
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Sorenya di Rumah Sakit.
Bagas dan aku sampai di rumah sakit ketika matahari sudah mulai tidak menampakkan dirinya. Kami menuju ke ruangan VVIP untuk bertemu kedua orang tua Bagas.
Tok, tok, tok.
Pintu kamar ruangan VVIP diketok oleh kami berdua. Kami menunggu pintu dibuka dari dalam. Aku dan Bagas sudah tahu bahwa Pak Freddy sudah sadarkan diri, Charlotte yang memberitahu kepada Bagas.
Pintu pun terbuka, yang membuka pintu adalah Bu Lina. Melihat kami berdua yang datang raut wajah wanita itu berubah kecut.
"Ternyata masih ada hati kamu untuk ke sini bertemu Papamu," ucap Bu Lina pedas. Setelah mendengar perkataan Bu Lina, kami masuk ke ruangan Pak Freddy. Di ruangan tersebut hanya ada Charlotte, Pak Freddy dan Bu Lina.
"Mas Bagas, akhirnya Mas Bagas datang juga," kata Charlotte langsung memeluk kakak laki - lakinya itu. Setelah berpelukan dengan adiknya, Bagas menghampiri Papanya, Pak Freddy.
"Hai, Pap. Maaf Bagas baru bisa datang menjenguk, Papa," ucap Bagas meminta maaf lalu memeluk Papanya itu. Setelah memeluknya, Bagas berdiri di samping Pak Freddy.
"Hai, Om Freddy," sapaku lalu mencium tangan orang tua itu. Pak Freddy tidak menanggapi diriku.
"Anakku Bagas, bagaimana keadaan kamu?" tanya Pak Freddy.
"Bagas baik - baik saja, Pak, yang tidak baik perusahaan kita," ungkap Bagas sedih, "Bagaimana keadaan Papa?"
"Papamu sudah hampir mati kemarin, tapi kamu sangat tidak peduli dengannya. Ke mana saja kamu selama ini? Begitu bencinyakah kamu dengan keluargamu karena wanita ini?" omel Bu Lina sambil menunjuk ke arahku.
"Mam, jangan membuat keadaan Bagas semakin sulit. Bagas tidak mau bertengkar dengan Mama. Aku tidak mau Papa sakit lagi karena melihat kita bertengkar," pinta Bagas.
"Keluar kamu, Evolet! Tante tidak suka dengan kehadiran kamu di sini! Saya harap kamu mengerti!" perintah Bu Lina padaku.
"Evo tetap di sini, Ma!" ujar Bagas.
"Bagas, sebaiknya aku menunggu di luar ya," pintaku. Aku tidak mau menimbulkan pertengkaran yang dahsyat antara ibu dan anak. Bagas memegang tanganku, mencegah aku pergi, tapi aku melepaskan tangan Bagas. Aku tidak mau Pak Freddy jatuh sakit lagi.
Aku melangkah ke luar dengan dipandang Bu Lina dengan tatapan tajam. Charlotte mengikuti diriku dari belakang.
"Akhirnya mengerti juga dia untuk keluar dari ruangan ini!" ucap Bu Lina. Bagas hanya diam, dia sudah tidak bisa berbuat apa - apa. Dia tidak punya kuasa apa pun lagi sekarang.
"Sudahlah, Mam. Jangan membahas Evolet lagi, kita harus fokus dengan membantu Bagas," kata Pak Freddy.
"Kalau bukan karena wanita ini, perusahaan kita tidak akan seperti ini, Pap!" omel Bu Lina lagi. "Apa kamu sadar, Gas? Semenjak kamu dengan Evo hidupmu selalu tidak beruntung."
"Papa bilang cukup!" perintah Pak Freddy membungkam Bu Lina. Pak Freddy tidak tega melihat Bagas yang tidak penuh semangat. Masalah yang diberikan Pak Freddy dan Bu Lina benar - benar membuat Bagas terguncang.
