
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Jangan lupa ya berikan vote, koment dan likenya. Senang rasanya MOY sampai episode ini. Semua karena dukungan dari kalian. Semoga kalian bantu aku memberikan vote ya. Terima kasih
*****
Tiba – tiba Bianglala berhenti mendadak, membuat keseimbanganku goyang. Tanpa sengaja, tubuhku terjatuh. Wajahku mendekat ke arah Bastian. Bibir kamipun menempel.
Ya, ampun! Kami berciuman! Aku dan Bastian berciuman!
“Ma… af, maafkan aku, Bas,” ucapku dengan muka memerah. Dengan segera aku menarik tubuhku dari tubuh Bastian. Begitu bodohnya tingkahku di bianglala ini. Bastian pasti berpikir bahwa aku wanita yang tidak baik karena tiba – tiba mencium dirinya.
Bilik kami masih di puncak ketinggian. Pemandangan yang begitu indah tidak bisa aku nikmati lagi karena perbuatan bodoh yang aku lakukan tadi. Di dalam bilik aku dan Bastian hanya terdiam.
Setelah beberapa menit, akhirnya kami turun. Pintu bilik dibuka oleh pemandu permainan. Bastian turun lebih awal. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku keluar dari bilik.
“Aku lapar,” ujar Bastian.
Aku merespon dengan anggukan kepala. Akhirnya Bastian bicara juga padaku. Pikiranku masih melayang kalau Bastian akan mencap aku sebagai perempuan yang mengambil kesempatan.
“Di mana tempat makan enak yang dekat pantai itu?” tanya Bastian. Kami berjalan menuju pintu keluar.
“Apa kamu serius kita akan ke pantai?” aku balik bertanya. Senang rasanya kalau hari ini ke pantai. Aku akan menikmati hembusan angin di malam hari. Lampu – lampu yang bersinar di sekitaran pantai membuat pantai semakin indah.
Bastian tersenyum, lalu mengelus rambutku. Aku balik tersenyum dan menatap Bastian. Sepertinya dugaanku salah, Bastian masih bersikap baik padaku.
“Bukankah itu rencana yang kamu buat? Mari kita ke pantai untuk makan malam,” ajak Bastian.
*****
Pantai.
Restoran yang berada di dekat pantai Ancol penuh dengan pengunjung. Maklum karena hari ini adalah malam minggu. Para pasangan kekasih pasti pergi keluar dan menikmati waktu mereka.
Kami mencari tempat untuk kami duduk. Banyak sekali orang yang mondar mandir. Tidak jarang beberapa orang tidak sengaja menabrakku karena penuhnya tempat ini. Bastian dengan sigap menggandeng tanganku.
“Banyak sekali pengunjung, aku takut kamu hilang,” ucapnya sambil berjalan dan menggandeng tanganku. Aku menatap punggung Bastian dengan penuh kagum. Bagas tidak pernah memperlakukanku seistimewa ini. Mengingat Bagas, hatiku tiba – tiba sedih. Seandainya Bagas seperti ini, pasti berjuta lipat kebahagian yang akan aku rasakan.
Setelah beberapa menit mencari tempat, akhirnya kami mendapatkannya. Kami duduk tepat di sudut yang dapat langsung memandang ke arah pantai. Beruntungnya kami.
Ketika kami merasa sudah nyaman, kamipun memesan makanan untuk makan malam. Banyak hidangan di menu yang sangat enak. Aku menyuruh Bastian yang memilih hidangan untuk kami karena aku sibuk terpesona dengan pantai yang ada di depan mataku.
Bastian membiarkan Evo menikmati suasana pantai saat malam hari. Hembusan angin yang menerpa rambut Evo membuat wanita itu semakin cantik. Wanita yang ada dihadapannya selalu membuat dia tersihir hingga membuat dia selalu jatuh cinta.
Bastian tidak akan lupa kejadian hari ini. Bibir Bastian dan Evo saling menempel ketika di puncak Bianglala.
“Indah sekali pantai di malam hari,” ucapku membuka keheningan.
Bastian tidak mempedulikan keindahan di pantai, dia lebih senang memandang gadis yang ada di depannya. Rasanya lebih indah dari pantai.
