MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Rencana Makan Malam Keluarga Pratama



Hai, semua mohon dukungan tekan jempol di bawah, vote, bintang lima. Dukungan kalian sangat membuat saya tambah semangat. Terima kasih sudah mencintai MOY.


*****


Hiks. Aku menangis di pojok taman. Hari ini aku dimarahi salah satu penggemar Karel. Katanya aku memonopoli dia hanya bermain denganku.


"Kenapa dengan kamu, Moy?" tanya Karel yang baru datang ke taman. Aku buru - buru menghapus air mataku


"Tidak, aku hanya, hanya kelilipan," aku berdusta. Karel duduk di sampingku. Dia menatap aku dengan tajam. Sepertinya dia tahu aku sedang berbohong.


"Jadi kamu tidak mau cerita padaku apa yang sedang terjadi padamu?" tanya Karel.


"Sungguh, aku tidak apa - apa, Karel," aku menyakinkan dirinya.


"Kamu bukan pembohong yang pandai, Moy," ucap Karel kesal.


"Aku....," aku ingin berkata sesuatu tapi Karel bangkit berdiri. Dia marah padaku.


"Kamu mau ke mana, Karel?" tanyaku menghentikan langkah Karel yang hendak pergi meninggalkan diriku.


"Aku sedih tidak dianggap olehmu hari ini. Jelas - jelas kamu menangis, tapi aku tidak bisa membantumu sama sekali."


Setelah berkata seperti itu, Karel pergi meninggalkanku. Aku memanggil namanya tetapi dia tidak menengok sama sekali.


"Karel! Jangan pergi! Karel!!"


❣❣❣


"Karel!" teriakku. Aku bangun dari tidurku.


Setelah beberapa lama tidak memimpikan Karel, hari ini aku bermimpi tentang dia.


"Selamat pagi sayang," sapa Bagas yang masih tidur di sebelahku.


"Pagi, Bagas," sapaku balik.


"Aku tadi mendengar kamu berteriak, menyebut nama Karel. Siapa itu Karel?" tanya Bagas yang bangun dari tempat tidur. Kemudian dia memakai kemeja putihnya.


"Tidak, hanya mimpi. Maaf telah membangunkanmu." ucapku.


Bagas menghampiriku, lalu dia mencium dahiku. "Sudahlah, aku pikir kau sedang mimpi buruk. Aku mau mandi, lalu berangkat ke kantor. Apa kamu mau ikut?"


Aku menggeleng, dan berkata padanya, "Aku di rumah saja, aku mau menyelesaikan novelku."


"Oke," ucap Bagas, kemudian dia beranjak ke kamar mandi. Untung saja Bagas tidak bertanya lagi tentang Karel.


Mimpikan Karel aku jadi merindukan Karel. Di mana sebenarnya Karel sekarang?


❣❣❣


"Mama dan Papa belum setuju kamu mengulang pernikahan kalian untuk waktu dekat ini," ucap Bu Lina di ruangan Bagas.


"Kenapa Mama dan Papa tiba-tiba tidak setuju?" tanya Bagas sambil mengangkat alisnya satu. Aneh, pikir Bagas dalam hati.


"Mama bilang belum setuju, bukan tidak setuju. Kita masih malu dengan kejadian waktu itu. Bisakah kamu bersabar sedikit untuk menunda pernikahan kalian?" Bu Lina berjalan menuju kursi Bagas. Lalu merangkul Bagas.


"Mama tidak mau nama baik keluarga kita hancur, Bagas. Kamu harus pahami itu. Kamu anak laki - laki kami satu - satunya." pinta Bu Lina pada anaknya itu.


"Ya, Mama. Bagas paham, Bagas tidak akan mengecewakan Mama dan Papa lagi. Sebab kalian telah merestui hubungan aku dengan Evo," ucap Bagas.


"Nanti malam datanglah ke rumah, ajak Evo. Kita makan malam bersama," Bu Lina mengundang Bagas.


"Baik, Mama. Aku akan datang bersama Evo."


❣❣❣


Drrrrt.


Bastian : Aku sudah benar -benar pulih. Ini berkat pizzamu kemarin.


Aku tertawa membaca pesan Bastian. Aku mengetik beberapa kata untuk menjawab pesan Bastian


Evolet : Aku senang mendengarnya. Mungkin suatu hari kita berjumpa lagi dan makan bareng. Seperti saat di Malaysia dulu.


Bastian : Aku tunggu janjimu padaku, Vo.


Aku menutup telepon genggamku. Aku melanjutkan mengetik novelku. Tiba-tiba ada telepon masuk.


"Halo," sapaku.


"Selamat siang, bisa bicara dengan nyonya Pratama?" ucap orang disebrang. Aku tertawa, aku kenal sekali dengan suara ini.


"Maaf salah sambung. Saya Evolet Rebecca, status di KTP masih belum menikah alias JOMBLO," candaku.


"Sial, kalau sampai kamu bilang dirimu jomblo lagi, aku akan menghukummu," umpat Bagas.


"Well, kamu tidak bisa menghukumku sekarang. Aku memang masih belum menikah. Kamu harus paham itu." tegas diriku.


"Nanti malam aku akan membuatmu menyesal," ancam Bagas. Aku tertawa mendengarnya.


"Aku takut sekali," jawabku membuat Bagas tertawa.


Bagas kemudian berkata padaku," Mama menyuruh kita datang ke rumah. Kita akan makan malam di rumah."


"Apa yang harus aku persiapkan?" tanyaku.


"Siapkan hatimu untukku saja. Bagaimana?" Bagas mulai menggombal.


"Sejak dulu, hatiku selalu untukmu, Bagas," ungkapku jujur.


"Jadi kapan kita resmikan pernikahan kita?" tanya Bagas.


"Bersabarlah, Gas. Aku benar - benar ingin menikah denganmu tapi aku masih trauma dengan kegagalan pernikahan kita," ucapku.


"Mama juga tidak setuju untuk segera mempercepat pernikahan kita," cerita Bagas.


Aku mematikan laptopku, kemudian berkata, "Aku setuju dengan pendapat Mama.Percaya padaku, Gas. Aku hanya mencintai Bagas Pratama."


"Akupun juga mencintai, Evolet Rebecca, aku tidak sabar meresmikan hubungan kita," kata Bagas masih bersih keras.


"Sabar sayang. Semua akan indah pada waktunya," kataku mengulang meminta kesabaran Bagas. Bukannya aku tidak mau untuk segera menikahi Bagas, tapi aku trauma. Pernikahan kami harus berujung bencana dan melukai orang lain.


"Baiklah, aku akan bersabar. Sampai ketemu nanti sayang. Aku akan menjemputmu."


"Tidak, tidak. Kita ketemu di rumah mama saja. Aku akan naik taksi saja," kataku menolak.


"Ini bukan permintaan tapi ini kewajibanku sebagai calon suamimu untuk memberikan pelayanan terbaik untukmu," Bagas memaksa. Seperti biasa, kelakuan Bagas tidak mau dibantah.


"Baik tuan muda, aku akan menunggumu." jawabku tidak mau membantah dia.


"Bagus kamu mengerti. Sampai ketemu nanti ya." ucap Bagas lagi.


Bagas menutup teleponnya. Semoga nanti malam tidak terjadi hal buruk, karena tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku melanjutkan menulis novelku.


"Aku menulis novel dulu baru bersiap untuk acara makan malam keluarga Bagas."


*****


Bagaimana kelanjutannya?


Baca terus ya kisah Evo.