MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sakit Hati Dea



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


Episode Sebelumnya.


"Jawab pertanyaan Om. Kamu tidak perlu takut dengan kedua orang tuamu, dan takut menyakiti Dea. Om lebih suka kamu berkata jujur sekarang dari pada nantinya malah kalian bercerai di tengah jalan. Om tidak mau hal itu terjadi." tegas Om Freddy.


Bagas berdiri, lalu membungkukkan badannya. Ada rasa cemas yang hinggap dipikirannya. Bagas tahu keputusan ini akan menyakitkan orang tuanya.


"Maafkan Bagas, Om. Bagas tidak bisa menikahi Dea. Dea sudah Bagas anggap sebagai saudara Bagas sendiri," ucap Bagas masih posisi tadi.


"BAGAS!" Bentak Pak Freddy.


Dea menangis mendengar ucapan Bagas. Kemudian dia memeluk Bu Heni mamanya. Bu Lina menghampiri Bagas, lalu menampar anaknya itu.


"MAMA!" teriak Charlotte pada Bu Lina.


"Diam kamu, Charlotte! Mas kamu ini pantas mendapatkan ini. Perbaiki ucapanmu sekarang!" pinta Bu Lina tegas. Bagas tidak bergeming dengan keputusannya.


"Kita pulang ya, Ma. Dea tidak sanggup di sini." pinta Dea. Keluarga Dea angkat diri dari rumah Bagas.


"Heni, tunggu Hen!" cegah Bu Lina.


"Aku tidak menyangka bahwa aku akan disakiti seperti ini oleh anakmu," kecewa Bu Heni.


"Tidak, Hen. Berikan kesempatan pada kami untuk membujuk Bagas. Mereka saling mencintai," pinta Bu Lina memohon pada Bu Heni.


"Sudahlah, Lin! Jangan paksakan perasaan mereka," ucap Pak Hermawan lebih bijaksana, "Dea dan Heni akan baik - baik saja. Kami pamit."


Episode selanjutnya :


"Apa - apaan kamu ini?" marah Pak Freddy ketika keluarga Dea sudah pergi dari kediaman mereka.


"Bagas tidak bisa berpisah dengan Evo. Maafkan Bagas, Pak! Bagas sudah siap dengan konsekuensi atas keputusan yang saya ambil!" tegas Bagas pada orang tuanya.


Charlotte yang melihat kejadian tersebut salut dengan perilaku Bagas. Dia tidak menyangka Bagas akan mempertahankan cinta mereka. Sudah seperti cerita novel yang pernah dia baca.


"Kamu mengorbankan Papa, Mama, dan adikmu Charlotte demi wanita yang baru kamu kenal beberapa bulan ini. Mama tidak menyangka kamu setega ini pada kami!" jerit Bu Lina.


Makian demi makian di lontarkan bergantian oleh Pak Freddy dan Bu Lina pada Bagas. Bagas yang sejak tadi sudah mengumpulkan tenaga untuk mempersiapkan diri mendengar makian tersebut.


"Mulai hari ini fasilitas dari keluarga Papa cabut dari kamu! Kamu Papa pecat dari kantor!" tegas Pak Freddy.


"Iya, Pak. Bagas mengerti." ucap Bagas.


"Dan Apartemenmu, papa sita. Kamu harus ke luar dari apartemen mulai besok!" perintah Pak Freddy.


"Papa! Kenapa Papa begitu kejam sama Mas Bagas? Lalu Mas Bagas tinggal di mana?" kata Charlotte membela kakaknya. Menurut Charlotte Pak Freddy sudah keterlaluan.


"Sudah, Char. Kamu tidak boleh ikut campur dengan masalah Mas Bagas, Papa dan Mama," pinta Bagas.


"Bagas bisa tinggal di sini tanpa EVOLET!" ucap Pak Freddy lagi.


"Bagas akan ke luar dari apartemen besok," tegas Bagas lagi.


Bu Lina lemas melihat Bagas begitu kekeh membela Evo. Dia yang berdiri kemudian lemas duduk di kursi meja. Charlotte yang di samping Bu Lina memegang erat Bu Lia, "Mama. mama kenapa?"


"Dengarkan Mama baik -baik, Evo kamu akan pergi ketika dia tahu kalau kamu menjadi miskin! Dia bukan gadis yang lugu seperti kamu kira. Kamu akan menderita bersama dia!" nasehat Bu Lina pada Bagas.


"Percuma kamu menasehati seperti itu Mama, Bagas tidak akan mendengar kita! Sekarang kamu ke luar dari rumah ini! Saya sudah muak melihat anak durhaka sepertimu!" kesal Pak Freddy.


"Papa, jangan usir Mas Bagas. Papa!" pinta Charlotte.


Bagas memeluk adiknya dengan erat.


Tes, tes, tes.


