MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Fakta yang Sebenarnya



“Dia,” tunjuk Charlotte pada Dea, “Dia juga membantu kejahatan Papa dan Mama! Dia bekerja sama dengan Indra, membuat drama bahwa Indra dan Mbak Evo bermesraan di hotel itu!”


 


 


  “A…apa?” tanya Bagas tidak percaya.


 


 


  Pak Freddy menarik tangan putrinya, lalu menampar Charlotte di depan semua orang. Charlotte terkejut dengan perlakuan ayahnya pada dia.


 


 


  “Jaga bicara kamu!” bentak Pak Freddy pada Charlotte.


 


 


  Charlotte memegang pipinya. Rasa sakit pipi tidak terasa karena luka dalam hatinya lebih perih. Dia tidak percaya Papanya bisa melakukan hal itu padanya.


 


 


  “Apa kamu puas sudah merusak nama baik keluarga kita dengan kebohongan semua ini?” tanya Pak Freddy.


 


 


  Charlotte menggelengkan kepala. Dia tidak pernah sekalipun berbohong. Evan menghampiri Charlotte, lalu memegang bahunya. Dia tidak kuat melihat Charlotte yang diperlakukan tidak benar oleh keluarganya.


 


 


  “Charlotte tidak bohong, Mas. Dia berkata benar. Tolong percaya padanya,” pinta Evan.


 


 


  “Kamu ! Kamu jangan ikut campur urusan keluarga kami!” bentak Bu Lina.


 


 


  “Saya ikut campur, karena Tante dan Om sudah sangat keterlaluan dengan Charlotte. Saya tidak bisa terima kalian menyakiti Charlotte!”


 


 


  Pak Hermawan yang sejak tadi menyaksikan itu semua, tidak ingin tinggal diam. Bagi Pak Hermawan kebenaran harus di ungkapkan. Pak Hermawan naik ke atas altar, dia menarik tangan puterinya untuk turun ke bawah. Bu Heni yang melihat suaminya membawa turun anak perempuannya, mengikuti Pak Hermawan ke bawah.


 


 


  “Pa, apa yang kau lakukan? Kamu menyakitiku,” ringis Dea.


 


 


  Sebenarnya sejak tadi Dea sudah dangat ketakutan. Dia takut kalau semua rencana jahatnya bersama Bu Lina ke bongkar, tapi terlambat sudah, Charlotte sudah menyebutkan namanya. Dea sangat tahu sifat ayahnya. Ayah Dea pasti akan membantu Charlotte untuk mengungkapkan kebenaran ini.


 


 


  “Katakan yang sebenarnya! Katakan pada Papa kalau omongan Charlotte tidak benar!” tegas Pak Hermawan.


 


 


  Dea mengigit bibirnya, dia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Dea tidak mau usahanya selama ini sia – sia karena pengakuannya kali ini. Bola mata Dea berputar menatap Bu Lina, dan Pak Freddy secara bergantian. Bu Lina memberikan kode pada Dea untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


 


 


  “Katakan Dea, apakah yang dikatakan Charlotte itu benar?” tanya Bagas.


 


 


  Dea menatap Bagas, kemudian menatap ayahnya.


 


 


  “Papa tidak pernah mengajari kamu untuk berbohong, Dea! Katakan hal yang sebenarnya terjadi!” pinta Pak Hermawan.


 


 


  “Sudahlah, sudah. Dea tidak bersalah, Charlotte yang asal bicara. Ayo kita teruskan pernikahan ini,” ajak Bu Lina.


 


 


  “Tidak! Bagas tidak setuju sebelum masalah ini selesai,” tegas Bagas. Bagas menghampiri Dea. Dia memegang tangan Dea, dan menatap Dea.


 


 


  “Dari kecil sampai sekarang, tak pernah kamu berbohong padaku. Bagiku, kamu adalah sahabat terbaik untukku. Tolong jangan membuat aku seperti orang bodoh, tolong katakan yang sebenarnya.”


 


 


  Air mata Dea mengalir di pipinya, dia tidak sanggup melihat kesedihan di mata Bagas. Perkataan Bagas benar, Dea tidak pernah berbohong padanya sejak kecil, tapi karena cinta butanya pada Bagas, Dea harus berbohong dan berbuat kejahatan.


 


 


  “Maaf, maafkan aku, Gas,” pinta Dea.


 


 


 


 


  “Papa!” teriak Bu Heni tidak percaya.


 


 


  “Pernikahan ini batal! Batal!” teriak Pak Hermawan.


 


 


  “Tidak, Pa! Tidak mau! Dea tidak mau pernikahan ini batal! Dea sangat mencintai Bagas. Tolong mengerti perasaan Dea,” kata Dea memohon pada Pak Hermawan.


