
Dua hari kemudian.
Di ruang Mbak Meli, kami sedang rapat.
"Vo, tolong gantikan saya untuk rapat hari ini jam 1."
"Di mana rapatnya Mbak?"
"Penerbit Kata Dia, Vo. Dekat Mal xxx. Apa kamu tahu tempat itu?"
DEG! Itukan kantor Rafael. Aku terpaksa mengangguk. Belajar profesional, kalau aku nanti menolak, orang-orang mengira aku makan gaji buta. Secara mereka sudah tahu hubunganku dengan Bagas. Padahal Bagas yang mengakui, aku tidak.
"Siap, Mbak. Aku yang akan menggantikan rapat."
"Oke, kalau kamu bisa. Terima kasih, Vo. Hari ini saya tidak bisa, harus rapat dengan para pemegang saham, mau presentasi tentang pembukaan cabang yang di Malaysia."
"Siap, mbak."
" Maureen, kamu ikut Evolet, biar sama-sama belajar. Pembukaan kantor cabang pasti membutuhkan pemimpin. Saya mau kalian belajar. Siapa tahu saya dimutasi ke sana. Saya harap salah satu diantara kalian yang menggantikan saya." Aku dan Maureen mengangguk paham. Lalu kami kembali ke meja, dan mempersiapkan rapat dengan penerbit Kata Dia. Aku berharap tidak bertemu dengan Rafael.
.
.
.
.
.
.
Pukul 12.45 di kantor Kata Dia
"Selamat siang Mbak," sapaku dengan resepsionis kantor Kata Kita.
" Siang, Mbak. Eh, Mbak Evo, Sedang apa? Apa mau ketemu Pak Rafael?" tanya dia ramah. Beberapa orang di kantor ini sudah kenal denganku. Sudah beberapa kali aku datang ke sini untuk urusan novelku.
" Tidak, Mbak. Saya menggantikan pemimpin kami untuk rapat. Rapatnya di mana ya?" tanyaku dengan tersenyum ramah.
" Apa ini kantor Rafael?" tanya Maureen, aku mencubit tangan temanku untuk menyuruh dia diam.
" Di lantai 6, Mbak. Ruangan Pak Rafael, Mbak. Nanti diantarkan sama dia ya mbak." jawab dia sambil menunjukkan jalan.
" Terima kasih. Ayo, Ren!" pamitku. Kemudian kami naik lift dan mengikuti orang suruhan resepsionis itu. Akhirnya kami tiba di ruangan Rafael.
Tok, tok, tok.
"Masuk," izin dari dalam. Rafael mengangkat wajah hendak menyapa orang yang masuk itu.
"Evolet?"
"Hai, Fa." kataku lalu memberikan tanganku untuk menyalam dia. Rafael heran dengan kehadiranku. Dia masih menatapku dengan tidak percaya. Rafael meraih tanganku untuk berjabat tangan. Beberapa saat kami saling menatap.
"Vo! Vo! " panggil Maureen membuyarkan kami.
"Silahkan duduk, Vo. Ini?" tanya Rafael tersadar.
"Ini, Maureen. Maureen ini Rafael," aku memperkenalkan Rafael.
" Maureen, Pak," Maureen menjabat tangan Rafael. Kemudian beberapa orang dari perusahan lain mulai berdatangan. Setelah semua berkumpul, kami pun memulai rapat.
.
.
.
.
" Evolet!" panggil Rafael ketika aku dan Maureen hendak pergi. Maureen yang tahu keadaan, pergi duluan meninggalkan aku dan Rafael.
" Vo, aku...." Rafael ingin mengungkapkan sesuatu. Aku menunggu.
"Maafkan aku kemarin membuat kamu terkejut," Rafael meraih tanganku, lalu mendekapku dalam pelukannya.
"Aku tidak ingin melihat kamu menangis seperti itu. Maaf, Vo," Aku merasakan kehangatan tubuh Rafael. Wanita mana yang tidak mau dengan lelaki seperti Rafael? Sudah berparas tampan, memperlakukan wanita begitu lembut dan sopan.
"Rafa, malu," Rafael melepaskan pelukan dia.
" Aku harap kau tidak menghindariku ya, Vo," Aku mengangguk setuju.
" Aku pulang, Fa."
.
.
.
Kantor Pratama.
Ruang kerja editor.
"Oh, jadi hasil rapatnya begitu. Pihak mereka masih mencari tim editor untuk pengeditan skala internasional," Kamipun menceritakan hasil rapat yang kami laksanakan tadi.
"Pak Rafael itu memang luar biasa. Selalu bisa mendapatkan pekerjaan yang diluar dugaan." Aku dan Maureen mengangguk setuju. Rafael memang hebat. Diumurnya belum kepala tiga, dia sudah mampu menjadi pemimpin redaksi penerbit di Kata Dia. Pantas saja novelku lolos dengan mudah. Akupun baru tahu kalo dia pemimpin di perusahaan itu.
"Kita harus mendapatkan pekerjaan itu, Vo," Mbak Meli mulai ambisius. Dia tahu kalau perusahaan ini bergabung, pundi-pundi uang pasti melesat tinggi.
"Serahkan sama, Evo aja, Mbak Meli. Evo kenal akrab dengan Pak Rafa."
Mbak Meli mengangkat salah satu alis dan menatapku," Kenapa bisa begitu?"
"Evo pernah ter...." Aku membungkam mulut Maureen.
"Ter? ter apa? Evo, kenapa kamu menutup mulut Maureen? Biarkan dia teruskan ucapannya," tanya Mbak Meli penasaran. Haduh, dasar Maureen. Padahal aku udah pernah bilang untuk tidak memberitahu kepada siapapun kalau aku menulis novel.
" Maksud Maureen, saya pernah satu pekerjaan Mbak sama beliau. Bisnis kecil-kecilan, tapi sekarang sudah tidak lagi," jelasku. Mbak Meli percaya.
Di apartemen Bagas.
Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul 9 malam rupanya. Untung hari ini Bagas tidak ada di rumah. Kalau dia ada, pasti akan marah aku pulang lebih dari jam 8 malam. Aku bisa menyelesaikan tugas dengan sempurna.
Ada seseorang membuka pintu. "Kamu terlambat!"
" Bagas!" Aku terkejut.
"Kenapa sudah pulang?" tanyaku lagi.
" Kenapa? tidak suka?" tanya dia sewot. Bagas menutup pintu mengabaikan aku yang kaget.
" Ayo, masuk. Kenapa bengong di sana?" ajak Bagas yang duluan sudah duduk di sofa. Aku menaruh tas dan sepatuku dahulu. Kemudian aku duduk di sebelahnya.
" Aku membawa sesuatu untukmu," Bagas mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak berwarna biru. Lalu membuka kotak tersebut di depanku. Sebuah kalung dengan liontin berlian.
" Bagas itu pasti mahal. Aku tidak bisa menerimanya."
"Aku tidak meminta persetujuan darimu," Bagas berdiri lalu menaruh kalung itu di leherku.
"Kalung yang cantik untuk wanita cantik sepertimu."
Bagas membalikkan badanku, menatapku dengan penuh hasrat. Bagas mencium bibirku. Kemudian dia mendorongku dengan lembut. Aku sudah dibawahnya, "Ba, Bagas, hen...ti...."
"Ssstt....," kemudian Bagas mendekapku dan menciumku.