
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Episode Sebelumnya :
Perusahaan Pratama.
"Baik, baik. Saya mengerti dengan keinginan kalian sekarang. Berarti kita melakukan pemilihan suara untuk dua pilihan opsi. Opsi pertama adalah Bagas tetap menjadi pemimpin, dan opsi kedua yaitu Bagas di pecat dari perusahaan." ucap Pak Freddy memberikan pendapat.
"Setuju!" ujar seseorang.
"Benar sekali!!" ucap yang lain.
"Pemilihan suara ini hanya berlaku buat pemimpin dan pemegang saham Perusahan Pratama," perintah Pak Bagas.
"IT tolong siapkan semuanya," perintah Pak Freddy.
"Aku harus turun ke bawah, Din. Aku harus bantu Bagas. Siapa tahu suaraku membantu dia menang," psmit Maureen.
"Semoga behasil, Sis!" doa Dina.
Acara pemilihan suara pun di mulai. Bagas tidak banyak komentar dengan semua kejadian ini. Bagas hanya berharap semua segera selesai. Dia sudah mulai muak dengan semua ini.
Anggota yang seharusnya hadir dalam rapat berjumlah 37 orang, tetapi ada satu yang tidak datang. Walau demikian acara ini tidak dapat berhenti karena sudah memenuhi kuota dalam aturan rapat.
Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai memilih. Hasil dari pemilihan suara sebentar lagi akan terpampang dalam layar.
Sudah ingat?
Mari kita lanjut ya kisahnya.
Debaran jantung Maureen dan Dina begitu besar. Mereka sangat berharap bahwa Bagas akan memenangkan pemilihan suata ini.
"Terima kasih atas pilihan kalian terhadap perusahaan. Sebentar lagi kita akan mengetahui hasil dari pilihan Bapa dan Ibu," jelas Pak Freddy.
"Hasilnya adalah ...."
*****
Rumah Keluarga Dea.
" Di mana Dea?" tanya Pak Hermawan pada istrinya Bu Heni. Pak Hermawan baru saja bangun dari tidurnya, dia menghampiri Bu Heni ke ruang tamu karena tidak melihat istrinya di kamar mereka.
"Tadi pamit mau ketemu dengan temannya," jelas Bu Heni.
"Semoga saja anak itu cepat pulih dari sakit hatinya," harap Pak Hermawan.
"Pa, Apa boleh aku bertanya padamu?" tanya Bu Heni pada Pak Hermawan. Pak Hermawan duduk di sebelah istrinya.
"Apa yang mau kamu tanyakan padaku?" tanya Pak Hermawan balik pada istrinya.
"Kenapa Papa begitu santai dan tidak marah pada Bagas karena tidak menerima perjodohan ini?" ucap Bu Heni.
"Karena cinta tidak bisa dipaksakan, Mama. Apa Mama tidak ingat dulu waktu aku juga dijodohkan dengan orang yang tidak aku cintai? Itu rasanya sakit, Ma. Lagi pula mudah saja Papa memaksa Bagas untuk menikahi Dea, tapi Papa takut mereka tidak akan bahagia di tengah jalan," jelas Pak Hermawan.
Bu Heni mengangguk menanggapi ucapan Pak Hermawan. Perkataan Pak Hermawan benar, dulu suaminya itu pernah ditentang menikah oleh kedua orang tua suaminya, tapi Pak Hermawan tetap menentang hal tersebut.
"Papa harap Mama ingat ya kisah kita dahulu, jangan sampai Bagas merasa tertekan dengan ini semua. Kalau Bagas dan Dea berjodoh, mereka pasti akan dipersatukan," nasehat Pak Hermawan pada Bu Heni.
*****
Apartemen Bagas.
Pelan - pelan aku mengepakkan barang - barang yang akan di pindahkan. Ternyata banyak juga barang yang akan di angkat ke rumah kontrakan.
Aku menemukan sebuah album. Aku membukanya, album tersebut album kepunyaan Bagas. Halaman per halaman aku membukanya.
"Wajah Bagas dari kecil memang sudah ganteng dan menyebalkan," kataku sambil mengamati album foto tersebut.
"Ya, ampun ini pasti Charlotte. Dia cantik sekali seperti putri kerajaan," pujiku.
Tiba - tiba ada surat terjatuh dari album tersebut.
"Surat apa ini?" tanyaku. Aku membuka surat itu. Mataku terbelalak melihat nama Dea ada di isi surat tersebut.
"Kepadamu dengan penuh kebencian, Alexandrea.
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak. Aku benci jantungku berdetak menunggu kehadiran dirimu di sekolah. Saat kamu muncul, aku akan bersembunyi kemudian berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut ketika kita bertemu, dan kamu menyapaku. Aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat.
Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu.
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain? atau apakah aku salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di digycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan? Disaat itu aku tidak bisa bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Kemudian aku harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Akupun sangat benci untuk mengakui bahwa aku telah mencintai kamu. Aku sangat mencintaimu.
Dari aku yang begitu lemah karena rasa cinta ini, Bagas Pratama.
Tes, tes, tes.
Air mataku menetes membaca tulisan Bagas.
Aku menutup kembali lembar surat yang dituliskan Bagas untuk Dea. Aku tidak menyangka kalau Bagas begitu mencintai Dea. Apakah sebenarnya aku adalah penghalang bagi hubungan mereka? Apa jangan - jangan wanita yang sangat dicintai Bagas yang dimaksud oleh Charlotte adalah Dea?
Semoga Bagas yang akan menjadi bagian dari hidupku. Bagas yang sungguh mencintaiku lebih dari segala sesuatu. Dia yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah keluarganya. Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk aku dan anak - anakku kelak.
Wajah tampan dan daya tarik fisik Bags tidaklah penting, yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai diriku dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.
Aku harap Bagas adalah Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas. Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku. Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah. Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku. Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi. Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya, Aku percaya bahwa seseorang itu adalah Bagas Pratama.
.
Aku tidak meminta Bagas yang sempurna namun aku meminta Bagas yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna. Semoga Bagas selalu membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya. Semoga juga Bagas memilihku menjadi wanita yang dicintainya bukan Dea seperti surat yang ditulisnya beberapa tahun yang lalu.
****
Perusahaan Pratama.
"Hasilnya adalah...."
"TUNGGU!" potong seseorang yang baru masuk ke ruang rapat.
"Mbak Meli?" kaget Maurren.
"Ya, ampun, Mbak Meli!" Dina ikut kaget.
"Meli?" tanya Bagas juga tidak percaya.
"Siapa kamu?" tanya Bu Lina tidak percaya melihat seseorang berani teriak di ruang rapat yang begitu penting.
"Perkenalkan nama saya Meli Wijoyo. Saya adalah pemegang lima puluh persen saham Perusahaan Pratama," ucap Mbak Meli membuat seluruh ruangan kaget.
"Apa? Apa saya tidak salah dengar?" tanya Pak Freddy.
"Menurut aturan dalam rapat, seharusnya rapat ini tidak sah karena orang yang memegang saham sebesar lima puluh persen tidak ada," tegas Mbak Meli.
"Benar itu. Mbak Meli berkata benar!" Dina berteriak di ruang karyawan.
"Sstt, Mbak Dina jangan ribut!" pinta mereka.
Mendengar ucapan Mbak Meli semua menjadi ribut.
"Tidak bisa! Kamu seenaknya datang dan berkata kalau kamu yang punya saham lebih dari empat puluh lima persen. Mana buktinya?" teriak seseorang.
Mbak Meli yang menduga akan ditanyakan seperti itu, kemudian santai menanggapinya. Dia berjalan menuju tempat duduk yang ada di sebelah Bagas.
"Apa kalian punya ponsel? Coba kalian cek siapa nama pemegang saham tertinggi setelag Pak Freddy?" suruh Mbak Meli.
Perintah Mbak Meli langsung di turuti oleh mereka semua. Mereka mencari di bursa saham. Betapa terkejutnya mereka melihat nama Meli Wijono terpampang jelas di situs bursa saham Perusahaan Pratama.
"Meli, aku tidak percaya kamu pemegang saham terbesar kedua setelah Papa. Kenapa kamu tidak cerita padaku?" tanya Bagas.
Mbak Meli tersenyum," Buat apa? Aku tidak suka pamer pada siapapun termasuk bosku."
Bagas tertawa mendengar jawaban Mbak Meli. Bagas memang tidak salah memilih rekan kerja seperti Mbak Meli, selain pekerja keras dia juga rendah hati.
"Jadi apakah kalian sudah percaya bahwa aku pemegang saham terbesar kedua setelah Pak Freddy?" tanya Mbak Meli lagi dengan sinis.
Pak Freddy dan Bu Lina terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa salah satu karyawannya merupakan pemegang saham terbesar kedua setelah mereka.
"Wuih, sepertinya drama ini makin seru. Seharusnya Evo dan Rafael menyaksikan ini semua!" ucap Dina dengan tangannya yang bergetar.
"Ya, Tuhan semoga Bagas tetap menjadi pemimpin di perusahaan ini," doa Maureen.
*****
BERSAMBUNG.
Kira - kira apa yang terjadi selanjutnya?
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