
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
“Jadi? Apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Bastian.
“Aku belum tahu. Bagas memang sudah sadar tetapi aku yakin kalau dia masih marah padaku,” jelasku.
Aku menundukkan kepala. Kenyataan yang harus aku terima bahwa Bagas tidak percaya dengan penjebakan malam itu. Indra memberikan obat tidur dalam minumanku sehingga aku tidak sadarkan diri.
“Aku sampai lupa membereskan Indra,” ucap Bastian sambil menepuk jidatnya dengan tangan. Penjebakan ini pasti bukan hanya Indra dalangnya, tetapi pasti ada orang lain yang membantunya.
“Apa yang akan kamu lakukan padanya?” tanyaku.
“Memulihkan nama baik kamu. Hanya itu.”
Aku menatap Bastian lekat – lekat. Kenapa lelaki ini begitu baik padanya? Padahal pertemuan kami hanya sebentar.
“Kenapa kamu lihat aku seperti itu? Naksir ya?” goda Bastian.
“Eh, tidak, aku…, sebaiknya aku tidur sudah malam,” kataku sambil gelagapan. Bastian tersenyum usil melihat tingkahku itu. Aku berdiri tapi Bastian menghalangiku dengan menarik tanganku.
“Apa?”
Bastian melepaskan tanganku. Dia menggeleng kepala. “Tidak, tidak jadi. Kamu pergi tidur saja, sudah malam,” suruhnya.
Mbak Meli yang juga baru tiba ke rumah, tertawa geli. Dia mendekati adik laki – lakinya itu dan sedikit menggodanya. “Well, apa begitu sulit bilang aku cinta padamu, Evo?”
Melihat kedatangan kakaknya, Bastian langsung menghampiri dan menutup mulutnya. Mbak Meli meronta – ronta untuk dilepaskan.
“Aku akan melepaskan kalau Mbak berhenti berkata seperti itu padaku!” perintah Bastian. Mbak Meli mengangguk setuju.
“Huft, kenapa sih kamu tidak mengakui semuanya pada Evo?” ucap Mbak Meli sambil memegang lehernya yang sempat kaku karena ulah adiknya itu.
“Bukan urusan kamu!” ketus Bastian.
Mbak meli menggaruk kepalanya. Dia benar – benar tidak bisa membaca pikiran Bastian yang menyembunyikan perasaannya pada Evo.
“Nanti jangan nangis dan datang padaku kalau Evo kembali lagi pada Bagas,” ancam Mbak Meli.
“Kapan aku pernah menangis! Ngawur,” gerutu Bastian.
Mbak Meli melangkah ke kamarnya, dan melirik ke adiknya itu, “Kadang lebih baik menyatakan dari pada dipendam dalam hati. Jangan seperti aku yang menyesal di kemudian hari.”
Bastian menundukkan kepala. Seandainya takdirnya dia untuk memendam perasaan ini, dia sudah siap. Kebahagian Evo adalah hal yang terpenting bagi Bastian saat ini.
*****
Keesokan Harinya.
Malam tadi Bagas akhirnya sadarkan diri. Keluarga Pratama sangat bahagia dengan hal itu. Pagi ini mereka memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Bagas lagi.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Pak Freddy.
“Kondisinya sangat baik apalagi dia sudah sadarkan diri.”
Dokter memberikan resep kepada Pak Freddy untuk di tebus. Setelah itu dokter izin pergi meninggalkan kamar Bagas.
Bu Lina memeluk anaknya itu, “Mama sangat senang kamu sudah sadarkan diri,Nak.”
“Sejak kapan Bagas tidak sadarkan diri?” tanya Bagas.
Kepala Bagas masih sedikit terasa sakit. Dia tidak begitu ingat apa yang sedang terjadi. Samar- samar dia berusaha mengingatnya.
“Ini semua karena Evo! Kamu hampir terbunuh.”
“Mama! Sudahlah, jangan bahas Mbak Evo! Mas Bagas baru saja sembuh,” ucap Charlotte mengingatkan Bu Lina.
Pak Freddy menghela napasnya, dia tidak habis pikir bahwa anaknya masih mencari wanita terkutuk itu.
“Kenapa kamu mencari wanita itu? Jelas – jelas dia sudah selingkuh di kamar hotel!” ketus Bu Lina pada Bagas.
