
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
"Kenapa Evo belum pulang ya? Tadi dia menelepon aku tapi tidak aku angkat. Sekarang sudah pukul 9. Teleponnya tidak aktif lagi. Ke mana kamu Evo?" ujar Bagas gelisah. Bagas mondar - mandir di ruang tamu. Sambil dia menengok ke jendela siapa tahu Evo sudah sampai di rumah.
Drrt.
Bunyi pesan masuk ke ponsel Bagas. Dia mengambil ponselnya yang ada di meja ruang tamu. Dia membuka pesan tersebut. Bagas terkejut melihat kiriman gambar yang masuk ke dalam ponselnya.
"Ini tidak mungkin," ucap Bagas tidak percaya, "Evo dengan Indra?"
Pesan masuk yang dikirim diponsel Bagas, foto kemesraan Evo dan Indra. Bagas tidak percaya dengan kiriman foto ini. Bagas yang masih waras mencoba menghubungi nomor yang telah mengirimkan gambar itu, tapi sayang nomornya tidak aktif. Dia mencoba menelepon Evo, sayang pula nomornya Evo tidak aktif.
Drt.
Pesan masuk lagi ke ponsel Bagas.
Wanitamu sedang bermesraan dengan lelaki lain. Bila kamu tidak percaya, datanglah ke hotel Anggun dengan nomor kamar 3456. Kamu buktikanlah perkataanku. Dia tidak jujur padamu.
"Siapa ini? Berani sekali dia memfitnah Evo!" ucap Bagas marah. Bagas segera mengambil kunci mobilnya. Diapun pergi untuk membuktikan kalau pesan itu salah.
*****
Rumah Maureen.
Drrt.
"Siapa yang mengirim pesan malam - malam begini?" tanya Maureen yang baru saja selesai mandi. Maureen mengambil ponsel ditasnya. Lalu membuka pesan tersebut.
Tangan Maureen bergetar, matanya membesar. Maureen sangat terkejut dengan pesan yang baru saja dia lihat. Maureen berkata, "Ini tidak mungkin, tidak mungkin!"
Maureen mendapat pesan foto Indra dan Evo yang sedang diranjang. Maureen tidak percaya kalau Evo mengkhianati dirinya. Begitu juga dengan Indra.
"Jadi selama ini orang yang dicintai Indra adalah Evo. Berarti foto yang pernah aku temukan itu adalah foto Evo yang disimpan oleh Indra. Jahat! Evo dan Indra bermain di belakangku!" ucap Maureen sedih.
Drrt.
Pesan masuk lagi ke ponsel Maureen.
Sahabat kamu adalah pengkhianat. Dia telah merebut pacar kamu, kalau kamu tidak percaya buktikanlah sendiri datanglah ke hotel Anggun dengan nomor kamar 3456.
Maureen segera menelepon nomor yang memberikan pesan tersebut, tapi sayangnya telepon tersebut tidak dapat dihubungi.
"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku harus segera ke hotel tersebut untuk membuktikan itu semua!" ucap Maureen.
****
Hotel, kamar 3456.
"Akhirnya, kita bisa menikmati malam ini berdua, Vo. Aku sangat mencintai kamu," ucap Indra. Tiba saatnya di mana Indra mendapatkan apa yag dia inginkan. Indra membuka bajunya.
"Kamu bagaikan bidadari yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku sudah lama ingin bersamamu seperti ini. Kamu jadi milikku sekarang sampai selamanya," ucap Indra lalu mencium aku.
Aku membuka mataku dengan perlahan.
"INDRA! Apa yang kamu lakukan padaku?" tanyaku tidak percaya. Indra menindih tubuhku. Indra hanya menggunakan celana panjangnya.
"Tenanglah, sayang. Kita akan menikmati malam ini hanya berdua saja. Aku dan kamu. Indra dengan Evo, bukan Bagas dengan Evo."
"Jangan Indra. Jangan aku mohon!" pinta aku pada Indra. Aku memberontak agar Indra menghentikan perbuatannya, tapi apa daya badan Indra terlalu kuat untuk aku lawan.
