MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Selamat Jalan Dina



Helo, semua! Terima kasih telah membaca kisah Evo. Tidak terasa akihr bulan Mei ini, kisah Evo akan segera berakhir. Berkat kalian semua akhirnya Evo akan segera tamat.


*****


Rumah Sakit.


 


 


  Evo dan Bastian berlari dari depan rumah sakit menuju ke ruang ICU. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke rumah sakit. Jalanan yang macet salah satu penghambat mereka tidak bisa tiba dengan cepat.


 


 


  Depan ruangan ICU sudah banyak keluarga Dina mau pun Rafael mengumpul. Evo mencari sosok Rafael dari kerumunan keluarga Dina dan Rafael itu. Evo pun menemukan Rafael di dekat pintu ICU. Rafael bersama Maureen sedang duduk di sana.


 


 


  “Rafael di sana. Ayo kita ke sana, Bas.”


 


 


Evo dan Bastian menghampiri Rafael.


 


 


  “Hai, Fa,” sapa Evo.


 


 


Rafael hanya menggangguk ketika disapa oleh Evo. Wajahnya tampak murung.


 


 


  “Ada apa?” tanya Evo pada Maureen. Evo tahu pasti Rafael sulit untuk berkomunikasi saat ini.


 


 


  “Tubuh Dina menolak obat kemoterapi sehingga Dina tak sadarkan diri,” jelas Maureen membuat Evo mengerti.


 


 


Evo berlutut di depan Rafael, Evo mengangkat wajah Rafael.


 


 


  “Apa kamu baik – baik saja?” tanya Evo.


 


 


  “Apa kamu pikir aku baik?” tanya Rafael balik.


 


 


  “Aku berharap kamu kuat,” pinta Evo.


 


 


  “Apa kamu gila? Bagaimana caranya aku kuat melihat Dina sedang meregang nyawa di sana? Kamu tidak tahu perasaanku sekarang, Vo!” teriak Rafael sambil berdiri.


 


 


  Semua orang menatap Evo dan Rafael. Bastian hendak menolong Evo, tapi Evo menggeleng kepala agar Bastian tidak ikut campur.


 


 


“Rafael, tenanglah. Ini rumah sakit,” kata Maureen mengingatkan.


 


 


Rafael kembali duduk, dia sangat depresi saat ini. Rafael belum siap untuk untuk kehilangan Dina. Sangat tidak siap.


 


 


  Dokter keluar dari ICU, Rafael segera menghampiri dokter tersebut.


 


 


  “Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”


 


 


  Dokter Dion menepuk punggung Rafael. Dia tidak bisa berkata banyak kali ini. Butuh keajaiban untuk kesembuhan Dina.


 


 


  “Ibu Dina sudah siuman, dia meminta saya untuk memanggil Maureen dan Evo,” ucap Dokter Dion.


 


 


  Maureen dan Evo kaget ketika Dokter Dion memanggil nama mereka berdua. Maureen dan Evo pun menghampiri Dokter tersebut.


 


 


  “Kenapa? Kenapa Dina tidak ingin bertemu denganku?” tanya Rafael. Dia mulai putus asa ketika Dina tidak mengharapkan kehadirannya.


 


 


  “Jangan berkata seperti itu, Fa. Mungkin ada yang ingin disampaikan Dina pada kami,” kata Maureen memberikan semangat pada Rafael.


 


 


  Rafael kembali ke tempat duduknya dengan perasaan sedih. Maureen dan Evo masuk ke ruangan ICU dengan menggunakan baju khusus ruangan ICU.


 


 


  Air mata Maureen dan Evo mengalir, mereka tidak kuasa menahan kesedihan menyaksikan sahabatnya yang begitu lemah. Dina melihat mereka dengan lemah, dia memberikan tangannya agar diraih oleh kami.


 


 


  Evo dan Maureen meraih tangan Dina yang tampak lemas. Beberapa hari yang lalu mereka melihat Dina masih sehat, tapi sekarang Dina begitu lemah. Dia menggunakan berbagai alat di sekitar tubuhnya. Dina bernapas pun dibantu oleh alat.


 


 


  “Hai, sayang. Bagaimana perasaanmu?” tanya Maureen. Dia berusaha sebaik mungkin agar suaranya tidak terdengar sedih oleh Dina.


 


 


  “Waktu… ku… su… dah… tidak… lama lagi, Reen, Vo,”


 


 


  “Tidak, Din. Jangan berkata seperti itu. Kamu harus sembuh, kamu harus kuat!” ucap Evo. Perempuan itu sedih mendengar ucapan putus asa dari Dina.


 


 


  Dina menangis, dia bukannya sedang berputus asa, tapi dia merasa kalau waktunya tinggal sebentar lagi di dunia ini.


