MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Kemarahan Bagas



Halo, semua! Selamat membaca kisah Evo ya. Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak kenyataan. Jalannya cerita dari kehaluan penulisnya. Semoga kalian suka ya. Jangan lupa kasih vote padaku, dan tekan likenya.


*****


Kantor Pratama.


  Maureen merapikan dokumen dan mematikan laptopnya. Hari ini dia sangat lelah dengan pekerjaan yang sangat banyak. Maureen ingin sekali refreshing sejenak.


  “Kayanya aku harus ajak Evo menonton malam ini, ada film baru keluar,” ucap Maureen kemudian mengambil telepon genggamnya. Sayangnya Evo tidak menerima telepon dari Maureen.


  “Ke mana dengan Evo ya?” tanya Maureen.


  Dia melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Maureen memutuskan untuk pergi ke ruangan Bastian untuk mengajak Evo malam ini.


Sesampainya di ruangan Bastian.


  “Evo!” panggil Maureen tanpa mengetuk pintu seperti biasa.


  “Astaga, Maureen! Kamu selalu mengagetkan aku! Apa tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?” tanya Bastian agak jengkel.


  Maureen menyelidiki sekelilingnya, dia tidak menemukan Evo di ruangan Bastian.


  “Halo!” ujar Bastian lagi.


  Maureen nyengir, dia menghampiri Bastian. “Di mana Evo?”


  “Dia pergi,” jawab Bastian singkat. Dia berusaha memusatkan  dirinya pada pekerjaan yang ada di depan.


  “Ke mana perginya?” tanya Maureen.


  “Bagas.”


  “Hah? Siapa?” Maureen mencoba mencerna kata – katanya.


  “Apa telingamu sedang terganggu? Aku bilang Bagas!” ucap Bastian dengan nada tinggi.


  “Wets, Bosku. Jangan emosi, aku hanya bertanya.”


  Bastian diam tidak menganggapi. Perasaan Bastian sangat kesal karena dia tidak bisa mencegah Evo untuk pergi. Tubuh Bastian di sini, tapi pikirannya melayang kepada Evo. Dia tidak bisa membayangkan kalau Evo akan kembali lagi pada Bagas.


  “Aroma sedang cemburu nih,” ledek Maureen.


  “Sok tahu!” ringis Bastian, padahal memang benar. Bastian sedang cemburu, dan takut sekarang.


  “Kenapa tidak dicegah?” tanya Maureen. Dia sama sekali tidak sakit hati dengan ucapan yang keluar dari Bastian. Dia tahu Bastian sekarang sedang tertekan dengan situasi saat ini.


  “Apa hakku mencegah Evo?” tanya Bastian balik.


  Maureen menghela napas, dia duduk tepat di depan Bastian. Dia mengamati Bastian dengan seksama, Bastian sangat mencintai Evo, begitu juga dengan Evo.


   “Bos, boleh aku bertanya satu hal padamu?”


  Bastian mengangkat wajahnya, dia menatap mata Maureen dan memberikan kode pada Maureen bahwa wanita itu boleh bertanya padanya.


  “Apa kamu mencintai Evo?”


  Mata Bastian terbelalak, dia kaget mendengar pertanyaan dari mulut sahabat Evo.


  “Apa pertanyaan itu sangat penting untukmu?” Bastian bertanya balik pada Maureen.


  “Bisa ya, bisa tidak,” jawab Maureen ambigu. “Jadi jawabannya apa?”


  “Kalau aku tidak cinta dia, aku tidak akan menyelamatkan dia saat pesta pernikahannya waktu itu.”


  Maureen mengangguk kepala, Bastian menunggu perkataan Maureen selanjutnya.


  “Apa maksudmu sebenarnya, Reen?”


  “Sana pergi, kejar Evo. Kamu berhak melarang dia untuk pergi dengan Bagas! Katakan pada Evo kalau kamu mencintai dia!”


  “Benarkah?” tanya Bastian tampak ragu.


  “Hai, bosku yang baik hati. Kesempatan tidak datang dua kali, jangan sampai Evo termakan jerat Bagas lagi dan mereka jadian.”


  “Tapi Evo mencintai Bagas, Reen. Dia sangat cinta pada Bagas!” ucap Bastian lagi.


  Maureen menepuk jidatnya, dia capek harus membujuk dan menyakinkan Bastian bahwa Evo sangat mencintai Bastian.


  “Apa kamu lupa aku pernah cerita, kalau Evo mencari dan menunggu dua belas tahun untuk cinta pertamanya? Aku rasa kamu tidak lupa akan hal itu."