"Apa yang bisa Papa bantu untuk mempertahankan Perusahaan Pratama?" tanya Pak Freddy ingin sedikit membantu anaknya.
"Bagas pinjam uang Papa. Tiga hari lagi karyawan Pratama akan gajian, tapi uang buat gajian para karyawan kurang karena tidak ada pemasukkan. Banyak kontrak yang putus, dan kerja sama dengan para perusahaan yang lain tidak dilanjuti," cerita Bagas sedih. Pak Freddy kenal sekali dengan anakknya ini, Bagas tidak akan pernah datang minta bantuan apabila tidak mendesak. Ini kali pertamanya Bagas minta tolong pada Papanya, Pak Freddy.
"Papa akan bantu, tapi ini harta terakhir kita punya, Gas. Kamu harus segera kembali bangkit," ucap Pak Freddy.
"Papa, tidak bisa! Papa tidak boleh memberikan semua investasi kita pada Bagas. Bagaimana cara kita membayar rumah sakit?" pekik Bu Lina tidak setuju dengan keputusan suaminya, Pak Freddy.
"Bagas akan jual apartemen yang Bagas tinggalin sekarang. Semoga itu bisa membantu untuk sementara waktu biaya pengobatan Papa," usul Bagas.
Bu Lina langsung diam mendengar ucapan anaknya. Dia tidak menyangka Bagas mau menjual apartemen kesayangannya itu.
"Kenapa kamu begitu kerasnya mempertahankan Evo? Padahal Pak Hermawan dan Bu Heni ingin sekali membantumu. Kenapa, Gas?" tanya Bu Lina setelah beberapa saat diam.
Bagas hanya diam menanggapi omongan Bu Lina, Mamanya.
"Apa maksud kamu? Jadi Bagas sudah dibantu keluarga Hermawan?" tanya Pak Freddy, "Betapa beruntungnya kamu, Bagas."
"Bagas belum jawab bantuan Om Hermawan, Pap." jawab Bagas.
"Kenapa Bagas? Om Hermawan itu sangat menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Papa heran kamu menolak bantuan mereka," heran Pak Freddy.
"Ada syarat yang diberikan Tante Heni padaku. Bagas tidak bisa menerima syarat itu," lirih Bagas. Bagas tidak mau meninggalkan Evo. Dia tidak mau berpisah dengan pelabuhan terakhirnya.
"Apa syarat itu?" tanya Pak Freddy.
"Syarat menikahi Dea, dan meninggalkan Evo," Bu Lina yang menjawab pertanyaan suaminya. "Itu sangat mudah, Bagas. Sangat mudah."
"Apa betul yang dikatakan Mamamu Bagas tantang syarat itu?" tanya Pak Freddy lagi. Bagas mengangguk lemah. Dia benar - benar dalam keadaan sulit.
"Kamu harus memenuhi syarat itu!" perintah Pak Freddy pada anaknya.
"Tapi, Pah, Bagas tidak mau! Bagas hanya cinta dengan Evo!"
"Cinta tidak harus memiliki, Bagas. Nasib ribuan orang ada di tanganmu, kenapa kamu begitu egois?" ucap Pak Freddy. Kata - kata Pak Freddy seperti tamparan hebat buat Bagas.Bagas tidak menyangka Pak Freddy akan berkata seperti itu padanya. Pak Freddy benar sekali nasib ribuan karyawan ada di tangan Bagas. Kalau Bagas mundur dari jabatannya kemungkinan yang terjadi adalah kebangkrutan perusahaannya itu. Disisi lain Bagas tidak bisa melepaskan Evo.
"Evo bukan perempuan yang baik, Nak. Ketika kamu jadi orang miskin, Mama yakin dia akan mencampakkan kamu!" pesan Bu Lina mengingatkan anaknya Bagas.
*****
Di luar ruangan.
