
**Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
❣❣❣❣**
Keesokan harinya.
Bagas bersiap - siap untuk pergi ke kantor. Aku bersiap untuk ke rumah sakit. Hari ini aku tidak membuat sarapan, karena takut terlambat ke rumah sakit.
"Bagas, maaf aku tidak sempat membuat sarapan," aku meminta maaf.
"Jangan dipikirkan, aku akan suruh OB di kantor untuk belikan sarapan untukku. Aku bisa mengantar kamu ke rumah sakit, tapi pulangnya supir akan menjemputmu," perintah Bagas.
Setelah semua siap kamipun berangkat.
❣❣❣❣
Di rumah sakit.
"Evolet!" panggil Maureen ketika melihat kehadiranku. Ternyata bukan aku saja yang ada datang ke rumah sakit. Ibu hamil yaitu Dina juga datang. Indrapun hadir di sini.
"Hai, Maureen," sapaku lalu memeluknya. Maureen membalas pelukanku, setelah itu melepaskannya.
"Hai, Dina, Indra," sapaku kepada mereka berdua. "Kamu tidak kerja, Din? tanyaku lagi.
"Aku minta izin datang terlambat sama bosku. Aku bilang pada beliau mau jadi bodyguard calon istrinya di rumah sakit. Takut terkena virus," canda Dina. Kami tertawa. Dina memang bisa mencairkan suasana.
"Kapan kamu ke luar dari rumah sakit?" tanyaku.
"Nanti setelah dokter datang mengunjung, membereskan adminstrasi baru pulang," jelas Maureen.
"Terima kasih, Nak Evo, Dina, dan Indra sudah datang hari ini mengunjungi anak saya," ujar Mama Maureen.
"Jangan sungkan, Tante. Maureen sudah kami anggap saudara sendiri," komentar Dina.
"Benar kata Dina, Tan. Jadi jangan sungkan ya, Tan."
Setelah beberapa menit ngobrol dengan mereka. Perutku berbunyi karena lapar.
"Sepertinya ada yang belum sarapan," ejek Dina.
"Hahaha, iya aku tidak sempat masak tadi," kataku jujur. Aku bangkit dari kursi.
"Mau ke mana?" tanya Maureen.
"Aku sarapan dulu ya. Nanti aku ke sini lagi," pamitku.
"Aku juga ikut dengan kamu, Evo. Dari semalam aku belum makan," ucap Indra. Dari tadi dia hanya diam melihat kami mengobrol.
"Dina, apa kamu mau ikut?" ajak aku. Semoga Dina mau, semoga dia mau.
Dina menggeleng kepala. "Maaf, Evo. Aku menemani Maureen saja ya."
Akhirnya dengan perasaan terpaksa aku pergi bersama Indra. Kami ke luar dari ruanga Maureen.
"Akhirnya aku bisa berduaan denganmu. Mau sarapan apa kita?" tanya Indra.
"Terserah," jawabku judes.
"Jangan judes - judes, nanti cepat tua," goda Indra.
Kami berjalan menuju lift. Ada tulisan di lift tersebut. Lift sedang dalam perbaikan silahkan menggunakan tangga.
"Rumah sakit sebesar ini liftnya rusak? Benar - benar kacau," aku menggerutu.
Indra menarik tanganku, lalu mengajakku melewati tangga.
"Lepas, jangan sentuh aku!" kataku, lalu melepaskan tangan Indra.
Indra mendorongku ke tembok. Kami berada di tangga darurat.
"Kenapa kamu begitu jijik denganku? Kamu menyuruhmu bertemu dengan Maureen aku mau. Kenapa malah kamu perlakukan aku seperti ini, Vo?" tanya Indra geram padaku.
"Jangan kasar padaku!" ujarku pada Indra.
"Kamu yang memulai, Vo. Aku sudah baik padamu, tapi kamu yang selalu kasar padaku," ungkap Indra. Dia mendekatkan tubuhnya padaku.
"Minggir, Indra. Jangan dekati aku!" pintaku.
"Aku minta hadiah karena telah membantumu menyembuhkan Maureen," Indra meminta. Setelah berkata seperti itu, Indra menciumku dengan paksa, aku meronta tidak mau dicium olehnya. Aku tidak bisa melawan tenaga Indra. Aku menggigit bibir Indra.
"Agh!" teriak Indra kesakitan. Aku langsung pergi meninggalkan Indra. Pria itu membiarkan aku pergi.
"Bagaimana? Apa kamu mendapatkannya?" tanya Indra pada seseorang.
"Bagus sekali," ucap seseorang. "Terima kasih untuk bantuanmu, Indra."
"Senang juga bekerja sama dengan dirimu, Dea. Semoga mereka lekas putus dan aku bisa dapat Evo secepatnya," harap pria itu.
❣❣❣
"Brengsek! Indra brengsek!" ucapku setelah sampai di kafe yang terdapat di salah satu rumah sakit.
Aku menangis dengan perlakuan Indra padaku. Kenapa malah dia mencintaiku? Kenapa aku yang harus dipilihnya?
❣❣❣
"Kemana ya mereka? Padahal aku sudah selesai dan mau pulang," tanya Maureen bingung. Maureen mencoba menelepon Indra. Indra mengangkat teleponnya.
"Halo," sapa Indra.
"Kamu dan Evo di mana? Aku sudah mau pulang," ucap Maureen.