 


 


  “Ti… dak, Vo… a… ku… su… dah… merasakannya….”


 


 


  Maureen dan Evo saling pandang satu sama lain. Mereka semakin sedih ketika kalimat itu keluar dari mulut sahabat mereka.


 


 


 


 


  Maureen yang tak kuasa memeluk tubuh Dina, dia menangis sedih. Maureen tidak kuat. Maureen merasa Dina benar – benar akan pergi.


 


 


  “Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Din. Kamu sahabat terbaik buat kami,” ujar Maureen lagi.


 


 


  “Jangan banyak bicara, Din. Kamu harus banyak istirahat,” ujar Evo. Evo terus memegang tangan Dina. Tangan Dina mulai dingin.


 


 


  Maureen melepaskan pelukannya dari tubuh Dina. Dina menatap Evo dan Maureen bergantian. Dina berharap sesuatu pada mereka.


 


 


  “To… tolong… tolong… ja… ga Mike dan Nay untukku… to… long… me… nikahlah dengan Rafael… Vo… Reen,” pinta Dina.


 


 


  Nafas Dina mulai tidak beraturan. Dina mulai sesak.


 


 


  “Tidak, tidak! Dina! Jangan bicara seperti itu. Aku yakin kamu pasti sembuh.” Evo memohon pada Dina.


 


 


  “Dokter, Dokter!! Tolong!!” teriak Maureen. Dia panik melihat bola mata Dina mulai ke atas. Napas Dina yang semakin tipis. Maureen terus berteriak, dia keluar memanggil dokter. Rafael yang melihat itu, langsung masuk.


 


 


  “Dina, Dina! Sayang, aku mohon bertahanlah,” pinta Rafael. “Apa yang terjadi, Vo?”


 


 


  Evo menggeleng kepala, dia tidak tahu apa yang terjadi.


 


 


  “Jangan… jangan salahkan, Evo… a…ku ha… rus se… gera pergi… aku… aku… sangat mencintai ka…mu, Rafa…,” lirih Dina.


 


 


  Setelah mengatakan kalimat itu, Dina berhenti bernapas, matanya tertutup.


 


 


  “Dina! Dina! Tidak! Tidak, Dina!! Dina!!!!!” teriak Rafael.


 


 


  Pecahlah tangis Evo menyaksikan kepergian Dina sahabatnya. Dina sudah pergi untuk selamanya. Dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sahabat terbaiknya sudah kembali kepada Sang Pencipta.


 


 


  Dokter bersama perawat datang, lalu meminta Rafael dan Evo untuk menyingkir agar mereka dapat memeriksa Dina.


 


 


  “Mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan, Dina. Dina sudah pergi mendahului kita,” ucap Dokter Dion sedih.


 


 


  “Tidak!!! Tidak itu tidak mungkinn!! Dinaa!! Jangan tinggalkan aku!! Dinaa!!” teriak Rafael lagi. Dia memeluk jenasah Dina, istrinya.


 


 


  “Dina, jangan pergi,” ucap Maureen menangis.


 


 


  Kaluarga Dina maupun Rafael ikut masuk. Mereka menangis mengetahui kalau Dina telah pergi selamanya. Bastian memeluk Evo, dia tahu Evo sangat sedih atas kehilangan itu.


 


 


*****


Pemakaman Dina.


 


 


  Setiap manusia di dunia pasti akan kembali kepada Sang Pencipta suatu hari nanti, tapi kami merasa kepergian Dina begitu cepat. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita untuk kembali padaNya.


 


 


  Pemakaman Dina berjalan dengan lancar. Dina meninggalkan dua bayi kembarnya Mike dan Nay. Sejak tadi Mike dan Nay menangis terus, mungkin mereka tahu kalau mereka tidak akan bertemu dengan Mamanya lagi.


 


 


  Rafael masih dipusaran makan Dina. Pria itu masih memeluk kayu nama Dina. Rafael tidak percaya kalau istrinya akan pergi secepat itu.


 


 


  Evo memegang bahu Rafael, Rafael menatap Evo begitu perih. Melihat itu air mata Evo mulai menetes.


 


 


“Kamu harus kuat, Fa. Masih ada Mike dan Nay yang membutuhkan perhatian kamu,” ucap Evo. Evo berusaha untuk tidak menangis. Dia menghapus air matanya dengan tangan satunya.


 


 


  “Evo benar, Fa. Mike dan Nay masih butuh kamu. Kamu harus kuat, jangan seperti ini,” pinta Maureen.


 


 


  Rafael mengangguk, perkataan keduanya sangat tepat. Rafael mulai berdiri, tapi tiba – tiba kepalanya terasa sakit. Rafaelpun pingsan.


 


 


  “Rafael! Rafael!”


 


 


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