
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Sore hari.
Drt… Drt…
Ketika aku sedang asyik membaca, telepon genggamku berbunyi. Aku mengambil telepon genggamku di atas meja. Aku menatap ke layar telepon, ada nama Maureen yang muncul.
“Halo,” sapaku.
“Nanti malam apa kamu ada acara?” tanya Maureen.
“Tidak ada acara. Ada apa?” kataku.
“Dina sudah melahirkan! Ayo kita ke rumah sakit!” kata Maureen dengan bahagia.
“Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya! Dari mana kamu tahu?” tanyaku lagi. Bastian melirik ke arahku. Dia yang sedang memeriksa dokumen dengan serius, sedikit terganggu dengan teriakan senang dariku.
“Rafael menghubungki tadi. Anaknya kembar, Vo! Laki – laki dan perempuan,” cerita Maureen, “Rafael bilang suruh menghubungimu, karena dia tidak tahu nomor barumu.”
“Wah, sungguh bahagia mendengarnya! Aku akan minta izin sama Bastian untuk bareng kamu ke rumah sakit.”
“Siap, aku tunggu kabar darimu. Kalau kamu ingin ikut, aku akan menunggu di bawah,” ucapnya.
Setelah mendengar ucapan terakhir dari Maureen, aku segera menutup teleponnya. Kemudian aku menghampiri Bastian dengan penuh sukacita. Sekarang aku pas di samping Bastian. Masih banyak sekali dokumen yang sedang diperiksa Bastian.
“Ada kabar apa? Sepertinya kamu senang sekali,” ucap Bastian.
“Dina melahirkan, Bas. Malam ini aku dan Maureen akan pergi ke rumah sakit. Bolehkan?” tanyaku.
“Tentu saja. Aku akan mengantarmu nanti ke rumah sakit,” kata Bastian lagi.
“Tidak usah, tidak usah,” tolakku, “aku akan bareng dengan Maureen. Aku tidak mau menganggu pekerjaanmu.”
Bastian tersenyum, kemudian menarik tanganku hingga tubuhku lebih mendekatinya. “Aku tidak pernah keberatan kalau itu tentang kamu, Vo.”
“Bastian….”
Bastian menarik tanganku lagi agar lebih mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. Jantungku semakin berdebar kencang. Apakah? Apakah Bastian ingin menciumku?
“Evo, kamu…,” ujar Bastian.
“A- apa?” lirihku. Wajahku dan wajahnya terpaut jarak satu senti. Bibir Bastian sudah sangat dekat dengan bibirku. Aku semakin tegang karena Bastian.
“Kenapa muka kamu merah? Apa kamu sedang sakit?” tanya Bastian sambil memegang dahiku.
Mendengar ucapannya, aku jadi salah tingkah. Ternyata Bastian sedang mempermainkanku. Aku mendorong tubuh Bastian agar menjauh dari diriku.
“Aduh, Evo! Sakit, kenapa kamu mendorongku!” keluh Bastian. Bibirku manyun satu senti. Bastian benar – benar keterlaluan.
“Kamu menyebalkan, Bas!” kataku.
Bastian menarik lagi tanganku, kemudian bertanya padaku, “Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu berpikir kalau aku akan....”
“Tidak, tidak. Aku tidak berpikir apa – apa,” aku berbohong.
Bastian tersenyum melihat aku tersipu malu. Lelaki itu melepaskan tangannya. Dengan bergegas aku kembali ke sofa dan merapikan barang – barangku.
Bastian, kamu menyebalkan!
*****
Malamnya di rumah sakit.
Akhirnya Bastian ikut dengan kami. Kami menggunakan mobil Bastian sebagai transport ke rumah sakit. Rencananya setelah pulang, Bastian dan aku akan mengantar Maureen ke rumahnya.
Setibanya kami di rumah sakit, kami menuju ke tempat informasi untuk menanyakan letak ruangan Dina. Setelah menemukan letaknya, kami bergegas ke ruangan tersebut.
“Ruangan nomor 451. Iya benar ini ruangan Dina,” ucap Maureen.
Maureen mengetuk pintu, lalu membukanya, “Permisi.”
Rafael yang ada di dalam membalikkan badannya. Dia sedang menggendong salah satu anak kembarnya.
“Hai,” sapa Rafael.
