
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Jangan lupa ya berikan vote, koment dan likenya. Senang rasanya MOY sampai episode ini. Semua karena dukungan dari kalian. Semoga kalian bantu aku memberikan vote ya. Terima kasih
*****
Keesokan harinya.
Maureen memberikan teh manis hangat padaku. Aku menerima teh tersebut dari tangan Maureen. Sahabatku itu mengamatiku dengan seksama. Dia seperti merasakan ada yang tidak beres dengan diriku.
Kemarin malam aku datang ke rumah Maureen untuk berteduh. Semalam aku menangis karena hatiku merasa sedih telah menyakiti hati Bastian yang begitu baik padaku.
“Apa perasaanmu sudah membaik?” tanya Maureen. Tadi malam Maureen terkejut melihat sahabatnya itu datang. Evo datang larut malam dengan basah kuyup.
Aku anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan Maureen. Hatiku sedikit membaik pagi ini. Rasa bersalah yang semalam menumpuk di hatiku sedikit menghilang.
Aku meneguk teh manis yang dibuat oleh Maureen untuk membuat hatiku lebih riang. Kata orang kalau minum teh perasaan akan menjadi lebih ringan.
“Ada apa?” Maureen bertanya. Posisi Maureen sekarang sudah di sampingku.
“Aku merasa bersalah, Ren,” kataku.
“Merasa bersalah? Kamu melakukan kesalahan sama siapa?” tanya Maureen bingung.
“Bastian,” jawabku.
Maureen memutar otaknya memikirkan masalah apa yang telah menimpa Evo sahabatnya. Padahal dia berpikir kalau Evo sudah bersama Bastian, maka tidak akan terjadi masalah apapun yang akan dia dapatkan.
“Tadi malam Bastian mengungkapkan perasaannya padaku,” ceritaku.
“Oh,”
“Kenapa respon kamu seperti itu?” tanya aku heran.
Maureen tersenyum menanggapi ketidak pekaan diriku. Dia mencoba merangkai kata untuk diberikan padaku.
“Sebenarnya aku sudah tahu tentang perasaan Bastian padamu semenjak dia menolong kamu,” kata Maureen santai. Maureen berdiri lalu merebahkan dirinya di ranjang sebelahku. Aku tatap dirinya penuh dengan pertanyaan. Kenapa Maureen bisa tahu? Padahal aku tidak pernah memberitahunya.
“Kenapa kamu bisa tahu?”
“Terlihat jelas, Vo. Aku rasa kamu pun tahu akan hal itu,” ucap Maureen.
“Itulah yang membuat aku menjadi sedih, Ren. Aku masih mencintai Bagas. Aku tidak ingin menyakiti Bastian. Dia sudah banyak membantuku,” terangku pada sahabatku itu.
Maureen mencoba memahami perasaan diriku. Dia mencoba untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
“Aku mengerti perasaan kamu, tapi kalau kamu menghindari Bastian seperti ini, kamu malah membuat Bastian menderita,” Maureen memberi pendapat.
Aku sependapat dengan Maureen. Menghindari Bastian bukanlah cara yang baik. Pergi darinya kemarin malam, membuat hatiku terluka, tapi aku masih mencintai Bagas. Kenapa aku jadi begitu plin plan? Apa aku telah jatuh cinta dengan Bastian juga? Apa aku mencintai dua pria sekaligus saat ini?
“Sebaiknya kamu pulang ke rumah Bastian. Bicarakan dengan Bastian secara terbuka. Aku yakin Bastian akan mengerti keadaan kamu saat ini. Dia berbeda dengan Bagas,” usul Maureen.
“Terima kasih, Maureen untuk saran ini. Tadi malam aku sangat bingung dengan ungkapan Bastian padaku. Kamu benar, aku harus bicara pada Bastian,” kataku mulai semangat.
Maureen bangun dari tempat tidur. Dia berjalan ke lemari pakaiannya. Mengambil sepasang baju kemudian memberikannya padaku.
“Ini pakailah, terus kamu mandi. Setelah mandi kamu harus segera pulang,” perintah Maureen padaku.
“Wah, apa aku sedang diusir?” tanyaku sambil bercanda.
“Kalau menurutmu, aku mengusir, aku setuju! Aku mau kamu segera menyelesaikan masalahmu dengan Bastian. Dia pasti sudah stress mencarimu semalaman!” kata Maureen.
