MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Karel Bastian



Setelah selesai sarapan, aku membersihkan apartemen Bastian. Aku memandangi  setiap sudut ruangan. Apartemen Bastian terdapat dua kamar. Kamar yang sekarang aku gunakan merupakan kamar utama. Apartemen yang dimiliki pria ini tergolong luas. Mungkin dia orang kaya. Aku menyusuri setiap tempat, sambil mencari bukti juga apakah Bastian adalah Karel yang aku cari? Nihil, aku tidak menemukan apapun. Foto masa kecilnya pun tidak ada. Kebanyakan hanya gambar lukisan yang ada di apartemen ini. Bagaimana cara aku membuktikannya? Aku menyerah.


Kegiatan merapikan apartemen pun selesai, aku duduk di sofa ruang tamu. Sudah dua hari aku menghilang dari Bagas. Aku bingung, harus kembali atau tidak. Telepon genggamku hilang, barang-barangku ada di hotel Bagas. Aku merindukan Bagas, tapi aku takut dengan keluarganya. Aku tahu diri, aku gadis miskin yang tidak pantas untuknya.


Aku membuka telepon pemberian Bastian. Aku menekan nomor yang masih aku ingat, yaitu nomor Maureen. Terdengar nada sambung, lalu aku mematikannya. Kalau aku menelpon Maureen, Bagas pasti dengan cepat akan menemukanku.


Tiba-tiba teleponku berbunyi. Bastian menelepon," Hai, Vo. Sedang apa kamu?"


"Halo, Bas. Aku baru saja membersihkan apartemenmu," ucapku padanya.


"Wah, harusnya kamu tidak perlu melakukan hal itu, setiap sore akan ada tukang bersih-bersih datang ke apartemen. Sepertinya dia akan libur hari ini," ujar Bastian ramah. "Sebentar lagi aku akan tiba, kamu bersiaplah."


"Mau ke mana kita?"


"Makan siang, dan cari baju untukmu. Sampai ketemu di apartemen."


Beberapa menit kemudian, Bastian sudah sampai di apartemen. Kami pergi keluar untuk makan dan berbelanja bajuku.


" Bas, sepertinya aku harus balik ke Indonesia," ucapku padanya ketika kami sedang di tempat makan. Hari ini benar-benar lelah. Bastian mengeluarkan banyak uang untukku.


" Kenapa begitu cepat?" tanya Bastian.


" Aku harus mengurus sesuatu di sana. Lagi pula aku harus pergi dari sini," jawabku asal.


" Oke, nanti anak buahku akan ku suruh untuk membuat paspor baru untukmu. Semoga bisa diselesaikan dengan cepat."


Bastian memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Lalu dia berkata,"Sebelum aku lupa, sepertinya namamu harus ku ganti."


" Kenapa diganti?"


Bastian memberikan sebuah koran, " Bacalah."


" Mencari seorang wanita bernama Evolet Rebecca, jika anda dapati, hubungi PT. Pratama," aku membaca koran Malaysia tersebut. Foto aku pun terpampang di koran.


" Ternyata tunanganmu itu seorang pengusaha kaya ya," kata Bastian. Lalu dia memberikan topi padaku. " Pakailah topi itu, jangan sampai orang mengenalimu."


" Terima...."


" Tidak, jangan mengucapkan kata itu lagi. Aku tulus membantumu," Bastian menaruh satu tangannya dibibirku. Kemudian aku terdiam. Bastian benar-benar pria yang baik hati.


" Untuk beberapa hari ini, aku mengambil cuti. Apakah kamu mau menemaniku jalan-jalan sebelum kamu kembali ke Indonesia?" tanya Bastian lagi.


" Ya, aku mau."


" Tapi kita harus mencari sebuah nama untukmu." Bastian berpikir nama apa yang bagus untukku. " Rebecca? Tidak ah, nanti manggilnya Bec, Bec. Jadi Bebek donk."


Aku tertawa mendengar kata-kata Bastian. Bastian benar-benar lucu. Dia begitu serius memikirkan nama untukku. Kemudian aku teringat sesuatu, suatu nama yang pernah Karel berikan padaku.


" Bagaimana kalau namaku di ganti MOY?" ucapku padanya.


" Moy?" Ujar Bastian. Kemudian dia menjerit kesakitan dibagian kepalanya.


" Kenapa kamu Bas?" tanyaku padanya. Aku mengambil air putih untuk dirinya. Lalu Bastian meneguk minuman tersebut.


" Tidak, aku tidak apa-apa. Entah kenapa kepalaku akhir-akhir ini sering kambuh," jelas Bastian. " Moy, kenapa namanya harus Moy?"


