MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Wasiat Dina



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


Kantor Pratama, ruangan Maureen.


 


 


  Siang ini, Evo meminta izin pada Bastian untuk mengunjungi ruangan Maureen. Bastian sedang rapat dengan pemegang saham yang lain, sehingga Evo bisa datang ke ruangan Maureen.


 


 


  “Bagaimana keadaan Rafael?” tanya Evo. Kemarin Evo dan Bastian pulang terlebih dahulu, Evo melihat Bastian sudah begitu lelah membantu proses pemakaman Dina.


 


 


  “Setelah beberapa menit kalian pulang, Rafael siuman,” cerita Maureen. “Tapi ya begitu, Rafael masih sulit diajak komunikasi.”


 


 


  Evo memahami perasaan Rafael, karena Evo sudah mengalami sebanyak dua kali kehilangan orang yang sangat dicintai. Perasaan itu sangat berat, Evo baru bisa ikhlas setelah menjalani kehidupan beberapa lama.


 


 


  Maureen dan Evo hening, pikiran mereka melayang pada kenangan bersama Dina. Persahabatan mereka berawal dari makan bareng di kantin. Waktu itu Dina mendatangi meja Evo dan Maureen, karena kantin sangat penuh. Semenjak itu, mereka bertiga saling janjian makan bersama sampai saat ini.


 


 


  Maureen memandangi foto mereka bertiga yang dia pajang di mejanya. Evo menilik pandangan mata Maureen.


  “Apa yang sedang kau pandangi?” tanya Evo.


 


 


Maureen memberikan foto tersebut, Evo menerimanya. Dia tersenyum memandangi foto mereka bertiga. “Ini saat kita liburan ke Batam ya.”


 


 


  Maureen mengangguk membenarkan perkataan Evo.


 


 


  “Vo,” panggil Maureen.


 


 


“Ya?”


 


 


“Bagaimana dengan wasiat Dina terhadap kita? Apa kamu akan menikahi Rafael?” tanya Maureen pada Evo.


 


 


Evo tercengang menangkap arah pembicaraan Maureen. Dia tidak lupa kalau Dina meminta mereka untuk menjaga anak kembarnya dan Rafael, tapi Evo tidak menyangka kalau Maureen menyuruh dirinya untuk menikahi Rafael.


 


 


  “Menikah? Aku menikah dengan Rafael? Aku rasa kamu salah menanggapi permintaan Dina pada kita,”kata Evo.


 


 


Maureen kembali menganalisa pesan terakhir dari Dina sahabatnya, dia tidak salah mendengar kalau Dina meminta Evo untuk menikahi Rafael.


 


 


  “Tapi sepertinya aku tidak salah, Vo. Dina memintamu untuk menjaga Rafael,” tegas Maureen.


 


 


  Evo menghela napas panjangnya, ucapan Maureen membuat dia menjadi galau. Wasiat dari Dina membebani dirinya.


 


 


  Evo beranjak dari tempat duduknya, kemudian dia berkata pada Maureen,”Aku pikir sebaiknya pembicaraan ini kita tidak teruskan. Dina baru saja meninggal, dan aku baru saja menemukan Karel, obrolan ini kurang pantas untuk dibicarakan sekarang.”


 


 


  Maureen membenarkan sikap Evo, sepertinya dia yang salah memberikan topik pada siang hari ini.


 


 


  “Lagi pula, permintaan Dina bukan ditunjukkan padaku saja, tapi untuk dirimu juga,” ucap Evo. Dia melangkah pergi dari ruangan Maureen. Maureen menggigit jarinya, ucapan Evo tepat, tapi Maureen merasa Rafael tidak akan memilihnya, karena dulu Rafael pernah mencintai Evo.


 


 


*****


  Ketika Evo keluar dari ruangan Maureen, dia berpapasan dengan Bagas. Beberapa saat mereka saling memandang, kemudian Evo pergi, tapi dicegah Bagas. Dia meraih tangan Evo untuk mencegah Evo pergi.


 


 


  “Maaf,” pinta Bagas.


 


 


  Evo menepis tangan Bagas. Sebenarnya Evo sudah malas untuk berbicara pada Bagas, Evopun pergi untuk melangkah.


 


 


  “Lusa aku akan menikah, Vo!” ucap Bagas.


 


 


  Evo menghentikan langkahnya mendengar berita dari Bagas. Bagas merangkul Evo dari belakang.


 


 


  “Lepas, Gas! Ini di tempat umum,” pinta Evo.


 


 


  “Sebentar saja, Vo! Aku hanya ingin bicara padamu. Maafkan aku ya, Vo. Maaf karena aku tidak becus menjagamu. Maafkan aku malah tidak percaya padamu. Maafkan aku,” ujar Bagas dengan perasaan sedih.


