MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Menantu Keluarga Pratama



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Rumah keluarga Pratama.


 


 


  Setelah selesai sarapan, Charlotte menuju ke kama Bagas. Sejak dia sadarkan diri, tak sekalipun Bagas keluar dari kamar. Pak Freddy dan Bu Lina sudah pergi ke kantor untuk menyelesaikan masalah dengan Bastian.


 


 


Tok, tok, tok.


 


 


  Tidak ada jawaban dari dalam, Charlotte masuk. Dia melihat Bagas masih murung. Sepertinya luka dalam hatinya belum sembuh juga. Charlotte menghampiri kakaknya itu, dan memberikan senyuman.


 


 


  “Bagaimana keadaanmu?” tanya Charlotte.


 


 


  Charlotte yang tadinya berdiri, kemudian mengambil posisi duduk di samping Bagas. Kakak laki – lakinya itu belum mau menjawab pertanyaan Bagas.


 


 


  “Mas Bagas, sampai kapan kamu akan begini?” tanya Charlotte dengan tatapan sedih, “aku sangat sedih melihatmu seperti ini.”


 


 


  Bagas menatap ke arah luar jendelanya. Dia berharap kalau semua yang terjadi dalam hidupnya adalah sebuah mimpi buruk. Jadi ketika dia bangun, Evo masih ada di sisinya.


 


 


  “Bangkitlah, Mas. Kalau kamu masih peduli denganku, tolong kembalilah seperti Mas Bagas yang aku kenal dulu.”


 


 


  Bagas menghela napas panjang. Pikirannya masih kacau karena Evo. Detik ini dia masih tidak percaya perbuataan Evo padanya. Dia memberikan cinta sepenuhnya pada Evo, tetapi Evo memberikan pengkhianatan padanya. Apalagi Bagas mendengar bahwa Evo sudah punya pacar lagi.


 


 


   Charlotte memegang tangan Bagas. Lelaki itu yang merasakan tangannya disentuh, memandang adiknya. Dia sangat terkejut melihat adiknya menangis. Bagas menghapus air mata adiknya.


 


 


  “Sudah, jangan menangis lagi. Mas sudah tidak apa –apa,” kata Bagas mencoba menenangkan adik semata wayangnya.


 


 


“Berjanjilah satu hal padaku, Mas,” pinta Charlotte.


 


 


  “Katakanlah.”


 


 


  “Kembalilah seperti dulu. Aku yakin kalau Mbak Evo….”


 


 


“Jangan sebut namanya lagi!” potong Bagas. Ia sudah lelah setiap detik memikirkan Evo. Bagas ingin sejenak berhenti memikirkan wanita itu.


 


 


  “Baik – baik. Aku tidak akan menyebut namanya. Sekarang, aku minta kamu keluar ya dari ruangan ini dan sarapan di ruang tamu.”


 


 


  Bagas mengangguk kepalanya, kemudian dia bangkit dari tempat tidur. Mungkin yang dapat dilakukan Bagas sekarang adalah memberikan kebahagian pada adik perempuannya ini.


 


 


  “Ada makanan apa?” tanya Bagas, diikuti oleh adiknya. Charlotte sangat senang Bagas mau mendengarkan dirinya. Semoga nanti dia juga bisa membantu memperbaiki hubungan Bagas dan Evo.


 


 


*****


Rumah kediaman Hermawan.


 


 


  “Silahkan masuk, Tante,” ucap Dea ramah.


 


 


   Masih sangat pagi Pak Freddy dan Bu Lina sudah tiba di kediaman Hermawan. Hari ini sesuai rencana, Pak Hermawan akan membantu keluarga Pratama untuk mendapatkan haknya kembali.


 


 


   “Masuk, Freddy! Apa kalian sudah sarapan?” sapa Pak Freddy melihat kehadiran mereka berdua.


Pak Freddy dan Bu Lina tiba di ruang makan keluarga Hermawan. Mereka ikut duduk di meja makan tersebut. Dea menghampiri Mamanya, Bu Heni untuk membantu mengangkat sarapan. Bu Heni sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya tercinta.


 


 


  “Bagaimana keadaan Bagas?” tanya Pak Hermawan ketika melihat keduanya sudah duduk di posisi yang nyaman.


 


 


  “Bagas sudah membaik, aku sangat bersyukur akan hal itu. Tidak mudah untuk menerima kalau dia sudah dikhianati.”


 


 


  “Mama malah bersyukur, Pa, Bagas sudah tahu sekarang kebusukan wanita itu. Seandainya Bagas tahu saat menikah, pasti nama baik keluarga kita semakin hancur,” ucap Bu Lina dengan ketus.


 


 


  “Sarapan sudah tiba!” ucap Bu Heni membawakan banyak makanan dibantu oleh Dea. Bu Heni menyusun makanan tersebut dengan rapi.


