Evo, tapi dihentikan Bagas. Laki – laki itu melihat mata Evo, dia tidak pernah melihat Evo seperti ini.
“Cukup, Dea. Sudah saatnya kita pergi,” ajak Bagas.
“Tapi, Gas, dia telah….”
“Dengarkan aku! Ayo kita pergi,” pinta Bagas. Dea pun menuruti calon suaminya itu.
Evo menarik napas panjang melihat keduanya telah pergi. Perempuan itupun segera menghampiri Maureen sahabatnya untuk mengajak dia ke rumah sakit.
*****
Di Mobil Bastian.
“Mengapa kita harus ke rumah sakit?” tanya Bastian untuk menagih penjelasan pada Evo.
Evo duduk di depan menemani Bastian. Maureen duduk di belakang. Hari ini Maureen tidak membawa mobilnya karena sedang diperbaiki.
“Astaga, aku sampai lupa cerita padamu!” kata Evo sambil menepuk jidatnya. Perjalanan hampir setengah jam menuju ke rumah sakit, tapi Evo belum menceritakan apapun pada Bastian. Evo masih kesal dengan Dea tadi.
“Dina pingsan, Bas. Rafael mengabari itu padaku. Sampai dia meneleponku, Dina belum sadarkan diri,” cerita Evo.
“Apa yang terjadi padanya?” giliran Maureen yang bertanya.
“Aku tidak tahu, tapi aku mendengar suara Rafael begitu sedih dan lemas,” jelas Evo lagi. Perasaan cemas yang tadinya hilang, muncul kembali ketika mengingat suara Rafael yang tidak biasa.
Maureen mengigit jarinya, dia mencoba berpikir tentang keadaan Dina. Selama mereka berteman, Dina jarang sakit. Paling hanya saat kemarin saja, ketika dia hampir keguguran.
“Semoga tidak terjadi hal yang buruk pada Dina,” doa Evo.
“Amin.”
*****
Rumah Sakit.
Rafael sedang menunggu di ruang dokter. Baru saja perawat menyuruh Rafael untuk bertemu dengan dokter. Nama dokter itu adalah Dion. Dion merupakan dokter senior yang saat ini menangani Dina.
Dokter masuk ke dalam ruangannya, setelah ia selesai memeriksa beberapa pasien. Dia duduk tepat di depan Rafael.
“Maaf, saya baru datang. Ada beberapa pasien yang harus saya periksa,” kata Dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Rafael yang tidak sabar mendengar hasil pemeriksaan Dina.
“Setelah melakukan pemeriksaan CT-Scan, dan rontgen dari dokter sebelumnya maka kami akan melaksanakan biopsi secepatnya.
“Pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan jaringan tersebut bertujuan untuk mendeteksi adanya penyakit atau mencocokkan jaringan organ sebelum melakukan transplantasi organ. Untuk kasus Ibu Dina kita mau mendeteksi penyakit.”
“Apakah berbahaya, Dok?”
“Tidak berbahaya, biopsi sangat berguna bagi pasien. Tujuannya untuk mengetahui apakah tumor tersebut tergolong ganas atau tidak? Apabila tergolong ganas maka disebut dengan kanker. Kanker dibagi menjadi beberapa stadium. Setelah jenis stadium dapat diketahui, kami dapat memberikan obat pada pasien,” kata Dokter menjelaskan.
Rafael mulai memahami maksud dari dokter. Dina memang harus segera melakukan biopsi, Rafael harus menyiapkan hatinya menerima hasil dari biopsi tersebut.
“Apa Bapak setuju untuk melakukan biopsi?” tanya Dokter Dion.
Rafael mengangguk, dia tidak bisa menolak biopsi yang disarankan oleh Dokter Dion. Kalau tidak cepat nyawa istrinya akan terancam.
“Baiklah, bila Pak Rafael setuju. Ada beberapa surat yang harus ditanda tangani oleh Bapak nanti,” ujar Dokter Dion.
“Baik, Dok.”
Setelah selesai konsultasi, Rafael keluar dari ruangan Dokter Dion. Dia kembali ke ruangan Dina. Di luar ruangan tampak Evo, Maureen, dan Bastian yang baru tiba.
Evo yang pertama kali melihat Rafael, lalu bertanya, “Apa yang terjadi pada Dina?”
Sejenak Rafael terdiam. Dia menahan diri untuk tidak menangis. Berat rasanya mengingat ucapan Dokter kalau Dina mengidap penyakit berat seperti kanker. Setahu Rafael, penyakit kanker sulit untuk disembuhkan.
“Fa? Rafael?”
Rafael menghela napas panjang, dia mengumpulkan energi untuk menceritakan hal yang sebenarnya pada sahabat – sahabatnya.
“Kata Dokter Dina mengidap penyakit kanker, Vo,” kata Rafael pada akhirnya.
“Apa?” Evo tidak percaya.
“Apa kamu serius?” Maureen terkejut.
“Bagaimana kamu bisa tahu? Apa sudah dilakukan pemeriksaan?” tanya Bastian yang masih bisa berpikir tenang.
“Dari beberapa pemeriksaan, Dokter mengatakan kemungkinan adanya kanker, baru saja aku konsultasi dengan Dokter Dion, Dokter untuk Dina,” jelas Rafael.
“Lalu apa yang hendak dilakukan rumah sakit pada Dina?” Maureen ingin tahu.
“Dina akan segera di biopsi.”
“Biopsi? Apa itu biopsi?” tanya Evo bingung.
“Tindakan untuk mengetahui penyakit Dina. Melakukan operasi, Vo,” terang Rafael.
“Ya, Tuhan,” ucap Evo terkejut bercampur sedih.
Maureen menepuk punggung Rafael untuk memberikan semangat pada lelaki itu. Mereka semua tahu bahwa penyakit kanker sulit untuk disembuhkan.
“Bagaimana keadaan Dina sekarang?” tanya Evo. Kami masih di luar ruangan. Ketika hendak masuk, kami melihat Rafael, dan mengurungkan niat untuk masuk.
“Dina sudah sadar setelah aku menghubungimu tadi, Vo. Dia masih merasakan kesakitan yang luar biasa. Tadi perawat sudah memberikan obat anti nyeri, sehingga Dina lebih tenang kemudian tidur.”
“Bolehkah kita masuk?” tanya Maureen meminta izin. Maureen tidak ingin menganggu kalau memang Dina harus beristirahat.
“Silahkan, aku rasa Dina akan senang dengan kehadiran kalian di sini, tapi satu hal yang aku minta dari kalian,” kata Rafael.
“Katakanlah, Fa,” ucapku.
“Aku harap kalian jangan memberitahu ini dulu pada Dina. Aku sedang menunggu waktu besok pagi untuk bicarakan ini pada Dina. Biarkan malam ini dia tertidur dengan nyenyak,” pinta Rafael. Kamipun setuju, setelah itu kami masuk ke ruang inap Dina.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