
Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
"Jadi kenapa kamu mengajak aku bertemu?" tanya Indra.
Hari ini aku memutuskan untuk bertemu dengan Indra. Maureen tidak bisa seperti ini terus. Semoga pembicaraan aku dengan Indra tentang Maureen menemui titik terang, paling tidak Indra mau bertemu dengan Maureen dulu.
"Tolong aku, temui Maureen sekali saja," pintaku.
Indra menarik napas. Maureen lagi, Maureen lagi. Kenapa mantannya lagi yang menjadi topik pembicaraan ini? Indra sudah tidak mencintai Maureen.
"Maaf, Evo aku tidak bisa. Maureen yang memutuskan aku. Jadi kenapa aku yang harus menemui dia?" tanya Indra.
"Dia mencoba bunuh diri, Indra. Apa kamu tidak punya rasa kemanusiaan? Paling tidak, kamu menjenguknya." komentarku. Indra sangat menyebalkan. Apa dia tidak punya hati?
Indra memegang tanganku, lalu berkata,"Tentu saja aku masih ada hati, apa lagi hati yang mencintai, Evo."
Aku menepis tangan Indra, "Apa kamu sudah gila?"
"Gila karena mencintai kamu," tegas Indra.
"Jangan seperti ini, Indra. Jangan membuat hidupku tambah rumit. Tolong aku." pintaku memelas.
Indra terdiam sejenak. Dia berpikir sesuatu. Kalau aku tidak membantu Evo, maka Evo akan membenciku. Padahal aku mau Evo mencintaiku.
"Aku mau bertemu dengan Maureen tapi dengan satu syarat," ucap Indra. Perkataan Indra membuat hatiku senang. Maureen pasti semangat untuk hidup lagi.
"Apa itu?" tanya aku.
"Berkencanlah denganku, maka aku akan menolong Maureen." Indra memberikan syarat yang membuatku terkejut. Aku sangat tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
"Sejak kapan kamu mencintaiku, Ndra?" tanyaku.
"Sejak pertama kali kita bertemu, Vo. Sejak Maureen memperkenalkan dirimu padaku. Setiap hari aku selalu mengingat wajahmu. Aku selalu membayangkan Maureen adalah dirimu."
"Ini salah, Ndra. Salah," ucapku tidak percaya.
Indra memegang tanganku kembali, "Sekali saja, aku mau merasakan dirimu. Aku ingin berdua denganmu, Vo. Hanya itu yang aku minta padamu."
PAK!
Aku menampar Indra. Aku sangat sedih dan kecewa dengannya. Kenapa otaknya begitu kotor? Kenapa harus mengorbankan Maureen? dan satu lagi kenapa dia mencintaiku?
"Sadarlah, Indra. Aku sudah punya tunangan, dan kamu sudah punya Maureen. Jangan membuat semuanya semakin rumit." kataku. Setelah berkata seperti itu aku pergi meninggalkan Indra.
"Suatu hari kamu pasti akan kembali padaku. Aku yakin kamu akan memenuhi semua permintaanku," ucap Indra.
Tiba - tiba seseorang menghampiri Indra.
"Hai," sapa orang itu.
"Siapa kamu?" tanya dia.
"Alexandra. Sepertinya kita bisa saling bantu," ucap dia.
******
"Hai, Rafael. Akhirnya kita bertemu juga. Maafkan aku kemarin tidak sempat bertemu denganmu di sini," ucapku lalu menjabat tangannya.
"Santai. Silahkan duduk," Rafael mempersilahkan. Pria itu memberikan surat kontrak untuk aku tanda tangani. Aku membacanya sebentar kemudian menandatanganinya.
"Terima kasih untuk bantuanmu menerbitkan bukuku." kataku.
"Tulisan kamu itu bagus, Vo. Aku malah senang bisa mendapatkan penulis sehebat dan sebagus dirimu," puji Rafael padaku.
"Kamu terlalu memuji aku. Fa...."
"Apa?" tanya Rafael.
Apa aku cerita saja dengan Rafael tentang Indra? Aku berpikir matang - matang. Jangan sampai aku salah langkah, tapi aku sangat bingung sekarang.
"Halo, Evo! Kenapa malah diam?"
"Tidak, tidak usah. Tidak terlalu penting. Sebaiknya aku pergi, aku mau ke kantor Bagas."
"Baiklah. Hati - hati di jalan," ucap Rafael.
*******
Tok, tok, tok
"Masuk," izin dari dalam.
"Hai, calon suami aku," sapa aku. Bagas tersenyum melihat kedatanganku. Aku menghampiri Bagas, dan memeluknya.
"Oh, oh. Ada apa denganmu? Begitu agresifnya kamu hari ini," ucap Bagas.
"Jadi apakah aku tidak boleh memeluk dirimu? Kamu begitu tampan hari ini," rayuku.
"Kamu. Kamu yang merasuki diriku," ujarku. Aku mencium Bagas. Bagaspun membalasnya. Kami saling menunjukkan cinta kami. Aku dan Bagas tidak peduli dengan CCTV yang dipajang di ruangan ini.
Ceklek.
"Bagas!!!!!" teriak Dea yang masuk tanpa mengetuk. Dia melihat aku dan Bagas sedang bercumbu. Dea terkejut melihat hal tersebut. "Maaf. Seharusnya kalian menutup pintu kalau melakukan hal tersebut."
