
Cinta tidak bisa dipaksakan, karena cinta tahu kemana dia akan pulang.
"Ayo, bangun, kamu harus makan dulu," Bagas membangunkanku dengan lembut. Di sebelah meja sudah tersedia makanan. Semangkuk sup yang masih hangat.Seandainya aku sedang tidak sakit, pasti sup itu akan terasa enak. Sayangnya, aku tidak selera makan.
" Makan sedikit saja, biar makan obat. Habis itu kamu boleh tidur lagi," Bagas memperbaiki posisi tubuhku. Aku benar-benar lemas. Dia mengambil mangkuk isi sup itu kemudian hendak menyuapiku. Aku menggelengkan kepala. Masih keras kepala tidak mau makan. Aku tahu makanan itu pasti masakan yang dibuat Bagas karena aku melihat tangannya terluka. Seorang tuan muda mana bisa masak.
" Mau aku paksa dengan cara lain?" ancam Bagas kesal karena dari tadi berusaha membujukku. Akhirnya, aku terpaksa mengiyakan, takut bila Bagas akan marah. Dengan sabar, Bagas menyuapiku. Rasa masakan buatan Bagas enak.
"Enak," pujiku padanya.
"Jadi tadi, kamu meragukan masakanku?" tanya Bagas sambil menatap tajam. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
" Sedikit. Tuan muda sepertimu, aku rasa tidak pernah bisa memasak," ucapku.
" Pemikiran dari mana itu? Aku bisa masak."
Aku mengangkat tangan kiri Bagas." Dari ini...."
"Itu, ini, tadi aku. AH, SUDAHLAH! Lekas selesaikan makanan ini!"perintah Bagas sambil menahan malu. Dia tetap menyuapiku. Selesai makan, dia memberikan obat yang tadi diberikan dokter pribadi keluarga Pratama. Bagas membereskan piring, kemudian hendak pergi untuk menaruh piring tersebut tetapi aku memegang tangannya.
"Apa?"
"Terima kasih," kataku dengan tulus. Seorang tuan muda, pemilik perusahaan majalah terkenal telah merawatku. Begitu lembut dan tulus, tapi mengapa kemarin dia begitu kasar padaku?
Bagas pergi tanpa mengatakan sepatah kata. Maafkan aku, Evo, karenaku, kamu jadi sakit. Aku cemburu, sangat cemburu. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Aku harus membuatmu menjadi milikku selamanya. Bila aku tidak mendapatkanmu, orang lainpun tidak boleh.
Keesokan hari. Di kantin, makan siang.
"APAA?!! Kamu tinggal di apartemen Pak Bagas?!!" tanya Maureen dan Dina ngga percaya. Akhirnya, aku menceritakan semuanya pada mereka. Kecuali perbuatan Pak Bagas padaku.
"Sejak kapan?" tanya Dina lagi.
"Bukannya Pak Bagas sudah punya tunangan? Siapa namanya? Lisa?" tanya Maureen juga ikut penasaraa.
" Sejak dua hari yang lalu. Aku tidak mengerti Maureen, apakah dia punya tunangan atau tidak?"
" Kamu beruntung, Vo. Pak Bagas benar-benar mencintaimu. Dia rela merawat kamu saat kamu sakit. Aku iri," Dina berkata kemudian meminum es teh manis yang ada di depannya.
Cinta? Bukan, Dina. Dia tidak cinta padaku. Dia hanya ingin tubuhku. Aku berkata dalam hati.
" Aku tidak seberuntung apa yang kamu katakan Dina."
" Dina benar, Ren. Kamu beruntung, tidak ada lelaki sebaik Pak Bagas," Maureen setuju dengan pernyataan Dina. Seandainya mereka tahu hal sebenarnya, apa mereka akan berkata seperti ini?
Drrt.
Bunyi pesan masuk.
Rafael : Bisakah kita bertemu?
Aku menghela nafas. Sejak kemarin Rafael tidak henti-hentinya memberikan pesan. Aku sampai khawatir Bagas akan membaca pesan tersebut. Sepertinya aku harus bertemu dengan Rafael hari ini, mumpung Bagas pergi keluar negeri urusan kerja. Bagas sedang mengerjakan proyek baru di sana. Dia mau membuka kantor cabang di luar negeri. Tepatnya, di malaysia. Kesempatanku untuk bertemu dengan Rafael dan memperjelas semuanya.
