MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Alexandrea



Hai, semua mohon dukungan tekan jempol di bawah, vote, bintang lima. Dukungan kalian sangat membuat saya tambah semangat. Terima kasih sudah mencintai MOY.


🌹🌹🌹🌹


Apartemen Bagas pukul 23.00


"Kenapa tidak cerita?" tanyaku saat kami sudah sampai di apartemen.


"Cerita? Cerita tentang apa?" tanya Bagas bingung.


"Alexandrea."


"Oh, dia. Dia teman kecilku. Papa dan Mama sudah menganggap Dea anaknya sendiri," Bagas menjelaskan.


"Hanya itu?" tanyaku tidak percaya.


"Ya, hanya itu. Ada apa denganmu? Kenapa kamu malah bertanya seperti itu?" Bagas memandang diriku. Dia menunda minum seteguk kopi yang baru saja dibuat olehnya.


"Tidak, aku hanya bertanya."


Bagas menghampiriku, dia berkata padaku, "Apa ini tanda kamu sedang cemburu?"


Aku diam, tidak menjawab pertanyaan Bagas. Jujur saja, aku cemburu dengan wanita itu. Bagas begitu gembira bertemu dengan Dea. Aku tahu Bagas mempunyai banyak wanita dulu, tapi untuk wanita ini aku merasa ada yang aneh.


"Jadi calon istriku ini sedang cemburu ya?" tanya Bagas menggoda diriku, kemudian dia duduk di sebelahku. Bagas merangkul diriku. Rasanya nyaman sekali.


"Evo sayangku, kekasih hatiku, aku mohon jangan cemburu dengan Dea. Dea hanya teman bagiku. Tidak lebih. Hanya Bagas saja yang boleh cemburu, kamu jangan," ungkap Bagas jujur.


"Kenapa aku tidak boleh cemburu?" tanyaku heran. Masa hanya Bagas yang bisa cemburu, itu tidak adil.


"Cemburu itu berat, lebih berat dari rasa rindu. Cemburu itu membuat perasaanmu sakit, dan pedih. Aku tidak mau kamu merasakan hal itu. Biar aku saja."


Mendengar perkataannya, seketika itu juga rasa cemburuku hilang. Bagas selalu bisa membuat hatiku kembali membaik. Tuhan telah mengubah lelaki ini menjadi pribadi yang baik. Semoga aku benar - benar tidak salah pilih.


"Apa aku harus buktikan lagi rasa cintaku padamu?" goda Bagas.


"Buktikan kalau kamu bisa!" tantangnya. Bagas yang merasa tertantang memeluk diriku. Dia mengangkat tubuhku lalu mengajakku ke kamar. Bagas membuktikan lagi perasaan sayang dan cintanya padaku.


❣❣❣


Aku bangun dari tidur. Bagas sudah tidak di sampingku. Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Bagas sepertinya sedang mandi. Buru-buru aku mengambil obat yang biasa aku makan setelah semalam aku melakukan hubungan dengan Bagas. Aku belum mau hamil. Kami belum menikah.


"Bagas, kamu mau makan apa? Aku mau bikin sarapan," kataku menawarkan setelah aku minum obat tersebut.


"Terserah kamu sayang," jawab Bagas berteriak. Akupun keluar dari kamar, kemudian menuju ke dapir untuk membuatkan sarapan.


Aku mengambil bahan - bahan dari kulkas, "Pagi ini aku masak makanan kesukaan Bagas saja. Sop ayam. Dia suka sekali dengan sup buatan aku."


Beberapa saat kemudian Bagas keluar dari kamar. Dia menggunakan kemeja berwarna merah membuat dia semakin kelihatan gagah. Dia menghampiriku, lalu memelukku dari belakang.


"Wangi sekali," bisik Bagas di telingaku.


"Bagas? Kamu membuatku terkejut."


"Kenapa terkejut? Kita hanya berdua di sini," ucap Bagas. "Aku lapar."


"Sebentar lagi masakannya akan matang. Lepaskanlah pelukanmu padaku agar aku siapkan sarapan untukmu," pintaku padanya. Bagas kemudian membalikkan tubuhku agar ke arah dia.


"Aku mau memakan kamu," ucap Bagas. Nafas Bagas dan aku saling menyahut satu sama lain.


"Aku tidak enak, Bagas," kataku.


Bagas mengeratkan pelukannya, kemudian dia menggodaku, "Bagaimana aku tahu rasamu kalau aku tidak mencicipimu?"


Setelah itu dia mencium bibirku. Rasanya begiu lembut dan membuatku nyaman. Sensasi Bagas tidak berubah. Dia selalu dapat membuatku lumer.


"Bagas, berhentilah. Tunggu, jangan begini. Aku baru saja datang bulan," jelasku padanya ketika dia memulai membuka bajuku.


Bagas menghentikan perbuatannya. Dia tampak kesal.


"Sial," umpatnya.


"Maafkan aku sayang," bisikku ditelinganya. Aku tersenyum melihat dia seperti itu.


"Bukan kamu yang salah. Ayo kita makan," ajak Bagas.


Ting, tong, ting, tong.


"Ada yang datang," kataku.


"Siapa yang datang sepagi ini ke sini?" tanya Bagas heran. " Biar aku yang buka, kamu siapkan makanan kita."


Bagas berjalan menuju pintu, lalu menbuka pintu tersebut, "Dea?"


"Hai, Bagas. Selamat pagi!" sapa Dea dengan girang.


❣❣❣❣❣


Hai semua, mohon bantuannya ya. Setelah membaca novelku, silahkan like, komentar tulisanku dan vote. Terima kasih telah membaca novelku.


Oh iya, novel ini sudah masuk kontrak Noveltoon loh. Ini berkat kalian semua. Selamat membaca.


Salam sayang dari aku buat kalian.