“Kalau siang juga indah, tapi menurutku malam hari jauh lebih indah,” kataku memberi pendapat.
Aku menatap ke arah Bastian, dan bertanya,“Bagaimana menurut pendapatmu, Bas?”
“Eh, iya! Benar aku setuju dengan pendapatmu,”ucap Bastian asal. Padahal Bastian tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.
Aku tersenyum puas mendengar jawaban Bastian. Ternyata pikiran Bastian dan aku sama. Pemandangan di malam hari jauh lebih indah karena banyak lampu yang menyinari daerah pantai tersebut.
“Kenapa kamu menyukai pantai?” tanya Bastian.
“Pantai itu salah satu ciptaan Tuhan paling indah yang mudah untuk kita kunjungi. Kalau ada perasaan hatimu sedang sedih, coba datang saja ke pantai. Perasaan sedihmu pasti akan segera hilang dibawa hembusan angin dan ombak di pantai. Perasaan itu akan hilang dan berubah menjadi gembira,” jelasku pada Bastian.
“Benarkah?”
“Tentu saja, tapi daoku semoga Bastian selalu bahagia, jangan sedih. Kalau Bastian sedih aku pasti akan sedih,” kataku dengan jujur.
Sejujurnya aku tidak mau melihat Bastian sedih, karena Bastian adalah orang yang sangat baik. Bodoh rasanya kalau ada yang menyakiti hatinya.
“Terima kasih atas doamu, Vo,” ujar Bastian.
“Permisi! Makanan sudah tiba. Boleh saya hidangkan di meja Bapak dan Ibu?” tanya pelayan restoran.
“Silahkan,” ucapku.
Pelayan restoran itu menaruh pesanan di meja kami. Bastian banyak memesan makanan untuk kami. Ada ikan bakar, cumi goreng, sayur kangkung dan kepiting. Wah, sangat menggugah selesa makan kami saja.
Tanpa menunggu perintah, kamipun segera menyantap makanan tersebut. Bastian tertawa kecil melihatku makan dengan penuh semangat.
“Kenapa tertawa?”
“Dari kecil kamu tidak berubah, Vo….”
Bastian tersadar dengan ucapannya. Dia lupa kalau harus merahasiakan identitasnya waktu kecil.
“Apa?” tanyaku yang tidak fokus dengan ucapan Bastian. Aku sedang sibuk mengupas kepiting yang hendak aku buka kulitnya.
“Maksud aku, kamu seperti anak kecil saja makan belepotan. Sini aku bantu bersihkan kotoran makanan di bibirmu,” kata Bastian. Dia mengambil tissue dan membersihkan di bibirku.
“Te… terima kasih, Bas,” ujarku.
Satu jam berlalu. Akhirnya kami selesai makan. Suasana di restoran semakin romantis karena disuguhkan lagu oleh penyanyi di restoran tersebut.
“Selamat malan pengunjung setia pantai Ancol. Bagaimana kabar hari ini? Wah senang sekali kita masih bisa berkumpul di sini bersama pasangan, atau keluarga kita,” sapa MC dengan gembira.
“Hari ini kami memberikan kesempatan buat para pasangan yang ingin membahagiakan pasangannya.”
Aku dan Bastian melihat ke arah MC. Sepertinya akan ada hal menakjubkan yang akan terjadi malam ini.
“Caranya sangat mudah. Siapa yang mau bernyanyi untuk pasangannya? Silahkan ke atas panggung. Kami akan memberikan kesempatan,” ucap MC itu.
Seorang pria langsung maju ke depan panggung. Para pengunjung langsung memberikan tepuk tangan dan sorak sorai karena keberanian pria tersebut.
“Jadi inilah pria sejati kita malam hari ini. Namanya siapa, Mas?” tanya MC ketika pria itu sudah ada di sebelahnya.
“Nama saya Rudi,” jawan pria itu.
“Baiklah. Sekarang Mas Rudi silahkan pilih lagu kemudian sebutkan untuk siapa lagu tersebut dinyanyikan,” perintah MC itu.
“Selamat malam semua,” sapa Rudi kepada para pengunjung. Sapaan Rudi dibalas kami dengan tepuk tangan.