Kami bertiga menghampiri Rafael dan Dina. Maureen meletakkan bingkisan yang kami beli tadi di jalan, lalu Maureen menghampiri Rafael dan melihat anaknya.
“Bagaimana keadaan kamu?” tanyaku pada Dina.
“Puji Tuhan, aku sehat, Vo,” ucap Dina masih terlihat lemas.
Rafael mengangguk untuk memberikan jawaban pada Maureen, lalu duduk di samping istrinya. Dia menarik tubuh Dina, kemudian mencium dahi wanitanya itu.
“Terima kasih telah melahirkan anak yang lucu ke dunia ini,” katanya. Aduh, romantisnya mereka ini.
“Anak kamu yang satu lagi di mana?” tanyaku.
“Ini, di sini,” tunjuk Bastian yang berdiri tepat di tempat tidur bayi milik rumah sakit. Aku langsung menghampiri bayi tersebut.
“Halo anak cantik, ini kakak Evo,” kataku.
“Kakak? Apa aku tidak salah dengar? Kamu lebih cocok dipanggil tante ketimbang kakak,” canda Bastian.
“Aku masih muda! Panggilnya kakak,” aku cemberut.
“Iya, Nak. Nanti jangan seperti kakak yang di sebelah Om ini ya, bohong sama umurnya.”
“Bastian, kamu menyebalkan deh!”
Mendengar pertengkaran Bastian dan aku, sepertinya bayi perempuan itu takut. Dia menangis dengan kencang.
“Aduh, dia menangis. Anak cantik jangan menangis ya, maafkan kami,” kataku.
“Wah! Kenapa dia menangis?” tanya Rafael yang khawatir.
Bastian dengan sigap, langsung menggendong bayi tersebut. Dia mencoba menenangkan bayi perempuan itu.
“Anak cantik tidak boleh menangis ya. Tadi Kakak Evo tidak membentak kamu kok. Kami berdua hanya bercanda,” ucap Bastian kemudian membuat bayi tersebut kembali diam. Melihatnya, mataku menjadi berbinar – binar. Aku tidak percaya Bastian bisa mendiamkan seorang bayi. Bastian memang memiliki aura seorang bapak.
“Kamu memang luar biasa, Bas. Anak bayi saja bisa kamu taklukan,” puji Maureen.
“Sepertinya anakku tidak ingin kalian bertengkar,” Rafael memberikan komentarnya.
“Aku setuju!” ucap Dina. Dia melirik ke arah suaminya dan berkata lagi, “kenapa kalian tidak pacaran saja? Kaliankan sama – sama tidak punya pacar.”
“Mereka berpacaran kok,”kata Maureen.
“Serius? Ya, ampun! Aku senang sekali mendengarnya!” kata Dina girang.
“Eh, itu, aku,” ucapku salah tingkah.
Bastian yang masih menggendong bayi perempuan Dina dan Rafael, kemudian menaruh anak tersebut kembali.
“Kami hanya pura – pura pacaran,” jelas Bastian. Bastian tidak ingin menyembunyikan ini dari teman – teman Evo. Dia tidak mau ada salah paham.
“Bastian hanya menolongku dari orang tua Bagas dan kejaran Indra,” kataku ikut menjelaskan.
“Bagaimana keadaan Bagas?” tanya Dina penasaran. Dia belum tahu kabar Bagas lagi.
“Bagas sudah kembali ke kantor Pratama tadi pagi. Sekarang dia bawahannya Bastian,” Maureen yang membagi cerita.
“Apa? Serius? Apa orang tua Bagas menerima hal itu?” tanya Dina dengan antusias.
Rafael yang tahu sekali sifat istrinya itu langsung menutup mulut istrinya. Dina meronta – ronta untuk melepaskan tangan Rafael dari mulutnya.
“Jangan campuri urusan orang sayang,” pinta Rafael.
Dina dengan kesal melepaskan tangan suaminya itu. “Aku bukan mau mencampuri, tapikan dia bosku, sayang.”
Kami bertiga tertawa melihat tingkah pasangan suami istri itu. Mereka suka bertengkar, tetapi cepat juga untuk berbaikan.
“Sudahlah, kalau kalian tidak menjawab. Tapi kalau pertanyaan ini harus kamu jawab, Vo!” pinta Dina.
“Apa?” tanyaku.
“Kenapa kalian tidak pacaran sungguhan saja?” tanya Dina sambil nyengir.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya.
❤❤❤