 


 


 


 


“Gas, aku sudah memaafkan kamu, tapi aku tidak bisa bersama dengan kamu lagi. Selamat atas pernikahanmu dengan Dea. Dea wanita yang baik, jangan memperlakukan dia dengan buruk seperti kau bersama denganku,” ucap Evo. Setelah berkata seperti itu, Evo beranjak dari hadapan Bagas.


 


 


  Bagas masuk ke dalam ruangannya, dia memukul dinding ruangan tersebut dengan keras. Tangannya terluka akibat pukulan itu. Luka di tangan tidak sesakit luka di hatinya. Kini benar sudah, dia akan kehilangan Evo selama – lamanya.


 


 


*****


   “Jadi kapan kamu akan melamar Evo?” tanya Mbak Meli.


 


 


  Mbak Meli yang penasaran dengan hubungan Bastian dan Evo, menelepon adik semata wayangnya itu. Kemarin dia belum puas bergosip dengan Bastian.


 


 


  “Mbak, tolong deh! Apa kamu meneleponku hanya untuk bertanya seperti itu? Tanya kabar adikmu saja tidak,”  gerutu Bastian. Baru kali ini Bastian merasa rishi dengan kakaknya karena ikut campur dengan masalah pribadi dia. Biasanya Mbak Meli tidak pernah seperti ini, dia cuek dengan urusan percintaan Bastian.


 


 


  “Sejak kapan kamu jadi baper begini? Apa sulit menjawab pertanyaanku?” ucap Mbak Meli sambil tertawa geli. Pertama kali mendengar protes dari adiknya itu. Diakui Mbak Meli biasanya dia tidak peduli dengan pacar – pacar Bastian, tapi kalau Evo beda baginya.


 


 


  “Sejak kamu mengurusi urusan pribadiku!” keluh Bastian lagi.


 


 


  “Ha… ha… ha…. Ayo katakan padaku, kapan kamu melamar Evo?” Mbak Meli mengulang pertanyaannya. Dia tidak putus asa untuk menanyakan kembali kisah cinta adiknya dengan Evo.


 


 


  “Aku belum tahu, Mbak,” jawab Bastian pada akhirnya. Dia menyerah dengan Mbak Meli yang selalu memberikannya pertanyaan. Kalau tidak dijawab akan dipastikan Mbak Meli tidak akan berhenti menganggunya.


 


 


“Apa perlu Mbak yang membantu melamar Evo untukmu?” goda Mbak Meli lagi.


 


 


“Jangan melakukan hal yang bodoh seperti itu, Mbak! Aku bisa melakukannya sendiri!” tegas Bastian.


 


 


“Oke, aku tidak akan melakukan itu tapi….”


 


 


“Tapi apa?” tanya Bastian curiga.


 


 


“Tapi sampai waktu aku pulang kamu tidak melamar Evo, aku yang akan melamar Evo untukmu. Jadi lakukan sebelum aku pulang ke rumah!” perintah Mbak Meli dengan serius.


 


 


  Menangkap suaranya yang begitu serius, Bastian menjadi ngeri. Dia tidak pernah melihat Mbak Meli seperti ini sebelumnya. Biasanya Mbak Meli akan memberikan kebebasan pada Bastian baik urusan umum mau pun urusan pribadinya.


 


 


  “Kenapa kamu begitu ingin aku melamar Evo?” tanya Bastian berusaha mencari tahu alasan Mbak Meli mendesak bastian melamar Evo.


 


 


  “Kenapa ya? Aku juga tidak tahu. Evo tidak begitu pintar sih, ceroboh iya. Kalau untuk wajah, ya tidak jelek – jelek amat. Sifat? Lumayan baik. Hmm… kenapa ya?” kata Mbak Meli jadi bingung.


 


 


  Bastian menyimak setiap kata yang terucap dari mulut Mbak Meli, rasanya dia ingin tertawa tapi itu tidak sopan.


 


 


  “Ah! Aku baru ingat!” kata Mbak Meli lagi.


 


 


  “Apa yang kamu ingat?” tanya Bastian penasaran.


 


 


  “Aku janji pada Evo kalau dia akan menjadi adik iparku! Aku tidak mau ikrar janji! Bagaimana? Itu alasan yang bagus bukan?” tanya Mbak Meli sambil cengengesan.


 


 


  “Alasan konyol!” bentak Bastian. Diapun menutup ponselnya.


 


 


  Mbak Meli ketawa geli mendengar kata terakhir dari Bastian lalu menutup telepon dengan kasar.


 


 


  “Sejak kapan adikku jadi pemarah seperti itu?” ucap Mbak Meli sambil menggeleng kepala.


 


 


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