
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya yak karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca, maafkan aku ya yang bikin kalian kesel. Heheheee... Kalian para pembacaku yang terbaik. Sarangheyo buat kalian!!!!!!
*****
*****
Sesampainya di rumah Bastian.
“Evo….”panggil Bastian.
Sejak di mobil Evo hanya terdiam. Bastian sedih melihat Evo seperti itu. Hari ini lagi – lagi Evo dipermalukan oleh keluarga Bagas. Bastian menyesal telah mengizinkan Evo untuk mengikuti acara tersebut.
“Bas….”
“Ya?” jawab Bastian ketika Evo memanggil namanya.
“Apa aku terlampau lemah? Apa aku wanita yang begitu murahan hingga keluarga Bagas selalu merendahkanku?” tanya Evo berurai air mata.
Bastian ingin memeluk Evo, tapi diurungkan niatnya. Dia sudah berjanji pada Evo mau pun dirinya sendiri untuk tidak mendekati Evo, dan hanya menganggapnya sahabat.
“Kenapa aku begitu menderita? Apa kesalahanku di kehidupan yang lalu hingga harus merasakan pahit seperti ini?”
“Tenanglah. Mereka yang salah, bukan kamu. Bagas bodoh karena tidak percaya padamu. Aku yakin kamu tidak berniat untuk mencelakakan Dea,” kata Bastian coba menenangkan Evo.
Evo membalikkan badannya. Cowok yang ada di depannya sungguh membuat Evo kagum. Semenjak pertemuan mereka di Malaysia, Bastian selalu membantunya. Dari saat penculikan, hingga pembunuhan di pernikahannya yang gagal dulu. Bastian sangat baik. Evo berpikir andai saja lebih dulu dia bertemu dengan Bastian, mungkin hidupnya tidak akan sepahit ini.
Bastian yang sudah tidak kuasa menahan diri, memeluk Evo. Dia tidak kuat melihat gadis yang dia cintai terluka seperti itu.
“Maaf, maafkan aku, Bastian. Maafkan aku,” kata Evo kemudian Evo pingsan.
“Evo!”
*****
“Karel! Karel! Di mana kamu?” tanya Evo mencari keberadaan sahabatnya itu.
Hari Sabtu ini Evo dan karel janjian untuk bertemu. Mereka akan membuat sesuatu yang akan diingat di masa depan.
Evo melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 2 lewat. Mereka berjanji bertemu jam 2 tadi.
“Kemana perginya Karel? Sepertinya aku tidak terlambat datang. Jangan – jangan dia mengerjai aku!” sewot Evo. Bibir Evo manyun karena kesal tidak melihat Karel.
Dari tadi Evo bolak – balik di taman tersebut. Dia menunggu dengan perasaan sebal. Hampir satu jam Evo menantikan sahabatnya itu.
“Sudah jam 3. Ada apa dengan Karel ya?” kata Evo cemas.
Karel yang biasanya tepat waktu, hari ini terlambat satu jam. Perasaan khawatir masuk ke dalam hati Evo. Apa jangan- jangan Karel kecelakaan? Atau apa dia diculik? Pikiran buruk menghampiri di benakku.
“DHOR!”
“KYAA!” teriak Evo kaget, “Karel! Kamu mengagetkan aku!”
Karel tertawa geli. Sebelum mendengar omelin dari Evo, dia memberikan setangkai bunga mawar merah untuk Evo.
“Ini buat kamu,” ucap Karel.
“Wah, bagus sekali bunganya. Kamu dapat dari mana bunga seindah ini?” tanya Evo takjub.
“Maaf, aku tadi datang terlambat. Aku mengambil bunga mawar itu untuk kamu. Habis bunganya cantik kaya…, kamu,” ungkap Karel malu – malu.
Mendengar ucapan Karel, wajah Evo panas. Muka Evo berubah menjadi merah padam karena malu. Tidak menyangka kalau Karel akan berkata seperti itu padanya. Bisa dipastikan besar nanti Karel akan menjadi cowok romantis.
“Kamu mau ke mana lagi, Karel?” tanya Evo bingung ditinggal pergi oleh Karel.
Beberapa saat kemudian Karel datang dengan membaca sebuah kotak besi. Dia memperlihatkannya padaku.