"Maafkan Mama ya, Mbak," pinta Charlotte pada aku. Kami sedang duduk di luar ruangan Pak Freddy.
"Aku sudah biasa, Char. Kamu santai saja ya. Bagaimana keadaan kamu? Bagas cerita kamu sedang skripsi ya?" tanyaku mengubah topik pembicaraan.
"Iya, Mbak. Aku lagi bimbingan skripsi. Bulan depan akan sidang, doakan aku lulus ya," pinta Charlotte padaku.
"Aku akan doakan. Kamu kuliah di mana?" tanyaku lagi.
"Aku kuliah di salah satu universitas di Jakarta. Tadinya Mama menyuruhku kuliah di luar negeri. Aku setuju, tapi aku tidak betah. Aku minta pindah ke Jakarta. Universitas di Jakarta juga tidak kalah bagus dengan yang di luar negeri," jelas Charlotte.
"Aku tidak seperti mereka, Mbak. Aku senang kuliah di sini karena aku juga tidak mau meninggalkan keluargaku. Mereka harta yang paling berharga bagiku," Charlotte memberikan pendapat. Ternyata Charlotte beda dengan anak orang kaya pada umumnya, dia benar - benar rendah hati dan mementingkan keluarga dari pada gengsinya.
"Aku salut dengan kamu sayang," pujiku padanya.
"Terima kasih, Mbak Evo," kata Charlotte lagi. Seandainya Mama tidak melihat sisi miskinnya Mbak Evo, sebenarnya Mbak Evo lebih baik dari pada wanita yang selama ini mendekati Mas Bagas termasuk Dea, puji Charlotte dalam hati.
"Mbak Evo, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Charlotte mengubah topik pembicaraan.
"Silahkan. Tentu saja boleh," izinku padanya.
"Kenapa Mbak Evo begitu mencintai Mas Bagas?" tanya Charlotte setelah memberikan izin.
"Kenapa ya? Kalau ditanya kenapa? Aku jadi bingung. Cinta itu ibarat seperti udara, kamu dapat merasakan tapi kamu tidak bisa menyentuhnya. Sama halnya rasa cintaku pada Bagas, aku merasakan rasa cinta Bagas tapi aku tidak punya alasan mengapa aku mencintai Bagas," jelasku. Charlotte mengangguk merespon perkataanku.
"Bagas itu seperti gelas. Dia sepertinya kuat tetapi hatinya sangat rapuh," kataku lagi menjelaskan.
"Seandainya Mas Bagas minta berpisah padamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Charlotte lagi.
"Kalau itu keputusan yang terbaik dan membuat Bagas bahagia aku ikhlas untuk berpisah dengan Bagas. Aku tidak mau memaksakan rasa cintaku pada Bagas karena cinta tidak harus memiliki," kataku lagi,"Kenapa kamu tanya seperti itu?"
"Ah, tidak. Sekedar tanya saja," ucap Charlotte. Mas Bagas benar - benar beruntung memiliki Mbak Evo yang sangat mencintainya dengan tulus, puji Charlotte dalam hatinya.
"Bagaimana keadaan Perusahaan Pratama, Mbak?" tanya Charlotte mengalihkan pembicaraan.
"Keadaan perusahaan sangat sulit, Char. Aku menyuruh Bagas untuk segera menjenguk Om Freddy dan cerita dengan Bu Lina tentang kesulitan dia menghadapi permasalahan ini. Bagas tidak boleh berhenti berkomunikasi dengan keluarganya," cerita aku pada Charlotte.
"Aku setuju dengan perkataan Mbak Evo. Mas Bagas itu jarang sekali berkomunikasi denga Papa dan Mama. Dia juga jarang minta macam - macam pada Papa dan Mama. Segala barang yang ada di dalam tubuh Mas Bagas itu adalah usahanya sendiri. Papa dan Mama sangat sayang sama Mas Bagas," ungkap Charlotte.
