
Gila. Kata yang tepat untuk orang seperti dia. Calon istri? Apa dia kurang waras? Aku terus saja memaki dalam hati. Aku menyesal pernah menyamakan dia dengan Karel. Dia bukan Karel.
.
.
.
.
Drrrt. Bunyi getar teleponku. Sengaja aku membuat mode getar. Aku melirik. Dari rumah sakit.
"Halo," sapaku.
"Sore mbak, mau menginformasikan Ibu sudah sadar."
Mendengar kabar gembira itu, rasa sebalku hilang. Bodo amat dengan perkataan playboy itu. Aku segera pamitan dengan yang lain.
.
.
Di rumah sakit.
"Hai, Mama. I miss you so bad." ucapku menahan air mata.
"Evo, anakku." Mama menyapa dengan susah payah.
"Ibu, jangan banyak bicara dulu ya. Istirahat dulu." saran Suster dengan lembut.
"Iya, Suster benar Ma." Aku mendukung.
"Vo, mama mau bilang carilah teman hidupmu. Mama tidak bisa lama lagi bersama Evo," ucap Mama. Air mata yang tadinya aku tahan, akhirnya keluar.
"Mama, jangan bicara seperti itu ya. Mama harus bertahan ya. Demi Evo, Ma. Jangan tinggalkan, Evo, Ma," ujarku. Aku memegang erat tangan mama. Mama masih mengatur nafas.
"Mbak, Evo keluar dulu aja ya. Biar Mama istirahat," Perawat memberikan saran.
Evo pamitan dengan mama. Baru saja perawat tersebut memberikan obat. Ada efek obat tidur di dalamnya.
"Kapan mama saya keluar dari ICU, Sus? Kan mama sudah sadar," tanyaku.
"Kemungkinan besok, Mbak. Dokter tadi menyampaikan. Ada beberapa alat yang ada di ruangan ini yang tidak ada diruangan pasien. Semoga nanti malam Ibu tidak usah menggunakannya lagi."
Aku mengangguk. Tuhan, tolong selamatkan mama. Jangan biarkan aku sendirian sebatang kara.
.
.
.
.
.
"Sendirian aja mbak," sapa seseorang.
" Pak Bagas?"
" Ternyata ini tempat kesukaanmu ya" ucapnya lagi tanpa menghiraukan aku.
"Lagi bikin apa, Vo?" tanyanya lagi.
Aku tidak menjawab. Bagas mencoba untuk melihat. Aku menutupi.
"Tidak boleh pelit sama calon suami." nasehat Bagas ramah. Aku memandangnya tajam. Bagas pura-pura tidak melihat. Kemarin dinginnya minta ampun sekarang sok akrab sekali. Ya ampun, manusia seperti apa dia?
Bagas yang tadinya berdiri kemudian duduk. Dia memanggil pelayan dan memesan minuman dan makanan. Aku mengangkat laptopku kemudian ingin pergi dari dirinya.
"Tetap duduk atau kejadian di ruanganku akan terulang di sini," ancamnya. Mukaku kemudian memerah, malu bercampur marah.
"Akhir-akhir ini kamu menghindariku setelah kejadian di ruanganku itu. Kenapa?" tanyanya. Aku diam. Pura-pura asik meneruskan tulisanku. Padahal aku ngga konsentrasi.
"Pasti itu ciuman pertamamu ya, sayang?"
Aku memandang Bagas akhirnya. Melotot. Rasanya aku ingin melempar gelas yang ada didepanku.
"Wow, tepat sekali dugaanku," celotehnya lagi.
"Apa mau lebih dari itu?" rayu Bagas.
Aku mengambil gelas yang ada didepanku. Sekarang ingin rasanya aku melempar gelas itu, tapi beruntungnya Bagas, pelayan datang membawa pesanan.
"Eh, Mbak Evo, tumben bawa teman laki-laki ke sini. Apa pacarnya?" tanya pelayan menggodaku.
"Bu...."
" Calon suami mbak," potong Bagas.
"Wow, selamat ya mbak. Akhirnya ketemu juga dengan cinta pertamanya. Jangan lupa undang-undang ya mbak," pamit pelayan itu setelah menaruh pesanan.
"Wow, Mbak Evolet ternyata lagi menunggu cinta pertamanya ya. Hahhaahaa," tawa Bagas meledak.
"Masih saja wanita seperti kamu ini di dunia ini," ledeknya lagi.
"Cukup, Pak Bagas. Ini sudah melanggar etika." Aku akhirnya buka suara.
"Saya bukan wanita yang bisa bapak pakai seenak bapak."
Bagas tersenyum. Menarik juga wanita ini.
Bagas menarik mukaku, lalu dengan dingin ia berkata, "Semua wanita sama saja. Wanita mencintai uang. Apapun demi uang. Termasuk kamu. "
Bagas mendaratkan bibirnya lagi ke bibirku.
PAK!
Aku menampar Bagas, kemudian berkata," Bukan, aku tidak termasuk salah satu wanita itu, Pak."