Malam hari. Cafe favoritku.
"Aku mau pesan....."
"Hot dark chocolate dengan dua sendok gula," Pelayan itu langsung memotong ucapanku. Dia sudah hafal dengan kesukaanku.
"Tidak lupa juga ditambahkan cheese cake," Kataku sambil tersenyum.
Ceklek,
Pintu cafe terbuka.
Rafael baru datang. "Hai, Vo. Maaf aku terlambat." ujar Rafael.
"Aku juga baru datang, Fa. Ini baru pesan," ucapku lagi kemudian menyelesaikan pesananku, Rafael ikut memesan. Dia duduk di sebelahku.
" Apa kabar, Vo? Kenapa beberapa hari ini aku memberi pesan kamu tidak balas?" tanya Rafael begitu khawatir.
" Aku sakit, Fa." jujurku. Ya, sakit jiwa dan ragaku.
" Sudah berobat? Tahu kamu sakit, kita ngga usah ketemu dulu malam ini," Rafael memegang tanganku, kemudian dia memeriksa keadaanku. Rafael, kamu baik sekali. Hatiku selalu luluh padanya, tapi tidak bisa. Aku sudah rusak.
" Aku sudah membaik. Kamu apa kabar?" tanyaku balik.
" Menurutmu? Setelah kita bertemu saat itu, kau sama sekali tidak mengabariku. Aku kirim pesan, tidak dibalas, Menelponpun kamu tidak mengangkat. Menurutmu, bagaimana keadaanku?" Rafael menatapku penuh dengan kesedihan. Matanya terlihat begitu sedih.
" Maaf...."
" Tapi, aku bahagia, hari ini, kita berjumpa," ujar Rafael, masih memegang tanganku. Aku melepaskan genggaman tangan Rafael. Ketika Rafael hendak memegang tanganku kembali pelayanpun datang membawa makanan yang kami pesan tadi.
Aku meneguk hot dark chocolate. Aku menarik nafas, berusaha mengumpulkan keberanian. Biasanya meminum ini, akan membuat perasaanku lebih baik. Aku tidak mau melukai hati Rafael lebih dalam lagi. Aku tidak ingin dibilang wanita murahan oleh Bagas, dan aku tidak mau memberikan harapan pada Rafael. Walau bersama Rafa, ada getaran yang pernah aku rasakan dulu dengan Karel, cinta pertamaku itu.
" Fa, Aku...."
Rafael mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak merah yang mungil. Kemudian dia membuka di depanku," Will you marry me?"
Seperti petir menyambar, pernyataan Rafael benar-benar membuatku terkejut. Rafael melamarku. Tuhan, apakah aku harus menyakitkan lelaki ini? Menyakiti perasaan dia yang begitu baik padaku?
"Maaf, kalau aku membuatmu terkejut. Sejak di villaku kemarin, aku tidak bisa melupakanmu. Aku benar-benar mencintaimu. Setiap detik, setiap menit, dan setiap jam aku hanya memikirkanmu."
Aku masih terdiam tak percaya dengan tindakan Rafael padaku. Pria yang begitu gentelman. Maaf, Fa. Aku menutup kotak merah itu.
" Maafkanku, Fa. Aku tidak bisa. Maaf, Fa," Aku menundukkan kepala. Tidak berani menatapnya.
Rafael mengangkat wajahku dengan lembut,"Tatap aku, Vo. Apakah kamu tidak mencintaiku sehingga kau menolakku?"
Aku masih tediam. Tatapan Rafael begitu lembut. Dia masih menunggu jawaban dariku. "Apakah dihatimu tidak ada namaku?"
"Maaf, Fa, Maaf," Berulang kali aku meminta maaf pada Rafael. Aku suka dengan Rafael, dia pria baik-baik. Apakah Rafael akan tetap mencintaiku, ketika dia tahu aku sudah tidak suci lagi? Lebih baik aku kubur perasaan ini. Rafael lebih baik mendapatkan wanita lain.
" Aku tidak mencintaimu, Fa. Tolong jangan paksa aku, Fa," Akhirnya kata itu terucap dari mulutku. Entah dari mana keberanian itu datang. Sebelum air mata ini terjatuh, aku bangkit berdiri. "Maaf, aku harus pergi, maafkan aku."
"Kamu benar, Vo. Cinta tidak dapat dipaksa, tapi aku yakin suatu hari nanti cintamu akan pulang padaku."