
Yeah! MOY sudah sampai episode 190. Terima kasih untuk kalian yang tetap setia ya. Semoga tetap setia sampai akhir EPISODE ya.
*****
“Halo!” jawab Mbak Meli.
Mbak Meli yang masih berada di Paris terkejut di telepon oleh Bastian. Biasanya Bastian tidak pernah mengganggu liburannya kecuali ada hal yang mendesak.
“Tumben sekali adik lelakiku meneleponku. Apakah kamu merindukan aku?” goda Mbak Meli pada adiknya. Dengan malas Mbak Meli memperbaiki posisinya, tadinya dia tiduran menjadi posisi duduk.
“Bukan aku yang ingin menelepon kamu, tapi Evo. Sejak kemarin dia merindukanmu, aku saja iri dengan itu,” ungkap Bastian.
“Wah, wah, sepertinya ada kabar baik untukku tentang kalian berdua. Kapan pesta pernikahannya?” kata Mbak Meli masih menggoda adik satu – satunya itu.
“Bawel!” gerutu Bastian.
Evo yang mendengar pertengkaran mereka, hanya tertawa geli. Mereka memang keluarga yang harmonis. Mbak Meli sudah seperti ayah dan ibu bagi Bastian sejak kepergian kedua orang tua mereka karena kecelakaan.
“Ini Evo ingin bicara padamu,” lanjut Bastian kemudian memberikan telepon tersebut pada Evo.
“Hai, adik iparku!” sapa Mbak Meli riang.
“Hai, Mbak. Apa kabarmu?” tanya Evo.
“Aku baik, di sini masih pukul 4 pagi. Aku kaget Bastian meneleponku, biasanya dia tidak pernah menganggu liburanku,” ucap Mbak Meli.
Mbak Meli bangkit dari tempat tidurnya. Dia menuangkan air ke dalam gelasnya, lalu meminumnya.” Bagaimana kabar kamu?”
“Maaf mengganggumu, Mbak. Sebenarnya aku yang memaksa Bastian untuk menelepon kamu karena aku sangat merindukan kamu,” ucap Evo jujur. “Kabar aku baik, Mbak.”
“Aku juga rindu padamu. Minggu depan rencananya aku akan pulang, Vo. Aku tidak sabar mendengar cerita kalian berdua dari mulutmu.”
“Doakan saja, Mbak, biar lancar terus,” kata Evo lagi.
“Doa terbaik untuk kalian berdua. Aku sangat menyayangi kalian berdua,” jujur Mbak Meli.
Sejak Mama Evo meninggal, Mbak Meli bersumpah pada dirinya untuk menjaga Evo sebagai adiknya. Dia tidak menyangka kalau Evo akan benar – benar menjadi adiknya. Perempuan itu uga tidak menyangka Bastian dan Evo saling menyimpan rasa.
“Terima kasih, Mbak. Aku juga menyayangimu. Sampai bertemu minggu depan,” tutur Evo.
“Sampai jumpa, Vo,” pamit Mbak Meli.
Evo pun menutup telepon genggam milik Bastian, kemudian mengembalikan telepon tersebut.
“Apa kata Mbak Meli?” tanya Bastian.
“Minggu depan dia akan kembali,” jawab Evo.
Bastian menarik napasnya, dia merasa Mbak Meli akan menerornya dengan berbagai pertanyaan tentang hubungan dia dan Evo.
“Kenapa menarik napas begitu ketika aku bilang Mbak Meli akan pulang minggu depan?” tanya Evo aneh.
Bastian menjawab dengan nyengir. Diapun mengalihkan pembicaraan, “Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke SD Harapan Mulia?”
“Buat apa? Pasti tidak ada orang saat ini.”
“Aku rindu pergi ke taman. Ayo kita pergi daripada kita di rumah,” ajak Bastian.
“Eh, tapi kita belum mandi!” Evo mengingatkan Bastian.
“Sesudah mandi, mari kita berangkat.”
Evo setuju dengan rencana Bastian. Mereka pun kembali ke kamar masing – masing untuk bersiap.
*****
Restoran.
Setelah selesai ke gedung pernikahan kedua keluarga tersebut pulang ke rumah mereka masing – masing, kecuali Bagas dan Dea. Mereka berdua pergi ke sbuah restoran untuk makan siang.
