MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sebuah Janji



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Siang hari.


 


 


  Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Bastian masih asyik dengan pekerjaannya. Kebosanan melanda diriku karena sejak pagi aku hanya main ponsel. Tahu begitu, aku bawa laptop untuk menyusun naskah novelku.


 


 


Krucuk, krucuk. Perutku mulai berdendang. Memang sudah sewajarnya alarm di perutku berbunyi karena sudah waktunya makan siang. Aku menatap ke arah Bastian, dia masih serius dengan pekerjaannya.


 


 


  “Kenapa?” tanya Bastian.


 


 


  “Eh?”


 


 


  “Kenapa melihat aku terus? Apa sudah ada benih – benih cinta di hatimu?” goda Bastian.


 


 


  Mukaku kembali memerah. Detak jantungku mulai berpacu dengan cepat. “Kamu terlalu percaya diri, Bas. A-aku lapar,” ucapku gugup.


 


 


  Bastian melirik ke jam tangannya. Dia mengangguk, memang sudah waktunya untuk makan siang. Pria itu menutup berkasnya, kemudian dia mengajakku untuk makan siang,”Ayo kita makan.”


 


 


  “Setuju!” kataku girang.


 


 


   Bastian berdiri, begitu juga dengan aku. Kami berdua keluar dari ruangan kami, lalu menuju ke lift untuk turun ke lantai bawah. Sesampainya dilantai bawah aku teringat sesuatu.


 


 


  “Astaga, Bas! Aku lupa membawa ponselku,” kataku. Aku baru ingat ponselku tertinggal di sofa ruangan tadi.


 


 


  “Ambillah, aku tunggu di ruang tamu,” ucap Bastian.


 


 


  Dengan segera aku menuju kembali ke ruangan Bastian. “Aduh, kenapa aku begitu ceroboh ya?”


 


 


  Sesampainya di ruangan Bastian, aku langsung mengambil ponsel tersebut. “Untung saja masih ada.”


 


 


  Ketika aku membalikkan badan, aku kaget karena Bagas berdiri di depan pintu ruangan Bastian.


 


 


  “Bagas?” tanyaku tidak percaya.


 


 


  Bagas menarik tanganku, lalu mendekapku dengan erat, “Kenapa kamu melakukan ini padaku?”


 


 


  Nafas Bagas tidak beraturan. Dia menatapku penuh dengan marah, terbukti dengan matanya yang begitu merah.


 


 


  “Katakan, Vo!” perintahnya.


 


 


  “Bagas, kamu menyakitiku,” rintihku.


 


 


  Bagas makin mengeratkan pelukannya. “Jawab pertanyaanku, Vo. Kenapa kamu mengkhianatiku?”


 


 


  “Aku selalu setia padamu, Gas, tapi kamu tidak percaya padaku!” jawabku jujur.


 


 


  “Bohong! Buktinya kamu pacaran dengan Bastian! Apa jangan – jangan kamu pacaran denganku karena ingin merebut kekayaanku?” tanya Bagas dengan penuh marah.


 


 


  “Tidak, Gas! Aku tidak bohong! Aku dan Bastian itu….”


 


 


  Aku langsung diam. Aku tidak bisa membongkar sekarang pada Bagas kalau aku dan Bastian pura – pura pacaran, lagi pula Bagas pasti tidak percaya apa yang aku katakan.


 


 


  “Lanjutkan omongan kamu,” perintah Bagas sambil menekan tanganku.


 


 


  “Bagas, sakit!” ringisku.


 


 


  Dengan perasaan kesal Bagas mendorongku hingga terjatuh.


 


 


  Bruk.


 


 


  “Agh!” jeritku.


 


 


  Bagas menghampiriku, posisinya setengah berdiri, kemudian berkata padaku, “Aku sangat membenci kamu, Vo! Sangat!”


 


 


  Mendengar ucapannya yang begitu kejam air mataku mengalir dengan derasnya. Setelah berkata seperti itu Bagas pergi dengan menutup pintunya dengan kasar.


 


 


  “Tapi aku sangat mencintai kamu, Gas,” lirihku.


 


 


*****


Restoran.


 


 


   Jam menunjukkan pukul 2 siang. Restoran tidak begitu ramai lagi. Mungkin karena beberapa orang sudah makan siang. Bastian memanggil pelayan kemudian memesan makanan untuknya. Pelayan datang dengan segera setelah dipanggil oleh Bastian.


 


 


  “Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan dengan lembut.


 


 


  Bastian mengambil menu, lalu memesan makanan untuk dirinya. “Kamu mau makan apa, Vo?” tanya Bastian.


 


 


  Aku yang tadinya sudah kelaparan menjadi tidak nafsu makan karena teringat ucapan Bagas. Kata – katanya terngiang di telingaku terus. Dia membenciku, sangat membenciku.


 


 


  “Vo? Halo?” kata Bastian menyadarkan diriku.


 


 


  “Eh, maaf. Kenapa Bagas?” tanyaku.


 


 


 


 


  Aduh, kenapa aku jadi bodoh? Kenapa malah salah menyebutkan nama?


