
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
"Sebenarnya sudah ada orang yang akan membantu menyelamatkan perusahaan ini. aku harus memenuhi persyaratan yang diberikan oleh orang itu, Mel, " ucap Bagas.
" Apa persyaratan yang kamu maksud itu, Bagas? " tanya Mbak Meli kepada atasannya itu.
Bagas menghela nafas panjang, kemudian dia berkata kepada Mbak Meli dengan perasaan yang sedih, "Aku harus meninggalkan Evolet."
" Apa? " tanya Mbak Meli tidak percaya. Bagas akan meninggalkan Evolet begitu saja, dia tidak rela kalau Evolet akan berpisah dengan Bagas.
" Kenapa kamu bisa setega itu dengan Evolet?" tanya Mbak Meli lagi kepada Bagas.
Bagas hanya diam menanggapi ucapan Mbak Meli. jauh dalam lubuk hati Bagas Dia tidak ingin meninggalkan Evolet. Bagas belum mampu untuk memutuskan jawaban apa yang akan diberikan olehnya kepada kedua orang tuanya.
" Aku belum menjawab dan memutuskan untuk meninggalkan Evolet, Mel. semoga ada jalan keluar untuk semua ini. Aku sangat mencintai Evolet. "ucap Bagas pada akhirnya.
Mbak Meli mengangguk kepala, dia mengerti perkataan Bagas. Dia tahu Bagas begitu mencintai Evolet. Begitu juga dengan Evolet. harapan Mbak Meli cuman satu kepada sepasang kekasih ini, dia harap mereka bersatu untuk selama-lamanya.
" Mel, coba kamu cek saham kita yang ada di bursa saham," perintah Bagas pada Mbak Meli.
Mbak Meli yang membuka handphone-nya, kemudian dia mengecek cek apa yang disuruh oleh Bagas.
"Bagaimana saham perusahaan Pratama? " tanya Bagas.
" Sepertinya kamu tahu apa jawaban atas pertanyaanmu, Bagas. "
" Sial, " kesal Bagas. Bagas tahu Setelah pemberitaan kebakaran Ini tersebar, saham perusahaan Pratama pasti akan anjlok lagi. kepala Bagas menjadi pusing. apa dia harus menerima persyaratan yang diberikan oleh Pak Herman dan Bu Heni? Apakah dia harus meninggalkan Evo untuk menyelamatkan semua karyawannya?
*****
Apartemen Bagas.
Drt, Drt.
Bunyi panggilan masuk dari telepon genggamku. Aku melihat dari layar siapa yang menelpon aku? Dia adalah adik Bagas.
"Halo, Mbak Evo," sapa Charlotte.
"Ya, Char. Ada apa kamu menghubungiku?" tanya Charlotte.
"Aku harus cerita padamu. Aku mohon sekali ini saja kamu mendengarkan aku," pinta Charlotte padaku.
"Katakanlah," ucap aku lagi padanya.
" Mbak Evo sudah tahukan kalau Perusahaan Pratama di Malaysia telah terbakar. Ini akan mengakibatkan perusahaan Pratama semakin hancur. Aku mohon kerjasama dari Mbak Evo. Tolong bantu Mas Bagas untuk menerima persyaratan dari Pak Hermawan dan Bu Heni," cerita Charlotte.
" Persyaratan? Persyaratan apa yang kamu maksud? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan? " tanya aku bingung.
Charlotte menghela napas, sepertinya Bagas kakaknya tidak memberitahu atau menceritakan apapun kepada Evolet. kemudian Charlotte berkata lagi kepadaku, " Pak Hermawan dan Bu Heni, Mama dan Papa Dea mau membantu keluarga kami dengan syarat yaitu itu Mas Bagas mau menikahi Dea."
Mendengar ucapan Charlotte aku terkejut. Cerita dia seperti petir di siang bolong. Hatiku terluka mendengar semua ini. Kenapa begitu banyak orang yang ingin memisahkan aku dan Bagas?
" Aku tahu cinta kalian berdua itu adalah cinta yang tulus, tapi aku mohon kepadamu Mbak, tolong tinggalkan Mas Bagas untuk selama-lamanya. Pengorbanan cinta kamu terhadap Mas Bagas akan menyelamatkan semua karyawan perusahaan Pratama juga jabatan Mas Bagas," ucapnya. Air mata Charlotte ikut menetes.
