
Akupun balik ke Indonesia. Bastian mengantarku sampai ke bandara. Aku mengembalikan telepon yang selama aku pakai di Malaysia, tapi pria itu menolaknya. Telepon genggam itu ingin dia berikan padaku. Supaya aku dapat dihubungi olehnya. Aku setuju dengannya, dan tetap mengucapkan terima kasih pada Bastian.
Hari-hari aku lalui tanpa bertemu lagi dengan sahabat-sahabatku. Aku menghilang tanpa kabar. Aku juga tidak ingin bertemu dengan mereka, kalau aku bertemu dengan mereka, Bagas pasti akan menemukanku. Aku memutuskan untuk pindah ke Bandung. Uang pemberian Bastian, dan hasil penjualan novelku cukup untuk aku mengontrak sebuah rumah kecil. Aku masuk ke sebuah kafe. Aku memesan minuman coklat hangat.
" Semoga harimu indah, Moy," pesan masuk dari telepon genggamku. Setiap hari Bastian selalu bertanya kabar padaku. Mengucapkan kata motivasi padaku.
Kriiingg.
Bunyi teleponku. Aku melihat, dan sudah menduga itu Bastian. Hari ini aku tidak sempat membalas pesannya tadi pagi.
" Hai, Bas. Maafkan aku hari ini tidak sempat membalas pesanmu," kataku berterus terang.
" Aku sudah khawatir kalau kamu nanti diculik lagi," ujar Bastian dari sebrang.
Aku tertawa, lalu berkata padanya "Tenang saja, ini daerah kekuasaanku. Mereka tidak akan tahu aku di sini."
" Baiklah, aku mau rapat. Sampai nanti, Moy."
" Bas, namaku Evo, jangan panggil aku Moy lagi ya." Aku mengingatkan Bastian. Dari sebrang, Bastian tertawa, dia selalu lupa, memanggil nama asliku.
" Maaf, Vo. Sudah enak sebut namamu seperti itu." Bastian pun pamitan untuk menutup teleponnya. Kemudian aku teringat akan sesuatu, aku membuka email kantorku. Aku terkejut, banyak pesan masuk dalam emailku. Maureen, Dina, dan Rafael. Mereka mencari keberadaanku.
Maureen : Vo, kamu ada di mana? Kami mengkhawatirkanmu.
Dina : Evolet Rebecca, hubungi aku segera bila kau sudah membaca pesanku. Mengapa kamu menghilang?
Rafael : Hai, Vo. Di mana kamu? Aku dan Dina sudah baikan. Aku berencana akan menikahi dia secepatnya. Datang ya ke pernikahan kami.
Aku menangis membaca tiap pesan yang aku dapat dari para sahabatku. Rafael dan Dina akan menikah, begitu juga dengan Maureen. Rasanya aku ingin menghadiri pesta pernikahan mereka, tapi apa dayaku? Aku tidak bisa. Aku menghapus air mataku yang jatuh dipipi ini. Kemudian aku membaca sebuah pesan darinya. Dari Bagas.
Bagas :
Aku tidak tahu di mana sekarang kamu berada. Setelah hari bahagia itu, kamu pergi entah ke mana.
Separuh jiwaku hilang, Vo.
Aku bingung, aku takut, dan aku merasa amat kehilangan dirimu.
Apa salahku hingga kamu pergi meninggalkanku?
Mengapa kau begitu kejam padaku, Vo?
Kalau kau hanya ingin membuatku merasa kehilangan, ya kamu berhasil.
Kalau kau ingin aku hancur, ya, Vo, kamu berhasil menghancurkan diriku.
Setiap sudut kota Malaysia aku mencarimu, tetapi kamu tidak ada.
Kembalilah, Vo.
Aku mohon padamu, Vo, kembalilah.
Yang selalu mencintaimu,
Bagas.
Air mataku jatuh lagi untuk kedua kalinya. Kata-kata Bagas membuat hatiku pilu. Aku juga mencintaimu, Bagas. Rasa rindu ini begitu berat, tapi apa dayaku? Aku hanya butiran debu yang tidak pernah dianggap oleh keluargamu. Aku menghapus air mataku.
Aku menutup pesan masuk dari emailku. Aku tidak tahan dengan setiap pesan yang diberikan mereka padaku. Aku ingin sekali berjumpa dengan mereka, terutama Bagas. Semoga saja Bagas menemuka wanita yang cocok dengan keluarga dia.