MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Evo diculik



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


 


 


Drt, Drt.


 


 


  Telepon genggam Bastian berbunyi. “Maaf, Pak saya menerima telepon dulu.” Pak Petrus mengangguk tanda mengizinkan Bastian.


  “Halo,” sapa Bastian.


 


 


  “Bas…, Bas…,” kata Mbak meli dengan suara cemas. Bastian merasakan firasat buruk.


 


 


  “Kenapa, Mbak? Kenapa nadamu seperti cemas begitu?” tanya Bastian.


 


 


  “Evo, Bas! Dia dibawa kabur oleh Indra.”


 


 


  “Apa? Bagaimana bisa terjadi?” raut muka Bastian panik. Firasat jelek yang tadi dia rasakan menjadi kenyataan.


 


 


  “Kami sedang makan siang dan ternyata Indra ada di sini. Dia menemukan kami dan membawa Evo pergi,” jelas Mbak Meli.


 


 


  “Kenapa kamu tidak mencegahnya?”


 


 


  “Kami sudah mencoba, tapi dia mendorong kami hingga jatuh. Kami jadi tidak bisa mencegahnya.”


 


 


  Sial! Benar – benar sial! Kenapa aku bisa menunda untuk memberi pelajaran pada Indra? Bastian mengepalkan tangannya. Dia menahan kekesalannya. Seandainya dia sedang sendiri, pasti dia akan memukul sesuatu untuk melampiaskan amarahnya.


 


 


  “Baiklah, aku mengerti! Aku akan segera mencari dia,” ucap Bastian lalu menutup teleponnya.


 


 


  “Ada apa?” tanya Pak Petrus. Sejak tadi Pak Petrus mengamati Bastian. Perubahan mukanya berubah drastis saat menerima telepon.


 


 


  “Hanya masalah kantor, Pak. Sepertinya aku harus segera kembali ke kantor,” pamit Bastian lalu berdiri. Pak Petrus ikut berdiri ketika melihat Bastian berdiri.


 


 


  “Jangan lupa untuk mampir lagi ke sini. Siapa tahu kamu akan ketemu dengan Evo?” ucap Pak Petrus sambil mengantarkan Bastian ke luar ruangan kelas.


 


 


  “Tentu saja, Pak. Karel akan datang berkunjung lagi kalau ada waktu.”


 


 


  “Hati – hati di jalan. Tidak usah buru – buru, biar selamat sampai tujuan,” nasehat Pak Petrus padanya.


 


 


   Bastian menganggukan kepala. Setelah selesai pamitan dengan Pak Petrus dengan berlari dia menuju ke mobilnya. Tiba di mobil dia mengambil telepon genggamnya. Bastian menelepon seseorang.


 


 


  Lalu mencari lokasi Evo menggunakan ponselnya. Bastian beruntung karena telepon genggam Evo sudah dipasang penyadap.


 


 


  “Mau ke mana kita, Pak?” tanya supir Bastian menunggu perintah.


 


 


  Bastian memberikan lokasi kepada supirnya. Setelah mengetahui tujuan tersebut, supir itu melajukan mobilnya.


 


 


  “ Ayo, cepat! Evo dalam bahaya.”


 


 


 


 


   “Baik, tuan!” ucap supir Bastian.


 


 


  “Tunggu aku, Evo. Semoga tidak terjadi apa – apa pada kamu!”


 


 


*****


Di hotel.


 


 


  Indra menyeretku hingga ke hotel. Ketika tiba di kamar, dia melemparkan tubuhku ke ranjang tempat tidur tersebut. Dia memandangi tubuhku dengan penuh nafsu. Akhirnya aku dapat mencicipi tubuh ini, Evo.


 


 


  “Kenapa kamu meninggalkan aku, Vo? Kenapa kau tega menghilang tanpa ada kabar? Tidak tahukah kamu bahwa aku mencari kamu?” tanya Indra.


 


 


  “Lepaskan aku Indra. Apa kamu sudah gila?” tanyaku sambil berteriak.


 


 


  Indra melepaskan dasinya, lalu menghampiriku dengan menindih badanku. Badan Indra tepat di atas badanku, “Aku sangat mencintai kamu, Evo.”


 


 


  “Tolong jangan lakukan ini padaku, Indra,” pintaku memohon.


 


 


 


 


  “Indra, sadarlah!” kataku sambil meronta- ronta. Aku tidak ingin disentuh oleh Indra.