Aku pun ingin tahu, Bas, kenapa dulu kamu memberikan nama itu padaku. Seandainya kamu betul Karel, pasti aku bisa tahu jawabannya sekarang. " Dulu, sahabatku memberikan nama itu padaku," aku menjelaskan.


" Sepakat," aku menjabat tangan Bastian.


Hari-hari ku lalui bersama Bastian begitu menyenangkan. Bastian benar-benar pria yang baik. Dia menjagaku seperti kekasihnya sendiri. Kami pergi menonton, tempat permainan, dan sebuah taman yang indah di tengah perkotaan Malaysia.


" Ya, ampun Bas!! Taman ini bagus sekali. Keren banget, ujarku pada Bastian.


Pada malam hari Bastian mengajakku ke taman tersebut.  Di taman terdapat bangku panjang yang dihiasi lampu warna-warni. Ada bunga bertebaran di sekeliling taman. Lampu-lampu berbentuk hati, membuat taman ini semakin indah dipandang. Bastian duduk memandangiku yang sedang berlarian melihat indahnya taman ini. Aku tidak menyangka, di tengah perkotaan seperti ini, masih ada taman yang diisi dengan bunga dan pepohonan yang asli dan begitu indah.


" Sini, duduklah Moy," Bastian memanggilku. Aku menghampiri dirinya.


" Terima kasih ya Bas, kamu sudah membuat aku melupakan traumaku kemarin. Terima kasih juga, aku senang bisa ke sini, melihat taman yang begitu indah."


" Sudah aku bilang, aku tulus, Moy," katanya.


" Aku juga tulus untuk mengucapkan terima kasih padamu," ujarku lagi tidak mau kalah padanya. Seminggu ini Bastian mengambil cuti. Dia terus menemaniku jalan-jalan, memperbaiki pasporku. Walau aku tidak tahu, apakah Bastian itu Karel, tapi aku merasa sudah lama sekali aku berjumpa dengan lelaki ini.


Bastian tersenyum memandangku. Kami saling menatap begitu lama.


" Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu akan jatuh cinta padaku," ucap Bastian, membuat pipiku menjadi merah. Seminggu bersama Bastian, membuatku lupa diri. Lupa kalau aku sudah memiliki tunangan, bernama Bagas.


  " Setelah kembali ke Indonesia, apa yang akan kamu lakukan?"


  " Aku akan pindah dari Jakarta, Bas. Aku mau serius menekuni dunia penulisan."


  " Wah, kamu seorang penulis? Pernah menulis apa?" tanya Bastian lagi.


   " Aku menulis novel, Bas," ujarku sambil memandangi langit yang diatas sana.


   " Keren sekali. Ternyata aku berkenalan dengan penulis novel. Apa judul novelmu?"


   " My First Love. Nanti aku kembali dari Indonesia, aku akan kirimkan untukmu," aku berjanji.


  " Tidak, tidak. Bagaimana kalau begini saja? Bulan depan kita akan bertemu lagi. Kita bertemu di Jakarta. Saat itu, kamu bawalah novelmu untuk aku baca."


 DEG. Lagi-lagi ini seperti kejadian perjanjianku dengan Karel. Lima belas tahun yang lalu.


 " Aku janji, kalau novelmu nanti terbit, Aku akan menjemput kamu di sini. Kita akan ke luar negeri bareng-bareng."


   Janji Karel lima belas tahun yang lalu teringat di kepalaku. Tuhan, apakah dia Karel? Mengapa semua ini begitu mirip? Tetapi aku sama sekali tidak dapat membuktikan ini benar Karel, cinta pertamaku. Aku takut nama mereka saja yang sama. Dia bukan Karel, cinta pertamaku.


  " Hey, kenapa kamu diam? Maukah kau berjanji padaku?" Bastian memberikan jari kelingkingnya padaku.


  " Apa sih, Bas? Kok pakai acara kasih jari kelingking?" tanya aku sambil tertawa. Bastian benar-benar polos. Bastian mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku.


  " Aku tidak mau tahu kamu harus janji ya, bulan depan kita bertemu di Jakarta." Bastian memaksaku untuk berjanji.


  " Iya, aku janji."


  Bastian memelukku dengan bahagia. "Terima kasih."


  Aku terkejut dengan perlakuannya padaku. "Bastian!"


   Bastian buru-buru melepaskan pelukannya padaku. " Maaf, Moy. Aku senang aku masih bisa bertemu lagi denganmu bulan depan."


 Padahal dalam lubuk hatiku paling dalam, akupun diam-diam berharap juga, ingin bertemu dengan Bastian. Karel Bastian.