MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bukan Cinta



Aku lari menghampiri Bastian yang pingsan. "BAS, BANGUN! KENAPA SAMA KAMU?" tanyaku panik.


" Mbak, ambulansnya sudah datang," ujar pelayan kafe. Mereka pun mengangkat Bastian. Aku ikut mengantar Bastian ke rumah sakit.


Di rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyaku setelah melihat dokter keluar dari ruangan Bagas.


" Dia baik-baik saja, Mbak. Pesan saya cuma satu, suaminya jangan banyak pikiran," nasehat Dokter.


What? Suami? Bastian bukan suami saya. "Oh, baik Dokter tapi Bastian bukan...." ketika aku mau klarifikasi kalau Bastian bukan suamiku, dokter tersebut izin pamit.


"Baiklah, saya pergi dulu.l," pamit Dokter.


Kemudian aku masuk ke kamar Bastian. Dia sudah sadar dan tampak segar.


"Hai, Evolet!" sapa Bastian ramah. "Maafkan aku ya sudah membuat kamu khawatir."


Aku menghampiri Bastian, lalu duduk di sebelahnya. Syukurlah lelaki itu baik-baik saja. "Kenapa denganmu, Bas?"


"Jangan khawatir, ini penyakit lama. Kadang suka kambuh." Ucap Bastian lagi.


" Aku bersyukur kamu tidak apa-apa. Aku takut tadi," kataku jujur.


"Aku senang kamu khawatir padaku. Terima kasih Evolet. Pulanglah kamu, sudah larut malam. Aku sudah hubungi supir untuk mengantarmu pulang."


"Lalu sama siapa kamu di rumah sakit?" tanyaku tidak tega meninggalkan dia. Bastian cowok yang sangat baik. Dia yang telah menolongku di Malaysia. Tidak mungkin aku meninggalkan dia dengan kondisi seperti ini.


"Aku sudah menelepon kakakku. Dia akan datang nanti."


"Benarkah? Bukannya kakakmu di Malaysia? Apa kamu membohongiku?


"Kemarin dia pulang, Vo. Sudah kamu tidak perlu khawatir. Kamu pulang ya?" jawab Bastian mantap. Akupun menuruti kemauan Bastian.


"Baiklah, aku pulang Bas. Jaga dirimu baik-baik ya." ujarku kemudian akupun pulang. Aku ke luar dari kamar Bastian.


Di lobby rumah sakit.


"Evo! Kamu Evo?" panggil seseorang.


"Mbak Meli? Wah, benar!" Aku memeluk Mbak Meli dengan erat. Aku benar-benar rindu padanya. Tidak menyangka akan bertemu dengan dia di sini.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Mbak Meli.


"Aku sedang menjenguk teman Mbak di sini. Kalau Mbak Meli sendiri sedang apa di sini?"


"Bukankah adik Mbak Meli di Malaysia?" tanyaku.


"Beberapa hari yang lalu dia pindah ke sini. Kapan-kapan kita berbincang lagi ya. Aku harus buru-buru." ujar Mbak Meli.


"Oh, iya Mbak sampai ketemu lagi." ujarku lagi. Adiknya Mbak Meli pingsan? Apakah jangan-jangan adiknya Mbak Meli adalah Bastian? Tapi sepertinya tidak mungkin. Mereka tidak mirip sama sekali.


Akupun menemui supir Bastian. Supir tersebut akan mengantarkanku ke apartemen Bagas.


🌹🌹🌹


Keesokan harinya.


Ting, tong, ting, tong.


Ada seseorang yang membunyikan bel apartemen Bagas. Aku yang sedang asyik membereskan apartemen, menghentikan kegiatanku. Aku membuka pintu. Ada seorang gadis cantik, memiliki rambut keriting, dan berwarna pirang.


"Siapa ya?" tanyaku.


"Hai, Kak. Aku Charlote. Adik Mas Bagas. Boleh aku masuk?" tanya wanita itu dengan sopan. Dia benar-benar cantik. Mukanya mirip sekali dengan Bagas.


"Silahkan, Charlote," aku mempersilahkan.


"Kamu mau minum apa?"


"Tidak perlu kak. Aku hanya sebentar ke sini." Charlote yang sudah masuk, tidak duduk di sofa. Dia tetap berdiri.


"Ada apa kamu datang ke sini? Apa kamu mau bertemu dengan Bagas? Kalau ya, Bagas tidak ada di sini. Dia pergi ke Malaysia." kataku menjelaskan.


"Aku tahu Kak, Mas Bagas pergi ke Malaysia. Makanya aku ke sini mau bicara padamu."


"Oh, ya? Ada apa?" tanyaku tak percaya.


"Aku harap kaka dengar perkataanku baik-baik. Mas Bagas dan Kakak tidak bisa bersatu. Kalian tidak boleh bersatu. Tolong pahami itu kak."


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Aku tahu bagaimana Papa dan Mamaku. Mereka pasti akan merencanakan hal buruk untukmu, kak. Aku mencegah ini untukmu. Tolonglah, dengarkan aku." ujar Charlote lagi. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.


"Bagas akan marah padaku, Charlote kalau aku meninggalkan dia sekarang."


"Tapi hidupmu akan sengsara, Kak. Aku pun tahu sikap kakakku. Dia lelaki playboy yang akan membuang wanita yang sudah dia dapatkan begitu saja. Termasuk dirimu, Kak," ujar Charlote.


"Aku sudah memberitahumu. Aku harap kamu mau mendengarkanku. Kamu wanita yang berbeda dari wanita sebelumnya Kak. Ya, Mas Bagas mencintai, tapi dia tidak mencintaimu. Dia cinta wanita lain. Dia hanya terobsesi padamu. Pahami kata-kataku, Kak."