
Terima kasih telah membaca MOY sampai episode ini. Semoga author bisa membuat cerita baru untuk kalian ya setelah tamat MOY. Tetap sehat, dan bahagia. Salam sayang dariku untuk kalian.
*****
“Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu padaku? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu adalah Karel?”
Bastian menutup kembali kotak besi tersebut. Dia menatap Evo agak lama. Selama ini Evo sudah menunggu dia.
“Aku tidak pernah menyembunyikan identitasku. Bukankah aku sudah bilang namaku Bastian Karel?” kata Bastian menjelaskan.
Perkataan Bastian tepat, dia memperkenalkan dirinya dengan ada nama Karelnya. Bastian tidak salah, tapi Evo merasa ada yang janggal.
“Sejak kapan kamu mengenalku? Kenapa aku begitu bodoh tidak meyadari kalau kamu adalah Karel?”
Bastian memegang tangan Evo, dia merasa bersalah karena terlalu lama membongkar kebenaran ini padanya. Dua belas tahun Evo menunggu Bastian. Penantian itu tidaklah sebentar. Dia berjuang menerbitkan novelnya demi Bastian.
“Maaf, aku baru mengatakannya sekarang padamu. Saat awal kita bertemu di Malaysia, aku hilang ingatan. Ingatanku kembali saat aku pamitan padamu waktu itu.”
Bastian menarik napas lega, akhinya dia mampu memberitahu segalanya pada Evo. Bastian sudah siap kalau suatu hari akan ditinggalkan oleh Evo. Cinta Bastian tulus tanpa pamrih. Bastian tidak bisa egois, meminta Evo menjadi kekasihnya karena Evo sudah ada yang punya.
“Maaf kalau aku tidak mencarimu dengan segera. Maaf karena aku telah mengingkari janjiku padamu,” pinta Bastian.
Kata demi kata diucapkan dari mulut Bastian membuat air mata Evo mengalir deras di pipi. Ternyata selama ini bukannya Karel tidak mencari dirinya, tapi Karelnya mengalami amnesia sehingga melupakannya.
Bastian memandang wajah Evo dengan terkejut. Evo sedang menangis. Diulurkan tangannya untuk menghapus air mata Evo.
“Kenapa kamu menangis? Apa aku telah menyakiti hatimu?”
Evo menggeleng kepala, Bastian tidak menyakiti hatinya. Evo sangat gembira pada akhirnya bertemu dengan Karel. Di depannya ada Karel yang amat dia sayang. Karel yang selama dua belas tahun dinantikan olehnya.
“Apa yang terjadi padamu sehingga kamu bisa lupa ingatan?” tanya Evo ketika sudah mampu mengendalikan dirinya.
Bastian bercerita lagi,”Sepuluh tahun yang lalu, aku dan keluargaku masih tinggal di Malaysia. Saat itu kami hendak liburan, tapi ketika perjalanan kami mengalami kecelakaan. Kedua orang tuaku meninggal, aku lupa ingatan, dan hanya Mbak Meli yang mengalami luka ringan.”
Tangan Evo menutup mulutnya, matanya terbelalak mendengar cerita Bastian. Ternyata itulah sebabnya Bastian bisa kehilangan ingatan.
“Maaf, aku tidak tahu.”
Bastian mengangguk mengerti. Itu bukan salah Evo tidak tahu tentang kecelakannya. Saat lulus SD, dua tahun kemudian keluarganya pindah ke luar negeri. Papa Bastian dipindah tugaskan ke sana.
“Semenjak itu, Mbak Meli tidak mengungkit kecelakaan kedua orang tuaku. Dia terus berbohong bahwa Papa dan Mama pindah tugas ke Amerika, dan mereka tidak bisa mengajak kami berdua.”
“Lalu kalian tinggal bersama siapa di Malaysia?” tanya Evo.
“Untungnya ada keluarga yang berbaik hati menampung kami berdua. Saat umurku sudah dianggap cukup oleh Mbak Meli, akhirnya Mbak Meli memberitahu aku bahwa kedua orang tua kami telah meninggal dunia.”
Bastian menghentikan ceritanya sejenak. Rasanya sakit mengingat kejadian saat itu. Dia dibohongi beberapa tahun oleh Mbak Meli tentang orang tuanya.
Evo yang melihat perubahan wajah Bastian, memegang tangannya. Bastian tersenyum dipegang tangannya oleh Evo.