Suara cowok itu enak di dengar. Aku jadi ikut terhanyut dalam nyanyiannya. Aku jadi teringat ketika Bagas menyanyikan lagu untukku. Dia begitu romantic dan membuat aku jatuh cinta padanya.
Flash Back
Sesampainya di tempat tujuan. Bagas menuntunku menuju ke tempat yang dimaksud pria itu. Mataku masih ditutup olehnya.
"Aduh," aku tersandung.
"Hati - hati sayang," ucap Bagas masih menuntun aku. "Kamu duduk disini, setelah aku bilang buka kamu baru boleh buka matamu."
"Bagas, Bagas kamu mau apa? Jangan tinggalkan aku," kataku panik.
"Kamu boleh buka matamu," ujar Bagas.
Bagas tersenyum memandang wanita yang dia cintai. Aku terkejut melihat tempat ini, tempat yang begitu indah. Restoran yang memberikan suasana yang romantis. Hiasan - hiasan cinta yang menghiasi setiap sudut. Aku melihat ke arah Bagas. Laki - laki itu memegang gitar dan di depannya sudah siap sebuah microphone. Seperti biasa Bagas menyewa satu tempat untuk aku dan dia.
"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanyaku tidak percaya.
"Lagu ini aku persembahkan untuk dirimu, Evo. Aku mencintamu," ucap Bagas membuat aku tersenyum.
" Memenangkan hatiku bukanlah, satu hal yang mudah.
Kau berhasil membuat, aku tak bisa hidup tanpamu.
Menjaga cinta itu bukanlah, satu hal yang mudah.
Namun sedetik pun tak pernah kau berpaling dariku.
Beruntungnya aku.
Dimiliki kamu.
Kamu adalah bukti.
Dari cantiknya paras dan hati.
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini.
Kaulah bentuk terindah dari baiknya Tuhan padaku.
Waktu tak mengusaikan cantikmu.
Kau wanita terhebat bagiku.
Tolong kamu camkan itu.
Meruntuhkan egoku bukanlah, satu hal yang mudah.
Dengan kasih lembut kau pecahkan kerasnya hatiku.
Beruntungnya aku,dimiliki kamu.
Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati.
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini.
Kaulah bentuk terindah, dari baiknya Tuhan padaku.
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku, tolong kamu camkan itu."
(Last Child - Bukti.)
Aku menghampiri Bagas lalu memeluk lelaki itu. Air mataku menetes dengan derasnya. Air mata ini bukan air mata kesedihan tetapi kebahagian. Aku bahagia karena memilih Bagas menjadi orang yang aku cintai.
"Kenapa kamu malah menangis? Apa suaraku begitu jeleknya? Tidak sebagus penyanyi aslinya ya?" tanya Bagas yang masih memelukku.
"Aku bahagia Bagas. Aku senang mendengar suaramu. Aku bahagia, terima kasih Bagas," ucapku.
Kembali ke dunia nyata.
“Beri tepuk tangan yang meriah!” kata MC membuyarkan lamunanku tentang Bagas.
Bastian ikut tepuk tangan ketika MC meminta untuk bertepuk tangan. Begitu juga diriku, aku memberikan penghargaan pada keberanian dan suara indah dari lelaki tersebut.
Ternyata dari sebelah sana ada seorang wanita berlari dan memeluk wanita tersebut. Dia memeluk Rudi.
“Pasti dia Putri,” kataku. Bastian mengangguk setuju mendengar omonganku.
“Beruntungnya dia punya pacar romantis,” iriku.
“Apa kamu suka ada yang bernyanyi untukmu seperti itu?” tanya Bastian.
“Mana ada wanita yang tidak suka dinyanyikan lagu di depan banyak orang? Itu sangat romantis,” ungkapku.
Bastian langsung berdiri. Aku mengerutkan dahiku, dan mengamati Bastian dengan penuh curiga.
“Kamu mau apa, Bas?” tanyaku curiga.
Bastian mengedipkan mata, lalu berkata, “Mau membahagiakan pacarku.”
What? Aku melongo tidak percaya.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya.
❤❤❤