“Tidak ada, cukup itu,” jawab Dea.
Pelayan itu akhirnya pergi dari meja Dea dan Bagas. Sejak ketemu di gedung pernikahan, Bagas hanya diam seribu bahasa. Setiap Dea bertanya pada Bagas, dia hanya menjawab dengan menggeleng dan mengangguk kepalanya.
“Ada apa denganmu, Gas? Apa kamu masih sakit?” tanya Dea pada akhirnya. Dari tadi sebenarnya Dea ingin bertanya pada Bagas, tapi tidak enak karena ada keluarga mereka.
Bagas masih diam, dia masih memikirkan Evo. Hatinya masih berontak untuk tidak menikahi Dea, tapi ini demi keluarganya. Lagi pula Evo tidak mencintainya lagi.
“Gas, sebentar lagi kita akan menikah, orang yang menikah harus bicara tentang kesulitan yang dihadapi satu sama lain. Katakan ada apa?”
Didesak seperti itu, Bagas memutuskan untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Mungkin ini terdengar akan menyakitkan hatimu, Dea, tapi aku rasa kamu harus tahu kenyataan yang sebenarnya."
Firasat Dea menjadi tidak enak mendengar kata – kata Bagas. Dia merasa kalau semua ini berhubungan dengan Evo.
“Aku masih mencintai, Evo,” ucap Bagas jujur.
Dugaan Dea tepat, dia masih belum merespon ucapan Bagas. Bagas menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup melihat Dea.
“Lebih baik kita batalkan saja pernikahan kita,” pinta Bagas.
“Tidak! Aku tidak setuju!” tolak Dea.
Sudah banyak pengorbanan yang dilakukan Dea untuk Bagas. Dia tidak mau pengorbanan ini sia – sia. Dea harus menikah dengan Bagas apapun yang terjadi.
“Dea, tolong kamu mengerti, kalau aku….”
Dea menaruh jari telunjuknya di depan mulut Bagas, dia mau Bagas menutup mulutnya. Dia tidak sanggup mendengar kelanjutan dari ucapan lelaki itu.
“Aku tidak mau! Aku tidak setuju!” tegas Dea lagi pada Bagas. “Kenapa tidak waktu itu kamu menolak perjodohan ini? Kenapa?”
Bagas kembali bungkam. Waktu itu Bagas masih marah dengan Evo karena berselingkuh dengan Indra, tetapi setelah mendengar cerita Charlotte, Bagas dapat mengampuni Evo. Cinta Bagaspun tidak pernah pudar untuk Evo.
Dea menurunkan jarinya. Dia menatap mata Bagas dengan tajam, Dea kecewa dengan keputusan Bagas.
“Jangan hentikan semua ini, Gas. Aku mohon, kamu akan melukai hati keluarga kita. Aku tidak mau karena keputusan kamu, orang tua kita jatuh sakit,” ucap Dea.
Dea berdoa semoga omongan dia diterima oleh Bagas. Bagas mau memikirkan ucapan Dea barusan.
“Aku tidak bisa, Dea, aku tidak mau menyakiti kamu.”
Dea mulai berurai air mata, Bagas masih berkeras hatinya untuk membatalkan pernikahan.
“Bagas, tolong pikirkan. Aku tidak mau orang tuaku sakit, jangan egois, Gas!”pinta Dea dengan memohon.
Perkataan Dea ada benarnya, Bagas jadi egois karena cinta butanya pada Evo. Dia mengorbankan keluarganya karena keinginan dia bersama Evo.
“Atau… atau begini saja, Gas…, beberapa bulan kemudian kita bercerai, ya kita bercerai, tapi jangan batalkan pernikahan kita,” usul Dea masih berurai air mata.
Bagas menghapus air mata Dea. Dia sadar kalau dirinya tidak memikirkan perasaan keluarga Bagas maupun Dea. Apalagi Pak Hermawan begitu menyayangi Bagas seperti anaknya sendiri. Tak pernah sekali pun Pak Hermawan menyakiti hati Bagas.
“Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita, Dea. Maafkan aku telah egois,” ucap Bagas akhirnya.
Dea senang mendengarnya, tapi dia mengutuk Evo dan bersumpah akan memberi pelajaran pada wanita itu. Ya, Dea bersumpah.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