Aku mengangguk, lalu berkata, "Aku juga sedih mendengar kabar dari Bagas kalau keluarga Dea tidak dapat bantu meminjamkan uang pada Bagas. Padahal mereka orang kaya."
"Apa Mas Bagas tidak cerita kenapa keluarga Mbak Dea tidak mau bantu?" tanya Charlotte.
"Bagas tidak cerita padaku," kataku lagi.
"Bukan keluarga Mbak Dea yang menolak, tapi Mas Bagas yang menolak," kata Charlotte.
"Apa katamu? Kenapa Bagas begitu bodoh menolak pertolongan itu?" tanya aku tidak percaya.
"Ada syarat yang harus dipenuhi Mas Bagas, tapi Mas Bagas tidak mau memenuhi persyaratan itu," jelas Charlotte.
"Apa syarat itu?" tanya aku lagi dengan rasa penasaran.
"Syarat itu adalah....,"
Ketika Charlotte hendak menjelaskan, Bagas ke luar dari ruangannya.
"Mas Bagas," kata Charlotte terkejut tidak menyangka kakaknya keluar begitu cepat dari ruangan papanya. Aku dan Charlotte berdiri melihat Bagas keluar.
"Bagaimana? Apa yang dikatakan Om Freddy dan Tante Lina?" tanyaku penasaran.
"Papa mau meminjamkan uangnya. Aku juga berencana menjual apartemen untuk membantu biaya rumah sakit Papa," ucap Bagas.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya," legaku.
"Apa? Kenapa Mas Bagas jual apartemen?" tanya Charlotte tidak percaya, "Aku tidak setuju. Pasti ada jalan keluar. Apartemen yang Mas Bagas tinggalkan sekarangkan kesayangan Mas."
"Mas Bagas bisa beli lagi nanti," jelas Bagas lalu memeluk adik perempuannya itu untuk menenangkan Charlotte.
"Bagaimana skripsi kamu?" tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.
"Lancar Mas Bagas. Bulan depan rencana sidang, kalau lulus bulan November aku wisuda." jelas Charlotte.
"Cepatlah selesaikan. Mas Bagas sangat membutuhkan kamu untuk membantu Mas Bagas menjalankan perusahaan," pinta Bagas.
"Siap laksanakan, Bos," janji Charlotte dengan optimis.
"Mas Bagas dan Evo pamit pulang. Besok kami akan ke sini lagi," ucap Bagas.
"Kamu jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Membuat skripsi itu pasti menguras tenaga." kataku pada Charlotte.
"Mbak Evo benar, aku sempat stress karena skripsi ini," ungkap Charlotte terus terang.
"Kalau kamu butuh bantuan Mas, datanglah ke kantor. Nanti Mas pasti bantu," ucap Bagas.
Charlotte mengangguk, kemudian berkata,"Tenang Mas, aku masih bisa mengatasi ini semua."
"Kami pulang ya, Char," pamit kami.
Setelah berpamitan dengan Charlotte kami pergi melangkah pulang.
*****
Perusahaan Pratama, ruangan Maureen.
"Evo tidak bisa berkunjung ke ruanganku. Dia janji besok akan bertemu dengan kita," kata Maureen mengabari Dina via telepon.
"Oke. Aku menunggu kabar kamu besok," ucap Dina mengakhiri pembicaraan.
Maureen menutup teleponnya kemudian membuka laptopnya. Berita keberhasilan Perusaan Pratama sudah disiarkan oleh aku dan Mbak Meli. Rating pemberitaan ini juga begitu baik. Semoga banyak investor dan perusahaan yang lain mengadakan kontrak pada Perusahaan Pratama.
"Terima kasih, Tuhan banyak respon baik dari pemberitaan yang kami bagikan tadi siang. Semoga aku dan Mbak Meli dapat membantu Bagas dan Perusahaan Pratama," harap Maureen.
*****