“Tenang saja, aku tidak apa – apa,” ucap Bastian.
“Lalu kenapa kalian bisa kembali ke Indonesia?”
“Pantas saja Mbak Meli selalu bilang padaku kalau ada adiknya di Malaysia sebelum dia di mutasi oleh Pak Freddy dulu,” cerita Evo.
“Ya, aku lebih sering di Malaysia ketimbang di Indonesia. Aku mendapatkan pekerjaan yang bagus di sana, tapi sesekali aku balik ke Indonesia untuk bertemu Mbak Meli. Begitu juga Mbak Meli datang ke Malaysia untuk bertemu denganku dan keluarga yang telah menampungku.”
“Jadi waktu kecelakaan itu terjadi, kamu benar – benar lupa keluargamu?” tanya Evo penasaran.
“Aku tidak lupa dengan keluargaku, tapi aku lupa dengan teman – temanku. Dokter bilang aku mengalami amnesia retrograde. Aku tidak dapat mengingat peristiwa yang terjadi di masa lalu. Akan tetapi, aku masih bisa mengingat apa yang terjadi setelahnya. Maksudnya adalah setelah mengalami kecelakaan, yang dapat diingat hanya setelah kecelakaan itu terjadi.”
Evo mencoba memahami setiap penjelasan dari Bastian. Selama ini bukannya Bastian tidak menepati janji tapi karena Bastian lupa ingatan.
“Tapi Bas, kenapa aku tidak ingat kalau namamu ada nama Bastiannya?”
“Sebenarnya namaku memang Bastian Karel. Di rumah juga Papa, Mama dan Mbak Meli memanggil namaku dengan Bastian, tapi waktu SD ada nama Bastian juga di kelas satu dulu sehingga dari kelas satu guru memanggil namaku Karel,” jelas Bastian.
Evo semakin mengerti semuanya. Dia tersenyum bahagia karena sudah bertemu dengan Karelnya. Cinta pertamanya yang dia tunggu selama belasan tahun.
“Oh, ya aku mengambil kotak besi ini beberapa minggu yang lalu dan bertemu dengan Pak Petrus. Kata beliau kamu sering mencariku ya?” goda Bastian pada Evo.
“Tidak, tidak! Tidak sering hanya beberapa kali saja aku bertemu dengannya,” kataku mengelak. Gengsi Evo terlalu tinggi untuk berkata jujur.
Evo teringat sesuatu tentang Pak Petrus, “Ngomong – ngomong soal Pak Petrus, kemarin aku ke sekolah kita. Aku bertemu dengan Bu Ginger, beliau bilang Pak Petrus sudah meninggal karena kecelakan.”
“Benarkah? Ya, ampun! Aku sedih mendengar kabar itu. Padahal baru saja aku bertemu dengan beliau. Ternyata itu pertemuan terakhirku dengan Pak Petrus.”
Evo memandangi Bastian dengan penuh kebahagian. Dia tidak menyangka Tuhan mengizinkan dia untuk bertemu dengan Bastian lagi.
“Bas,” panggil Evo.
“Ya?”
“Kamu tunggu di sini. Aku ingin memberikan sesuatu padamu,” kata Evo, kemudian dia berlari ke luar.
Bastian menunggu sesuai perintah Evo. Bastian memandangi kotak besi yang ada di depannya itu. Dia membuka surat yang ditulis oleh Evo. Dia terkejut kemudian tersenyum. Apakah keinginan Evo bisa diwujudkan oleh Tuhan?
Evo kembali dengan membawa sebuah buku. Napasnya terengah – engah karena berlari, dia tidak sabar untuk memberikan buku ini pada Bastian.
“Apa ini?” tanya Bastian.
“Sesuai janjiku dua belas tahun yang lalu, aku sudah menerbitkan novelku, Bas. Aku sekarang ada penulis,” kata Evo dengan bangga.
Bastian mengelus kepalaku, lalu berkata, “Kamu hebat, Vo. Aku malah yang tidak menepati janjiku padamu. Maaf.”
Evo menggeleng kepala. Dia tidak setuju dengan ucapan Bastian barusan. Bukan salahnya Bastian untuk lupa ingatan, itu adalah takdir.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah takdir yang akan diberikan Tuhan pada dia, Bastian, dan Bagas?
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