
Hai, semua mohon dukungan tekan jempol di bawah, vote, bintang lima. Dukungan kalian sangat membuat saya tambah semangat. Terima kasih sudah mencintai MOY.
*****
"Hai, Evo. Sejak kapan kamu di sini?" tanya Mbak Meli yang baru pulang dari kantor.
"Sudah dua jam yang lalu, Mbak. Mbak Meli kerja di Indonesia lagi?"
"Aku hanya beberapa minggu disini. Ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan. Bagaimana keadaanmu, Bas?"
"Kenyang, Mbak. Tadi Evo membawakan pizza untukku. Apa kamu mau?" Bastian bertanya lalu memberikan sepotong pizza pada kakaknya itu. Lalu Mbak Meli mengambil makanan tersebut.
"Wah, senangnya! Kebetulan aku lapar," ujar Mbak Meli kemudian melahap pizza tersebut.
Aku melihat jam tangan. Sudah pukul 9 malam. Sudah saatnya aku pulang ke rumah. Akupun berkata,"Aku pamit pulang ya, Bas, Mbak Mel."
"Kenapa buru-buru pulang? Aku baru sampai, sudah lama kita tidak berbincang," ucap Mbak Meli. Setelah makan, dia duduk disebelah Bastian.
"Sudah malam, Mbak. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Kita atur saja jadwal untuk bertemu."
"Aku setuju dengan Evo. Kita harus atur jadwal bertemu lagi Mbak dengan Evo," jawab Bastian penuh semangat.
"Kenapa jadi kamu yang begitu semangat?" tanya Mbak Meli heran.
"Apakah tidak boleh untuk ikut bertemu?" Bastian bertanya dengan muka sedih.
"Tentu saja kamu boleh ikut Bas, asal kamu sudah sembuh," kataku sambil bersiap-siap untuk pulang.
"Benar kata Evo, cepat pulihkan dirimu. Siapa yang mengantarmu tadi?" tanya Mbak Meli.
"Supir Bagas, Mbak. Supirnya juga menunggu aku di depan," kataku menjelaskan.
"Bagus kalau begitu. Tadinya aku berpikir untuk mengantarmu pulang," ungkap Mbak Meli.
"Hati-hati, Vo," ujar Bastian.
"Aku akan mengantarmu ke depan,Vo," ucap Mbak Meli bangkit dari duduknya. Kamipun berjalan keluar.
"Terima kasih, Vo," ucap Mbak Meli tiba-tiba setelah kami keluar dari kamar Bastian.
"Kenapa Mbak Meli mengucapkan terima kasih padaku? Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih pada kalian."
"Bastian berubah setelah melihatmu. Lebih bersemangat," Mbak Meli menjelaskan. Aku berhenti melangkah. Mbak Meli mengikutinya.
"Apa maksudmu, Mbak?" tanyaku tak mengerti.
"Aku tidak bisa cerita banyak padamu, tapi yang pasti Bastian sudah kembali ceria seperti dulu," cerita Mbak Meli.
"Seperti apa Bastian dulu, Mbak?" tanyaku penasaran.
"Dia tidak seceria saat ini. Sebelum ketemu kamu, kegiatannya hanya kerja lalu pulang. Seperti itu setiap hari. Jarang bicara pada siapapun. Aku bersyukur pada Tuhan telah mempertemukan kamu dengan Bastian."
"Jujur aku kaget mendengar ucapan Mbak Meli seperti itu padaku. Aku senang mendengarnya. Berarti aku telah merubah Bastian menjadi pribadi yang baik."
Mbak Meli mengangguk menyetujui pernyataaanku. Kami berjalan menuju pintu keluar.
"Sering datang kemari ya, Vo," ujar Mbak Meli.
Mbak Meli mengangguk untuk kedua kalinya. Dia paham sekali sifat bosnya itu. Bagas orang yang pencemburu berat.
"Aku pulang ya, Mbak," aku pamitan.
"Hati-hati, Vo."
🌺🌺🌺🌺
Setibanya di apartemen.
"Hai, sayang. Apa kabarmu?" Bagas menelepon aku.
"Hai, Bagas. Aku baru saja menjenguk Bastian," ungkapku jujur. Aku tidak mau ada dusta antara aku dan Bagas.
"Bagaimana keadannya?" tanya Bagas santai.
Aku meneguk air putih, lalu berkata lagi, "Bastian sudah pulang dari rumah sakit."
"Syukurlah kalau dia sudah membaik. Aku merindukanmu, Vo," ucap Bagas.
"Aku juga. Kamar ini sepi tanpa dirimu." ucapku.
"Apa kamu rindu dengan pelukanku?" tanya Bagas terkekeh.
"Mungkin, apalagi sekarang cuaca dingin. Aku ingin dipeluk," ucapku. Entah kenapa sekarang aku jadi begitu manja padanya.
"Benarkah? Kalau aku pulang sekarang, apa kau akan benar - benar melakukannya? Maksudku, apa kamu akan memelukku?"
"Apa aku terlihat sedang berbohong?"
"Bisa jadi," jawab Bagas tertawa kecil.
"Bagaimana caranya agar kamu percaya bahwa aku merindukan pelukanmu?"
Ting, tong, ting, tong.
Bunyi bel apartemen.
"Bagas, sebentar sepertinya ada yang datang. Aku akan meneleponmu lagi nanti," ujarku lalu menutup teleponnya. Kemudian aku beranjak ke depan dan membuka pintu.
"Bagas?" tanyaku tidak percaya. Bagas tersenyum melihatku. Dia benar-benar ada di depanku.
"Jadi apakah aku akan mendapatkan pelukan itu? Begitu rindunya dirimu padaku?"
Aku langsung memeluk Bagas. Lalu aku berkata," Sangat. Aku sangat merindukanmu."
"Hey, kita baru berpisah sepuluh jam, bagaimana kalau kita berpisah selamanya?" ucap Bagas bercanda.
Aku melepas pelukannya, kemudian memukul badan Bagas. Aku berkata padanya,"Jangan bicara seperti itu."
"Maafkan aku. Aku hanya bercanda," ujar Bagas. Lalu dia mengangkat tubuhku. Bagas kemudian mencium diriku. Begitu hangat ciumannya. Dia membawaku ke kamar. Bagas membuktikan kembali cintanya padaku.
*****