“Baiklah, Nona Maureen! Kenapa kamu malah memikirkan Bastian? Kenapa tidak membelaku? Padahal aku yang tersakiti,” ucapku sambil manyun.
“Bastian pria yang baik, Vo. Kalau kamu tidak bisa buat dia bahagia, paling tidak jangan buat dia bersedih.”
*****
Rumah kediaman Bagas.
Dengan riang gembira Dea datang ke rumah Bagas. Rencananya hari ini Bagas dan Dea akan pergi mencari gedung dan gaun pengantin. Walau rencana pernikahan mereka masih lama, tapi segala persiapan harus segera dimulai.
“Selamat pagi, Tante, Om!” sapa Dea ketika tiba di ruang tamu.
“Hai, calon menantuku. Wah, pagi yang penuh semangat ya!”ucap Bu Lina bahagia menyambut Dea. Rencana kedua orang tersebut akhirnya berhasil. Evo dan Bagas berpisah, Bagas mau menikahi Dea.
“Sama siapa kamu datang?” tanya Pak Freddy.
“Aku menyetir sendiri, Om,” jawab Dea. Calon menantu keluarga Pratama itu kemudian duduk. Dia memilih duduk di sebelah ibu mertuanya.
“Kenapa tidak meminta Bagas untuk menjemput kamu?” tanya Bu Lina.
“Tidak apa – apa, Tan. Aku sengaja ke sini sekalian bertemu Om dan Tante,” ucap Dea dengan manis.
“Rencana hari ini kalian akan ke mana?”
“Kami rencana akan melihat gedung dulu, Tan. Gedung mana yang kosong sesuai tanggal yang disepakati. Setelah itu mau cari baju pernikahan,” jelas Dea.
“Sekalian kalian juga mencari baju untuk pertunangan kalian. Lebih baik kalian tunangan dulu, setelah Charlotte selesai wisuda, baru kalian menikah. Bagaimana dengan pendapatku?”
“Papa setuju dengan pendapat Mama. Bagaimana Dea?” tanya Pak Freddy.
“Dea sangat setuju. Nanti Dea akan laporan ke Papa dan Mama agar secepatnya diadakan pertunangan antara aku dan Bagas,” Dea setuju.
“Setelah itu rebut kembali perusahaan Pratama dari wanita itu.”
“Tenang saja, Tan. Pasti Bagas akan merebut kembali apa yang dia miliki,” ucap Dea penuh keyakinan.
Dea melihat sekelilingnya. Tidak ada tanda – tanda kehadiran Bagas di sudut mana pun. Sudah ditajamkan pencariannya untuk kedua kali, Bagas tidak kelihatan di mana pun.
“Di mana Bagas?” tanya Dea akhirnya.
“Dia masih tidur di kamarnya. Coba kamu bangunkan dia di kamarnya, sekalian latihan jadi istri,” goda Bu Lina.
“Baik, Tante! Aku akan coba membangunkannya,” ucap Dea kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Dea mengetuk pintu kamar Bagas, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Dia mencoba membuka pintu tersebut, ternyata pintunya tidak terkunci. Dea masuk ke kamar Bagas. Dia pandangi kamar tersebut dengan perasaan bangga. Sebentar lagi kamar ini akan di tempatkan oleh dia dan Bagas.
Dea berjalan menuju ke arah Bagas. Dia masih tertidur pulas. Wajahnya masih polos seperti saat dia masih kecil dulu. Dengan perlahan Dea mendekat, lalu jongkok memandangi Bagas. Sebentar lagi Bagas akan menjadi suaminya.
Dea menjulurkan tangannya ke wajah Bagas. Dia menyentuh pipinya, kemudian bibir Bagas. Sudah lama rasanya bibir ini menyentuh bibirnya. Dea ingat sekali ciuman pertamanya dia berikan pada Bagas. Seandainya saat itu Dea tidak memutuskan hubungannya dengan Bagas, pasti Dea dan Bagas akan bahagia.
Bagas membuka mata. Dia memandang Dea dengan tajam. Dea tersungkur jatuh karena kaget melihat Bagas bangun tiba – tiba.
“Sedang apa kamu di sini?”
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya
❤❤❤