 


 


“Aku pesan nasi goreng saja, Bas,” jawabku sekenanya. Aku benar – benar tidak nafsu untuk makan.


 


 


  “Nasi goreng satu,” ucap Bastian.


 


 


  “Apa ada lagi?” tanya pelayan dengan sopan.


 


 


  “Hanya itu saja,” jawab Bastian. Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan meja makan kami.


 


 


  Bastian memandangku penuh curiga, tapi aku pura – pura kalau dia sedang mencurigai sesuatu dariku.


  “Sepertinya ada yang sedang kamu sembunyikan dariku,” kata Bastian sambil menyipitkan matanya ke arahku.


 


 


  “Eh, tidak! Hanya pikiran kamu saja, Bas!”


 


 


  “Yakin?” tanya Bastian memastikan.


 


 


  Buru – buru aku mengangguk menjawab pertanyaan dari Bastian. Aku tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya, aku takut kalau nanti mereka akan bertengkar karena diriku.


 


 


  “Baiklah, saat ini aku percaya, tapi kalau kamu berbohong padaku, aku pasti akan sangat marah padamu,” ucap Bastian lagi.


 


 


  Aku mengangguk lagi. Aku menghela napas panjang, untung saja Bastian tidak mempermasalahkan lagi.


 


 


  Bastian masih ragu dengan Evo. Tadi sebelum mengambil ponselnya, Evo baik – baik saja. Sekarang dia kelihatan sangat murung. Bastian berencana setelah makan siang nanti akan mengecek CCTV ruangannya, dia ingin memastikan apa yang telah terjadi.


 


 


  “Moy,” panggil Bastian.


 


 


  “Hmm?” jawabku lesu.


 


 


  “Besok mau menemaniku jalan tidak?” tanya Bastian.


 


 


   Kepalaku yang tadinya menunduk ke bawah, kemudian terangkat dan tersenyum bahagia. Sudah lama sekali aku ingin pergi jalan – jalan. Saat bersama Bagas, dirinya jarang sekali diajak jalan.


 


 


  “Aku mau, aku mau!” kataku dengan girang, “kita mau ke mana?”


 


 


  “Bebas. Kamu yang menentukan. Aku akan menjadi supir pribadimu besok,” ucap Bastian sambil tersenyum. Bahagia rasanya melihat senyuman Evo yang terukir di bibirnya.


 


 


  “Aku mau ke dufan! Aku sudah lama tidak ke sana! Kita ke dufan ya, Gas?” pintaku.


 


 


  “Dufan? Apa kamu yakin?” tanya Bastian tidak percaya dengan pilihan diriku. Pikiran Bastian salah, ternyata Evo bukanlah cewek yang doyan belanja. Umumnya para wanita kalau ditanya mau ke mana? Pasti mereka akan memilih untuk belanja.


 


 


  “Yakin banget! Katanya di sana ada permainan baru, Gas. Kita ke sana saja ya!” ucapku penuh dengan semangat.


 


 


  “Boleh.”


 


 


“Terus sorenya kita ke pantai. Aku sudah lama tidak ke pantai,” kataku lagi membuat rencana besok. Untung saja besok hari Sabtu. Hari yang sangat tepat untuk pergi berjalan – jalan.


 


 


  “Baiklah,” ucap Bastian lagi.


 


 


  “Di pantai ada tempat makan enak, malamnya kita makan di sana ya, Gas?”


 


 


  Bastian mengangguk menyetujui permintaan Evo. Dari dulu sampai sekarang Evo tidak pernah berubah. Selalu manja terhadap Karel.


 


 


  “Lalu apa lagi?” tanya Bastian.


 


 


  Aku mengerem mulutku. Aku terlampau banyak permintaan pada Bastian. Pasti Bastian merasa aku adalah wanita yang banyak maunya.


 


 


  “Kenapa berhenti? Apa sudah selesai?” Bastian tanya dengan lembut.


 


 


  Aku menggaruk kepalaku, malu karena menuntut banyak kepada Bastian. Bastian mirip sekali dengan Karel cinta pertamaku. Dia selalu memanjakanku dan memenuhi segala permintaanku. Seandainya Bastian benar Karel, pasti aku akan sangat bahagia.


 


 


  Bastian yang melihat aku terdiam kemudian mengacak – acak rambutku. “Aku lebih suka kamu banyak bicara daripada diam seperti tadi.”


 


 


  “Bastian, kamu merusak rambutku!” keluhku.


 


 


  “Apapun masalah yang ada dipikiranmu, kamu harus cerita. Sekarang kamu pacarku. Kamu harus janji itu. Janji?” ujar Bastian sambil menjulurkan jari kelingkingnya.


 


 


  Aku terkejut. Kejadian ini sama seperti waktu dulu. Waktu diriku bersama Karel. Aku dan Karel pernah mengikrarkan janji kelingking.


 


 


  “Mana janjinya?”


 


 


  Aku mengaitkan jariku ke arah Bastian, “Iya, aku janji.”


 


 


 


 


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya.


 


 


❤❤❤