Karel duduk di bawah bangku taman. Dia membersihkan kotak besi tersebut. Evo tampak bingung, apa yang hendak Karel lakukan dengan kotak besi itu?
“Apa yang kamu mau lakukan dengan kotak besi itu?” tanya Evo akhirnya. Dia sudah tidak tahan untuk bertanya seperti itu pada Karel.
Evo mengangguk menjawab pertanyaan Karel. Dia mengambil tasnya kemudian mengeluarkan sebuah buku dan benda – benda kesayangannya.
“Bagus. Anak pintar,” ucap Karel sambil mengelus kepala Evo. Diperlakukan seperti itu Evo manyun, dia tidak suka disamakan seperti anak TK.
“Terus apa yang harus kita lakukan?”
“Sekarang, kita tulis apa yang kamu mau lakukan di masa depan? Ayo kita menulis,” ajak Karel.
Evo segera melaksanakan perintah dari Karel. Evo menulis apa yang aku inginkan di masa depan. Karel mencoba mengintip tulisan Evo, tapi Evo menutupinya.
“Dasar pelit!” ledek Karel. Evo hanya menjulurkan lidah membalas hinaan Karel.
Setelah selesai menulis, Karel menyuruh Evo untuk memasukkan kertas tersebut dan benda – benda yang dia sayangi. Lalu Karel menutup kotak besi tersebut, dan menguncinya dengan gembok.
“Kenapa digembok?”
Karel tidak menjawab pertanyaanku. Dia menggali tanah dengan sekop. Setelah merasa galiannya cukup dalam, Karel memasukkan kotak besi itu ke dalamnya.
“Loh? Kenapa kamu menguburkan kotak itu? Di situ kan ada benda kesayangan kita berdua,” ujar Evo tidak rela. Sejak tadi Karel tidak menjelaskan apapun pada Evo.
Karel membersihkan tangannya dari tanah yang menempel ditangan. Karel belum menjawab setiap pertanyaan Evo.
Evo menarik baju karel, dia sudah sangat jengkel karena Karel tidak memberitahu maksud tujuan Karel mengubur kottak tersebut.
“Karel jawab!” perintah Evo.
“Iya Nona Moy. Aku baru selesai membersihkan tanganku. Mengapa kamu tidak begitu sabar menunggu?”kata Karel dengan santai. Karel paham sekali kebiasaan Evo, kalau Karel tidak menjawab, Evo akan terus bertanya, dan pada akhirnya akan marah.
“Katakan padaku, kenapa kotak itu kami kuburkan di situ?”
“Sini aku kasih tahu. Kalau nanti kita sudah besar, ketika kamu sedang sedih, dan kita belum juga bertemu. Datanglah ke tempat ini. Carilah kotak ini, lalu bukalah. Semoga kesedihan kamu terobati setelah melihat kotak besi ini.”
“Berarti kalau aku besok sedih, aku boleh buka kotak ini ya?” tanya Evo polos. Gadis kecil itu tidak rela benda kesayangannya di kubur dalam tanah.
Karel menjitak kepala Evo. Evo meringis kesakitan.
“Kita tidak boleh membuka kotak tersebut selama dua belas tahun. Kalau melanggar, aku tidak mau berteman dengan kamu lagi!” ancam Karel.
“Iya, iya, aku tidak akan membuka,”sewot Evo.
“Janji?” tanya Karel sambil memberikan jari kelingkingnya untuk dikaitkan sebagai simbol janji diantara kami.
Evo mengkaitkan jari kelingkingnya di kelingking Karel, “Janji.”
*****
Kembali ke cerita.
“Karel!!” teriak Evo bangun dari tidurnya.
Hah, hanya mimpi! Kenapa aku di kamar? Bukankah tadi malam aku sednag bicara dengan Bastian?
Evo memandangi setiap sudutnya. Dia memindahkan tangannya kemudian merasakan kehangatan tangan seseorang.
Dia menengok ke arah sebelah kirinya. Bastian sedang tidur di sebelahnya. Posisi Bastian di lantai bukan di ranjang.
Evo memegang rambut Bastian dengan perlahan. Bastian menjagai dia lagi pasti semalam. Pasti semalam Evo telah mencurahkan hatinya pada Bastian.
Maafkan wanita murahan ini, Bas. Seandainya aku bisa lebih berani melawan mereka, aku pasti tidak akan membuat kamu menderita seperti ini.
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