MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sebuah Cinta Tulus



" Kamu kenapa, Vo?" tanya Dina melihat air mata di pipiku. Aku menarik Dina pergi ke tangga darurat. Kami duduk di tangga darurat itu. Aku menangis sejadinya.


" Ya ampun, Evo. Aku baru lihat kamu sesedih ini. Please jangan nangis ya," Dina memelukku. Seumur hidupku baru kali ini aku merasakan sesakit ini. Aku merasa terhina. Tak ada yang membelaku. Tidak ada.


Dina dengan sabar menghapus air mataku. Dia melepaskan pelukannya.


" Ada apa?" tanya Dina setelah tangisku reda.


" Aku rindu mamaku," Aku berdusta.


" Jangan berbohong padaku, Vo. I know you," Dina mengetahui kebohonganku.


"Apa kamu bertengkar dengan Bagas?" tanya Dina lagi.


" Tidak, Din. Aku rindu mamaku. Aku baru merasa kesepian ketika ada masalah. Aku hidup sendirian. Ketika menemukan masalah, aku seperti kehilangan arah."


" Hai, Evolet Rebecca yang cerdas, kamu tidak sendirian. Ada aku, dan Maureen yang selalu siap mendengarkan keluh kesahmu,"kata Dina gemas.


Lalu Dina memegang tanganku, kemudian dia berkata padaku,"Jangan berpikir seperti ini lagi ya."


Aku mengangguk. Maaf, Din. Aku belum bisa menceritakan semua padamu. "Terima kasih untuk pundakmu ya."


"Tidak masalah, sayang. Ternyata sekarang pundakku berguna juga ya. Aku kira karena aku jomblo, pundak ini tidak berguna. Hahahhaa."


"Aku juga jomblo. Tenang aja." Aku tersenyum mendengar celotehan Dina.


"Jomblo tapi gebetan banyak, beda sama aku. Kayanya aku terlahir untuk jomblo selamanya," lanjut Dina lagi. Kami tertawa.


.


.


.


.


.


.


Sore pun tiba. Aku segera merapikan diri untuk pulang. Mumpung Lisa hari ini tidak kerja, aku ingin segera pergi dari kantor ini. Aku bingung harus pulang ke mana.


" Hari ini jalan yuk," ajak Maureen.


" Maaf ya, hari ini aku tidak bisa. Bagaimana kalau besok saja kita pergi?" tanyaku balik.


"Baiklah. Ayo kita pulang,"ucap Maureen. Kami pun beranjak dari ruangan, kemudian menuju ke lobby depan.


" Mbak Evo, ada yang mencarimu," resepsionis kantor yang melihatku langsung memberi info.


" Siapa mbak?" tanyaku sambil melirik ke arah sofa tamu. Ada seorang lelaki yang tampak ku kenal. " Hai, Rafael."


" Ada apa mencariku?" tanyaku.


" Hanya mau bertemu denganmu. Aku telpon, aku mengirim pesan tidak kau balas."


"Maaf. Aku...."


" Baiklah, aku pulang. Aku sudah senang melihat keadaanmu baik-baik saja," Rafael pamit. Lalu aku menarik tangannya.


" Aku lapar, temani aku makan ya," pintaku pada Rafael. Dia setuju.


.


.


.


.


.


.


.


.


Restoran


" Tidak biasanya kamu mengajakku makan. Ada apa?" tanya Rafael sesudah memesan makanan.


" Sabtu kemarin acara makan malam kita tertunda."


" Bukan cuma makan malam saja, Vo yang tertunda...." Rafael menatapku. Kami saling memandang. Aku mencerna perkataan Rafael barusan. Apa maksud ucapan dia?


" Cinta akupun tertunda padamu," Rafael sekarang memegang erat tanganku. Lalu dia berkata lagi padaku," Apa karena Pak Bagas kamu menolak cintaku, Vo?"


Aku diam, tak mampu menanggapi Rafael. "Aku mencintaimu dengan tulus, Vo. Tolong jawab pertanyaanku agar aku tidak berharap padamu lagi."


Aku menitikan air mata. Rafael yang lembut. Rafael yang gentelman. Rafael yang tidak egois, dan Rafael yang mencintaiku.


" Evolet? Kenapa kau menangis? Maafkan aku yang telah menyakiti hatimu dengan perkataanku tadi". Rafael segera menghapus air mataku.


" Rafa tidak salah, aku yang salah. Maaf, aku telah menyakiti perasaanmu. Maaf bila aku membuatmu berharap. Maaf, Rafa."


Rafael mendekatkan kursinya padaku, lalu memelukku. "Tidak, Evo. Kamu tidak salah. Ini keputusanku untuk mencintaimu. Jangan salahkan dirimu akan hal ini. Maafkan aku yang salah bicara tadi."


Aku merasakan kenyaman bersama Rafael. Pelukannya membuatku tenang. Berbeda dengan Bagas. Seandainya Rafael tahu perbuatan Bagas padaku, apakah dia masih mau denganku? Aku ingin memberitahu Rafael semuanya. Rahasia ini, harus aku katakan. Walau aku harus menerima segala resiko terberat, yaitu ditinggalkan Rafael.