 


 


  Pak Hermawan membalikkan badannya, “Kamu tidak mencintai Bagas, Nak. Tidak, itu bukan cinta sejati. Papa tidak mau kamu menyesal di kemudian hari. Dengarkan Papa untuk saat ini. Keputusan ini yang terbaik untuk kamu.”


 


 


  Mendengar ucapan Pak Hermawan, air mata Dea keluar. Pupus sudah harapan Dea untuk menikah dengan lelaki yang amat dicintai olehnya.


 


 


  Pak Hermawan pergi meninggalkan gedung tersebut, tapi dicegah oleh Pak Freddy.


 


 


  “Jangan terpancing drama anak – anak kita, Her. Ayo kita lanjutkan pernikahan mereka,” cegah Pak Freddy.


 


 


  Pak Hermawan menatap Pak Freddy dengan tajam, dia tidak menyangka kalau lelaki itu masih tidak tahu malu melanjutkan pernikahan ini. Ratusan orang menyaksikan mereka.


 


 


  “Tidak ada pernikahan. Sudah cukup saya dipermalukan seperti ini,” ujar Pak Hermawan. Dia menepis tangan Pak Freddy.


 


 


  “Tidak, tidak! Heni, jangan pergi! Biarkan mereka menikah!” cegah Bu Lina ketika melihat Bu Heni membawa Dea pergi meninggalkan gedung.


 


 


  Api amarah Bu Lina berkobar. Dia menghampiri anak perempuannya itu, dan hendak menjambaknya. Bagas yang melihat gerakan Bu Lina mencegah Bu Lina memperlakukan hal yang buruk lagi pada adiknya.


 


 


  “Minggir kamu! Dia telah mempermalukan keluarga kita!” bentak Bu Lina.


 


 


  “Jangan sentuh, Charlotte!” tegas Bagas. Bagas sungguh kecewa dengan Papa dan Mamanya. Dia sangat marah dengan kedua orang tuanya itu. Dia tidak menyangka mereka bisa begitu kejam pada Evo.


 


 


  “Apa kamu juga sudah gila? Apa kamu percaya dengan Charlotte? Dia sudah diharus oleh Evo!” kata Pak Freddy.


 


 


  Bagas menggelengkan kepala, sampai saat ini kedua orang tuanya masih mengelak dan menuduh Evo melakukan ini semua.


 


 


  “Cukup, Pa! Cukup, Ma! Charlotte dan Evo tidak salah, yang salah adalah kalian!!” bentak Bagas meluapkan emosinya.


 


 


  Charlotte yang sejak tadi dimaki dan dihina oleh kedua orang tuanya, hanya bisa diam saja, dia ingin menangis tapi ditahan olehnya. Dia tidak ingin dianggap lemah oleh kedua orang tuanya, tapi ketika Bagas dengan tegas bilang kalau Charlotte tidak bersalah, hancur sudah pertahanannya untuk tidak menangis. Air matanya meluncur begitu saja dipipinya tanpa seizin dia.


“Bagas sangat kecewa dengan Papa dan Mama! Bukankah seharusnya orang tua melakukan hal terbaik untuk anaknya? Bukankah mereka harus memberikan kasih sayang pada anaknya?” tanya Bagas.


Bu Lina menghampiri Bagas, dia memegang tangan anaknya itu, tapi ditepis oleh Bagas.


“Kamu akan mengerti ketika kamu nanti menjadi orang tua, Gas. Ini demi kamu, dan keluargamu,” ucap Bu Lina masih membela diri.


“Tapi Bagas tidak akan mau membuat anak Bagas kecewa melihat Bagas melakukan kejahatan seperti yang dilakukan kalian berdua,” kata Bagas.


Bagas mengajak Charlotte untuk pergi dari gedung tersebut. Charlotte tidak henti – hentinya menangis. Dia sangat bersyukur berhasil membatalkan pernikahan Bagas dengan Dea, dan membongkar kejahatan kedua orang tuanya.


“Bagas! Bagas! Kamu akan menyesal nanti!” teriak Pak Freddy.


Bagas sudah menyesal. Ya, sangat menyesal karena perbuatan keluarganya, dia harus kehilangan orang yang sangat ia cintai.


*****


Bastian menghentikan mobilnya di sebuah restoran jepang yang sudah dia pesankan beberapa hari yang lalu.


“Wah, bagus sekali restoran ini,” kata Evo takjub melihat kemewahan dari depan restoran tersebut. Bastian tahu betul kalau Evo sangat menyukai berbagai hal tentang negara jepang, jadi Bastian memutuskan untuk melamar Evo di sini.


Bastian mengambil penutup mata yang dia siapkan dari rumahnya. Dia tutup mata Evo dengan segera.


“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Evo.


“Apa yang aku lakukan, kamu akan mengetahuinya nanti.”


*****


Spoiler dikit ya, episode selanjutnya Bastian akan melamar Evo. Ayo, berikan komen sebanyak - banyaknya. Apa kira - kira Evo akan menerima lamaran Bastian?