
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Jangan lupa ya berikan vote, koment dan likenya. Senang rasanya MOY sampai episode ini. Semua karena dukungan dari kalian. Semoga kalian bantu aku memberikan vote ya. Terima kasih
*****
Keesokan harinya.
Aku membuka mata, lalu melihat Bastian masih ada di sebelahku. Aku menatap wajah Bastian ketika sedang terlelap. Betapa tampannya lelaki ini. Bibirnya yang merah, hidungnya yang mancung membuat diriku terlena.
Bastian membuka mata, “Hayo, kenapa memandangi aku terus?”
Mendengar kata – katanya sontak membuat aku terkejut. Sejak kapan Bastian bangun dari tidurnya?
“Bas… Bastian? Sejak kapan kamu bangun?” tanyaku malu. Dengan cepat aku bangun dari tempat tidur, lalu kabur ke kamar mandi tanpa mendengar jawabannya. Bastian sangat tidak terduga. Ternyata dari tadi dia sudah bangun. Dia suka sekali menggodaku.
*****
Ruang Makan.
Setelah selesai mandi, aku menuju ke ruang makan. Aku melangkah dengan pelan, mengintip sejenak ke ruangan tersebut, apakah Bastian sudah berada di ruangan atau belum?
“Sedang apa kamu?” tegur Bastian dari belakang.
“Eh, anu, aku tadi, aku mau ke ruang makan,” kataku gugup.
Bastian memberikan kode agar mengikuti dia yang juga mau sarapan. Kamipun berjalan ke ruang makan. Para pelayan telah menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Bastian menarik kursi, lalu duduk. Aku memilih duduk di depan Bastian.
“Setelah selesai makan, kita langsung pergi,” ucap Bastian.
“Ke mana?” tanyaku bingung.
“Bukankah hari ini kita akan pergi ke dufan?” Bastian mengingatkan diriku. Aduh, aku benar – benar lupa kalau hari ini adalah hari Sabtu.
“Apa kita tidak jadi pergi ke dufan?” tanya Bastian lagi.
“Tentu saja jadi. Aku mau, mau!” kataku girang.
Sudah lama sekali aku tidak pergi ke dufan. Dufan adalah salah satu taman bermain terbesar di Jakarta. Banyak permainan yang dapat kita mainkan di sana. Terakhir aku ke sana waktu aku SMA.
“Baiklah. Setelah selesai makan baru kita pergi.”
“Siap,” jawabku.
*****
Dufan.
Pukul 11 siang kami sudah tiba di dufan. Pengunjung dufan di hari Sabtu ini belum terlampau banyak. Mungkin sore nanti pengunjung akan berdatangan.
Bastian membeli karcis untuk kami berdua. Setelah selesai, kami masuk ke dufan. Aku berlarian dengan gembira seperti anak kecil yang terlepas dari sangkarnya. Aku melihat ke setiap permainan, dan mulai berpikir permainan apa pertama yang akan aku mainkan bersama Bastian.
Aku menghampiri Bastian dengan sedikit berlari. Jarak antara kami tadi agak jauh karena aku meninggalkan dia untuk memilih permainan.
“Kamu mau main apa?” tanya Bastian layaknya seorang ayah kepada anaknya.
“Temani aku naik kora – kora ya,” pintaku.
Bastian mengangguk setuju. Kami berdua mendatangi ke area permainan itu. Jumlah antrian cukup panjang tetapi kami tidak lama untuk menunggu.
“Kamu pernah naik kora – kora tidak, Bas?” tanyaku padanya. Aku mengamati muka Bastian. Mukanya sedikit pucat.
“A- aku sebenarnya baru pertama kali ini ke dufan!” jujur Bastian.
Perkataan Bastian membuatku terkejut. Kami sudah duduk di kora – kora, Bastian baru memberitahu. Aku yakin sekali kalau Bastian takut dengan ketinggian.
“Ini akan seru, Bas. Kamu pasti akan suka!” kataku mencoba menenangkannya. Aku memegang tangan Bastian.
“Selamat siang semuanya! Apakah kalian sudah siap bermain kora – kora?” tanya pemandu permainan dengan riang.
Setelah mendapatkan jawaban dari pengunjung, permainanpun di mulai. Permainan kora – kora dimainkan di sebuah perahu besar yang akan diayun sekencang – kencangnya dengan menggunakan mesin. Teriakan demi teriakan dikeluarkan oleh para pengujung, begitupun juga dengan aku. Beda halnya dengan Bastian, dia diam saja tanpa ikut berteriak.
