MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bastian pingsan



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Jangan lupa ya berikan vote, koment dan likenya. Senang rasanya MOY sampai episode ini. Semua karena dukungan dari kalian. Semoga kalian bantu aku memberikan vote ya. Terima kasih.


*****


  Bagas membuka mata. Dia memandang Dea dengan tajam. Dea tersungkur jatuh karena kaget melihat Bagas bangun tiba – tiba.


 


 


  “Sedang apa kamu di sini?”


 


 


  Dea bangkit dari jatuhnya. Kemudian dia memeluk Bagas dengan perasaan gembira. Bagas yang baru bangun mencoba melepaskan pelukan Dea.


  “Selamat pagi, sayang,” sapa Dea riang gembira.


 


 


  “Kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Bagas yang tidak suka dengan kehadiran Dea di kamarnya.


 


 


  “Bukankah hari ini kita janji untuk pergi?” Dea mencoba mengingatkan Bagas.


 


 


  Bagas mengerutkan dahinya, dia mencoba untuk mengingat janjinya tersebut. Ah, iya tadi malam Dea memberikan pesan singkat padanya.


 


 


  “Baiklah, aku akan mandi dulu. Kamu tunggulah di luar,”perintah Bagas. Dea tidak mempedulikan omongan Bagas. Dia tetap di kamar Bagas.


 


 


  Bagas membuka bajunya. Dia belum sadar kalau Dea masih di kamar. Dea memandangi tubuh Bagas yang kekar. Badan Bagas begitu indah dipandang. Dea menghampiri tubuh tersebut lalu memeluknya dari belakang.


 


 


  “Apa yang kamu lakukan? Bukankah aku menyuruhmu menunggu di luar?” tanya Bagas heran Dea masih di kamarnya.


 


 


  “Aku sangat mencintai kamu, Bagas. Terima kasih telah menerimaku menjadi istri kamu,” ucap Dea. Dea memutar tubuh Bagas agar menghadap ke arahnya.


 


 


  “Dea….”


 


 


   Dea dengan agresif mencium bibir Bagas. Sudah lama rasanya dia ingin mencium Bagas. Bagas tidak merespon ciuman dari Dea. Perasaannya hambar sekarang. Dipikiran dan hatinya Bagas hanya untuk Evo seorang.


 


 


  Bagas dengan sopan menghentikan ciuman mereka. Dia mencoba sekuat tenaga untuk tersenyum agar tidak melukai hati Dea.


 


 


  “Nanti saat nikah, kamu boleh melakukan apapun terhadapku, tapi sekarang izinkan aku mandi. Kalau tidak kita tidak akan pergi,” ancam Bagas.


 


 


  Dea tersipu malu mendengar kata nikah yang dilontarkan dari mulut Bagas. Akhirnya Bagas bisa melupakan Evo dan menerima dia kembali menjadi pasangannya. Deapun segera keluar dari kamar Bagas sesuai perintah Bagas. Hati Dea berbunga – bunga. Dia sangat bahagia.


 


 


  Bagas memegang kepalanya. Dia tidak menyangka kalau dia bisa hebat bersandiwara seperti itu.


  “Seandainya itu kamu, Vo. Aku pasti akan sangat bahagia,” kata Bagas.


 


 


*****


Siangnya di rumah Bastian.


 


 


  Aku menarik napas panjang, mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi Bastian. Sekarang aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Ku kuatkan hati ini agar mampu bertemu dengan Bastian.


 


 


Ceklek.


 


 


  Tiba – tiba pintu rumah Bastian terbuka. Pelayan rumah Bastian keluar dari rumah tersebut. Pelayan itu tersenyum melihat aku datang.


 


 


  “Ya, ampun, Nona! Akhirnya kamu pulang juga! Tuan dari kemarin mencari Nona. Baru saja dia tidur,” ucap pelayan tersebut.


 


 


  Ternyata perkataan Maureen benar, Bastian mencariku. Aku masuk ke rumah Bastian. Pelayan tersebut senang sekali melihatku.


 


 


  “Tuan! Tuan Bastian! Nona Evo sudah kembali,” lapor pelayan tersebut pada Bastian. Bastian yang baru saja tidur, kemudian bangun mendengar berita tersebut.


 


 


  Bastian keluar dari kamarnya, dia menatapku dengan penuh kelegaan. Bastian menghampiriku kemudian memelukku. Pelayan pergi meninggalkan kami berdua.


 


 


  “Terima kasih kamu sudah pulang, Vo,” ucap Bastian.


 


 


  “Maafkan aku, Bas. Aku salah meninggalkanmu semalam,” aku meminta maaf.


 


 


  Bastian melepaskan pelukannya padaku, dia memandangku dengan seksama dari ujung kaki sampai kepala.


 


 


  “Aku senang kamu baik – baik saja. Kenapa kamu pergi? Maafkan aku semalam ya. Aku pasti telah membuat kamu bingung,” pinta Bastian.


 


 


  “Tidak. Kamu tidak salah. Aku yang salah, aku yang bodoh karena tidak peka dengan perasaan kamu, Bas, tapi maafkan aku ya, Bas. Aku malah menyakiti hati kamu,” kataku sambil menangis. Akhirnya aku menumpahkan seluruh hatiku pada Bastian. Untuk kedua kalinya Maureen benar mengenai sifat Bastian, dia berbeda dengan Bagas.