Air mata Charlotte menetes di pipinya. Charlotte tidak menyangka bahwa kejadian ini akan terjadi. Charlotte benar - benar menyayangi Bagas. Dari kecil Bagas selalu memanjakannya. Apa yang diminta oleh Charlotte selalu dikabulkan oleh Bagas.


"Hei, hei, Charlotte! Kenapa kamu secengeng ini? Kamu sudah besar, dan sudah mau wisuda," ucap Bagas padanya.


Charlotte melepaskan pelukan Bagas. Dia menatap mata Bagas penuh dengan kasih sayang. Bagas menghapus air mata Charlotte yang jatuh dipipinya.


"Mas jangan pergi ya. Dengarkan kata - kata Papa dan Mama ya," pinta Charlotte lagi.


"Mas Bagas tidak bisa berpisah dengan Evo. Mas tahu ini keputusan yang sangat sulit untuk keluarga kita termasuk Mas Bagas. Charlotte tolong mengerti dan hargai keputusan, Mas ya. Charlotte akan mengerti suatu hari nanti ketika Charlotte menemukan orang yang benar - benar kamu cintai," jelas Bagas. Setelah berkata seperti itu Bagas pergi dari rumah keluarga Pratama. Charlotte lari masuk ke kamar.


"Sial! Benar - benar sial! Pelet apa yang diberikan Evolet pada anakku? Kenpa dia terus menentang kita!" kesal Bu Lina. Bu Lina sangat marah melihat Bagas lebih memilih Evolet ketimbang keluarganya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku akan membuat Evolet menderita!" ujar Bu Lina marah dan geram.


"Papa juga sudah kesal dengan semua ini! Bagas benar - benar sudah menjadi bucin (budak cinta) Evolet! Kita akan menyingkirkan Evolet secepatnya!" geram Pak Freddy.


*****


Rumah Keluaga Dea.


BRAK!


Dea membanting pintu kamarnya. Dea sangat kesal dengan apa yang telah diperbuat Bagas pada dirinya. Bagas tidak sadar bahwa keputusan yang diambil olehnya adalah sebuah kesalahan.  Dea bingung pelet apa yang diberikan Evo sehingga Bagas lebih memilih Evo ketimbang dirinya.


Tok, tok, tok.


Pintu kamar Dea diketuk.


"Sayang, buka ya. Mama mau bicara padamu. Apa kamu baik - baik saja?" tanya Bu Heni yang cemas dengan anak gadisnya itu. Sepanjang jalan Dea hanya menangis. Bu Heni dan Om Hermawan mengajaknya bicara di dalam mobil, tapi tidak ditanggapi oleh Dea.


"Aku lagi butuh waktu sendiri, Ma," pinta Dea dari dalam kamar.


"Tapi, Nak, kita butuh bicara," pinta Bu Heni.


"Pergi! Mama pergi! Dea pengen sendiri!" teriak Dea dari dalam.


Pak Hermawan yang menghampiri istrinya berkata pada Bu Heni, "Sudahlah, biarkan Dea sendiri dulu. Kamu seperti tidak pernah muda saja."


"Papa ini ya malah menyepelekkan perasaan Dea. Dea itu sedang sakit hati karena perbuataan Bagas padanya! Kenapa Papa bisa sesantai itu?" tanya Bu Heni dengan nada tinggi. Bu Heni gemas dengan kelakuan Pak Hermawan.


"Semua ada masanya, Ma. Mungkin ini masanya di mana Dea harus menerima kenyataan bahwa apa yang diinginkan dia tidak selamanya dia dapatkan," ucap Pak Hermawan bijaksana.


"Dea itu anak perempuan kita satu - satunya. Mama tidak mau ada yang menyakiti Dea!" bela Bu Heni untuk anaknya.


"Terserah kamu sajalah. Jangan sampai karena kamu memanjakan anak kita, dia menjadi anak yang manja," Pak Hermawan mengingatkan Bu Heni. Bu Heni tidak menanggapi ucapan suaminya. Pikiran Bu Heni adalah Pak Hermawan tidak sayang dengan Dea, padahal jauh di lubuk hati Pak Hermawan, dia sedih melihat anaknya disakiti seperti itu.


Di dalam kamar Dea melempar semua barang. Dia menghancurkan barang yang  bisa dia hancurkan. Dia sangat kesal mendengar pembicaraan Pak Hermawan dan Bu Heni.


"Kenapa Papa setega itu sama aku? Apa Papa tidak sayang sama aku?" kesal Dea.


Tes, tes, tes.


Air mata Dea menetes di pipi. Setelah sekian lama akhirnya Dea menangis. Dea sangat mencintai Bagas. Bagas selalu menolong Dea kapanpun Dea sedang menghadapi kesulitan. Dea bersumpah akan menjauhi Bagas dengan Evo, karena Bagas adalah milik Dea seorang!


****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