 


 


  “Kalian datang tepat waktu,” ucap Bu Heni, “sebagian besar makanan ini adalah buatan Dea.”


 


 


  “Sungguh?” tanya Bu Lina, “tadinya Tante ingin menolak sarapan di tempatmu, Dea, tapi karena tahu kamu yang masak, Tante mengurungkan niat.”


 


 


  “Ah, Tante bisa saja! Dea belum mahir memasak, Tan!” ucap Dea.


 


 


  Bu Heni memegang lembut kepala Dea, kemudian berkata, “Dia hanya merendahkan hati, masakan anak ini sangat enak. Dia pernah kursus masak dulu di Perancis. Benarkan, Pa?”


 


 


  Pak Hermawan mengangguk, membenarkan ucapan istrinya. Dea belajar memasak karena sadar dirinya tidak bisa masak.


 


 


  “Waktu SMA memang anak ini tidak bisa masak, tapi setelah di Perancis entah kesadaran dari mana dia mau belajar masak.”


 


 


 


 


  “Terima kasih, Om,” ucap Dea senang.


 


 


  “Jadi kapan Bagas dan keluarga Pratama datang melamar anak kami ini?” tanya Bu Heni ketika telah selesai meletakkan semua makanan untuk di makan pagi ini.


 


 


  “Apa tidak terlampau cepat mereka untuk melamar Dea? Bukankah Bagas baru pulih dari sakitnya?” tanya Pak Hermawan.


 


 


  “Itu bisa diatur, Her.”


 


 


  “Tapi perkataan Papa benar juga, Ma, Om! Aku mau Bagas pulih dulu. Jangan sampai saat pernikahan nanti Bagas akan jatuh sakit,” jelas Dea sedih.


 


 


  Dea yang duduk di sebelah Bu Lina, dipegang tangannya oleh Bu Lina,”Jangan khawatir Dea, yang berhak menjadi menantu kami hanya kamu saja, tidak ada yang lain.”


 


 


  Mendengarnya hati Dea senang. Akhirnya usaha dia dan Bu Lina berjalan dengan lancar. Setelah Bagas sembuh, mereka akan segera menikah.


 


*****


 


 


 


Rumah Sakit.


 


 


Tok, tok, tok.


 


 


    Bunyi ketukan ruang kamarku. Mbak Meli yang mendengar membukakan pintu tersebut. Mbak Meli memberikan senyumnya, “Hai, ayo silahkan masuk.”


 


 


  Tamu tersebut masuk dengan perasaan senang.


 


 


  “Evo kita kedatangan tamu,” ucap Mbak Mali.


 


 


  “Maureen, Dina, Rafael!” kataku terkejut mereka bertiga datang.  Maureen dan Dina memberikan pelukannya padaku. Rafael menjabat tanganku dan Bastian.


 


 


  “Hai, Evo,” sapa Dina.


 


 


  “Bagaimana keadaanmu?” tanya Maureen.


 


 


  “Sudah lebih membaik. Terima kasih kemarin telah menolongku,” ucapku.


 


 


  “Dina mau mengatakan sesuatu padamu, Vo, makanya dia ikut aku ke sini,” jelas Maureen.


 


 


   “Benar sekali. Silahkan, Dina,” setuju Rafael.


 


 


    Dina mendekatkan dirinya padaku. Dia tersenyum padaku, lalu berkata, “Maafkan kebodohanku dulu ya, Vo.”


 


 


  “Aku sudah lupa, apa salah kamu sehingga meminta maaf padaku?” tanyaku memberikan senyuman pada Dina.


 


 


  “Aku….”


 


 


  “Sst, tidak usah bicara lagi. Tidak perlu ada yang dimaafkan.”


 


 


  “Terima kasih kamu telah memaafkanku,” kata Dina.


 


 


  “Kenapa harus berterima kasih padaku? Kalau dulu ada yang bilang sama aku seperti ini, jangan bilang terima kasih dan meminta maaf terus, hal yang wajar kita saling membantu, karena kita adalah sahabat,” ucapku sambil menatap Bastian. Bastian yang merasa dilihat olehku tersenyum.


 


 


  “Ah, Evo, kamu memang yang terbaik!” peluk Dina bahagia.


 


 


  “Aduh, Dina! Tanganku sakit,” kataku ketika pelukannya mengenai infusku.


 


 


  “Wah, maafkan aku,” pintanya.


 


 


  Bastian begitu bahagia melihat Evo kembali tertawa dan berkumpul dengan sahabat – sahabatnya.  Tinggal satu lagi senyum yang belum bisa Bastian kembalikan pada Evo, tapi Bastian bersumpah kalau senyum itu akan terukir di bibir Evo, walau dia harus mengorbankan perasaannya.


 


 


*****


 


 


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