 


 


  Bastian mengulurkan tangannya untuk menghapus air mataku. Pria ini tidak mau melihat air mata mengalir di pipiku.


 


 


  “Sst, jangan menangis. Aku tidak suka ada air mata di pipimu,” jujur Bastian. Hati Bastian sangat lega aku sudah balik ke rumahnya. Semalan tadi Bastian mencari keberadaanku. Bastian lemas kemudian jatuh pingsan.


 


 


  “Ya, ampun! Bastian! Ada apa denganmu?” tanyaku panik melihat dia terjatuh di depan mataku. Aku berteriak memanggil pelayan rumah Bastian. Mereka berdatangan dan membawa Bastian ke kamar. Aku mengikuti mereka dari belakang.


 


 


*****


Beberapa menit kemudian.


 


 


 


 


  “Semua baik – baik saja, Nona. Tuan Bastian hanya kelelahan. Apa yang dia kerjakan semalam hingga lelah seperti ini?”


 


 


  “Ehm, dia, itu,” jawabku bingung.


 


 


  “Tolong dijaga saja agar Tuan Bastian tidak kelelahan seperti hari ini,” ucap Dokter sambil menulis resep obat. Setelah selesai memberikan resep obat, dia memberikannya padaku.


 


 


  “Segera dibeli obat yang saya resepkan itu,” katanya lagi kemudian dia pamit pergi.


 


 


“Terima kasih, Dokter,” kataku dengan sopan. Dokter pergi meninggalkan ruangan tersebut.


 


 


  “Apa Nona Evo sudah makan?” tanya pelayan rumah Bastian.


 


 


  Kepalaku menggeleng. Aku baru makan tadi pagi di rumah Maureen.


 


 


  “Sudah waktunya makan siang. Ayo, Nona makan dulu,” ajak pelayan tersebut.


 


 


  “Aku belum lapar, Mbak. Biarkan aku di sini menemani, Bastian. Kalian tolong belikan obat untuk Bastian ya.” kataku.


 


 


  “Baik, Nona,” ucap pelayan, lalu pergi meninggalkanku di kamar Bastian.


 


 


  “Bas, maafkan aku ya. Karena aku, kamu malah jadi sakit seperti ini,” ujarku kemudian memegang dahi Bastian. Aku bersalah meninggalkan dia semalam.


 


 


*****


Butik Gaun Pengantin di Jakarta.


 


 


  Bagas dan Dea masuk ke salah satu butik untuk mencari gaun pengantin. Mereka membuka pintu butik tersebut. Sejak kemarin Dea mencari tahu butik mana yang sedang terkenal di media sosial untuk baju pernikahan mereka berdua.


 


 


  “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan toko dengan penuh sopan santun.


 


 


  Dea menggandeng tangan Bagas, kemudian berkata kepada pelayan toko, “Hari ini saya dan calon suami saya mau melihat baju yang cocok untuk pernikahan kami.”


 


 


  “Wah, tepat sekali Nona dan Tuan datang kemari. Hari ini ada penawaran khusus dari toko kami untuk gaun pernikahan,” jelas pelayan toko ramah.


 


 


  “Uang bukan masalah buat kami, Mbak. Tolong perlihatkan gaun terbaik yang ada di toko kalian,” ucap Dea lagi.


 


 


  “Baik, Nona.”


 


 


  “Kira – kira dekor ruangan kita warna apa ya sayang? Biar aku mencocokkan dengan gaun pernikahan kita,” Dea menanyakan pendapat.


 


 


  “Terserah kamu. Aku bebas,” kata Bagas tidak peduli. Sejak kemarin sebenarnya Bagas malan untuk mengurusi semuanya, tapi Bagas teringat dengan Pak Hermawan yang sangat baik padanya.


 


 


  “Baiklah, aku akan memilih terlebih dahulu,” ucap Dea.


 


 


  Pelayan toko tersebut membawa beberapa gaun terbaik dari tokonya. Dea mencoba satu persatu baju tersebut.


 


 


  “Bagaimana menurut pendapatmu, Gas?” tanya Dea setelah memakai salah satu gaun.


 


 


  “Ya, cocok denganmu,” ujarnya asal.


 


 


  “Benarkah? Tapi kenapa menurutku ini masih biasa saja ya?” kata Dea sambil memandang tubuhnya di kaca. Dea mengambil kembali gaun yang lain untuk mencobanya.


 


 


   Bagas lagi memikirkan Evo. Seandainya kedua orang tua Bagas merestui hubungan Evo dengannya, pasti saat ini Evolah yang mencobai gaun tersebut.


 


 


  “Bagaimana Bagas dengan gaun ini?” tanya Dea.


 


 


   “Bagus, Vo! Kamu sangat cantik,” kata Bagas membayangkan Dea adalah Evo.


 


 


  Dea yang mendengar nama Evo dari mulut Bagas merasa kesal. Dea mengepalkan tangannya menahan amarah.Ternyata dihati Bagas masih ada Evo.


 


 


  “Maksudku, gaunnya sangat cocok untukmu, Dea,” ucap Bagas setelah sadar salah menyebutkan nama.


 


 


   “Terima kasih, Bagas. Aku juga suka dengan gaun ini,” kata Dea sambil menahan marah. Dia bersumpah akan membuat Bagas melupakan Evo untuk selamanya.


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya 


 


 


❤❤❤