Bastian memperhatikan wajah Evo. Dia sangat bahagia melihat Evo begitu gembira. Apalagi ketika Evo memegang tangannya. Jantung Bastian berdetak kencang, karena ini kali pertama Evo berinisiatif memegang tangannya duluan.
“Permainan telah berakhir. Silahkan turun, terima kasih atas kunjungannya,”ucap pemandu permainan ketika permainan telah berakhir.
“Seru! Sangat seru! Kenapa kamu tadi diam saja, Bas? Apa kamu tadi takut?” tanya aku ketika sudah turun dari permainan tersebut.
“Tidak. Aku tidak takut. Di Hongkong aku pernah bermain permainan yang lebih ekstrem dari ini.”
“Oh, ya? Terus apa kamu tidak takut?” tanyaku dengan antusias, “permainannya seperti apa?”
“Waktu itu aku bermain dengan Mbak Meli. Semua permainan kami pernah mainkan. Ada halilintar juga di sana, tapi jalannya lebih panjang dan lebih ekstrim,” cerita Bastian.
Dulu waktu Bastian SMA, dan kakaknya sudah bekerja, Mbak Meli mengajak Bastian berjalan – jalan ke Hongkong dan pergi ke Disneyland. Di sana banyak sekali permainan yang lebih ekstrim dari pada di tempat ini.
“Aku jadi ingin ke sana,” anganku.
“Suatu hari aku akan mengajak kamu ke sana,” janji Bastian membuat aku menjadi girang.
“Janji?” kataku.
“Teman baik tidak akan ingkar janji,” kata Bastian lagi.
Aku mengandeng tangan Bastian karena senang dijanjikan pergi ke Hongkong. Aduh, aku seperti anak kecil yang dijanjikan sesuatu oleh ayahnya.
“Sebelum ke sana, kita nikmati dulu permainan di sini! Kita naik halilintar!” jeritku lalu mearik tangan Bastian dengan penuh semangat.
Hari ini aku sungguh bahagia. Banyak permainan yang kami mainkan hari ini. Dari kora – kora, halilintar, arum jeram, dan yang lainnya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Matahari sudah bersembunyi dan akan digantikan oleh bulan.
“Tidak terasa ya, Bas, sudah jam 6,” kataku sambil melihat ke arah jam tangan.
“Masih bisa satu permainan lagi. Kamu mau naik apa?” tanya Bastian.
Aku menunjuk ke arah sebelah timur. Ada permainan bianglala yang belum kami mainkan. Aku sengaja memilih permainan itu sebagai permainan kami terakhir karena ketika malam tiba pemandangan dari bilik bianglala akan sangat indah.
“Ayo,” ucap Bastian.
Kami berjalan ke arah permainan bianglala. Dulu waktu SMA aku pernah dengar kalau kita membawa pasangan kita di tempat paling tinggi lalu menciumnya, maka percayalah bahwa dia akan menjadi pasangan kamu selamanya.
Mengingat cerita dari temanku itu, aku menjadi sedih. Seharusnya dia pergi dengan Bagas bukan dengan Bastian. Dulu Bagas sulit sekali untuk di ajak ke sini. Bagas paling tidak suka pergi ke taman bermain, baginya tempat seperti ini adalah tempat anak kecil.
Banyak pengunjung yang berpikir sama denganku untuk menggunakan permainan ini menjadi permainan terakhir. Untung saja tempat duduknya banyak yang kosong, sehingga aku dan Bastian segera masuk ke dalam.
Perlahan – lahan bilik kami berjalan menuju ke atas. Aku memandang ke arah luar dengan penuh antusias. Terlihat jelas pantai dari ketinggian yang disinari oleh lampu yang begitu indah.
“Ya, ampun Bas! Indah sekali ciptaan Tuhan itu!” kataku begitu memukau.
“Kamu benar, Vo. Ciptaan Tuhan sangat indah,” ujar Bastian. Apalagi kamu, Vo.
Aku begitu gembira, hingga aku berdiri untuk melihat lebih jelas pemandangan di bawah sana karena kami sudah tiba di tempat yang paling tinggi. Tiba – tiba Bianglala berhenti mendadak, membuat keseimbanganku goyang. Tanpa sengaja, tubuhku terjatuh. Wajahku mendekat ke arah Bastian. Bibir kamipun menempel.
Ya, ampun! Kami berciuman! Aku dan Bastian berciuman!
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya.
❤❤❤