
Ruangan Maureen
“Kamu harus memberitahu Bastian secepatnya, Vo! Harus! Perutmu akan membesar, aku tidak mau Bastian akan berprasangka buruk padamu.”
“Bastian pasti akan berprasangka buruk padaku, Reen. Aku yakin dia akan membatalkan lamarannya padaku,” ungkap Evo dengan perasaan sedih.
“Apapun itu, tapi kamu harus membicarakannya pada Bastian, dan kamu harus menghubungi Bagas. Dia harus tahu kalau kamu mengandung anaknya.”
“Tidak, Reen.”
Evo berdiri, lalu membalikkan badannya. “Aku tidak mau, Reen. Aku takut keluarga Bagas akan mencelakai anak ini. Lebih baik aku membesarkan anak ini sendirian.”
Maureen menghampiri sahabatnya itu, dia memegang pundak Evo dengan lembut.
“Apapun keputusanmu, aku pasti mendukungmu.”
“Terima kasih, Reen,” ucap Evo padanya.
*****
Malamnya, di rumah Bastian.
Sejak pulang dari rumah, Evo mengurung diri. Dia belum siap untuk mengungkap kenyataan yang sebenarnya pada Bastian. Aktivitas di kamar hanya mondar – mandir, tiduran kemudian bangun lagi. Setelah mengetahui kehamilannya, Evo terus memeras otaknya untuk berpikir. Dia tidak mau menggugurkan kandungannya, dan dia tidak mau hidup bersama Bagas.
Tok, tok, tok.
Evo membuka pintunya. Rupanya Bastianlah yang mengetuk pintu kamarnya.
“Ayo, makan!” ajak Bastian.
“Tadi aku sudah makan, Bas. Aku masih kenyang.”
“Kapan kamu makan?” tanya Bastian.
“Ehm…, tadi siang,” jawab Evo.
Bastian tersenyum kecut, dia menarik tangan Evo dan membawanya ke meja makan.
“Bastian! Apa yang kamu lakukan?”
Setelah sampai di ruang makan, Bastian menyuruh Evo duduk di kursi. Kemudian Bastian memerintahkan pelayan untuk menyiapkan makanan.
“Bas, aku….”
“Makanlah. Aku tidak ingin dibantah kali ini,” perintah Bastian.
Evo kaget mendengar ucapan Bastian. Tidak biasanya Bastian sedikit kasar padanya. Dengan terpaksa Evo menuruti Bastian, lagi pula dia harus mengisi perutnya untuk janin yang dikandung oleh Evo.
Untuk kesekian kalinya, Evo merasa mual, tapi kali ini kepalanya pusing. Evo hendak berdiri, tapi tidak kuat.
“Evo? Ada apa?” tanya Bastian. Dia memegang tubuh Evo yang hampir terjatuh.
“Tidak, aku hanya… kepalaku, Bas. Kepalaku sakit, dan….”
Bastian mengangkat tubuh Evo, lalu membawanya ke kamar Evo. Bastian menurunkan Evo dengan pelan ke kasurnya.
Bastian duduk di sebelah Evo, sambil memegang tangannya. “Maaf, aku tadi sedikit kasar padamu.”
Evo menggeleng kepalanya, itu bukan salah Bastian. Itu salah dirinya.
“Aku panggilkan Dokter ya, kondisimu semakin memburuk,” kata Bastian khawatir. Sudah beberapa hari ini Bastian melihat Evo seperti ini.
“Tidak, Bas. Tidak perlu,” tolak Evo lagi. Dia tidak mau ketahuan sekarang kalau dirinya sedang mengandung. Evo akan segera dicampakkan oleh Bastian. Pria mana yang mau membesarkan anak yang bukan anak kandungnya?
“Ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak mau ke rumah sakit?” tanya Bastian. Dia merasa aneh dengan tingkah laku Evo. Dia terus menolak kalau diajak ke rumah sakit.
“Aku tidak sakit, Bas. Aku hanya kelelahan.”
Bastian menghela napas panjang. Pria ini yakin kalau Evo sedang menyembuyikan sesuatu padanya.
“Apa yang kamu sembunyikan padaku?”
Seperti halilintar di siang bolong, ucapan Bastian membuat Evo terkaget – kaget. Ternyata Bastian menaruh curiga padanya. Mata Evo terbelalak, tak percaya. Dia menurunkan pandangannya kepada Bastian.
“A… aku… aku, tidak menyembunyikan apapun padamu,” dusta Evo.
“Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit!”
“A…ku…”
“Katakan! Katakan apa yang terjadi? Aku akan marah kalau kamu menyembuyikan sesuatu padaku!” ancam Bastian.