Ya, akhirnya Bagas mengingatnya. Evo bersama dengan Indra saat itu. Kami memergoki mereka sedang melakukan kencan semalam. Raut wajah Bagas menjadi sedih setelah mengingat hal tersebut.
Charlotte yang begitu peka melihat perubahan wajah Bagas, berusaha mengalihkan pembicaraan, “Mas Bagas mau makan apa? Biar aku suruh pelayan untuk memasakannya untukmu.”
“Aku tidak ingin makan apa – apa,” jawab Bagas. Hatinya lagi kalang kabut memikirkan Evo, belahan jiwanya. Tadi malam dia merasa kalau Evo datang ke kamarnya dan mencium dia. Ternyata itu hanya mimpi.
“Harapan Mama padamu adalah tinggalkan Evo. Dia wanita tidak baik. Apa kamu tahu yang dia perbuat sekarang? Dia sudah punya pacar baru.”
Charlotte menggigit bibirnya. Bu Lina memang tidak peka dengan keadaan sekarang. Bagas baru saja sadar, tapi diberikan informasi yang dapat melukai hatinya.
“Apa?”
“Mama kamu tidak bohong, Nak. Papa dan Mama melihat dengan mata kami sendiri. Dia memiliki pacar,” ungkap Pak Freddy.
“Apa maksud Mama adalah Indra?” tanya Bagas. Saat ini luka di dalam hati Bagas semakin besar. Evo sudah meninggalkannya.
“Bukan. Pria yang lain. Pria itu memiliki kekuasan atas perusahaan Pratama. Dia memberikan perusahaan itu pada Evo. Papa dan Mama di usir dengan tidak hormat oleh mereka berdua.”
Tangis Bu Lina pecah setelah menceritakan hal itu pada Bagas. Pak Freddy menepuk pundak istrinya. “Sudahlah, Ma. Ini sudah takdir kita.”
“Apa? Berani sekali mereka melakukan seperti itu pada keluargaku!” marah Bagas. Dia tidak percaya dengan hal ini. Kenapa Evo berbuat kejam pada keluarganya? Kenapa dia merebut perusahaan keluarganya.
Charlotte memandang kedua orang tuanya. Rasanya dia ragu mendengar segala ucapan mereka, tapi perkataan Mamanya benar. Evo sudah memiliki pacar bernama Bastian.
“Kamu harus segera merebut perusahaan kita! Papa rasa dia sengaja melakukan ini semua karena balas dendam pada kita.”
“Atas motif apa Mbak Evo mau balas dendam pada kita?” Charlotte melontarkan pertanyaan pada Pak Freddy. Charlotte sangat yakin bahwa Mbak Evo tidak pernah dendam dengan keluarga Pratama. Buktinya adalah dia mau membantu Charlotte menemui Bagas tadi malam. Berkat pertemuan itu Bagas sadarkan diri.
“Banyak motif yang mendasarkan dia balas dendam pada kita. Pertama dia tidak mendapatkan harta Bagas, sehingga dia mencari pria lain untuk mengambil alih perusahaan. Kedua, karena wanita itu ketahuan selingkuh. Seluruh media sudah tahu hal tersebut. Dia sakit hati dan akhirnya membalas dendam.”
Bagas mencerna setiap kata yang dikeluarkan dari mulut Papanya. Ada benarnya juga perkataan Pak Freddy. Evo membenci keluarganya.
Wajah Bagas kembali sedih, matanya sayu. Dia sedikit menyesal karena pulih dari sakitnya. Kenyataan yang dia dengar, membuat hatinya perih. Kepala Bagas yang tadinya membaik, menjadi kembali sakit. Dia memegang kepalanya.
“Mas Bagas kenapa?” tanya Charlotte yang melihat Bagas.
“Tidak, tidak apa – apa.”
“Mama mohon, rebutlah kembali perusahaan Papa kamu yang telah diambil oleh Evo! Pikirkanlah Papa kamu yang berjuang selama 15 tahun mendirikan perusahaan ini dengan kerja kerasnya.” Tangis Bu Lina kembali pecah.
“Jangan hancurkan hidup kita hanya karena kamu mempertahankan wanita itu! Tolong Papa kamu, Gas. Tolong keluarga kamu,” pinta Bu Lina lagi.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