  “Apa menurut kamu itu bukan cinta? Dia menanti Karel! Dia menanti kamu, Bastian!” ucap Maureen menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


  “Jangan jadi orang bodoh yang memberikan kesempatan pada lawan untuk merebut orang yang kamu sayang, dan dia juga menyayangi kamu. Dua belas tahun bukan waktu yang cepat, Bas. Aku tahu perjuangan Evo menanti kamu!”


  Detik itu juga tanpa berpikir panjang, Bastian mengambil kunci mobilnya, dia berlari pergi. Maureen yang melihat itu tersenyum senang.


  “Reen!”


  “Kenapa balik?” tanya Maureen heran.


  “Terima kasih.”


  “Selamat berjuang bosku!” ucap Maureen penuh semangat.


*****


Mobil Bagas.


  “Terima kasih sudah mau bertemu denganku,” ucap Bagas ketika kami sedang di mobil.


  “Aku harap ini pertemuan terakhir kita, Gas. Aku tidak mau Dea salah paham lagi tentang hubungan kita,” pinta Evo.


  Bagas hendak membalas ucapan Evo, perempuan itu merasakan ada getaran dari tasnya.


Drt, Drt, Drt.


  Sejak tadi telepon Evo berdering. Evo lupa menyalakan bunyi dering di telepon genggamnya, dia menatap layar teleponnya, nama Bastian muncul.


  “Halo, Bas,” jawab Evo.


  “Di mana kamu? Aku ingin menjemput kamu,” ucap Bastian.


  “Aku masih di jalan, aku….”


  Bagas meraih teleponnya, lalu menutup telepon milik Evo. Bagas hendak membuang telepon genggam milik Evo, tapi Evo mencegah.


  “Apa – apaan kamu?” tanya Evo dengan marah. “Kamu tidak punya hak untuk melakukan itu!”


  “Aku punya hak! Kita belum putus, Vo! Aku masih ada hak untuk melakukan itu!” ujar Bagas meninggikan suaranya. Bagas memberhentikan mobilnya.


  “Astaga, Bagas! Apa yang kamu lakukan?” ucap Evo kaget karena Bagas menghentikan mobilnya mendadak.


  Bagas menatap Evo dengan tatapan tajam, dia menarik tubuh Evo dengan kasar.


  “Katakan padaku, apa benar Bastian adalah lelaki yang kamu cintai selama dua belas tahun?” tanya Bagas marah.


  Mendengar itu, Evo sontak kaget. Kenapa Bagas bisa tahu?


  “Dari mana kamu tahu itu?”


  “Ternyata benar! Jadi selama ini kamu tidak cinta sama aku, Vo? Jadi selama ini aku hanya pelarian buat kamu?”


  “Aku, aku….”


  “Aku sangat cinta padamu, Vo! Aku sangat mencintai kamu!” ucap Bagas dengan mata berapi- api. Bagas sangat marah, saat ini dia tidak bisa dikontrol.


  “Gas, tolong tenang. Tolong dengarkan aku,” kata Evo coba menenangkan hari Bastian. Dia merasa ngeri dengan tatapan Bastian padanya.


  “Kenapa kamu jahat padaku, Vo? Aku sangat mencintai kamu!” jujur Bagas.


  “Kamu tidak cinta sama aku, Bas. Kamu tidak cinta,” ucap Evo. Perempuan itu sadar kalau Bagas tidaj mencintainya. Bagas hanya nafsu, dia hanya suka dengan tubuh Evo.


  “Jangan berdalih! Jangan malah membuat aku terpojok dan menjadi pihak yang disalahkan, Vo. Kamu benar – benar wanita jahat!” maki Bagas.


  “Kalau kamu mencintaiku, kamu akan percaya padaku! Bukan percaya pada Indra! Kalau kamu mencintaiku, kamu akan percaya padaku bahwa aku tidak mencelakai Dea saat pesta kelulusan Charlotte! Kamu tidak cinta sama aku, Gas! Tidak!” ujar Evo mengeluarkan air mata. Akhirnya dia mampu berpikir bahwa Bagas bukan cinta sejatinya. Cinta sejatinya adalah Bastian.


  “Persetan dengan itu! Aku ingin tahu, apakah tubuhmu juga bilang seperti itu?”


  Perkataan Bagas menimbulkan kengerian dalam diri Evo. Bagas menyalakan mesin mobilnya, dia menekan dalam gas mobil tersebut untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Tuhan tolong selamatkan aku!


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


❤❤❤