 


 


  Tangan Indra menyentuh bibirku, dia memainkan tangannya di atas bibirku, “Kenapa kamu begitu malu sayang? Bukankah waktu di hotel itu kita sudah pernah melakukannya?”


 


 


  Aku memalingkan mukaku. Aku benar – benar tidak mau dilecehkan lagi oleh Indra. Ini bukan cinta. Cinta tidak pernah memaksa dan menyakiti seperti ini.


 


 


  “Kamu tidak mencintaiku, Indra. Kamu tidak cinta!” kataku.


 


 


  Indra memegang daguku kemudian dia menariknya agar mukaku dapat melihat muka dia. “Mari kita bersenang – senang sayang. Apa kamu tidak rindu dengan sentuhan tanganku? Akan aku buktikan betapa aku sangat mencinta kamu, Evo.”


 


 


   Aku kembali meronta, dan mencoba untuk menghindar dari Indra. Indra seperti kehilangan kendali. Dengan sekuat tenaga aku menendang Indra. Tendanganku berhasil membuat Indra terjatuh ke lantai. Aku mencoba kabur. Sayangnya aku tidak bisa membuka pintu hotel.


 


 


  “AGH! Dasar wanita tidak tahu diri!”


 


 


  Diperlakukan seperti itu, Indra terbakar emosi. Dia berusaha bangun, kemudian dia mengejar aku, “Kemari atau aku akan berbuat lebih kasar lagi!”


 


 


  “Jangan, Indra. Jangan aku mohon. Kamu harus sadar! Kamu bukan Indra yang aku kenal,” ucapku sambil berusaha lari dari ancaman Indra.


 


 


  Kamar yang tidak begitu luas, mempermudah Indra menangkapku. Dia menjambak rambutku dengan kasar.


 


 


  “Indra sakit.”


 


 


  “Ikuti kata – kataku, maka semua ini tidak akan sakit!” perintah Indra. Air mataku ikut bermain kali ini. Aku sangat ketakutan melihat Indra yang seperti kerasukan.


 


 


  “Aku tidak mau, Indra.”


 


 


  Mendengar penolakan demi penolakan dari mulutku, Indra semakin marah. Dia menyeret aku seperti layaknya wanita yang tidak bermoral. Lalu dia melemparkan aku kembali ke tempat tidur.


 


 


  “Bagas tidak akan menolong kamu. Dia tidak mencintai kamu lagi karena kamu sudah ternodai olehku waktu itu.”


 


 


  Aku menelan ludah. Aku menggigit bibir bawahku. Perkataan Indra benar semua. Aku sudah dinodai oleh dua lelaki. Aku bukan wanita yang baik. Aku kotor dan tidak suci. Ucapan Indra membuat aku menjadi lemah.


 


 


“Jangan menangis sayang. Aku akan membahagiakan kamu, Vo. Siang ini nikmatilah, aku akan membuat kamu seperti di surga.”


 


 


  Indra mencium bibirku, aku mengigit bibirnya dengan keras.


 


 


  “Sial kamu!” Indra memegang bibirnya. Lelaki itu meringis kesakitan, dia tidak menduga kalau diriku akan mengigit dirinya.


 


 


  “Tadinya aku berusaha untuk memberikan pengampunan padamu. Ternyata masih saja kamu mencoba untuk bertahan,” kesal Indra.


 


 


  Indra merobek bajuku, lalu melepaskan bajunya. Dia mencium bibirku kembali dengan kasar. Dia benar – benar tidak mengampuniku.


 


 


“Agh, ja… jangan… Indra,” pintaku masih dengan menangis. Indra berhenti melakukannya lalu menampar diriku.


 


 


PAK!


 


 


  “Jangan banyak bicara!” katanya. Setelah berkata seperti itu, bajuku yang masih setengah menempel di tubuhku, dilucutinya. Sekarang tubuhku tidak di tutupi apapun.


 


 


  Dengan ganasnya Indra merengut semuanya. Dia berkelana menjelajahi semuanya. Aku tidak bisa berbuat apa – apa. Harga diriku hancur untuk kesekian kalinya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa menolongku. Aku harus menerima kenyataan yang pahit ini. Sudah tidak dinikahi, sekarang aku dinodai oleh pria lain.


 


 


 


 


 


 


*****


 


 


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