Evo semakin gemetar, diancam seperti itu oleh Bastian. Ancaman Bastian bukanlah angin lalu, dulu waktu SD, mereka pernah bertengkar karena Evo menyembunyikan sesuatu darinya. Bastian mendiamkannya begitu lama. Itu sangat menyiksa bagi Evo.
Evo masih terdiam, Bastian semakin kesal karena Evo tidak menjawab pertanyaannya. Bastian takut kemarahannya memuncak, Bastian bangkit dan hendak beranjak pergi, tapi ditahan oleh Evo.
“Jangan pergi,” pinta Evo.
“Aku pacarmu, Vo dan calon suami kamu, tapi kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Aku merasa sangat sedih karena kau tidak percaya padaku,” tutur Bastian dari dalam hatinya.
Lagi – lagi Evo tercengang dengan ucapan Bastian. Tepat sekali perkataan Bastian padanya, Evo menyembunyikan sesuatu.
Melihat Evo masih diam saja, Bastianpun melangkah pergi dari kamar Evo.
“Bas…, aku hamil….”
Bastian membalikkan badannya untuk melihat ke arah Evo, “Apa kamu bilang?”
“Aku hamil, Bas.” Kata Evo mengulangi perkataannya. Evo tak kuasa menahan air matanya, air matanya keluar mengalir ke pipinya.
“Siapa orang itu?” tanya Bastian.
Evo terdiam, dia tidak kuasa untuk mengatakannya. Bastian menghampiri Evo dan memegang erat kedua bahu Evo.
“Katakan padaku, anak siapa yang kamu kandung?” bentak Bastian. Bastian benar – benar kecewa. Bastian masih menerima Evo sudah tidak perawan, tapi Bastian tidak bisa menerima kalau Evo mengandung anak orang lain.
“Siapa?”
“Ba… gas… Bagas!” jawab Evo masih terisak – isak.
“Kapan? Kapan kalian melakukannya?” tanya Bastian lagi.
Evo pun menceritakannya.
Jadi mereka melakukan hubungan itu di kantor? Jadi mereka melakukan itu semua dibelakangku?
“Aku kecewa padamu, Vo!” ujar Bastian. Dia berdiri kemudian melangkah pergi. Hati bastian hancur, dan Evo mengerti hal tersebut. Tangis Evopun semakin pecah melihat Bastian pergi meninggalkannya.
*****
Keesokan harinya.
“Yuhuyyy, Evo!! Bastian!! Mbakmu tercinta sudah pulang!!” teriak Mbak Meli ketika masuk ke dalam rumah.
“Di mana Bastian dan Evo?” tanya Mbak Meli pada pelayan rumah mereka.
“Tuan sejak pagi sudah berangkat ke kantor. Nona Evo masih di kamarnya,” jelas pelayan.
Mbak Meli mengangguk, kemudian berkata lagi,”Tolong bikinkah aku es teh manis, aku sangat haus.”
“Baik, Nona.”
Mbak meli mengambil ponselnya, lalu mencari nama adik kandungnya. Mbak meli menghubungi adiknya itu.
“Where are you?” tanya Mbak Meli kesal. Beberapa hari yang lalu, Bastian mohon – mohon pada Mbak Meli agar segera pulang ke Indonesia, tapi Bastian malah tidak menjemput dan menunggunya di rumah.
“Kantor,” jawab Bastian singkat.
“Kenapa moodmu begitu jelek? Harusnya aku yang kesal denganmu, karena kamu tidak ada di sini.”
“Aku lagi malas bertengkar denganmu, Mbak!”ucap Bastian, kemudian menutup teleponnya.
“Ah, ya ampun! Betapa tidak sopannya anak ini!” gerutu Mbak Meli. Dia memutar otaknya, pasti ada masalah besar antara Bastian dan Evo. Semenjak bertemu Evo, Bastian jarang marah seperti ini. Setelah selesai mandi, Mbak Meli berencana akan ke kamar Evo, dan berbicara pada Evo.
*****
Kantor Pratama.
Sejak pagi Maureen susah menghubungi Evo. Dia sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya yang sedang hamil. Akhirnya Maureen memutuskan untuk ke ruangan Bastian. Ketika hendak ke atas, Maureen bertemu dengan Bagas.
“Bagas? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Maureen heran.
“Di mana Evo? Di mana dia?” Bagas berbalik nanya, dia tidak menjawab pertanyaan Maureen.
“Aku juga tidak tahu. Aku mau ke ruangan Bastian untuk menanyakan padanya, karena ponsel Evo mati, tidak bisa dihubungi,” jelas Maureen.
“Aku ikut denganmu.”
“Oke, tidak masalah!”
Maureen dan Bagas menuju ke ruangan Bastian. Maureen mengetuk pintu ruangan Bastian, tapi tidak ada yang menyahut.