BRUKK!!
Pintu kamar didobrak dari luar.
Bu Lina, Pak Freddy, Bagas, Maureen dan Dea masuk ke dalam kamar.
"Evo!" jerit Bu Lina.
"Tante Lina!" ucap aku tidak percaya. Aku segera merapikan pakaianku yang hampir
"Evo? Tidak mungkinkan, tidak! Kenapa kamu dan Indra melakukan hal ini?" ujar Maureen terbata- bata..
"Aduh, nenek tua ini mengganggu kita pacaran saja sayang," kesal Indra. Indra menyingkir dari tubuhku.
"Tidak, Maureen. Tidak ini semua salah paham," ujarku menjelaskan.
"Sudahlah Evo, kita harus berterus terang pada mereka. Aku sudah tidak sanggup untuk menjalani hubungan seperti ini," pinta Indra.
"Apa yang kamu bilang? Jangan mengarang cerita!" amukku pada Indra.
Tes, tes, tes.
Air mata Maureen menetes dipipinya. Dia tidak sanggup melihat kenyataan ini. Maureen tidak menyangka dugaan Dina yang menjadi kenyataan
"Kamu jahat, Vo! Kalian berdua jahat!"
Aku menghampiri Maureen, lalu memegang tangannya. Maureen menepis tanganku. Dia menatap mataku dengan penuh kebencian.
"Maureen, aku mohon percayalah padaku. Aku mohon."
"Apa kamu sudah melihatnya, Bagas? Papa dan Mama selalu bilang padamu bahwa wanita ini tidak baik! Sangat tidak baik!" ujar Bu Lina.
"Ternyata kita benar! Kamu benar - benar wanita buruk, Vo!" maki Pak Freddy.
Bagas terkejut melihat ini semua, dia tak dapat berkata apa-apa lagi. Kepercayaan dia pada diriku hancur sudah. Hati Bagas ibarat gelas yang jatuh kemudian pecah dan tidak dapat kembali.
Aku menghampiri Bagas, kemudian aku berkata padanya, "Bagas, aku yakin kamu percaya sama aku. Aku tidak melakukan apapun dengan Indra."
Bagas hanya diam. Dia memandang aku penuh amarah. Tangannya dikepal dengan keras menahan amarah. Bagas harus melihat wanita yang dia cintai bersama dengan pria lain. Di sebuah ranjang dengan pakaian yang setengah telanjang.
"Kenapa kamu tidak bisa jujur, Vo? Sudahlah, katakan saja sejujurnya pada mereka bahwa kita sudah lama berhubungan seperti ini," ucap Indra lagi.
"Diam kamu, Indra! STOP! Jangan mengarang cerita!" marahku pada Indra.
"Apa kamu sudah gila bertanya seperti itu, Vo? Aku tidak menyangka kamu mengkhianati Bagas yang selalu membelamu. Bagas selalu bercerita bahwa Evonya adalah wanita yang baik. Evonya selalu setia padanya. Evonya adalah seorang bidadari yang turun dari langit yang diberikan Tuhan padanya. Ternyata cerita Bagas tidak benar. Aku sungguh kecewa padamu, Vo!" maki Dea.
"Bagas...." panggilku.
Satu - satunya harapan aku adalah Bagas. Kalau Bagas tidak percaya padaku, hancur sudah kehidupanku. Aku memandang Bagas penuh harapan. Aku hanya berharap jawaban Bagas sesuai dengan keinginanku.
Indra menarik tangan aku untuk menjauhi Bagas.
"Lepas!" kataku. Aku kembali ke menghampiri Bagas.
"Sudahlah, Vo. Jangan berpura - pura lagi. Aku sudah lebih kaya dari pada Bagas. Orang tua Bagas tidak pernah setuju dengan hubungan kalian. Sudah terlanjur ketahuan. Kita akui saja pada mereka."
"Jangan mengarang terus, Indra!" bentakku.
"TIdak. Indra tidak mengarang. Aku putus dengan Indra karena kamu. Indra tidak mau kembali padaku karena Indra mencintai kamu. Indra tidak bohong. Dia benar."