Aku menghela nafas panjang aku terdiam mendengar cerita dari calon adik iparku itu. Apa sekarang aku akan benar-benar kehilangan Bagas?
"Sudahlah, Char. Aku hanya menunggu keputusan dari Bagas. Kalau Bagas ingin menikah dengan Dea dan meninggalkan aku, aku akan ikhlas dan menerima itu dengan lapang dada," ucapku ikhlas.
"Baiklah, Mbak. Terima kasih telah mendengar ceritaku ini, semoga Mas Bagas bijaksana dalam memutuskan ya." ucap Charlotte, setelah itu dia menutup teleponnya.
Ya, apapun keputusan Bagas. Aku akan menerimanya. Aku sudah ikhlas.
*****
"Mama senang kamu mau mendengarkan perkataan Papamu untuk datang ke sini," ujar Bu Lina dengan girang.
"Bagaimana keadaan Perusahaanmu di Malaysia?" tanya Pak Freddy yang melihat kehadiran anaknya itu.
Sesaat Bagas diam, dia masih ragu dengan keputusannya.
"Bagas? Papa sedang bertanya padamu!" ucap Pak Freddy menyadarkan anaknya. Bagas tetap diam. Dia benar - benar tidak bisa berkata apapun.
"Bagas, sayang ada apa denganmu?" tanya Bu Lina.
"Maaf, Papa, Mama. Bagas sangat lelah. Bolehkah Bagas ke kamar dan mandi untuk menghilangkan rasa lelah ini?" pinta Bagas pada Pak Freddy dan Bu Lina.
"Ya, silahkan," izin Pak Freddy.
*****
Di kamar Bagas.
Bagas mengambiil ponselnya, lalu mencari nama Evolet di kontak teleponnya. Satu hari ini dia belum menelepon kekasih hatinya.
"Halo," sapa aku dari rumah.
"Hai, sayang. Apa kabarmu?" tanya Bagas. Dia merindukan suara Evo. Hari ini Bagas sangat membutuhkan kekuatan dari Evo, paling tidak dia bisa mendengar suaranya.
"Bagas, kamu ada di mana? Aku merindukan kamu," ucapku. Aku menggigit bibirku untuk menahan tangis.
"Aku akan pulang. Apa kamu tidak bisa menunggu sebentar lagi?" ucap Bagas. Hatinya juga sedang hancur. Keputusan yang dia ambil saat ini sangat berat baginya.
"Tentu. Aku selalu menunggumu, Bagas. Cepatlah kembali," pintaku padanya.
"Apa aku sangat berarti untukmu?" tanya Bagas tiba - tiba.
"Apa hal itu pantas kau tanyakan lagi padaku? Semua tak akan sama, Gas. Sentuhanmu, cintamu tidak ada yang bisa menggantikan. Aku hanya mencintai Bagas Pratama tidak ada yang lain," ucapku. Air mataku mulai menetes. Untung Bagas tidak bersama dengannya.
"Seandainya kita berpisah, apa kamu siap?" tanya Bagas. Air mataku semakin membanjiri pipi ini.
"Maaf bila aku belum bisa membuat kamu bahagia. Maaf bila aku suka membuatmu marah, dan maaf karena aku telah merenggut masa depanmu," ucap Bagas.
"Ke...., kenapa Bagas minta maaf?" lirihku.
"Apakah tidak boleh? Apa lagi aku telah membuat aku menangis sekarang," kata Bagas.
"Kenapa Bagas tahu?" tanyaku. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak terlihat menangis.
"Aku akan pulang untukmu. Jaga dirimu, ya." ucap Bagas lalu mematikan teleponnya.
Kenapa aku merasa itu adalah seperti pesan terakhir Bagas untukku? Aku mohon Tuhan, aku tidak Bagas meninggalkan aku. Aku tidak mau berpisah dengan Bagas.
Bagas sudah menetapkan hatinya. Dia sudah menemukan jawaban yang paling bijaksana. Semua keputusan Bagas adalah keputusan yang paling bijaksana. Bagas sudah yakin akan pilihannya.
Bagas masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia membersihkan dirinya, setelah membersihkan diri dia berkaca di cermin.
"Semoga Tuhan merestui keputusanku." harap Bagas.
*****
BERSAMBUNG.
Ada yang bisa tebak apa keputusan Bagas? Penasaran? Ikuti kisah Evo selanjutnya. Terima kasih yang sudah datang untuk membaca. Jangan lupa gabung digroup aku.