"Aku pergi ke kantor. Ada urusan tiba - tiba. Maaf ya," kata Indra meminta maaf.
"Iya, Indra. Aku mengerti. Kamu tahu Evo di mana?" tanya Maureen lagi.
"Setelah makan aku izin untuk pergi ke kantor pada Evo. Apakah dia tidak balik?" dusta laki - laki itu.
"Tidak. Evo tidak balik. Baiklah, sampai ketemu," kata Maureen kemudian menutup teleponnya.
"Aku sudah bisa hubungi Evo. Dia bilang ada urusan mendadak, nanti dia akan menghubungimu," ucap Dina memberitahu Maureen.
Aneh. Kenapa mereka tiba - tiba ada urusan. Ujar Maureen dalam hati. Maureen sedikit kecewa.
❣❣❣
"Nomor yang ada hubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkuan. Silahkan tinggalkan pesan setelah tanda berikut ini."
"Bas, kamu di mana? Kenapa di saat aku lagi bingung seperti ini, kamu malah susah dihubungi?" ucapku kecewa ketika Bastian tidak dapat dihubungi. Akupun teringat dengan Mbak Meli. Aku segera menghubungi dia, siapa tahu Mbak Meli bisa membantuku menemukan Bastian.
"Nomor yang ada hubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkuan. Silahkan tinggalkan pesan setelah tanda berikut ini," ujar operator lagi ketika aku menghubungi Mbak Meli.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa sulit di hubungi?" tanyaku putus asa.
❣❣❣
Kantor Pratama.
Tok, tok, tok.
Pintu ruangan Bagas berbunyi. "Silahkan masuk," ucap Bagas dari dalam.
"Hai, Bagas," sapa Dea.
"Hai, Dea. Ayo masuk!" ucap Bagas ramah. "Habis dari mana kamu?"
"Tadi aku mengantar Papi bertemu rekan kerjanya. Aku pikir karena tempatnya dekat kamu, aku jadi mampir. Apa kamu sedang sibuk?" tanya Dea pada Bagas. Wanita itu menghampiri Bagas. Hari ini Dea tampak begitu manis. Menggunakan kaos berwarna biru dengan rok hitam yang cantik.
"Tidak. Aku hanya memeriksa beberapa data. Apa ada yang bisa aku bantu untukmu?"
Dea duduk di depan Bagas, kemudian dia berkata, "Apa benar kamu akan menikahi Evo? Maksudku, dia tidak sedang kamu permainkan bukan"
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Bagas heran.
"Aku pikir dia seperti wanita - wanitamu sebelumnya. Hanya sebagai boneka gairahmu," ungkap Dea.
"Dia berbeda Dea. Aku sangat mencintai, Evo." ucap Bagas jujur.
"Seandainya aku juga mencintamu, apa kamu mau menikah denganku?" goda Dea.
Bagas memukul kepala Dea. Dea mengaduh kesakitan. Bagas tersenyum. Kemudian Bagas berkata,"Jangan suka bercanda seperti dulu. Ini sudah tidak lucu lagi."
Dea tersenyum. Tante Lina benar, Bagas memang mencintaiku sejak dulu.
"Seandainya aku minta kamu untuk menikahiku, apakah kamu mau?" tanya Dea lagi. Dea mendekatkan tubuhnya pada Bagas.
Bagas memegang dahi Dea, "Apa kamu sedang sakit? atau kamu terlampau sering nonton drama korea?"
"Bagas, jangan bercanda! Aku lagi serius!" ungkap Dea. Bagas menarik napas panjang. Dia bingung dengan Dea hari ini.
"Baik, baik. Ada apa denganmu?" tanya Bagas dengan muka sok serius.
"Tuhkan masih bercanda!" ujar Dea sebel dengan Bagas.
"Aku serius salah, aku bercanda juga salah. Jadi alu harus bagaimana menanggapimu Alexandrea?" tanya Bagas.
"Sudah aku tidak mau bahas lagi. Kita ganti topik. Seandainya Evo selingkuh, apa kamu akan memaafkannya?" tanya Dea mengubah topik.
"Evo bukan wanita seperti itu, Dea."
"Kita hanya berandai - andai, Bagas."
"Aku akan putuskan dia. Bagiku sebuah hubungan adalah saling percaya. Bukan malah saling bermain di belakang pacarnya. Lebih baik putus."
Dea tersenyum dengan jawaban Bagas. Ini kunci dia untuk membantu Tante Lina agar Bagas lepas dari Evo.
"Sudah itu saja yang kamu mau tanya, apa ada yang lain?" tanya Bagas.
Dea mendekatkan tubuhnya kepada Bagas, "Kenapa kamu tidak memilihku sebagai istrimu?"
Bagas tertawa, kemudian dia mengungkaplan sesuatu, "Sepertinya yang terlebih dahulu mencampakkan aku adalah kamu."
" Enak saja! Aku tidak pernah mencampakkan kamu," bantah Dea. Bagas tertawa lagi. Bagas mengerti sekali tabiat Dea. Dari dulu sampai sekarang, Dea selalu banyak penggemarnya.
Dea dengan cepat mencium bibir Bagas. Dalam hati Dea berkata aku pasti akan mendapatkan kamu, Bagas. Aku akan menolong kamu dari jerat wanita matre itu.