"Tidak, Ren. Kamu salah paham. Tolong dengarkan aku, kamu salah paham." kataku.
Aku tidak mampu berkata apa - apa lagi. Situasi saat ini sangat membuat aku terpojok. Bagas hanya diam saja. Bagas, bicaralah. Apa aku tidak pantas untuk dipercaya?
PAK!
Bu Lina menampar aku. Wanita tua itu kesal dengan kelakuanku.
"Diam wanita murahan! Kamu tidak pantas untuk bicara lagi. Apa kamu tidak berpikir dahulu sebelum mengkhianati Bagas? Bagas selalu membela kamu dihadapan kami. Dia rela meninggalkan jabatannya demi kamu! Dia juga melawan kami demi kamu. Sekarang apa balasan yang kamu terima?" marah Bu Lina.
"Cukup sudah! Jangan mendekati Bagas lagi," ucap Pak Freddy marah.
"Hei, Tante tua dan Om tua! Apa yang kamu lakukan padanya?" bentak Indra.
"Jangan membentak orangtuaku!" bentak Bagas.
"Wah, akhirnya Tuan muda sudah bisa bicara juga. Maaf tapi Evomu sudah jadi milikku."
"Brengsek!" maki Bagas.
"Apa? Apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak mendengarnya! Apa sebegitu lemahnya kamu sehingga tidak bisa mengeluarkan suara? Dasar cowok lemah!" ledek Indra.
BUK!
Bagas memukul Indra. Indra tersungkur jatuh. Dari tadi Bagas menahan diri untuk tidak memukul Indra. Emosi dia sudah sangat tinggi.
Indra memegang bibirnya. Terdapat luka kecil di bagian pinggir bawah bibir Indra.
"Apa hanya ini saja tenagamu, Bagas?" ejek Indra lagi.
"Aku bisa membunuhmu di sini kalau kamu mau," ucap Bagas.
"Aku tidak segampang itu untuk mati, Bagas."
Gawat! Indra terlalu banyak bicara. Mata Bagas sama seperti dulu ketika dia meninggalkanku. Bagas sudah sangat marah, dia akan benar - benar membunuh Indra. Bagaimana ini? Indra, berhentilah bicara, ucap Dea dalam hati.
"Jangan banyak bicara, Indra. Kamu memang salah," Dea memperingatkan Indra.
Bagas mendekati Indra. Lalu memberikan pukulan demi pukulan kepada Indra. Mereka berkelahi satu sama lain. Bagas meninju perut Indra, Indra membalas pukulan Bagas.
"Berhenti!! Bagas berhenti!" teriakku.
"Bagas, cukup!" perintah Pak Freddy.
"Jangan Bagas!" pinta Bu Lina.
Maureen yang melihat Indra dipukuli Bagas menjadi gemetaran. Dia sangat takut kalau Indra nanti mati. Jauh di dalam lubuh hati Maureen, nama Indra masih terukir.
Aku harus menolong, Indra.
Maureen berlari ke tengah diantara Bagas dan Indra.
BUK!
Bagas yang tidak melihat kedatangan Maureen lalu memukul Maureen hingga pingsan.
"Maureen!" tangkap Indra saat tubuh Maureen terjatuh.
"Tidak! Maureen!" aku berteriak.
*****
Bandara Kuala Lumpur Malaysia.
Dia terbangun. Perasaannya tidak enak. Dia teringat akan Evo.
"Ada apa dengan kamu?" tanya dia.
"Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Evo."
"Dear passengers, welcome to Kuala Lumpur Airport. flight to Indonesia......"
"Semoga tidak terjadi apa - apa dengan Evo. Ayo kita berangkat. Pesawat kita sudah mau lepas landas."
*****
Apa yang terjadi dengan Maureen? Siapa yang akan ke Indonesia? Saksikan kelanjutan di episode berikutnya. Jangan lupa ya untuk LIKE, dan VOTEnya. Terima kasih telah sayang sama MOY.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