Aku dan Bagas menghentikan perbuatan kami. Aku merapikan baju, begitu pula dengan Bagas. Kami berdua terkejut dengan kedatangan Dea. Salah kami juga melakukan hal ini tanpa mengunci pintu.
"Kamu mengganggu, Dea!" kesal Bagas.
"Maaf, aku dapat pesan dari Mamamu. Hari ini keluarga kita akan mengadakan makan malam," kata Dea sambil tertawa.
"Baik. Pesan diterima, kamu boleh keluar!" usir Bagas. Deapun langsung bergegas keluar.
"Jangan galak - galak sama Dea," saranku.
Bagas menarik tubuhku lagi. Aku melepaskan pelukannya. Dia menatap mataku dengan tajam seolah berkata kenapa? Aku menuju ke pintu dan mengunci pintu tersebut. "Kalau seperti ini akan aman sayang."
********
Drrt.
Pesan masuk di ponselku.
Indra : Maafkan aku perbuatanku tadi. Aku akan menjenguk Maureen hari ini.
Aku tidak percaya dengan apa yang aku baca. Akhirnya Indra sadar atas perbuatannya. "Sykurlah," kataku.
"Kenapa sayang?" tanya Bagas mendengar ucapanku. Aku masih di ruangan Bagas.
"Indra mau bertemu dengan Maureen hari ini," ujarku memberi kabar baik pada Bagas.
"Syukurlah. Semoga Maureen segera sembuh dari sakitnya," Bagas menanggapi ucapanku. Dia memeriksa kembali pekerjaannya. Begitu juga aku, aku melanjutkan menulis novelku lagi. Novel keempatku sudah mau rampung, tapi aku harus mengedit beberapa bab karena menurutku akan membuat para pembaca bosan.
"Ngomong - ngomong aku baru teringat sesuatu," ucap Bagas.
"Apa?" tanyaku.
"Aku belum pernah membaca novelmu! Apa judul novelmu? Biar nanti aku pesan yang banyak agar semua para karyawan membaca karyamu."
Aku tersenyum, kemudian dengan tegas berkata, "Tidak boleh Bagas! Itu namanya curang!"
"Kenapa curang? Aku kan hanya membantumu agar kamu semakin terkenal," ujarnya lagi.
"Itu namanya pemaksaan kehendak! Aku tidak mau seperti itu. Mengerti kesayangan aku?"
Bagas manyun menanggapi perkataan diriku. Aku tertawa, lalu berkata lagi," Terima kasih sayang, kamu sudah ada di sisiku saja sudah membuat aku bahagia. Sarangheyo."
"Apa itu? Sarang tawon?" tanya Bagas dengan muka serius.
"Bukan satang tawon! Sarangheyo artinya aku mencintaimu," jelasku.
"Kirain aku kamu ngatain aku sarang tawon! Sarangheyo juga," ucap Bagas. Aku tertawa.
*****
Rumah Sakit
Tok, tok, tok.
Bunyi ketukan pintu ruangan VVIP tempat Maureen di rawat. Mama Maureen yang sedang menjaga membukakan pintu tersebut. Matanya terbelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hai, Tan. Bolehkah saya masuk?" tanya Indra.
"Silahkan, Nak. Silahkan. Pasti Maureen senang melihat kamu di sini. Maureen, Maureen! Lihat siapa yang datang," ucap Mama Maureen dengan gembira.
"Indra?" tanya Maureen tidak percaya.
"Hai, Maureen. Bagaimana keadaan kamu?" Indra bertanya. Lalu dia menghampiri tempat tidur Maureen. Mama Maureen keluar untuk memberikan waktu kepada mereka buat bicara.
"Aku baik, dan bahagia, Ternyata kamu mau menjengukku," jujur Maureen. Maureen memegang tangan Indra, lalu mencium tangannya.
"Aku harap kamu segera mengakhiri drama ini, Ren." pinta Indra.
"Aku sungguh tidak bisa berpisah denganmu, Indra. Aku sangat mencintaimu," jawab Maureen. Indra melepaskan tangannya dari tangan Maureen.
"Kalau memang kita ditakdirkan bersama, aku pasti akan kembali padamu. Aku mohon bangkitlah seperti Maureen yang aku kenal. Aku tidak mau disalahkan karena kamu memilih jalan yang salah. Apa memang itu niatan kamu? Apa kamu sengaja membuat aku menderita?" tanya Indra dengan muka sedih.
"Tidak, tidak. Bukan itu maksudku, sayang. Aku, aku hanya...."
"Berjanjilah padaku, Ren. Janji padaku untuk tidak melakukan hal bodoh seperti ini."
"Maafkan aku, Indra. Aku egois memaksamu untuk kembali padaku. Padahal kamu sudah bilang akan memikirkan lagi. Maafkan aku telah membuat dirimu susah. Aku janji padamu tidak akan berbuat hal nekat seperti ini lagi, tapi tetaplah menjadi temanku," pinta Mauureen pada Indra
"Aku setuju. Kita akan tetap menjadi teman," kata Indra. Akhirnya, selesai juga membujuk wanita ini. Sekarang aku bisa fokus mengejar orang yang aku cintai, Evolet Rebecca.