“Pak Bastian sudah pergi, Bu Maureen.”
“Ke mana dia pergi?” tanya Maureen.
“Beliau bilang kakaknya baru tiba dari Paris.”
Maureen mengangguk, Mbak Meli sudah pulang rupanya dari Paris. Hati Maureen sedikit lega karena Evo sudah ada yang menjaga.
“Aku harus ke rumah Bastian!” ucap Bagas.
“Buat apa? Kenapa kamu harus ke rumah Bastian? Bukankah kau dan Evo sudah tidak bersama?” tanya Maureen heran.
“Ada suatu hal yang penting, aku harus bicara pada Evo,” tegas Bagas.
Maureen menarik tangan Bagas, perempuan itu mencegah Bagas untuk pergi. “Jangan rusak kebahagiaan, Evo!”
Bagas melepas tangan Maureen, lalu berkata, “Aku hanya ingin mengetahui kebenaran.”
“Kebenaran apa?”
“Apakah anak yang dikandung Evo adalah anakku?” kata Bagas. Ucapan Bagas membuat Maureen sontak kaget. Kenapa Bagas bisa tahu kalau Evo hamil? Bukankah Evo bilang tidak akan memberitahu kepada Bagas?
Bagaspun pergi meninggalkan Maureen yang masih terkejut.
*****
Restoran.
Mbak Meli memaksa Evo untuk ikut dengannya makan di luar. Beberapa jam yang lalu, ketika Mbak Meli masuk ke dalam kamar Evo, dia terkejut karena melihat wajah Evo yang sangat suram. Mukanya saat itu seperti mayat hidup.
“Ceritakan padaku, apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Mbak Meli mendesak.
Di desak seperti itu, Evo akhirnya bercerita.
“Masalah yang besar,” komentar Mbak Meli. “Tapi kamu keren, Vo! Kamu berani melakukan hal seperti itu sama Bagas.”
“Bastian yang bodoh karena kelamaan berpikir!” ucap Mbak Meli lagi. Dia menyesal kalau Evo terlanjur hamil akibat perbuataan Bagas.
“Apa? Apa, Mbak Meli?”
“Sudah, jangan pikirkan Bastian yang bodoh itu. Aku yakin dia akan menerimamu. Dia sangat mencintaimu dengan tulus.”
“Benarkah?” tanya Evo.
Mbak Meli mengangguk dengan tegas. “Sekarang pertanyaanya adalah apa rencanamu selanjutnya? Apa kamu akan kembali pada Bagas?”
Evo menggeleng kepala dengan kuat, kemudian dia berkata, “Aku mencintai Bastian, Mbak. Kehamilan ini hanya sebuah kesalahan.”
“Tapi kamu tidak berpikiran untuk menggugurkan anak inikan?” tanya Mbak Meli.
“Tidak, Mbak! Tidak! Aku tidak mau anakku menanggung dosaku. Dia hartaku yang paling berharga sekarang!” tegas Evo.
Mbak Meli memegang tangan Evo, dia bersyukur dengan cara pikiran Evo yang bijaksana. Anak itu tidak berdosa, tidak seharusnya disalahkan.
“Tenang saja. Mbak tahu sifat adikku itu, tapi kamu harus bersabar ya,” kata Mbak Meli.
Evo mengangguk, dia tidak menyangka kalau Mbak Meli sangat mendukungnya.
Drt, Drt.
“Di mana kau, Mbak?” tanya Bastian.
“Lagi sama adik iparku, karena adik kandungku sangat menyebalkan,” terang Mbak Meli.
“Aku sudah di rumah. Cepatlah balik,” pintanya.
“Oke.”
Mbak Meli menutup teleponnya. Mbak Meli menatap Evo, dia seperti tahu maksud dari mukanya Evo.
“Calon suamimu yang menelepon. Ayo kita pulang. Aku takut rumah akan hancur karena dia gelisah tidak ada kita di rumah!”
Evo tertawa geli mendengar ucapan Mbak Meli. “Terima kasih, Mbak.”
*****
Mbak Meli dan Evo keluar dari restoran. Mereka mau menyebrang karena mobil Mbak Meli mereka parkir di sebelah gedung. Mbak Meli yang duluan menyebrang, lalu di belakang Evo mengikutinya, tapi dari sebelah kiri ada mobil kencang yang hendak menabrak Evo.
“Evo, Awaass!!!!” teriak seseorang. Orang itu adalah Bagas. Bagas mendorong Evo hingga terpental, dan matanya terbentur keras aspal. Bagas yang menggantikan posisi Evo, ditabrak keras juga.
“Evo!!! Bagass!!!!!” teriak Mbak Meli.